PEMBEBASAN
MADAIN
Pasukan Persia dari Kadisiah ke puing-puing Babilon
Sesudah
Pertempuran Kadisiah itu pasukan Persia melarikan diri,
tanpa
melihat lagi ke belakang. Sebagian besar mereka sudah
sampai
ke bekas reruntuhan Babilon,1 dan yang lain terpencar di sana
sini
di Persia. Pasukan Muslimin tinggal di Kadisiah selama dua bulan
sambil
beristirahat dan sementara itu Sa'd pun sudah sembuh dari
sakitnya.
Umar menulis kepada Sa'd agar tidak meninggalkan tempattempat
itu
sampai nanti ada perintah lebih lanjut.
Setelah
kemudian berita-berita tentang pasukan dan bala bantuan
yang
dikirimkan cukup memuaskan, ia memerintahkan Sa'd berangkat
ke
Mada'in. Perempuan dan anak-anak supaya ditinggalkan di Atiq dengan
sekelompok
pasukan yang akan menjaga mereka. Pasukan ini juga harus
mendapat
bagian rampasan perang seperti pasukan yang lain sebagai
balas
jasa bagi mereka yang mengawal keluarga pasukan Muslimin.
1
Sebutan nama ini sering membingungkan. Dalam bahasa Arab, Babil dapat disalin
dengan
Babilon atau Babilonia. Dalam Da'iratul Ma'arif al-lslamiyah bahwa
"orang
Arab
menyebut nama Babil untuk
nama kota dan negeri." Sedang Encyclopaedia
Britannica menyebutnya "salah satu kota kuno
yang terkenal, terletak di tepi anak
Sungai
Furat utara kota modern Hirah di Irak selatan," sementara Babilonia nama
dua
kerajaan
di Mesopotamia (Irak sekarang), yang secara kasar disamakan dengan dataran
terbuka
terletak di antara Irak dengan teluk Persia, sedang Asiria di bagian utara
sekitar
Mosul
sekarang. Nama-nama ini diambil dari nama ibu kota masing-masing, Babilon
dan
Asiria (Asyur). Jadi Babilonia rnerupakan gabungan dua kerajaan. Pada waktu Amr
bin
As memasuki Mesir terdapat juga benteng dengan nama ini (Lihat catatan bawah h.
507.
Dalam terjemahan ini dipakai nama Babilon mengingat yang dimaksud kota di
dekal Hirah. Sa'd
menugaskan Zuhrah bin al-Hawiah berangkat lebih dulu ke
Hirah.
Sesudah Abdullah bin al-Mu'tam dan Syurahbil bin as-Samt
sampai
ke tempat itu, ia memulai lagi perjalanannya ke Mada'in. Dalam
perjalanan
ini ia bertemu dengan sekelompok pasukan Persia di
Burs.1
Mereka dapat dipukul mundur dan lari bergabung dengan
mereka
yang sudah lebih dulu ke Babilon. Berita mengenai sisa-sisa
pasukan
Kadisiah yang berkumpul di Babilon sudah diketahui oleh
Zuhrah.
Mengenai hal ini, ketika di Hirah bersama Hasyim bin Utbah
ia
sudah melaporkan kepada Sa'd. Dalam perjalanan menuju Babilon
Sa'd
bertemu dengan pasukan Fairuzan, yang dalam sekejap kemudian
dapat
dipukul mundur. Fairuzan lari ke Nahawand, Hormuzan ke Ahwaz
dan
Mehran ke Mada'in. Pasukan Muslimin terus maju. Di Kusi mereka
dihadang
oleh Syahriar yang kemudian berhasil dibunuh dan pasukannya
dipukul
mundur. Sa'd memberi tambahan dengan barang rampasan
Syahriar
kepada yang membunuhnya. Zuhrah maju terus sampai ke
Sabat.
Di tempat ini ia mengadakan perdamaian dengan penduduk atas
dasar
jizyah, yaitu ketika mereka mengetahui bahwa ia sudah menaklukkan
pasukan
yang menghadangnya di sekitar Sura dengan Dair
dan
komandan-komandannya tewas. Tatkala pasukan Muslimin pergi ke
Sawad
di seluruh kawasan itu mereka tidak menemui perlawanan yang
berarti.
Penduduk sipilnya dari segenap penjuru cepat-cepat menemui
pemimpin-pemimpin
pasukan ini dan menyatakan kesetiaannya. Mereka
sebagian
masuk Islam, dan yang sebagian lagi dengan senang hati mau
membayar
jizyah. Semua mereka sekarang setuju dengan undangundang
orang
yang datang ke tempat mereka itu dan keadilan pun dapat
ditegakkan.
Setelah itu mereka diusir ketika Khalid bin Walid bertolak
ke
Syam. Mereka itulah yang kini kembali lagi dengan kekuatan yang
akan
membuat segala harapan pihak yang hendak mengusir mereka
sekali
lagi menjadi porak poranda. Siapa lagi yang hendak mengusir
mereka
sekarang setelah Rustum mati, sedang semangat dan moral
pasukan
Persia semua sudah begitu lemah! Mereka tunduk kepada
takdir.
Inilah ketentuan Allah yang sudah tak dapat dielakkan, dan tak
seorang
pun mampu mengatasinya.
Burs (Borsippa atau Birs Nimrud) adalah sebuah belukar di dekat Babilon.
Sebagian
sejarawan
menamakannya Bi'ir Namrud. Bersumber dari Ahmad bin Hammad al-Kufi.
Balazuri
mengatakan: "Belukar Burs terletak di depan bangunan tinggi Namrud di
Babilon.
Di belukar itu ada sebuah jurang curam, konon itu sebuah sumur. Batu merah
bangunan
itu digali dari tanahnya. Dikatakan juga mata air sumur itu terletak di tempat
tersebut." Sekarang
Sa'd tinggal di Babilon, dan ia menugaskan Zuhrah bin
Hawiah
berangkat lebih dulu memimpin angkatan bersenjata ke Mada'in.
Coba
kita lihat, apakah puing-puing peninggalan Babilon itu dalam hati
Sa'd
dan mereka yang datang ke sana membangkitkan kenangan pada
kota
lama yang telah menjadi saksi berdirinya kebudayaan umat manusia
pertama,
yang silih berganti dengan Thebes, Memphis dan dunia
Firaun
dahulu kala?! Apakah mereka lalu teringat pada zaman Asiria
dengan
peradabannya yang tinggi dan agung seperti Babilon, dengan
segala
temboknya yang kukuh, rumah-rumah ibadah yang besar-besar,
dengan
benteng-benteng perkasa dan taman-taman bergantung yang terkenal,
istana-istana
besar, yang telah menjadi pelopor segala kemegahan
dan
keindahan?! Sudah tentu mereka teringat pada Menara Babilon.
Mereka
teringat pada bangsa-bangsa yang datang silih berganti ke sana,
sehingga
jadi sangat terkenal karena banyaknya bahasa yang dipakai
orang
yang datang ke sana, sebagai tawanan atau sebagai penakluk.
Tetapi
apa yang mereka ingat tentang menara dan tentang kota itu
sendiri
barangkali tidak lebih dari sekadar obrolan saat duduk-duduk di
waktu
malam. Mereka masih terlalu sibuk dengan yang akan mereka
hadapi
untuk membebaskan Mada'in. Mada'in kota yang makmur,
sedang
Babilon hanya tinggal puing-puing. Mada'in ibu kota Persia,
sedang
Babilon bukan lagi ibu kota, juga bukan lagi kota. Mada'in
adalah
lambang kehidupan, sedang Babilon hanya bekas masa silam
yang
sudah terhapus. Orang lebih tertarik pada masa kini, jarang orang
mau
mengambil pelajaran dari masa lampau. Kebanyakan mereka mau
mengambil
pelajaran dari wajah kehidupan yang dapat tersenyum. Tetapi
wajah
itu juga muram. Lalu mereka teringat pada masa-masa silam,
kalau-kalau
masih akan ada yang dapat mengobati luka-luka masa
sekarang.
Hanya saja, selama itu wajah sejarah tetap tersenyum kepada
Muslimin.
Apa hubungannya dengan Babilon dan Asiria yang kini hanya
tinggal
bahan cerita, padahal di sekitar mereka kehidupan melimpah
dengan
harta terpendam yang sangat berharga, bahkan ada bangsa, yang
begitu
mendengar namanya saja sudah bergegas datang menyatakan
kesetiaannya,
sambil memohonkan maaf dan pengampunan.
Bahkan
dengan melihat Babilon itu, di antara mereka ada yang lalu
teringat
pada peranan pasukan Muslimin di sana tatkala Musanna bin
Harisah
bermarkas di ketinggian puing-puingnya, dan tinggal di antara
jaringan
anak-anak Sungai Tigris, menunggu kedatangan Ormizd Jadhuweh
yang
akan menyerangnya. Mereka teringat pada situasi yang sangat
kritis itu, yang datang tiba-tiba menyerang mereka
setelah keberang
katan
Khalid ke Syam dan Syahriran putra Ardasyir naik takhta Kisra
serta
tekadnya hendak mengusir pasukan Arab dari negerinya. Teringat
mereka
bagaimana Musanna membunuh gajah Ormizd serta bagaimana
pasukan
Persia dipukul mundur dan pengejaran terhadap mereka sampai
ke
dekat Mada'in. Mereka bercerita kepada rekan-rekan yang
datang
bersama Sa'd dari Medinah dan yang bergabung kepadanya dari
berbagai
pelosok Semenanjung —tentang yang mereka saksikan dari
semua
itu. Diceritakan juga kepada mereka bahwa Sawad yang sedang
mereka
lalui di sekitar danau-danau yang airnya melimpah, ladangladang
yang
luas dan kebun-kebun dengan buah-buahan yang sudah
masak,
sudah tunduk semua kepada kekuasaan mereka. Mereka makan
dari
hasil bumi itu, dan buah-buahan yang masih dapat mereka kirim,
mereka
kirimkan ke Medinah.
Babilon
dan tempat-tempat lain yang dilalui pasukan Muslimin
adalah
sebagian yang sudah mereka bebaskan dan di bawah perintah
mereka.
Kadisiah di tangan mereka dan Hirah menjadi pusat pemerintahan
mereka.
Burs, Kusi, kota-kota dan desa-desa lainnya^ sudah
tunduk
kepada mereka. Yang menjadi sasaran mereka selanjutnya
adalah
Mada'in. Sekarang mereka melalui tempat-tempat, yang bagi
kebanyakan
mereka merupakan kenangan yang sangat menyenangkan
dan
mengesankan. Tetapi perbedaan antara dulu dengan sekarang; dulu
mereka
menetap dan sebagai yang berkuasa, dan sekarang merupakan
medan
pembebasan baru. Mereka berpindah-pindah dari yang satu kepada
yang
lain, ke kiri di sebelah timur Kadisiah ke arah Hirah, ke
Burs
dan ke Babilon, dengan tuju'an Sabat dan Mada'in. Yang mereka
hadapi
sekarang lebih ringan daripada yang sebelumnya, sesudah kekuatan
mereka
berangsur menjadi lemah. Mereka yakin bahwa sudah
tak
ada lagi tempat pelarian kecuali ke sana juga.
Zuhrah
bin al-Hawiah dan Hasyim bin Utbah berangkat menuju
Mada'in.
Setelah berada di dekat Bahrasir, di Sabat mereka dihadang
oleh
kompi Boran putri Kisra. Setiap hari stafnya bersumpah, bahwa
selama
mereka masih hidup Persia tidak akan hilang. Seekor singa yang
sudah
dijinakkan oleh Kisra ikut bersama kompi itu. Tetapi bertahannya
kompi
ini menghadapi pasukan Muslimin tidak lebih hanya seperti
bertahannya
pasukan Persia di Burs dan Babilon. Bagaimana akan bertahan,
mereka
sekarang melihat nasib singa itu sama seperti nasib pasukan
gajah
dulu di Kadisiah! Hasyim bin Utbah melangkah maju dan
menghantamnya
dengan pedangnya demikian rupa sehingga singa itu
tersungkur
mati. Kompi itu langsung lari dan berlindung di Bahrasir.
Sa'd
menyusul anak buahnya dan sudah mengetahui peranan mereka.
la
mencium kepala Hasyim — kemenakannya — sebagai tanda
kagum
atas usahanya membunuh singa itu, dan Hasyim pun mencium
kaki
pamannya sebagai penghargaan atas simpatinya. Kemudian Sa'd
mengangkat
kepalanya ke atas sebagai tanda syukur kepada Allah dan
setelah
itu ia mengarahkan pandangnya ke arah Mada'in seraya membaca
firman
Allah: "Bukankah sebelumnya kamu sudah bersumpah bahwa
kamu tidak
akan tergelincir binasa?" (Qur'an,
14: 44).
Malam
itu Sa'd sedang memikirkan posisinya dalam menghadapi
Mada'in.
Akan diserangnyakah bersama pasukannya yang sekarang
masih
riang gembira dimabuk kemenangan, dan mereka memang ingin
sekali
menyerbunya? Atau akan membiarkan mereka beristirahat selama
beberapa
hari kemudian berangkat bersama ke sana? Kota itu sudah
dekat.
Kalau dia berhenti hanya sampai di situ, tindakannya ini akan
menggoda
pihak Mada'in untuk mempertahankannya. Jadi lebih baik
diserbu
dengan mendadak. Oleh karena itu ia memerintahkan pasukannya
—
bila malam sudah sunyi — supaya berangkat dan bermarkas di
Bahrasir. Bahrasir
adalah daerah pinggiran kota Mada'in, di tepi Sungai
Tigris
ke sebelah kanan, sedang Mada'in berhadapan di tepi sebelah
kirinya.
Jadi termasuk bagiannya, hanya dipisahkan oleh sungai. Letak
Mada'in
sekitar dua puluh mil di selatan Bagdad, yang ketika itu
merupakan
sebuah desa yang tidak berbeda dengan desa-desa lain di
bagian
Sungai Tigris. Sejak
lama di masa silam Mada'in sudah merupakan ibu kota Iran
menggantikan
Babilon, bahkan kemudian melebihinya dari segi keindahan,
kemegahan
dan keagungannya. Kendati sudah berulang kali menjadi
sasaran
serbuan Rumawi dan sudah sering pula jatuh ke tangannya —
di
samping istananya yang selalu kacau dan terjadi beberapa kali pergolakan
—
namun kemegahan dan keindahannya tidak berubah. Oleh
karena
itu mata dunia banyak tertuju ke sana. Namanya pun sudah begitu
merangsang
imajinasi semua orang, membangkitkan segala rasa kagum dan
pesona,
yang tidak demikian dengan nama Roma atau Konstantinopel.
Di
sinilah bertemunya segala arti kemegahan dan kemewahan Timur
dalam
bentuknya yang paling indah dan paling banyak diilhami oleh
dewa-dewa
kesenian dan kepenyairan. Kalau begitu, tidak heran pasukan
Muslimin
yang bertolak ke sana semua membawa kerinduan ingin
menyaksikannya,
menyaksikan hal-hal yang tak pernah terlihat oleh
mata,
tak pernah terdengar oleh telinga. Memang tidak heran kalau
gambaran
ini menambah semangat dan keberanian mereka untuk menjadikan
apa
yang tadinya dikira khayal itu kini menjelma di depannya
sebagai
suatu kenyataan.
Kota Bahrasir dikepung
Sa'd
membawa pasukannya menuju Bahrasir dengan semangat
yang
masih membara pada pasukan itu. Setiap kuda mereka melangkah
maju
mereka berhenti kemudian bertakbir berulang kali. Tetapi melihat
pihak
kota yang bertahan demikian ketat dengan memperkuat diri dan
tembok-tembok
kota ditutup rapat, maka tak mungkin mereka dapat
menyerang.
Maka satu-satunya jalan hanyalah dengan mengepungnya.
Sa'd
segera mengepung kota itu tanpa ada rasa takut ada yang
akan
menyergapnya dari belakang. la menyebarkan pasukan berkudanya
dan
menyerang beberapa bagian di Furat dan Tigris. Mereka dapat
menyekap
seribu petani dan membawa mereka sebagai tawanan. Mereka
menggali
parit di sekitar mereka. Tetapi petani-petani itu bukan tentara
yang
biasa berperang, jadi tak ada faedahnya menawan mereka, juga
tidak
berbahaya kalau dibebaskan. Atas saran Syirzad — seorang penguasa
Persia
atau dihkan Sabat
— kepada Sa'd mereka dikembalikan
ke
desa untuk kembali mengolah tanah dan memperbanyak hasil buminya.
Sa'd
melaporkan segala tindakannya itu kepada Umar, dan Khalifah
pun
menyetujui saran Syirzad. Dengan demikian penduduk Sawad
di
sekitar tepi Sungai Tigris sampai ke daratan Arab merasa aman. Di
sana
mereka mengolah tanah. Para penguasa Persia itu membayar pajak
(kharaj) dan jizyah sementara para petani itu
sudah merasa makin
aman.
Sa'd meneruskan pengepungan atas kota Bahrasir tanpa merasa
khawatir
akan disergap dari belakang, juga bahan makanan pasukannya
sudah
tak perlu dikhawatirkan.
Pasukan
Muslimin kemudian menghujani bagian dalam tembok
kota
Bahrasir dengan manjanik (manjaniq)1
Tetapi pihak Persia tidak
akan
menjadi lemah karena gencarnya serangan itu. Mereka yakin,
walaupun
musuh tidak diusir dari kota mereka, namun sudah tampak
betapa
kuatnya ibu kota itu. Mempertahankan Bahrasir memang tidak
sulit.
Tembok-tembok yang kuat dengan benteng-benteng yang begitu
kukuh
dan jembatan Tigris yang menghubungkan Mada'in, bala bantuan
dan
bahan makanan yang tak terbilang banyaknya, dapat didatangkan
dari
segenap penjuru Persia yang terbentang luas. Oleh karena itu
mereka
bertahan terhadap pengepungan itu selama berbulan-bulan.
Dalam
hal ini para sejarawan berbeda pendapat, antara sembilan atau
delapan
belas bulan. Selama pengepungan itu berlangsung angkatan
bersenjata
mereka adakalanya sampai keluar dari batas tembok, menyerang
pasukan
Muslimin dengan harapan kalau-kalau mereka mengalami
kekalahan
dan dapat dipukul mundur. Tetapi yang terjadi kebalikannya,
dalam
menghadapi angkatan bersenjata itu pasukan Muslimin di pihak
yang
menang dan mereka dapat dipukul mundur kembali ke kota dan
berlindung
lagi di balik tembok-tembok, dengan membawa malu yang
sudah
tercoreng di dahi.
Sesudah
pengepungan berlangsung cukup lama dan segala yang
menimpa
pihak pasukan mereka terasa makin berat, satu pasukan dari
angkatan
bersenjatanya yang paling dapat dipercaya dikirim ke luar.
Tetapi
pasukan ini pun dipukul mundur dan kembali ke kota. Kekalahan
ini
mematahkan semangat pasukan Persia dan timbul rasa takut
dalam
hati mereka bahwa pasukan Muslimin memang tak dapat dikalahkan.
Berita-berita
pengepungan dan pertempuran itu setiap hari — bahkan
setiap
saat — sampai juga kepada Yazdigird. Ia diliputi rasa kesal,
bahkan
hampir putus asa. Di samping pengepungan yang sudah terlalu
lama,
mereka juga melihat pihak Muslimin selama berbulan-bulan bukan
makin
lemah, malah yang terlihat kekayaan Irak berupa timbunan
makanan
yang setinggi gunung sudah ada di belakang mereka. Kemudian
di
pihak pasukan Persia sendiri sudah tampak makin rapuh dan
semangat
mereka makin menurun. Diyakininya bahwa tak mustahil
Bahrasir
akan jatuh ke tangan musuh. Ketika itulah ia mengutus orang
kepada
Sa'd menawarkan langkah perdamaian bahwa Tigris akan
dijadikan
batas pemisah dengan pihak pasukan Muslimin, "Dari batas
Tigris
ke arah kami milik kami dan dari batas Tigris ke arah kalian
milik
kalian." Tetapi Sa'd menolak ajakan perdamaian Yazdigird itu
dan
utusannya disuruh kembali pulang. Bagaimana akan mengadakan
perdamaian
sedang perintah Umar sudah jelas sekali untuk membebas228
UMAR
BIN KHATTAB
kan
Mada'in. Bagaimana akan mengajaknya damai sesudah pasukannya
dapat
mengalahkan Bahrasir dan menawan sebagian pasukannya, dan
sekarang
mereka sudah siap menyerbu tembok-tembok itu!
Belum
lagi utusan itu tiba untuk melapor kepada Yazdigird tentang
penolakan
itu, Sa'd bin Abi Waqqas sudah memerintahkan pasukannya
mengadakan
pengepungan yang lebih ketat dan pelemparan dengan
manjanik
dilipatgandakan. Semua lemparan itu tidak mendapat perlawanan
dari
pihak Bahrasir. Sa'd yakin bahwa garnisun sudah dikosongkan.
Sa'd
memanggil dan memerintahkan pasukannya menyerbu. Anak
buahnya
segera memanjati tembok-tembok dan membukai pintu-pintu
gerbang,
tetapi tak ada perlawanan, juga tak ada orang yang tampak
keluar
kecuali seorang laki-laki menyerukan keamanan dan dari orang
ini
kemudian diketahui bahwa garnisun Bahrasir memang sudah dipindahkan
ke
Mada'in atas perintah Yazdigird, dan bahwa jembatannya
sudah
dibakar dan mengumpulkan semua kapal yang berlayar di Sungai
Tigris,
dengan tujuan agar arus sungai yang bergolak itu tetap menjadi
garis
pertahanan untuk mengusir para penyerang dari ibu kota yang
makmur
itu.
Perjalanan ke Mada'in
Tengah
malam pasukan Muslimin sudah memasuki kota Bahrasir.
Tak
ada yang merintangi mereka untuk cepat-cepat pergi ke arah Tigris
untuk
menyeberang dan menyerbu Mada'in serta daerah-daerah sekitarnya.
Tetapi
jembatan untuk penyeberangan sudah tak ada lagi, juga tak
ada
kapal yang dapat membawa mereka. Mereka berhenti di tepi
sungai.
Pemandangan yang mereka lihat di depannya sungguh memukau.
Mereka
hanya berdiri tercengang, melihat semua itu dengan
mata
terbelalak, dengan hati bergolak, hampir tidak percaya apa yang
sedang
mereka saksikan di depan mereka itu: Sebuah bangunan besar
yang
sungguh indah, megah dan mewah, berdiri di depan mereka di
seberang
pantai dengan ketinggian yang tak biasa buat mata mereka,
tampak
ciri warna putih, kendati dalam malam gelap pekat. Malam
terasa
lembut, langit bersih dan angin bertiup semilir sedap menambah
kelembutan
malam dan pemandangan yang begitu indah dan agung.
Pasukan
itu menahan napas, mata terbelalak, mulut ternganga, karena
perasaan
yang sudah dikuasai rasa kagum. Berturut-turut kelompokkelompok
pasukan
itu datang ke pantai sungai. Mereka berdiri masih
dipengaruhi
kekaguman, seolah mereka sudah terpaku di tempat masingmasing.
Sesudah
kemudian datang Dirar bin Khattab dan rombongannya
dan
melihat seperti yang mereka lihat, ia bertakbir dengan sekuatkuatnya:
Allahu
Akbar! Inilah warna putih istana Kisra! Inikah yang
dijanjikan
Allah kepada Rasul-Nya? Ketika itulah suara takbir itu bergenia
dari
segenap penjuru. Mereka semua yakin sekarang, bahwa
mereka
sudah di depan Ruang Sidang Istana Kisra, yang selama ini
sering
mereka dengar disebutkan dalam sajak-sajak para penyair dan
menjadi
buah bibir orang, sehingga mereka hanya menyerah kepada
kerinduan
untuk menyeberang ke Iwan Kisra, Ruang Sidang Istana itu,
lalu
mengelilinginya untuk memuaskan mata, kemudian memasukinya.
Mereka
ingin melihat Takhta Kisra di depan balairungnya yang agung
itu,
ingin panglima tinggi mereka duduk di atas takhta itu mengucapkan
kalimat
tauhid, lalu disambut dengan gema suara di segenap penjuru
istana,
bahwa Allah telah menepati janji-Nya: Dijadikan-Nya seruan
orang
kafir menyuruk jatuh sampai ke dasar dan firman Allah menjulang
tinggi
sampai ke puncak. Allah Mahamulia, Mahabijaksana.
Tidak
heran jika pasukan Muslimin dibuat begitu tercengang melihat
istana
Kisra. Istana ini termasuk salah satu keajaiban dunia saat
itu.
Bukan tuanya yang menimbulkan kekaguman, ketika itu usianya
belum
begitu lama, pembangunannya belum sampai seratus tahun.
Tetapi
keindahan dan keagungannya itulah yang telah menimbulkan
kekaguman.
Dibangun oleh Kisra Anusyirwan tahun 550 M., sebuah
bentuk
bangunan yang telah mengalahkan bangunan Rumawi dan Yunani
yang
paling megah sekalipun. Bagian depannya lebih dari seratus
lima
puluh meter dan tingginya melebihi empat puluh meter, dengan
kubah-kubah
yang bertengger di atas balairungnya yang lima buah menjadi
mahkota
yang menambah keindahan dan keagungannya. Orangorang
Arab
yang kini matanya sedang terpaku itu ingin tahu kekayaan
apa
yang ada di balik keindahan itu. Sudah tentu semua itu di luar yang
dapat
dibayangkan. Serambi yang berada di tengahnya, kubahnya yang
lebih
tinggi daripada semua kubah, dan sudah tentu Ruang Sidang Istana
inilah
yang belum pernah didengar orang ada bandingannya di
seluruh
dunia. Bukankah cerita-cerita sudah banyak beredar tentang
Takhta
Kisra serta permata berlian yang menghiasinya sehingga tak
ubahnya
seperti sebuah dongeng!? Semua itu sekarang, Takhta, Ruang
Sidang
Istana dan Istananya berdiri utuh di depan pasukan itu, yang
hanya
dipisahkan oleh sungai, dan ini pula yang setiap saat keindahannya
makin
memukau. Kapan gerangan mereka akan menyeberanginya
dan
melihat dengan mata kepala sendiri semua isinya?!
Rencana Yazdigird melarikan diri
Sementara
semua ini berkecamuk dalam hati pasukan Muslimin
dijalin
pula oleh khayal yang subur, ditambah lagi dengan pemandangan
ibu
kota Mada'in yang begitu cemerlang, Yazdigird sendiri di
tengah
balairung Istana itu pikirannya sedang kacau, wajahnya kusam,
rasa
waswas datang menderanya dari segenap penjuru. Sungai Tigris
merupakan
sebuah benteng alam dengan aliran airnya yang luas,
dengan
arusnya yang deras melonjak-lonjak. Dengan demikian jarak
pemisahnya
bertambah luas dan cairan-cairan salju di puncak-puncak
gunung
akan menambah gejolaknya arus itu, yang bersumber dari Azerbaijan
dan
Mosul. Tak mungkin lagi pasukan Muslimin akan dapat melangkahinya
sesudah
kapal-kapal dikumpulkan semua di tepi sebelah
timur
Sungai. Tak dapatkah angkatan bersenjata Persia melindungi pantai
itu,
dan menangkis semua bahaya dari ibu kota? Ini merupakan pemikiran
biasa
dalam hal seperti ini, dan sudah seharusnya pula Yazdigird
berpikir
ke arah itu dan memanggil angkatan bersenjatanya untuk
bertukar
pendapat. Dari jiwanya yang masih muda dapat ia salurkan ke
dalam
jiwa mereka dan jiwa semua orang penduduk ibu kota —
semangat
untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan mereka.
Sekiranya
mau ia melakukan itu, paling kurang itulah kewajibannya
terhadap
dirinya, terhadap masyarakat yang telah menyerahkan pimpinan
ke
tangannya, niscaya mereka akan berkumpul di sekelilingnya
untuk
mempertahankan keberadaannya. Tetapi
kebingungannya telah membuatnya tersesat dan pikirannya jadi
kacau. Akibatnya ia melihat pasukan Muslimin itu tak Iain adalah
jin
yang tak mungkin ada kekuatan apa pun yang mampu merintangi
langkahnya,
dan tak akan mampu berbuat apa pun selain melarikan
diri!
Ya, siapa pula yang lebih berhak lari terlebih dulu daripada dia
sendiri,
menyelamatkan diri dan keluarganya! Oleh karena itu ia memerintahkan
stafnya
untuk membawa segala harta kekayaannya berikut
barang-barang
simpanannya. Perempuan-perempuan dan sanak keluarganya
segera
diangkut menuju Hulwan. Orang-orang melihat apa yang telah
dilakukan
Raja mereka itu. Semangat mereka pun remuk. Kini mereka
hanya
berpikir untuk juga menyelamatkan diri dan keluarga mereka.
Bukankah
Raja menjadi panutan rakyatnya? Mengapa keluarga kerajaan
dan
dayang-dayangnya lebih diutamakan daripada istri seorang prajurit
atau
perwira dan keluarganya?! Dengan demikian semangat hendak
mengadakan
perlawanan dalam hati prajurit Persia hilang sudah. Tak
ada harapan lagi bagi mereka selain nasib baik yang
memberi ke
bahagiaan
kepada mereka dan sungai itu juga yang akan menjadi alat
penangkis
serangan lawan, atau akan tersandung sekali sehingga mereka
tak
lagi berkuasa, dan untuk mengadakan perlawanan sudah tidak
mungkin
lagi.
Mukjizat di Sungai Tigris
Demikianlah,
di Sungai Tigris itu kini mengalir dua macam pasukan:
satu
pasukan yang sudah remuk segala kekuatannya, tak lagi
punya
semangat, tak lagi punya kemauan. la sudah menyerahkan diri
kepada
nasib. Dan satu pasukan lagi semangat idealismenya begitu
tinggi
dan sudah mencapai kekuatan iman dan percaya diri akan menang,
sehingga
terbayang olehnya bahwa ia dapat memukul Sungai itu
dengan
tongkatnya yang akan membukakan jalan menyeberang ke
Ruang
Sidang Istana Kisra. Itulah mukjizat yang diberikan Allah kepada
Nabi
Musa sehingga ia dan rombongannya dapat melarikan diri
dari
Mesir. Hal yang sama ini sekarang akan diberikan kepada pasukan
Muslimin.
Mereka akan menyeberangi sungai itu, akan menyerbu Mada'in
dan
menurunkan kedaulatan Kisra-kisra itu, kemudian menaikkan
panji
kebenaran di atas Ruang Sidang Istana yang agung itu.
Ya!
Itulah mukjizat pasukan Muslimin yang menyeberangi Sungai
Tigris.
Mereka berdiri di tepi Sungai itu melihat air yang sedang bergolak.
Sa'd
sedang memikirkan cara untuk menyeberanginya. Pikirannya belum
mernberikan
jalan keluar. Ia memerintahkan stafnya membawa orang-orang
dusun
Persia untuk dimintai keterangan. Mereka menyarankan untuk terjun
ke
Sungai sampai ke dasar wadi. Tetapi dia khawatir arus yang deras akan
membahayakan
pasukannya. Ia lebih cenderung setiap orang tetap di tempatnya.
Karena
masih ragu, saran orang itu tidak dilaksanakan.
Keesokan
harinya Sa'd menerima berita bahwa Yazdigird telah
memerintahkan
agar segala harta simpanannya diangkut ke Hulwan.
Sa'd
mengumpulkan anggota pasukannya dan berpidato di hadapan
mereka.
Sesudah mengucapkan hamdalah dan bersyukur kepada Allah
ia
berkata: "Musuh kita sekarang berlindung pada Sungai ini. Janganlah
biarkan
dia lolos dari sana. Mereka dapat lolos kalau mau dan akan
menyerang
kita dari kapal-kapal mereka itu. Kita tidak khawatir mereka
akan
datang dari belakang kita. Pengalaman kita dulu sudah cukup.
Mereka
menyia-nyiakan pelabuhan mereka ini dan merusak pertahanan
mereka
sendiri. Saya berpendapat sebaiknya kita dahului menyerang
musuh
sebelum kita terkepung. Ya, sudah saya putuskan akan menyeberangi
Sungai
ini ke tempat mereka."
Sikap
Sa'd itu dirasakan oleh anak buahnya tiba-tiba sekali. Bukankah
kemarin
ia masih ragu? Tidakkah ia khawatir pasukannya juga ragu
sehingga
tidak mampu menghadapi bahaya serupa itu? Tetapi ternyata
mereka
pun tidak ragu. Mereka sudah terpesona sekali oleh pemandangan
kota
Mada'in itu, di samping memang sudah tertarik oleh Istana
Kisra.
Mereka berani menghadapi hal yang mustahil untuk memasuki
ibu
kota dan mengepung Istananya. Oleh karena itu, belum selesai Sa'd
mengucapkan
pidato semua mereka sudah berkata: "Allah sudah menguatkan
hati
kami dan hati Anda, maka marilah kita laksanakan!"
Tetapi
bagaimana akan menyeberang? Kalaupun mereka menyeberang
dengan
menggunakan kuda, pasukan Persia di seberang pantai
sudah
menghadang mereka tanpa harus keluar dari tempat itu. Menyadari
hal
ini Sa'd menyuruh mereka dengan mengatakan: Siapa yang
akan
memulai dan melindungi selat ini buat kita supaya pasukan kita
dapat
menyusul tanpa terhalang untuk keluar. Lalu ia memanggil Asim
bin
Amr, dan sesudah itu memanggil enam ratus orang yang sudah
berpengalaman
dalam perang, dengan pimpinan oleh Sa'd diserahkan
kepada
Asim. Setelah mereka berangkat dan sampai di pantai Tigris
Asim
berkata kepada kawan-kawannya: Siapa yang akan bergabung
dengan
saya supaya dapat lebih dulu memasuki Sungai ini. Kita akan
melindungi
selat ini dari seberang sana? Ada enam puluh kesatria yang
bergabung
kepadanya dan dia yang di depan memimpin mereka ke tepi
Sungai
sambil berkata kepada mereka yang masih maju mundur:
Rupanya
kalian takut menghadapi air ini?! Lalu ia membacakan firman
Allah: "Segala yang bernyawa tak akan mati kecuali
dengan izin Allah;
waktunya sudah ditentukan..." (Qur'an,
3: 145).
Kemudian
ia memicu kudanya menerobos Sungai dan diikuti pula
oleh
sahabat-sahabatnya. Melihat regu pertama ini Qa'qa' bin Amr
terus
maju berenang, dan ketika ia melemparkan pandangnya ke seberang
Sungai
dilihatnya pihak Persia seolah sudah bersiap-siap hendak
menerjang
mereka, maka segera ia mengeluarkan perintah kepada sahabat-
sahabatnya
yang enam ratus orang untuk terjun dengan kudanya ke
Sungai.
Mereka mengarunginya seperti Asim dan teman-temannya.
Sekarang
pihak Persia yang malah tercengang melihat apa yang dilakukan
musuh
mereka itu. Mereka berkata satu sama lain: Gila! Gila! Dan
yang
lain berkata: Kalian bukan berperang dengan manusia, tetapi dengan
jin!
Pasukan
Persia hanya melihat kepada orang-orang yang begitu berani
bertualang
itu. Setelah mereka melihat Asim dan sahabat-sahabatnya
sudah
di tengah Sungai, mereka mengerahkan pasukan berkudanya untuk
merintangi
mereka jangan sampai keluar dari air dan akan mereka
perangi
di tengah Sungai. Mereka sudah berada di dekat Asim saat ia
sudah
mendekati selat. Asim memerintahkan anak buahnya: Panah,
panah!
Mereka segera membidik dengan sasaran mata kuda lawan.
Begitu
bidikan itu mengenai matanya, kuda Persia itu berbalik lari ke
belakang.
Para kesatria pasukan berkuda Persia itu tak berdaya menghadapi
mereka
yang sudah terjun menantang maut di tengah-tengah
gejolak
Sungai tanpa peduli lagi apa yang akan menimpa diri mereka.
Tetapi
tak seorang pun dari regu yang mengerikan itu yang cedera.
Bahkan
Asim sendiri yang pertama mendarat ke seberang pantai.
Pasukan
Persia berlarian di depannya. Qa'qa' segera menyusulnya
dengan
regunya dan tak seorang pun lagi sekarang yang masih tinggal
di
pantai. Melihat
pasukan yang sudah begitu kuat di selat Mada'in, Sa'd bin
Abi
Waqqas memerintahkan semua anggota pasukan berkudanya yang
ribuan
jumlahnya itu serentak menyerbu masuk ke sungai yang sedang
bergejolak
itu, seperti yang dilakukan Asim tadi. Sungai yang saat itu
sudah
penuh kuda tak tampak lagi airnya. Para nelayan perahu dan
awak
kapal orang-orang Persia diperintahkan oleh Asim untuk bertolak
ke
seberang Bahrasir untuk mengangkut pasukan Muslimin yang tidak
menyeberang
dengan kuda. Ketika Sa'd dengan angkatan bersenjatanya
menyeberang
penghuni Mada'in sudah lari semua. Yang masih tinggal
hanya
mereka yang bertahan di Istana Putih. Tetapi mereka tidak mengadakan
perlawanan.
Bahkan setuju mereka membayar jizyah. Pintu
Istana
pun dibuka untuk pasukan Muslimin.
Inilah
salah satu mukjizat perang, yang hampir tak masuk akal.
Dalam
al-Bidayah wan-Nihayah Ibn
Kasir selesai melukiskan secara
terinci
menyebutkan: "Itulah peristiwa besar dan hal yang amat penting,
yang
amat mulia dan yang luar biasa, suatu mukjizat Rasulullah Sallallahu
'alaihi wa sallam yang
diciptakan Allah untuk sahabat-sahabatnya,
suatu
hal yang tak pernah terjadi di negeri itu atau di mana pun di
dunia
ini. Ungkapan sejarawan Islam ini melukiskan perasaannya dan
perasaan
kita ketika di depan kita tergambar segala tindakan yang
sungguh cemerlang serta keberanian yang tak ada
taranya. Untuk me
lukiskan
semua perbuatan itu, adakah kata yang lebih tepat daripada
mukjizat?
Mukjizat yang bagaimana lagi ketika regu di bawah pimpinan
Asim
itu terjun ke Sungai, dan regu yang sebuah lagi di bawah
pimpinan
Qa'qa' juga terjun ke Sungai, dan keduanya tidak takut akan
ditelan
ombak atau akan diserang dengan panah oleh pasukan Persia
dari
seberang pantai?! Tetapi kepercayaan kepada kemenangan itulah
yang
telah mengangkat jiwanya ke mana pun akan dibawa, dan maut di
depan
matanya tak lebih dari kata-kata yang artinya sama: demi tujuan
yang
ingin dicapai. Pasukan Muslimin sudah tidak sabar lagi melihat
Mada'in.
Mereka ingin menerobosnya dan membebaskannya berapa
pun
harga yang harus dibayar, dengan darah dan dengan nyawa mereka
sekalipun. Itu
sebabnya, tatkala melihat mereka, pasukan Persia itu berkata:
Kita
tidak berperang dengan manusia tetapi dengan jin. Setelah itu
mereka
tak tahu lagi bagaimana cara menghadapi jin, yang datang
kepada
mereka muncul dari sela-sela ombak, dan seolah suatu kekuatan
gaib
telah mengguncang bumi dan gunung. Bukankah gunung-gunung
berapi
dan halilintar merupakan suatu kekuatan gaib juga. Demikian
halnya
dengan kedua regu itu, juga demikian dengan Sa'd dan angkatan
bersenjata
yang lain tatkala mereka terjun ke sungai, kelompok demi
kelompok,
kuda dan para kesatria itu menyeruak ke tengah-tengah
ombak
yang sedang melonjak-lonjak. Bagaimana suatu kekuatan akan
mampu
bertahan menghadapi kekuatan semacam ini! Pihak Persia yang
kekuatannya
sudah berantakan dan sudah kehilangan semangat dalam
menghadapi
jin yang sekarang mendatangi mereka, dan mereka dalam
ketakutan,
apa pula yang dapat dilakukannya selain melarikan diri!
"Inilah
mukjizat yang tak pernah terjadi di negeri itu atau di mana
pun
di dunia ini." Itulah kata-kata Ibn Kasir. Kalau tidak karena Timur
Leng
yang juga membawa-mukjizat serupa tatkala angkatan bersenjatanya
berenang
menyeberangi sungai ketika mereka menyerang Bagdad
pada
akhir dasawarsa abad ke-14 Masehi, tentu sebagian orang masih
akan
ragu untuk mempereayainya. Bahkan Balazuri menyebutnya dengan
agak
berhati-hati, dan menambahnya dengan sumber-sumber yang
lebih
sukar untuk dapat dipercaya, di antaranya sumber dari Aban bin
Saleh
yang mengatakan: "Pasukan Muslimin berakhir sampai di Tigris
yang
airnya sedang meluap, hal yang tak pernah terjadi. Kapal-kapal
dan
semua sarana penyeberangan ke bagian timur oleh pihak Persia
sudah
diangkat dan jembatannya dibakar. Sa'd dan pasukannya merasa
kesal sekali karena jalan untuk menyeberang sudah tak
ada. Salah se
orang
dari pasukan itu memberanikan diri mencebur dan berenang dengan
kudanya
ke seberang, maka pasukan yang lain pun mengikutinya
berenang.
Kemudian mereka memerintahkan para awak kapal itu untuk
mengangkut
barang-barang. Pasukan Persia itu berkata: Tidak lain yang
kita
perangi ini adalah jin. Maka mereka pun binasa." Ada lagi sumber
Abu
Amr bin Ala' yang mengatakan: "Sa'd sudah tidak mempunyai
sarana
penyeberangan lagi. Ada yang menunjukkan ke tempat penyeberangan
di
desa nelayan maka mereka menceburkan kudanya ke sana.
Pasukan
Persia menghujani mereka dengan serangan, tetapi ketika itu
tak
ada yang terkena selain seorang dari Banu Tayyi' yang cedera."
Tentu
sudah kita lihat bahwa sumber-sumber yang disajikan dengan
berhati-hati
itu terasa bahwa mereka masih ragu menerima sumbersumber
yang
kami kemukakan itu. Tetapi Tabari, Ibn Asir, Ibn Khaldun,
Ibn
Kasir dan yang lain sepakat menerimanya. Sungguhpun begitu,
kehati-hatian
mereka tidak dapat menafikan sumber-sumber tersebut
dan
tak dapat memastikin apa yang mereka sanggah. Kehati-hatian
demikian
hanya ada pada orang yang melihatnya sebagai suatu keajaiban
yang
memang dapat menimbulkan keraguan. Kalau mereka yang
ragu
hidup dalam akhir abad keempat belas Masehi dan mengetahui
bahwa
Timur Leng menyeberangi Sungai Tigris dengan pasukannya,
seperti
yang dilakukan Sa'd, niscaya sumber yang sudah disepakati
bersama
itu tidak akan mengherankan mereka lagi dan segala keraguan
dalam
pikiran mereka mengenai sumber yang sudah disepakati itu akan
hilang,
dan tidak lagi peristiwa yang mengherankan itu suatu keajaiban,
tetapi,
niscaya mereka akan yakin bahwa Sa'd: "Terjun dengan kudanya
ke
Sungai Tigris dan pasukannya ikut pula, sehingga tak seorang pun
yang
masih tinggal." Perjalanan mereka di tempat itu seperti sedang
berjalan
di permukaan tanah sehingga memenuhi kedua tepi Sungai itu,
artileri
dan infanteri tidak lagi melihat permukaan air. Mereka berbicara
di
permukaan air seperti berbicara di permukaan tanah. Soalnya karena
mereka
sudah tenteram, sudah merasa aman. Mereka hanya percaya
kepada
segala yang telah dijanjikan oleh Allah: pertolongan dan dukungan-
Nya...
Hari itu Sa'd berdoa untuk keselamatan dan kemenangan pasukannya.
la
telah menceburkan mereka ke dalam Sungai, tetapi Allah membimbing
dan
menyelamatkan mereka, sehingga tak seorang pun ada korban
di
pihak Muslimin, dan tidak pula ada dari barang-barang mereka yang
hilang
selain sebuah gayung dari kayu milik seseorang, karena tali gantungannya
sudah
rapuh lalu terbawa ombak ke seberang yang ditujunya.
Gayung
itu dipungut orang kemudian dikembalikan kepada pemiliknya...
Yang
mendampingi Sa'd bin Abi Waqqas di Sungai ketika itu
Salman
al-Farisi. Dalam hal ini Sa'd berucap: Cukup Allah bagi kami
sebagai
Pelindung terbaik. Niscaya Allah akan menolong pengikut-Nya,
Allah
akan memenangkan agama-Nya, Allah akan membinasakan musuh-
Nya,
selama dalam angkatan bersenjata ini tak ada orang yang melakukan
perbuatan
durhaka atau dosa yang melebihi kebaikan. Lalu kata
Salman
kepada Sa'd: Di Sungai musuh itu begitu hina, tak bedanya
dengan
di darat. Sungguh, demi yang memegang hidup Salman, mereka
akan
berbondong-bondong keluar, seperti waktu masuk. Memang benar,
mereka
keluar dari sana, seperti dikatakan Salman, tanpa kehilangan
apa
pun."
Sekarang
pasukan Muslimin keluar dari Sungai itu, dan kudanya
mengibas-ngibaskan
bulu tengkuknya sambil meringkik-ringkik. Mereka
memasuki
kota Mada'in tetapi sudah tak ada orang, — selain mereka
yang
masih mau bertahan dalam Istana — sebab Yazdigird sudah membawa
keluarganya,
harta dan barang-barang yang dapat diangkutnya
kemudian
mereka lari ke Hulwan. Sa'd menyerukan mereka yang masih
bertahan
dalam Istana itu supaya turun. Sesudah mereka turun, ia
masuk
bersama pasukannya sambil melemparkan pandangnya ke sana
sini,
melihat-lihat isi Istana yang agung itu, segalanya terdiri dari
barang-barang
berharga. Ketika itulah ia membaca firman Allah:
"Berapa banyak taman dan mala air yang mereka
tinggalkan;
tanaman-tanaman dan lempat-tempat kediaman yang
indah; dan
kenikmatan lempat mereka bersenang-senang.
Demikianlah mereka
berukhir, dan Kami wariskan kepada golongan lain.
Langit dan bumi
tidak menangisi mereka, juga mereka lidak diberi
penangguhan waktu."
(Qur'an,
44: 25-29).
Besarnya rampasan perang di Mada'in
Alangkah
agung dan mulianya kemenangan itu! Inilah kota Kisra.
dan
inilah pula Ruang Sidang Istananya. Mereka yang datang adalah
orang-orang Semenanjung Arab yang tandus dan gersang,
mereka ber jalan
penuh kagum di sela-sela taman-taman Istana, di antara taman bunga
yang merekah dan pohon-pohon yang tinggi-tinggi, berbagai macam
buah-buahan — kurma dan anggur. Belum pernah mata mereka
melihat
yang semacam ini. Dari kebun-kebun itu mereka berpindah ke
serambi,
yang membuat mereka bertambah kagum melihat isi di dalamnya
—
ukiran-ukiran yang begitu indah dan cermat di luar yang dapat
mereka
lukiskan. Perabot-perabot rumah, yang di Damsyik pun tak ada
yang
dapat dibandingkan. Pelbagai permadani dari sutera Persia dianyam
dengan
emas dan perak, dan segala kemewahan dan kenikmatan
hidup
terkumpul semua dalam Ruang Sidang Istana itu — karya-karya
seni
yang begitu indah dari segenap penjuru di Timur. Gerangan apa
ini!!
Dapatkah semua itu dibalas dengan rasa syukur kepada Allah?
Tetapi
bagi Sa'd dan sahabat-sahabat tak dapat berbuat lain daripada
rasa
syukur itu kepada Allah yang telah memberikan kemenangan
kepada
mereka. Dengan demikian Sa'd mengadakan salat syukur kepada
Allah,
salat kemenangan, delapan rakaat dengan satu kali salam.
Setelah
itu ia memerintahkan anak buahnya agar membawa keluarga
pasukan
Muslimin dari Hirah dan kota-kota serta desa-desa lain di Irak
ke
Mada'in. Sa'd
tinggal di Istana Kisra itu, dan Ruang Sidang Istana dijadikannya
musala.
Patung-patung yang ada di dalamnya dibiarkannya tidak
terusik
di tempatnya. Buat apa pula diusik yang hanya merupakan
hiasan
yang memperindah Istana dan tempat-tempat lain di dalam
serarribi,
kendati Ruang Sidang Istana itu diutamakan lebih indah dan
lebih
cemerlang. Dinding Istana dihiasi dengan ukiran-ukiran dari dasar
di
bawah sampai ke kolong-kolong kubah. Dinding yang tampak dari
luar
putih metah dibiarkan polos. Dalam
lemari-lemari Kisra itu Sa'd bin Abi Waqqas menemukan
penuh
dengan harta, pakaian yang mahal-mahal, bermacam-macam alat
rumah
tangga dan bejana, barang-barang lain yang nilainya tak mungkin
dapat
dilukiskan dengan kata-kata dan angka. Dalam pada itu Sa'd
sudah
mengirim pasukannya untuk mengejar Yazdigird dan mereka
yang
lari bersamanya ke Hulwan. Mereka berhasil menyusul dan membawa
kembali
sebagian mereka berikut barang-barang bawaannya, yang
ternyata
nilainya melebihi harta yang ada di dalam Istana. Dan di dalam
gedung-gedung
sekitar Istana di Mada'in itu pasukan Muslimin
juga
menemukan barang-barang berharga dengan nilai yang dapat
membingungkan
daya khayal mereka, dan segalanya menunjukkan
kemewahan
penghuninya, dan yang hanya dikenal oleh Persia.
Kita
sekarang juga merasa kagum mengenai nilai barang-barang
rampasan
perang itu, baik nilai ataupun jumlahnya. Tidak heran jika
para
panglima yang melihat dengan mata kepala sendiri barang-barang
rampasan
perang itu begitu terperangah dan kagum melebihi kita, dan
kalangan
sejarawan Arab menyebut rampasan perang itu dengan terinci
sekali
yang dapat membenarkan kekaguman kita dan para panglima
itu.Disebutkan
pula bahwa di tempat-tempat penyimpanan Kisra itu
Sa'd
menemukan tiga triliun dinar, dan barang-barang berharga di
Istana
yang sudah tak terhitung nilainya. Dan mereka yang berangkat
mengejar
Kisra membawa kembali sebuah mahkota bertatahkan mutu
manikam,
mutiara dan permata, dan pakaian dari sutera bersulam emas
dan
bertatahkan permata. Yang bukan sutera, yang juga bersulam, di
samping
mutiara Kisra, adalah pedang dan baju besinya yang juga
dihiasi
permata. Ketika Qa'qa' bin Amr mengejar seorang Persia dan
berhasil
membunuhnya, ia menemukan dari orang itu dua kopor besar
berisi
beberapa pedang, baju-baju besi milik Kisra, Heraklius, raja
Turki
dan raja-raja lain yang pernah diperangi dan memerangi Persia.
Sesudah
itu datang pula Ismah bin Khalid ad-Dibbi membawa dua buah
keranjang,
salah satunya berisi kuda dari emas dengan pelana dari
perak,
mulut dan lehernya dihiasi batu yakut dan zamrud yang ditatah
dengan
perak, begitu juga kekangnya, dan penunggang kuda terbuat
dari
perak bermahkotakan permata. Dalam keranjang yang sebuah lagi
berisi
unta terbuat dari perak dengan kain wol penutup punggung dan
perut
dari emas berikut tali kendalinya yang juga dari emas. Semua itu
ditatah
dengan batu yakut dengan patung seorang laki-laki di atasnya
terbuat
dari emas bermahkotakan permata. Di gedung-gedung besar di
Mada'in
pasukan Muslimin menemukan juga keranjang-keranjang yang
disegel
dengan timah, yang dikira berisi makanan, tetapi ternyata adalah
bejana-bejana
dari emas dan perak yang seragam. Di tempat-tempat
itu
juga mereka menemukan tidak sedikit kapur barus, yang karena
banyaknya
mereka mengiranya garam. Setelah dibuat adonan baru diketahui
karena
rasanya yang pahit. Adakah
semua harta karun itu menggoda orang-orang Arab itu, lalu
ada
yang tergoda dari mereka ingin mengambilnya barang sedikit untuk
dirinya
dan bukan dikembalikan kepada kolektor yang sudah ditunjuk
oleh
Sa'd untuk kemudian dibagikan? Tidak! Bahkan masing-masing
yang
memperoleh barang rampasan itu menyerahkannya kepada kolektor
itu
sampai nanti Sa'd sendiri memberikan pendapatnya.
Sesudah
itu Qa'qa' bin Amr yang datang membawa pedang-pedang
Kisra
dan raja-raja yang lain dan menyerahkannya kepada Sa'd, oleh
Sa'd
ia disuruh memilih. la memilih pedang Heraklius, yang lain ditinggalkan.
Ketika
ada laki-laki datang kepada kolektor itu membawa
sebuah
botol yang sangat berharga, kolektor itu dan beberapa orang
yang
berada di tempat itu menanyakan: Dari semua yang ada pada kita,
kita
tidak melihat yang semacam ini atau yang mirip dengan ini.
Mereka
menanyakan lagi laki-laki itu: Adakah yang sudah Anda ambil?
Tidak,
katanya. Kalau tidak karena Allah, tidak akan saya serahkan ini
kepada
kalian. Mereka menanyakan lagi tentang siapa dia? "Tidak akan
saya
beritahukan kepada kalian, agar kalian tidak memuji saya, tetapi
yang
saya puji hanya Allah dan saya sudah akan senang dengan
karunia-Nya."
Tetapi Sa'd segera tahu siapa orang itu dan yang semacamnya.
Kemudian
ia berkata: Angkatan bersenjata itu sangat berpegang
teguh
pada amanat. Kalau tidak karena veteran Badr sudah
berlalu,
tentu saya katakan bahwa pada mereka itulah ciri-ciri khas veteran
Badr.
Jabir bin Abdullah berkata: "Demi Allah, Yang tiada tuhan
selain
Dia, saya tidak melihat siapa pun dari penduduk Kadisiah yang
menghendaki
dunia bersama akhirat. Kita pernah menyangsikan tiga
orang,
Tulaihah, Amr bin Ma'di Karib dan Qais bin Maksyuh padahal
kita
tidak melihat orang yang begitu jujur dan zuhud seperti mereka.
Kesaksian
Jabir atas ketiga orang itu punya alasan sendiri. Mereka dulu
memimpin
kaum murtad yang ditumpas oleh Abu Bakr dan yang memerangi
Abu
Bakr karena rakusnya pada dunia dan kekuasaan. Sekarang
mereka
menjadi Muslim yang baik dan berada di garis depan
dalam
berjuang di jalan Allah, menjauhi dunia dan mendekatkan diri
kepada
Allah dengan mengerjakan segala amal kebaikan dan matimatian
mempertaruhkan
diri dalam perang.
Sa 'd membagi hasil rampasan perang
Sa'd
memisahkan seperlima rampasan perang itu untuk dikirim ke
Medinah,
dan yang diutamakan sekali apa yang menjadi kesenangan
Muslimin
di sana. Ia bermaksud mengirim permadani beledru milik
Kisra
seperlima, tetapi dilihatnya pembagiannya tidak akan seimbang.
Maka,
katanya kepada sahabat-sahabatnya: Adakah kalian puas dengan
empat
perlimanya, dan kita mengirimkannya kepada Umar supaya dapat
diatur
sesuai dengan yang dikehendakinya? Kita berpendapat di tempat
kita
ini tidak akan terbagi, karena hanya sedikit, tetapi bagi pihak
Medinah
akan sangat berarti. Permadani ini enam puluh hasta dalam
segi
empat, yang disediakan bagi para kisra jika datang musim dingin
yang
keras dan tidak ada tumbuhan yang harum tumbuh. Permadani ini
berlukiskan
jalan-jalan kerajaan, dihamparkan di atas tanah yang keemasan,
disela-sela
air sungai yang mengalir bertatahkan mutiara, bagian
bawahnya
seperti tanah yang ditanami tanam-tanaman musim semi
dengan
batang dari emas, daun dari sutera dan buahnya dari permata.
Setelah
pendapat Sa'd mereka setujui permadani bersama seperlima
(rampasan
perang) dikirim ke Medinah.
Sa'd
membagikan rampasan perang itu kepada anggota-anggota
pasukannya,
dan sudah selesai untuk 60.000 orang dari pasukan berkuda,
setiap
orang mendapat dua belas ribu. Untuk penduduk negeri
diberi
sesuai dengan perjuangan mereka. Sa'd juga mengatur pembagian
rumah-rumah
kepada anggota-anggota pasukannya. Yang berkeluarga
banyak
ditempatkan di gedung-gedung dan mereka tinggal di sana sampai
tiba
saatnya, ada di antara mereka yang harus meninggalkan tempat
tersebut
sesudah gerakan pembebasan itu makin meluas sampai ke
desa-desa
di Persia. Kita bebas membayangkan sendiri betapa gembiranya
para
prajurit itu dengan rampasan perang tersebut, serta semangat
mereka
menghadapi pembebasan baru dengan rampasan perangnya
yang
baru pula.
Umar, Sa 'd dan Yazdigird
Basyir
bin al-Khasasiah berangkat ke Medinah membawa seperlima
rampasan
perang itu, dan diserahkannya ke tangan Amirulmukminin.
Umar
sudah lebih dulu mendapat berita tentang pembebasan
Mada'in,
karena Sa'd memang sudah mengirim laporan kepadanya
tentang
apa yang dikerjakannya sehingga seolah Umar sendiri hadir.
Sungguhpun
begitu ia terkejut sekali melihat begitu banyak rampasan
perang
itu dan nilainya serta usaha pasukan Muslimin memperolehnya
secara
utuh. Ia menoleh kepada orang-orang di sekitarnya sambil berkata:
"Mereka
orang-orang yang dapat dipercaya yang telah melaksanakan
semua
ini!" Ali bin Abi Talib menjawab: "Anda hidup
sangat
sederhana dengan menahan diri dari segala yang Anda rasa tidak
baik,
sehingga rakyat Anda juga begitu. Kalau saja Anda mau menyenangkan
diri
tentu mereka juga akan demikian." Umar memperhatikan
segala
pakaian Kisra, beberapa pedang dan baju besinya. Lalu dipakaikannya
pada
sebatang kayu dan diletakkannya di depannya supaya
dilihat
oleh orang banyak betapa mengagumkan perhiasan itu. Dikatakan
konon
ia memanggil Suraqah bin Ju'syum, orang yang paling besar
badannya
dan paling gemuk. la mengenakan baju Kisra itu kepadanya
berikut
celana, jubah, pedang, sabuk, gelang, mahkota dan kasutnya.
Disuruhnya
ia mundar mandir di depannya. Kemudian katanya: "Bah,
bah.
Arab pedalaman dari Banu Mujlij memakai jubah Kisra berikut
celana,
pedang, mahkota dan kasutnya!! Hai Suraqah, sekiranya suatu
hari
barang-barang Kisra dan keluarga Kisra ini menjadi milik Anda
tentu
merupakan suatu kehormatan bagi Anda dan masyarakat Anda!..."
Dikatakan
begitu karena Kisra mempunyai beberapa macam pakaian,
pada
setiap acara dengan pakaian tersendiri.
Setelah
Umar mendatangkan orang yang paling besar tubuhnya di
Medinah,
setiap macam pakaian demi pakaian itu dipakaikan kepadanya.
Ia
melihat orang-orang menyaksikan semua pakaian itu sebagai peristiwa
keajaiban
dunia yang luar biasa. Sesudah selesai orang badui
tersebut
mengenakan pakaian itu semua, Umar menengadah ke atas
seraya
berkata: "Allahumma ya Allah, Engkau telah menghindarkan
semua
ini dari Rasul-Mu dan Nabi-Mu, padahal dia lebih Kaucintai
daripada
aku, lebih Kaumuliakan daripadaku, juga Engkau telah menghindarkannya
dari
Abu Bakr, yang lebih Kaucintai daripadaku, lebih
Kaumuliakan
daripadaku. Maka jika semua ini akan Kauberikan kepadaku,
aku
berlindung kepada-Mu ya Allah, juga jangan sampai Kauberikan
kepadaku
untuk memuliakan aku!"
Itulah
salah satu ciri khas Umar yang kelak akan dikenang orang
dan
pengaruhnya yang sangat jelas terhadap umat pun akan dikenang.
Ia
sudah merasakan kemewahan ini akan menimbulkan daya tarik
dalam
hati orang dan akan dijadikan pola hidup untuk dicontoh, dan
dengan
segala daya upaya orang akan membayar berapa pun harganya
demi
tujuan itu. Akibatnya, orang akan menjauhkan diri dari segala arti
kemanusiaan
yang lebih terhormat, yang akan mengantarkan hati dan
pikiran
kita ke puncak tertinggi untuk mendekatkan diri kepada Allah,
yang
dengan karunia-Nya pula kita akan melihat wajah Kebenaran.
Karena
ciri khas Umar itu, karena kekhawatirannya bahwa Allah
memberikan
harta kekayaan Kisra kepadanya itu untuk mengujinya,1 ia
menangis
sehingga orang-orang merasa iba hati melihatnya. Kemudian
sambil
menunjuk kepada harta itu ia berkata kepada Abdur-Rahman bin
Auf:
"Saya meminta Anda dengan sungguh-sungguh, hendaklah sebelum
sore
ini sudah Anda jualkan harta ini kemudian bagi-bagikan!"
Selanjutnya
Umar membagi-bagikan yang seperlima itu kepada orang
banyak
sesuai dengan kadar mereka dan memberikan tambahan kepada
mereka
yang hadir dan yang tidak hadir dari keluarga orang-orang yang
sudah
berjuang. Melihat permadani yang tak dapat dibagi ia berkata
kepada
mereka yang ada di sekitarnya: "Bagaimana pendapat kalian
mengenai
permadani ini." Mereka berkata: "Semua pasukan sudah
memberikan
itu untuk Anda, dan pendapat kami mengenai ini kami
menyerahkan
kepada Anda. Ada lagi yang berkata: Itu hanya untuk
Amirulmukminin
sendiri. Tetapi Umar tak mau memilikinya atau memberikan
pendapat.
Saat itulah Ali bin Abi Talib berkata: "Allah tidak
akan
menjadikan ilmu yang ada pada Anda untuk membuat Anda
bodoh,
dan keyakinan Anda menjadi keraguan. Anda tak mempunyai
apa-apa
di dunia ini selain yang sudah diberikan kepada Anda, maka
itu
pun sudah berlalu, atau yang Anda pakai, itu pun sudah usang, atau
yang
Anda makan, dan itu juga sudah habis. Kalau ini Anda simpan
sekarang
Anda tidak akan menghilangkan hak orang yang tidak punya."
Umar
berkata: "Anda memang bersungguh-sungguh menasihati saya."
Kemudian
permadani itu dipotongnya dan dibagikan kepada khalayak.
Ali
juga mendapat sepotong tetapi bukan dari yang terbaik. Sungguhpun
begitu
sudah pula dijualnya dengan, harga dua puluh ribu.
Sementara
Umar membagi-bagikan rampasan perang kepada penduduk
Medinah,
orang melihat apa yang sudah mereka terima itu suatu
karunia
dari Allah yang belum pernah mereka rasakan. Dalam pada itu
Sa'd
bin Abi Waqqas pun sudah merasa tenteram di Mada'in. Ia tinggal
di
Istana itu dan Ruang Sidangnya dijadikan musala untuk kaum Muslimin.
Suara
azan diperdengarkan di dalamnya, dan salat pun dilaksanakan.
Setiap
hari Jumat orang berkumpul di tempat ini dan Sa'd yang
bertindak
sebagai khatib dan imam.
Sementara
itu Yazdigird sudah pula tiba di Hulwan, dengan perasaan
sedih,
terkulai dalam keadaan kalah. Jantungnya terasa remuk
dirundung
kesedihan, hatinya terasa pecah terbawa rasa putus asa.
Teringat
ia akan keagungan Persia, kemegahannya yang menjulang
begitu
tinggi. Bertambah sedih hati mengenangnya. Terbayang di depan
matanya
sosok Rustum dan segala yang disebutnya dulu tentang
ramalan-ramalan
nujum. Di mana sejarah silam itu sekarang, tatkala
nenek
moyangnya bergerak dari Iran ke Irak, lalu menyusur sepanjang
pantai
Tigris, dan ketika mereka berada di Cteciphon (Mada'in) yang
berhadapan
dengan Seleusia (Saluqiah),1 dan ketika Cteciphon diperluas
dan
kota-kota sekitarnya digabungkan ke dalamnya, lalu kota ini
dan
Seleusia disatukan, yaitu Mada'in, kemudian Seleusia diberi nama
Bahrasir
supaya masa jayanya dulu dilupakan orang! Kalau ada kota
Yunani
bertahan dengan kebebasannya sendiri, maka itulah Sparta.
Tetapi
mana sekarang sejarah masa kisra-kisra nenek moyangnya
dari
dinasti Sasani yang dulu telah menaklukkan dunia itu? Dari masa
kakeknya
Ardasyir, yang telah membangun Istana Kisra dan Ruang
Sidangnya
yang paling megah dan mewah?! Sekarang dia menjadi seorang
raja
yang sudah tidak lagi berkuasa, terusir dari ibu kota kerajaannya,
lalu
lari seperti pengecut. Tabahkah dia menghadapi kekalahan
itu,
menghadapi bencana yang menimpanya? Adakah nasib masih akan
mendukung
pasukan Muslimin untuk terus mengejarnya sampai sejauh
mana
pun? Darah mudanya yang dulu mendidih dan keteguhan hatinya
yang
terus memberikan harapan, masih adakah harapan itu baginya,
ataukah
kekalahannya sudah membuat keteguhan hatinya mencair dan
darah
mudanya sudah tidak lagi mendidih, sehingga segala cita-cita dan
harapannya
hilang terbawa angin? Tatkala
pertama kali tinggal di Hulwan tak ada yang dipikirkan
oleh
anak muda yang sudah kalah itu. la sudah menawarkan perdamaian
kepada
pasukan Muslimin atas dasar Sungai Tigris sebagai
pembatas
antara dia dengan mereka. Ya, sesudah mereka membebaskan
Mada'in,
cukupkah dengan itu dan hanya sampai di situ? Kalau mereka
lakukan
ini berarti mereka ikut mewujudkan cita-citanya, dan hari
depan
cukup untuk menjamin kekuasaannya. Tetapi mereka pihak yang
menang,
dan pihak yang menang tak mengenal gencatan senjata. Angkatan
bersenjatanya
yang dulu banyak berlimpah, sudah beterbangan
kian
ke mari mencari selamat. Serahkanlah semua itu kepada masa
yang
akan datang! Dan hari esok bagi yang mengawasinya itu dekat!
Apa
yang akan terjadi besok? Itulah yang akan kita bicarakan
dalam
bab berikut ini.
Assalamualaikum, ada film nya nggak
BalasHapus