Sabtu, 17 Maret 2012

PEMBEBASAN MADAIN


PEMBEBASAN MADAIN
Pasukan Persia dari Kadisiah ke puing-puing Babilon
Sesudah Pertempuran Kadisiah itu pasukan Persia melarikan diri,
tanpa melihat lagi ke belakang. Sebagian besar mereka sudah
sampai ke bekas reruntuhan Babilon,1 dan yang lain terpencar di sana
sini di Persia. Pasukan Muslimin tinggal di Kadisiah selama dua bulan
sambil beristirahat dan sementara itu Sa'd pun sudah sembuh dari
sakitnya. Umar menulis kepada Sa'd agar tidak meninggalkan tempattempat
itu sampai nanti ada perintah lebih lanjut.
Setelah kemudian berita-berita tentang pasukan dan bala bantuan
yang dikirimkan cukup memuaskan, ia memerintahkan Sa'd berangkat
ke Mada'in. Perempuan dan anak-anak supaya ditinggalkan di Atiq dengan
sekelompok pasukan yang akan menjaga mereka. Pasukan ini juga harus
mendapat bagian rampasan perang seperti pasukan yang lain sebagai
balas jasa bagi mereka yang mengawal keluarga pasukan Muslimin.
1 Sebutan nama ini sering membingungkan. Dalam bahasa Arab, Babil dapat disalin
dengan Babilon atau Babilonia. Dalam Da'iratul Ma'arif al-lslamiyah bahwa "orang
Arab menyebut nama Babil untuk nama kota dan negeri." Sedang Encyclopaedia
Britannica menyebutnya "salah satu kota kuno yang terkenal, terletak di tepi anak
Sungai Furat utara kota modern Hirah di Irak selatan," sementara Babilonia nama dua
kerajaan di Mesopotamia (Irak sekarang), yang secara kasar disamakan dengan dataran
terbuka terletak di antara Irak dengan teluk Persia, sedang Asiria di bagian utara sekitar
Mosul sekarang. Nama-nama ini diambil dari nama ibu kota masing-masing, Babilon
dan Asiria (Asyur). Jadi Babilonia rnerupakan gabungan dua kerajaan. Pada waktu Amr
bin As memasuki Mesir terdapat juga benteng dengan nama ini (Lihat catatan bawah h.
507. Dalam terjemahan ini dipakai nama Babilon mengingat yang dimaksud kota di
dekal Hirah. Sa'd menugaskan Zuhrah bin al-Hawiah berangkat lebih dulu ke
Hirah. Sesudah Abdullah bin al-Mu'tam dan Syurahbil bin as-Samt
sampai ke tempat itu, ia memulai lagi perjalanannya ke Mada'in. Dalam
perjalanan ini ia bertemu dengan sekelompok pasukan Persia di
Burs.1 Mereka dapat dipukul mundur dan lari bergabung dengan
mereka yang sudah lebih dulu ke Babilon. Berita mengenai sisa-sisa
pasukan Kadisiah yang berkumpul di Babilon sudah diketahui oleh
Zuhrah. Mengenai hal ini, ketika di Hirah bersama Hasyim bin Utbah
ia sudah melaporkan kepada Sa'd. Dalam perjalanan menuju Babilon
Sa'd bertemu dengan pasukan Fairuzan, yang dalam sekejap kemudian
dapat dipukul mundur. Fairuzan lari ke Nahawand, Hormuzan ke Ahwaz
dan Mehran ke Mada'in. Pasukan Muslimin terus maju. Di Kusi mereka
dihadang oleh Syahriar yang kemudian berhasil dibunuh dan pasukannya
dipukul mundur. Sa'd memberi tambahan dengan barang rampasan
Syahriar kepada yang membunuhnya. Zuhrah maju terus sampai ke
Sabat. Di tempat ini ia mengadakan perdamaian dengan penduduk atas
dasar jizyah, yaitu ketika mereka mengetahui bahwa ia sudah menaklukkan
pasukan yang menghadangnya di sekitar Sura dengan Dair
dan komandan-komandannya tewas. Tatkala pasukan Muslimin pergi ke
Sawad di seluruh kawasan itu mereka tidak menemui perlawanan yang
berarti. Penduduk sipilnya dari segenap penjuru cepat-cepat menemui
pemimpin-pemimpin pasukan ini dan menyatakan kesetiaannya. Mereka
sebagian masuk Islam, dan yang sebagian lagi dengan senang hati mau
membayar jizyah. Semua mereka sekarang setuju dengan undangundang
orang yang datang ke tempat mereka itu dan keadilan pun dapat
ditegakkan. Setelah itu mereka diusir ketika Khalid bin Walid bertolak
ke Syam. Mereka itulah yang kini kembali lagi dengan kekuatan yang
akan membuat segala harapan pihak yang hendak mengusir mereka
sekali lagi menjadi porak poranda. Siapa lagi yang hendak mengusir
mereka sekarang setelah Rustum mati, sedang semangat dan moral
pasukan Persia semua sudah begitu lemah! Mereka tunduk kepada
takdir. Inilah ketentuan Allah yang sudah tak dapat dielakkan, dan tak
seorang pun mampu mengatasinya.
Burs (Borsippa atau Birs Nimrud) adalah sebuah belukar di dekat Babilon. Sebagian
sejarawan menamakannya Bi'ir Namrud. Bersumber dari Ahmad bin Hammad al-Kufi.
Balazuri mengatakan: "Belukar Burs terletak di depan bangunan tinggi Namrud di
Babilon. Di belukar itu ada sebuah jurang curam, konon itu sebuah sumur. Batu merah
bangunan itu digali dari tanahnya. Dikatakan juga mata air sumur itu terletak di tempat
tersebut."  Sekarang Sa'd tinggal di Babilon, dan ia menugaskan Zuhrah bin
Hawiah berangkat lebih dulu memimpin angkatan bersenjata ke Mada'in.
Coba kita lihat, apakah puing-puing peninggalan Babilon itu dalam hati
Sa'd dan mereka yang datang ke sana membangkitkan kenangan pada
kota lama yang telah menjadi saksi berdirinya kebudayaan umat manusia
pertama, yang silih berganti dengan Thebes, Memphis dan dunia
Firaun dahulu kala?! Apakah mereka lalu teringat pada zaman Asiria
dengan peradabannya yang tinggi dan agung seperti Babilon, dengan
segala temboknya yang kukuh, rumah-rumah ibadah yang besar-besar,
dengan benteng-benteng perkasa dan taman-taman bergantung yang terkenal,
istana-istana besar, yang telah menjadi pelopor segala kemegahan
dan keindahan?! Sudah tentu mereka teringat pada Menara Babilon.
Mereka teringat pada bangsa-bangsa yang datang silih berganti ke sana,
sehingga jadi sangat terkenal karena banyaknya bahasa yang dipakai
orang yang datang ke sana, sebagai tawanan atau sebagai penakluk.
Tetapi apa yang mereka ingat tentang menara dan tentang kota itu
sendiri barangkali tidak lebih dari sekadar obrolan saat duduk-duduk di
waktu malam. Mereka masih terlalu sibuk dengan yang akan mereka
hadapi untuk membebaskan Mada'in. Mada'in kota yang makmur,
sedang Babilon hanya tinggal puing-puing. Mada'in ibu kota Persia,
sedang Babilon bukan lagi ibu kota, juga bukan lagi kota. Mada'in
adalah lambang kehidupan, sedang Babilon hanya bekas masa silam
yang sudah terhapus. Orang lebih tertarik pada masa kini, jarang orang
mau mengambil pelajaran dari masa lampau. Kebanyakan mereka mau
mengambil pelajaran dari wajah kehidupan yang dapat tersenyum. Tetapi
wajah itu juga muram. Lalu mereka teringat pada masa-masa silam,
kalau-kalau masih akan ada yang dapat mengobati luka-luka masa
sekarang. Hanya saja, selama itu wajah sejarah tetap tersenyum kepada
Muslimin. Apa hubungannya dengan Babilon dan Asiria yang kini hanya
tinggal bahan cerita, padahal di sekitar mereka kehidupan melimpah
dengan harta terpendam yang sangat berharga, bahkan ada bangsa, yang
begitu mendengar namanya saja sudah bergegas datang menyatakan
kesetiaannya, sambil memohonkan maaf dan pengampunan.
Bahkan dengan melihat Babilon itu, di antara mereka ada yang lalu
teringat pada peranan pasukan Muslimin di sana tatkala Musanna bin
Harisah bermarkas di ketinggian puing-puingnya, dan tinggal di antara
jaringan anak-anak Sungai Tigris, menunggu kedatangan Ormizd Jadhuweh
yang akan menyerangnya. Mereka teringat pada situasi yang sangat
kritis itu, yang datang tiba-tiba menyerang mereka setelah keberang
katan Khalid ke Syam dan Syahriran putra Ardasyir naik takhta Kisra
serta tekadnya hendak mengusir pasukan Arab dari negerinya. Teringat
mereka bagaimana Musanna membunuh gajah Ormizd serta bagaimana
pasukan Persia dipukul mundur dan pengejaran terhadap mereka sampai
ke dekat Mada'in. Mereka bercerita kepada rekan-rekan yang
datang bersama Sa'd dari Medinah dan yang bergabung kepadanya dari
berbagai pelosok Semenanjung —tentang yang mereka saksikan dari
semua itu. Diceritakan juga kepada mereka bahwa Sawad yang sedang
mereka lalui di sekitar danau-danau yang airnya melimpah, ladangladang
yang luas dan kebun-kebun dengan buah-buahan yang sudah
masak, sudah tunduk semua kepada kekuasaan mereka. Mereka makan
dari hasil bumi itu, dan buah-buahan yang masih dapat mereka kirim,
mereka kirimkan ke Medinah.
Babilon dan tempat-tempat lain yang dilalui pasukan Muslimin
adalah sebagian yang sudah mereka bebaskan dan di bawah perintah
mereka. Kadisiah di tangan mereka dan Hirah menjadi pusat pemerintahan
mereka. Burs, Kusi, kota-kota dan desa-desa lainnya^ sudah
tunduk kepada mereka. Yang menjadi sasaran mereka selanjutnya
adalah Mada'in. Sekarang mereka melalui tempat-tempat, yang bagi
kebanyakan mereka merupakan kenangan yang sangat menyenangkan
dan mengesankan. Tetapi perbedaan antara dulu dengan sekarang; dulu
mereka menetap dan sebagai yang berkuasa, dan sekarang merupakan
medan pembebasan baru. Mereka berpindah-pindah dari yang satu kepada
yang lain, ke kiri di sebelah timur Kadisiah ke arah Hirah, ke
Burs dan ke Babilon, dengan tuju'an Sabat dan Mada'in. Yang mereka
hadapi sekarang lebih ringan daripada yang sebelumnya, sesudah kekuatan
mereka berangsur menjadi lemah. Mereka yakin bahwa sudah
tak ada lagi tempat pelarian kecuali ke sana juga.
Zuhrah bin al-Hawiah dan Hasyim bin Utbah berangkat menuju
Mada'in. Setelah berada di dekat Bahrasir, di Sabat mereka dihadang
oleh kompi Boran putri Kisra. Setiap hari stafnya bersumpah, bahwa
selama mereka masih hidup Persia tidak akan hilang. Seekor singa yang
sudah dijinakkan oleh Kisra ikut bersama kompi itu. Tetapi bertahannya
kompi ini menghadapi pasukan Muslimin tidak lebih hanya seperti
bertahannya pasukan Persia di Burs dan Babilon. Bagaimana akan bertahan,
mereka sekarang melihat nasib singa itu sama seperti nasib pasukan
gajah dulu di Kadisiah! Hasyim bin Utbah melangkah maju dan
menghantamnya dengan pedangnya demikian rupa sehingga singa itu
tersungkur mati. Kompi itu langsung lari dan berlindung di Bahrasir.
Sa'd menyusul anak buahnya dan sudah mengetahui peranan mereka.
la mencium kepala Hasyim — kemenakannya — sebagai tanda
kagum atas usahanya membunuh singa itu, dan Hasyim pun mencium
kaki pamannya sebagai penghargaan atas simpatinya. Kemudian Sa'd
mengangkat kepalanya ke atas sebagai tanda syukur kepada Allah dan
setelah itu ia mengarahkan pandangnya ke arah Mada'in seraya membaca
firman Allah: "Bukankah sebelumnya kamu sudah bersumpah bahwa kamu tidak
akan tergelincir binasa?" (Qur'an, 14: 44).
Malam itu Sa'd sedang memikirkan posisinya dalam menghadapi
Mada'in. Akan diserangnyakah bersama pasukannya yang sekarang
masih riang gembira dimabuk kemenangan, dan mereka memang ingin
sekali menyerbunya? Atau akan membiarkan mereka beristirahat selama
beberapa hari kemudian berangkat bersama ke sana? Kota itu sudah
dekat. Kalau dia berhenti hanya sampai di situ, tindakannya ini akan
menggoda pihak Mada'in untuk mempertahankannya. Jadi lebih baik
diserbu dengan mendadak. Oleh karena itu ia memerintahkan pasukannya
— bila malam sudah sunyi — supaya berangkat dan bermarkas di
Bahrasir. Bahrasir adalah daerah pinggiran kota Mada'in, di tepi Sungai
Tigris ke sebelah kanan, sedang Mada'in berhadapan di tepi sebelah
kirinya. Jadi termasuk bagiannya, hanya dipisahkan oleh sungai. Letak
Mada'in sekitar dua puluh mil di selatan Bagdad, yang ketika itu
merupakan sebuah desa yang tidak berbeda dengan desa-desa lain di
bagian Sungai Tigris. Sejak lama di masa silam Mada'in sudah merupakan ibu kota Iran
menggantikan Babilon, bahkan kemudian melebihinya dari segi keindahan,
kemegahan dan keagungannya. Kendati sudah berulang kali menjadi
sasaran serbuan Rumawi dan sudah sering pula jatuh ke tangannya —
di samping istananya yang selalu kacau dan terjadi beberapa kali pergolakan
— namun kemegahan dan keindahannya tidak berubah. Oleh
karena itu mata dunia banyak tertuju ke sana. Namanya pun sudah begitu
merangsang imajinasi semua orang, membangkitkan segala rasa kagum dan
pesona, yang tidak demikian dengan nama Roma atau Konstantinopel.
Di sinilah bertemunya segala arti kemegahan dan kemewahan Timur
dalam bentuknya yang paling indah dan paling banyak diilhami oleh
dewa-dewa kesenian dan kepenyairan. Kalau begitu, tidak heran pasukan
Muslimin yang bertolak ke sana semua membawa kerinduan ingin
menyaksikannya, menyaksikan hal-hal yang tak pernah terlihat oleh
mata, tak pernah terdengar oleh telinga. Memang tidak heran kalau
gambaran ini menambah semangat dan keberanian mereka untuk menjadikan
apa yang tadinya dikira khayal itu kini menjelma di depannya
sebagai suatu kenyataan.
Kota Bahrasir dikepung
Sa'd membawa pasukannya menuju Bahrasir dengan semangat
yang masih membara pada pasukan itu. Setiap kuda mereka melangkah
maju mereka berhenti kemudian bertakbir berulang kali. Tetapi melihat
pihak kota yang bertahan demikian ketat dengan memperkuat diri dan
tembok-tembok kota ditutup rapat, maka tak mungkin mereka dapat
menyerang. Maka satu-satunya jalan hanyalah dengan mengepungnya.
Sa'd segera mengepung kota itu tanpa ada rasa takut ada yang
akan menyergapnya dari belakang. la menyebarkan pasukan berkudanya
dan menyerang beberapa bagian di Furat dan Tigris. Mereka dapat
menyekap seribu petani dan membawa mereka sebagai tawanan. Mereka
menggali parit di sekitar mereka. Tetapi petani-petani itu bukan tentara
yang biasa berperang, jadi tak ada faedahnya menawan mereka, juga
tidak berbahaya kalau dibebaskan. Atas saran Syirzad — seorang penguasa
Persia atau dihkan Sabat — kepada Sa'd mereka dikembalikan
ke desa untuk kembali mengolah tanah dan memperbanyak hasil buminya.
Sa'd melaporkan segala tindakannya itu kepada Umar, dan Khalifah
pun menyetujui saran Syirzad. Dengan demikian penduduk Sawad
di sekitar tepi Sungai Tigris sampai ke daratan Arab merasa aman. Di
sana mereka mengolah tanah. Para penguasa Persia itu membayar pajak
(kharaj) dan jizyah sementara para petani itu sudah merasa makin
aman. Sa'd meneruskan pengepungan atas kota Bahrasir tanpa merasa
khawatir akan disergap dari belakang, juga bahan makanan pasukannya
sudah tak perlu dikhawatirkan.
Pasukan Muslimin kemudian menghujani bagian dalam tembok
kota Bahrasir dengan manjanik (manjaniq)1 Tetapi pihak Persia tidak
akan menjadi lemah karena gencarnya serangan itu. Mereka yakin,
walaupun musuh tidak diusir dari kota mereka, namun sudah tampak
betapa kuatnya ibu kota itu. Mempertahankan Bahrasir memang tidak
sulit. Tembok-tembok yang kuat dengan benteng-benteng yang begitu
kukuh dan jembatan Tigris yang menghubungkan Mada'in, bala bantuan
dan bahan makanan yang tak terbilang banyaknya, dapat didatangkan
dari segenap penjuru Persia yang terbentang luas. Oleh karena itu
mereka bertahan terhadap pengepungan itu selama berbulan-bulan.
Dalam hal ini para sejarawan berbeda pendapat, antara sembilan atau
delapan belas bulan. Selama pengepungan itu berlangsung angkatan
bersenjata mereka adakalanya sampai keluar dari batas tembok, menyerang
pasukan Muslimin dengan harapan kalau-kalau mereka mengalami
kekalahan dan dapat dipukul mundur. Tetapi yang terjadi kebalikannya,
dalam menghadapi angkatan bersenjata itu pasukan Muslimin di pihak
yang menang dan mereka dapat dipukul mundur kembali ke kota dan
berlindung lagi di balik tembok-tembok, dengan membawa malu yang
sudah tercoreng di dahi.
Sesudah pengepungan berlangsung cukup lama dan segala yang
menimpa pihak pasukan mereka terasa makin berat, satu pasukan dari
angkatan bersenjatanya yang paling dapat dipercaya dikirim ke luar.
Tetapi pasukan ini pun dipukul mundur dan kembali ke kota. Kekalahan
ini mematahkan semangat pasukan Persia dan timbul rasa takut
dalam hati mereka bahwa pasukan Muslimin memang tak dapat dikalahkan.
Berita-berita pengepungan dan pertempuran itu setiap hari — bahkan
setiap saat — sampai juga kepada Yazdigird. Ia diliputi rasa kesal,
bahkan hampir putus asa. Di samping pengepungan yang sudah terlalu
lama, mereka juga melihat pihak Muslimin selama berbulan-bulan bukan
makin lemah, malah yang terlihat kekayaan Irak berupa timbunan
makanan yang setinggi gunung sudah ada di belakang mereka. Kemudian
di pihak pasukan Persia sendiri sudah tampak makin rapuh dan
semangat mereka makin menurun. Diyakininya bahwa tak mustahil
Bahrasir akan jatuh ke tangan musuh. Ketika itulah ia mengutus orang
kepada Sa'd menawarkan langkah perdamaian bahwa Tigris akan
dijadikan batas pemisah dengan pihak pasukan Muslimin, "Dari batas
Tigris ke arah kami milik kami dan dari batas Tigris ke arah kalian
milik kalian." Tetapi Sa'd menolak ajakan perdamaian Yazdigird itu
dan utusannya disuruh kembali pulang. Bagaimana akan mengadakan
perdamaian sedang perintah Umar sudah jelas sekali untuk membebas228
UMAR BIN KHATTAB
kan Mada'in. Bagaimana akan mengajaknya damai sesudah pasukannya
dapat mengalahkan Bahrasir dan menawan sebagian pasukannya, dan
sekarang mereka sudah siap menyerbu tembok-tembok itu!
Belum lagi utusan itu tiba untuk melapor kepada Yazdigird tentang
penolakan itu, Sa'd bin Abi Waqqas sudah memerintahkan pasukannya
mengadakan pengepungan yang lebih ketat dan pelemparan dengan
manjanik dilipatgandakan. Semua lemparan itu tidak mendapat perlawanan
dari pihak Bahrasir. Sa'd yakin bahwa garnisun sudah dikosongkan.
Sa'd memanggil dan memerintahkan pasukannya menyerbu. Anak
buahnya segera memanjati tembok-tembok dan membukai pintu-pintu
gerbang, tetapi tak ada perlawanan, juga tak ada orang yang tampak
keluar kecuali seorang laki-laki menyerukan keamanan dan dari orang
ini kemudian diketahui bahwa garnisun Bahrasir memang sudah dipindahkan
ke Mada'in atas perintah Yazdigird, dan bahwa jembatannya
sudah dibakar dan mengumpulkan semua kapal yang berlayar di Sungai
Tigris, dengan tujuan agar arus sungai yang bergolak itu tetap menjadi
garis pertahanan untuk mengusir para penyerang dari ibu kota yang
makmur itu.
Perjalanan ke Mada'in
Tengah malam pasukan Muslimin sudah memasuki kota Bahrasir.
Tak ada yang merintangi mereka untuk cepat-cepat pergi ke arah Tigris
untuk menyeberang dan menyerbu Mada'in serta daerah-daerah sekitarnya.
Tetapi jembatan untuk penyeberangan sudah tak ada lagi, juga tak
ada kapal yang dapat membawa mereka. Mereka berhenti di tepi
sungai. Pemandangan yang mereka lihat di depannya sungguh memukau.
Mereka hanya berdiri tercengang, melihat semua itu dengan
mata terbelalak, dengan hati bergolak, hampir tidak percaya apa yang
sedang mereka saksikan di depan mereka itu: Sebuah bangunan besar
yang sungguh indah, megah dan mewah, berdiri di depan mereka di
seberang pantai dengan ketinggian yang tak biasa buat mata mereka,
tampak ciri warna putih, kendati dalam malam gelap pekat. Malam
terasa lembut, langit bersih dan angin bertiup semilir sedap menambah
kelembutan malam dan pemandangan yang begitu indah dan agung.
Pasukan itu menahan napas, mata terbelalak, mulut ternganga, karena
perasaan yang sudah dikuasai rasa kagum. Berturut-turut kelompokkelompok
pasukan itu datang ke pantai sungai. Mereka berdiri masih
dipengaruhi kekaguman, seolah mereka sudah terpaku di tempat masingmasing.
Sesudah kemudian datang Dirar bin Khattab dan rombongannya
dan melihat seperti yang mereka lihat, ia bertakbir dengan sekuatkuatnya:
Allahu Akbar! Inilah warna putih istana Kisra! Inikah yang
dijanjikan Allah kepada Rasul-Nya? Ketika itulah suara takbir itu bergenia
dari segenap penjuru. Mereka semua yakin sekarang, bahwa
mereka sudah di depan Ruang Sidang Istana Kisra, yang selama ini
sering mereka dengar disebutkan dalam sajak-sajak para penyair dan
menjadi buah bibir orang, sehingga mereka hanya menyerah kepada
kerinduan untuk menyeberang ke Iwan Kisra, Ruang Sidang Istana itu,
lalu mengelilinginya untuk memuaskan mata, kemudian memasukinya.
Mereka ingin melihat Takhta Kisra di depan balairungnya yang agung
itu, ingin panglima tinggi mereka duduk di atas takhta itu mengucapkan
kalimat tauhid, lalu disambut dengan gema suara di segenap penjuru
istana, bahwa Allah telah menepati janji-Nya: Dijadikan-Nya seruan
orang kafir menyuruk jatuh sampai ke dasar dan firman Allah menjulang
tinggi sampai ke puncak. Allah Mahamulia, Mahabijaksana.
Tidak heran jika pasukan Muslimin dibuat begitu tercengang melihat
istana Kisra. Istana ini termasuk salah satu keajaiban dunia saat
itu. Bukan tuanya yang menimbulkan kekaguman, ketika itu usianya
belum begitu lama, pembangunannya belum sampai seratus tahun.
Tetapi keindahan dan keagungannya itulah yang telah menimbulkan
kekaguman. Dibangun oleh Kisra Anusyirwan tahun 550 M., sebuah
bentuk bangunan yang telah mengalahkan bangunan Rumawi dan Yunani
yang paling megah sekalipun. Bagian depannya lebih dari seratus
lima puluh meter dan tingginya melebihi empat puluh meter, dengan
kubah-kubah yang bertengger di atas balairungnya yang lima buah menjadi
mahkota yang menambah keindahan dan keagungannya. Orangorang
Arab yang kini matanya sedang terpaku itu ingin tahu kekayaan
apa yang ada di balik keindahan itu. Sudah tentu semua itu di luar yang
dapat dibayangkan. Serambi yang berada di tengahnya, kubahnya yang
lebih tinggi daripada semua kubah, dan sudah tentu Ruang Sidang Istana
inilah yang belum pernah didengar orang ada bandingannya di
seluruh dunia. Bukankah cerita-cerita sudah banyak beredar tentang
Takhta Kisra serta permata berlian yang menghiasinya sehingga tak
ubahnya seperti sebuah dongeng!? Semua itu sekarang, Takhta, Ruang
Sidang Istana dan Istananya berdiri utuh di depan pasukan itu, yang
hanya dipisahkan oleh sungai, dan ini pula yang setiap saat keindahannya
makin memukau. Kapan gerangan mereka akan menyeberanginya
dan melihat dengan mata kepala sendiri semua isinya?!
Rencana Yazdigird melarikan diri
Sementara semua ini berkecamuk dalam hati pasukan Muslimin
dijalin pula oleh khayal yang subur, ditambah lagi dengan pemandangan
ibu kota Mada'in yang begitu cemerlang, Yazdigird sendiri di
tengah balairung Istana itu pikirannya sedang kacau, wajahnya kusam,
rasa waswas datang menderanya dari segenap penjuru. Sungai Tigris
merupakan sebuah benteng alam dengan aliran airnya yang luas,
dengan arusnya yang deras melonjak-lonjak. Dengan demikian jarak
pemisahnya bertambah luas dan cairan-cairan salju di puncak-puncak
gunung akan menambah gejolaknya arus itu, yang bersumber dari Azerbaijan
dan Mosul. Tak mungkin lagi pasukan Muslimin akan dapat melangkahinya
sesudah kapal-kapal dikumpulkan semua di tepi sebelah
timur Sungai. Tak dapatkah angkatan bersenjata Persia melindungi pantai
itu, dan menangkis semua bahaya dari ibu kota? Ini merupakan pemikiran
biasa dalam hal seperti ini, dan sudah seharusnya pula Yazdigird
berpikir ke arah itu dan memanggil angkatan bersenjatanya untuk
bertukar pendapat. Dari jiwanya yang masih muda dapat ia salurkan ke
dalam jiwa mereka dan jiwa semua orang penduduk ibu kota —
semangat untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan mereka.
Sekiranya mau ia melakukan itu, paling kurang itulah kewajibannya
terhadap dirinya, terhadap masyarakat yang telah menyerahkan pimpinan
ke tangannya, niscaya mereka akan berkumpul di sekelilingnya
untuk mempertahankan keberadaannya. Tetapi kebingungannya telah membuatnya tersesat dan pikirannya jadi kacau. Akibatnya ia melihat pasukan Muslimin itu tak Iain adalah
jin yang tak mungkin ada kekuatan apa pun yang mampu merintangi
langkahnya, dan tak akan mampu berbuat apa pun selain melarikan
diri! Ya, siapa pula yang lebih berhak lari terlebih dulu daripada dia
sendiri, menyelamatkan diri dan keluarganya! Oleh karena itu ia memerintahkan
stafnya untuk membawa segala harta kekayaannya berikut
barang-barang simpanannya. Perempuan-perempuan dan sanak keluarganya
segera diangkut menuju Hulwan. Orang-orang melihat apa yang telah
dilakukan Raja mereka itu. Semangat mereka pun remuk. Kini mereka
hanya berpikir untuk juga menyelamatkan diri dan keluarga mereka.
Bukankah Raja menjadi panutan rakyatnya? Mengapa keluarga kerajaan
dan dayang-dayangnya lebih diutamakan daripada istri seorang prajurit
atau perwira dan keluarganya?! Dengan demikian semangat hendak
mengadakan perlawanan dalam hati prajurit Persia hilang sudah. Tak
ada harapan lagi bagi mereka selain nasib baik yang memberi ke
bahagiaan kepada mereka dan sungai itu juga yang akan menjadi alat
penangkis serangan lawan, atau akan tersandung sekali sehingga mereka
tak lagi berkuasa, dan untuk mengadakan perlawanan sudah tidak
mungkin lagi.
Mukjizat di Sungai Tigris
Demikianlah, di Sungai Tigris itu kini mengalir dua macam pasukan:
satu pasukan yang sudah remuk segala kekuatannya, tak lagi
punya semangat, tak lagi punya kemauan. la sudah menyerahkan diri
kepada nasib. Dan satu pasukan lagi semangat idealismenya begitu
tinggi dan sudah mencapai kekuatan iman dan percaya diri akan menang,
sehingga terbayang olehnya bahwa ia dapat memukul Sungai itu
dengan tongkatnya yang akan membukakan jalan menyeberang ke
Ruang Sidang Istana Kisra. Itulah mukjizat yang diberikan Allah kepada
Nabi Musa sehingga ia dan rombongannya dapat melarikan diri
dari Mesir. Hal yang sama ini sekarang akan diberikan kepada pasukan
Muslimin. Mereka akan menyeberangi sungai itu, akan menyerbu Mada'in
dan menurunkan kedaulatan Kisra-kisra itu, kemudian menaikkan
panji kebenaran di atas Ruang Sidang Istana yang agung itu.
Ya! Itulah mukjizat pasukan Muslimin yang menyeberangi Sungai
Tigris. Mereka berdiri di tepi Sungai itu melihat air yang sedang bergolak.
Sa'd sedang memikirkan cara untuk menyeberanginya. Pikirannya belum
mernberikan jalan keluar. Ia memerintahkan stafnya membawa orang-orang
dusun Persia untuk dimintai keterangan. Mereka menyarankan untuk terjun
ke Sungai sampai ke dasar wadi. Tetapi dia khawatir arus yang deras akan
membahayakan pasukannya. Ia lebih cenderung setiap orang tetap di tempatnya.
Karena masih ragu, saran orang itu tidak dilaksanakan.
Keesokan harinya Sa'd menerima berita bahwa Yazdigird telah
memerintahkan agar segala harta simpanannya diangkut ke Hulwan.
Sa'd mengumpulkan anggota pasukannya dan berpidato di hadapan
mereka. Sesudah mengucapkan hamdalah dan bersyukur kepada Allah
ia berkata: "Musuh kita sekarang berlindung pada Sungai ini. Janganlah
biarkan dia lolos dari sana. Mereka dapat lolos kalau mau dan akan
menyerang kita dari kapal-kapal mereka itu. Kita tidak khawatir mereka
akan datang dari belakang kita. Pengalaman kita dulu sudah cukup.
Mereka menyia-nyiakan pelabuhan mereka ini dan merusak pertahanan
mereka sendiri. Saya berpendapat sebaiknya kita dahului menyerang
musuh sebelum kita terkepung. Ya, sudah saya putuskan akan menyeberangi
Sungai ini ke tempat mereka."
Sikap Sa'd itu dirasakan oleh anak buahnya tiba-tiba sekali. Bukankah
kemarin ia masih ragu? Tidakkah ia khawatir pasukannya juga ragu
sehingga tidak mampu menghadapi bahaya serupa itu? Tetapi ternyata
mereka pun tidak ragu. Mereka sudah terpesona sekali oleh pemandangan
kota Mada'in itu, di samping memang sudah tertarik oleh Istana
Kisra. Mereka berani menghadapi hal yang mustahil untuk memasuki
ibu kota dan mengepung Istananya. Oleh karena itu, belum selesai Sa'd
mengucapkan pidato semua mereka sudah berkata: "Allah sudah menguatkan
hati kami dan hati Anda, maka marilah kita laksanakan!"
Tetapi bagaimana akan menyeberang? Kalaupun mereka menyeberang
dengan menggunakan kuda, pasukan Persia di seberang pantai
sudah menghadang mereka tanpa harus keluar dari tempat itu. Menyadari
hal ini Sa'd menyuruh mereka dengan mengatakan: Siapa yang
akan memulai dan melindungi selat ini buat kita supaya pasukan kita
dapat menyusul tanpa terhalang untuk keluar. Lalu ia memanggil Asim
bin Amr, dan sesudah itu memanggil enam ratus orang yang sudah
berpengalaman dalam perang, dengan pimpinan oleh Sa'd diserahkan
kepada Asim. Setelah mereka berangkat dan sampai di pantai Tigris
Asim berkata kepada kawan-kawannya: Siapa yang akan bergabung
dengan saya supaya dapat lebih dulu memasuki Sungai ini. Kita akan
melindungi selat ini dari seberang sana? Ada enam puluh kesatria yang
bergabung kepadanya dan dia yang di depan memimpin mereka ke tepi
Sungai sambil berkata kepada mereka yang masih maju mundur:
Rupanya kalian takut menghadapi air ini?! Lalu ia membacakan firman
Allah: "Segala yang bernyawa tak akan mati kecuali dengan izin Allah;
waktunya sudah ditentukan..." (Qur'an, 3: 145).
Kemudian ia memicu kudanya menerobos Sungai dan diikuti pula
oleh sahabat-sahabatnya. Melihat regu pertama ini Qa'qa' bin Amr
terus maju berenang, dan ketika ia melemparkan pandangnya ke seberang
Sungai dilihatnya pihak Persia seolah sudah bersiap-siap hendak
menerjang mereka, maka segera ia mengeluarkan perintah kepada sahabat-
sahabatnya yang enam ratus orang untuk terjun dengan kudanya ke
Sungai. Mereka mengarunginya seperti Asim dan teman-temannya.
Sekarang pihak Persia yang malah tercengang melihat apa yang dilakukan
musuh mereka itu. Mereka berkata satu sama lain: Gila! Gila! Dan
yang lain berkata: Kalian bukan berperang dengan manusia, tetapi dengan
jin!
Pasukan Persia hanya melihat kepada orang-orang yang begitu berani
bertualang itu. Setelah mereka melihat Asim dan sahabat-sahabatnya
sudah di tengah Sungai, mereka mengerahkan pasukan berkudanya untuk
merintangi mereka jangan sampai keluar dari air dan akan mereka
perangi di tengah Sungai. Mereka sudah berada di dekat Asim saat ia
sudah mendekati selat. Asim memerintahkan anak buahnya: Panah,
panah! Mereka segera membidik dengan sasaran mata kuda lawan.
Begitu bidikan itu mengenai matanya, kuda Persia itu berbalik lari ke
belakang. Para kesatria pasukan berkuda Persia itu tak berdaya menghadapi
mereka yang sudah terjun menantang maut di tengah-tengah
gejolak Sungai tanpa peduli lagi apa yang akan menimpa diri mereka.
Tetapi tak seorang pun dari regu yang mengerikan itu yang cedera.
Bahkan Asim sendiri yang pertama mendarat ke seberang pantai.
Pasukan Persia berlarian di depannya. Qa'qa' segera menyusulnya
dengan regunya dan tak seorang pun lagi sekarang yang masih tinggal
di pantai. Melihat pasukan yang sudah begitu kuat di selat Mada'in, Sa'd bin
Abi Waqqas memerintahkan semua anggota pasukan berkudanya yang
ribuan jumlahnya itu serentak menyerbu masuk ke sungai yang sedang
bergejolak itu, seperti yang dilakukan Asim tadi. Sungai yang saat itu
sudah penuh kuda tak tampak lagi airnya. Para nelayan perahu dan
awak kapal orang-orang Persia diperintahkan oleh Asim untuk bertolak
ke seberang Bahrasir untuk mengangkut pasukan Muslimin yang tidak
menyeberang dengan kuda. Ketika Sa'd dengan angkatan bersenjatanya
menyeberang penghuni Mada'in sudah lari semua. Yang masih tinggal
hanya mereka yang bertahan di Istana Putih. Tetapi mereka tidak mengadakan
perlawanan. Bahkan setuju mereka membayar jizyah. Pintu
Istana pun dibuka untuk pasukan Muslimin.
Inilah salah satu mukjizat perang, yang hampir tak masuk akal.
Dalam al-Bidayah wan-Nihayah Ibn Kasir selesai melukiskan secara
terinci menyebutkan: "Itulah peristiwa besar dan hal yang amat penting,
yang amat mulia dan yang luar biasa, suatu mukjizat Rasulullah Sallallahu
'alaihi wa sallam yang diciptakan Allah untuk sahabat-sahabatnya,
suatu hal yang tak pernah terjadi di negeri itu atau di mana pun di
dunia ini. Ungkapan sejarawan Islam ini melukiskan perasaannya dan
perasaan kita ketika di depan kita tergambar segala tindakan yang
sungguh cemerlang serta keberanian yang tak ada taranya. Untuk me
lukiskan semua perbuatan itu, adakah kata yang lebih tepat daripada
mukjizat? Mukjizat yang bagaimana lagi ketika regu di bawah pimpinan
Asim itu terjun ke Sungai, dan regu yang sebuah lagi di bawah
pimpinan Qa'qa' juga terjun ke Sungai, dan keduanya tidak takut akan
ditelan ombak atau akan diserang dengan panah oleh pasukan Persia
dari seberang pantai?! Tetapi kepercayaan kepada kemenangan itulah
yang telah mengangkat jiwanya ke mana pun akan dibawa, dan maut di
depan matanya tak lebih dari kata-kata yang artinya sama: demi tujuan
yang ingin dicapai. Pasukan Muslimin sudah tidak sabar lagi melihat
Mada'in. Mereka ingin menerobosnya dan membebaskannya berapa
pun harga yang harus dibayar, dengan darah dan dengan nyawa mereka
sekalipun. Itu sebabnya, tatkala melihat mereka, pasukan Persia itu berkata:
Kita tidak berperang dengan manusia tetapi dengan jin. Setelah itu
mereka tak tahu lagi bagaimana cara menghadapi jin, yang datang
kepada mereka muncul dari sela-sela ombak, dan seolah suatu kekuatan
gaib telah mengguncang bumi dan gunung. Bukankah gunung-gunung
berapi dan halilintar merupakan suatu kekuatan gaib juga. Demikian
halnya dengan kedua regu itu, juga demikian dengan Sa'd dan angkatan
bersenjata yang lain tatkala mereka terjun ke sungai, kelompok demi
kelompok, kuda dan para kesatria itu menyeruak ke tengah-tengah
ombak yang sedang melonjak-lonjak. Bagaimana suatu kekuatan akan
mampu bertahan menghadapi kekuatan semacam ini! Pihak Persia yang
kekuatannya sudah berantakan dan sudah kehilangan semangat dalam
menghadapi jin yang sekarang mendatangi mereka, dan mereka dalam
ketakutan, apa pula yang dapat dilakukannya selain melarikan diri!
"Inilah mukjizat yang tak pernah terjadi di negeri itu atau di mana
pun di dunia ini." Itulah kata-kata Ibn Kasir. Kalau tidak karena Timur
Leng yang juga membawa-mukjizat serupa tatkala angkatan bersenjatanya
berenang menyeberangi sungai ketika mereka menyerang Bagdad
pada akhir dasawarsa abad ke-14 Masehi, tentu sebagian orang masih
akan ragu untuk mempereayainya. Bahkan Balazuri menyebutnya dengan
agak berhati-hati, dan menambahnya dengan sumber-sumber yang
lebih sukar untuk dapat dipercaya, di antaranya sumber dari Aban bin
Saleh yang mengatakan: "Pasukan Muslimin berakhir sampai di Tigris
yang airnya sedang meluap, hal yang tak pernah terjadi. Kapal-kapal
dan semua sarana penyeberangan ke bagian timur oleh pihak Persia
sudah diangkat dan jembatannya dibakar. Sa'd dan pasukannya merasa
kesal sekali karena jalan untuk menyeberang sudah tak ada. Salah se
orang dari pasukan itu memberanikan diri mencebur dan berenang dengan
kudanya ke seberang, maka pasukan yang lain pun mengikutinya
berenang. Kemudian mereka memerintahkan para awak kapal itu untuk
mengangkut barang-barang. Pasukan Persia itu berkata: Tidak lain yang
kita perangi ini adalah jin. Maka mereka pun binasa." Ada lagi sumber
Abu Amr bin Ala' yang mengatakan: "Sa'd sudah tidak mempunyai
sarana penyeberangan lagi. Ada yang menunjukkan ke tempat penyeberangan
di desa nelayan maka mereka menceburkan kudanya ke sana.
Pasukan Persia menghujani mereka dengan serangan, tetapi ketika itu
tak ada yang terkena selain seorang dari Banu Tayyi' yang cedera."
Tentu sudah kita lihat bahwa sumber-sumber yang disajikan dengan
berhati-hati itu terasa bahwa mereka masih ragu menerima sumbersumber
yang kami kemukakan itu. Tetapi Tabari, Ibn Asir, Ibn Khaldun,
Ibn Kasir dan yang lain sepakat menerimanya. Sungguhpun begitu,
kehati-hatian mereka tidak dapat menafikan sumber-sumber tersebut
dan tak dapat memastikin apa yang mereka sanggah. Kehati-hatian
demikian hanya ada pada orang yang melihatnya sebagai suatu keajaiban
yang memang dapat menimbulkan keraguan. Kalau mereka yang
ragu hidup dalam akhir abad keempat belas Masehi dan mengetahui
bahwa Timur Leng menyeberangi Sungai Tigris dengan pasukannya,
seperti yang dilakukan Sa'd, niscaya sumber yang sudah disepakati
bersama itu tidak akan mengherankan mereka lagi dan segala keraguan
dalam pikiran mereka mengenai sumber yang sudah disepakati itu akan
hilang, dan tidak lagi peristiwa yang mengherankan itu suatu keajaiban,
tetapi, niscaya mereka akan yakin bahwa Sa'd: "Terjun dengan kudanya
ke Sungai Tigris dan pasukannya ikut pula, sehingga tak seorang pun
yang masih tinggal." Perjalanan mereka di tempat itu seperti sedang
berjalan di permukaan tanah sehingga memenuhi kedua tepi Sungai itu,
artileri dan infanteri tidak lagi melihat permukaan air. Mereka berbicara
di permukaan air seperti berbicara di permukaan tanah. Soalnya karena
mereka sudah tenteram, sudah merasa aman. Mereka hanya percaya
kepada segala yang telah dijanjikan oleh Allah: pertolongan dan dukungan-
Nya... Hari itu Sa'd berdoa untuk keselamatan dan kemenangan pasukannya.
la telah menceburkan mereka ke dalam Sungai, tetapi Allah membimbing
dan menyelamatkan mereka, sehingga tak seorang pun ada korban
di pihak Muslimin, dan tidak pula ada dari barang-barang mereka yang
hilang selain sebuah gayung dari kayu milik seseorang, karena tali gantungannya
sudah rapuh lalu terbawa ombak ke seberang yang ditujunya.
Gayung itu dipungut orang kemudian dikembalikan kepada pemiliknya...
Yang mendampingi Sa'd bin Abi Waqqas di Sungai ketika itu
Salman al-Farisi. Dalam hal ini Sa'd berucap: Cukup Allah bagi kami
sebagai Pelindung terbaik. Niscaya Allah akan menolong pengikut-Nya,
Allah akan memenangkan agama-Nya, Allah akan membinasakan musuh-
Nya, selama dalam angkatan bersenjata ini tak ada orang yang melakukan
perbuatan durhaka atau dosa yang melebihi kebaikan. Lalu kata
Salman kepada Sa'd: Di Sungai musuh itu begitu hina, tak bedanya
dengan di darat. Sungguh, demi yang memegang hidup Salman, mereka
akan berbondong-bondong keluar, seperti waktu masuk. Memang benar,
mereka keluar dari sana, seperti dikatakan Salman, tanpa kehilangan
apa pun."
Sekarang pasukan Muslimin keluar dari Sungai itu, dan kudanya
mengibas-ngibaskan bulu tengkuknya sambil meringkik-ringkik. Mereka
memasuki kota Mada'in tetapi sudah tak ada orang, — selain mereka
yang masih mau bertahan dalam Istana — sebab Yazdigird sudah membawa
keluarganya, harta dan barang-barang yang dapat diangkutnya
kemudian mereka lari ke Hulwan. Sa'd menyerukan mereka yang masih
bertahan dalam Istana itu supaya turun. Sesudah mereka turun, ia
masuk bersama pasukannya sambil melemparkan pandangnya ke sana
sini, melihat-lihat isi Istana yang agung itu, segalanya terdiri dari
barang-barang berharga. Ketika itulah ia membaca firman Allah:
"Berapa banyak taman dan mala air yang mereka tinggalkan;
tanaman-tanaman dan lempat-tempat kediaman yang indah; dan
kenikmatan lempat mereka bersenang-senang. Demikianlah mereka
berukhir, dan Kami wariskan kepada golongan lain. Langit dan bumi
tidak menangisi mereka, juga mereka lidak diberi penangguhan waktu."
(Qur'an, 44: 25-29).
Besarnya rampasan perang di Mada'in
Alangkah agung dan mulianya kemenangan itu! Inilah kota Kisra.
dan inilah pula Ruang Sidang Istananya. Mereka yang datang adalah
orang-orang Semenanjung Arab yang tandus dan gersang, mereka ber jalan penuh kagum di sela-sela taman-taman Istana, di antara taman bunga yang merekah dan pohon-pohon yang tinggi-tinggi, berbagai macam buah-buahan — kurma dan anggur. Belum pernah mata mereka
melihat yang semacam ini. Dari kebun-kebun itu mereka berpindah ke
serambi, yang membuat mereka bertambah kagum melihat isi di dalamnya
— ukiran-ukiran yang begitu indah dan cermat di luar yang dapat
mereka lukiskan. Perabot-perabot rumah, yang di Damsyik pun tak ada
yang dapat dibandingkan. Pelbagai permadani dari sutera Persia dianyam
dengan emas dan perak, dan segala kemewahan dan kenikmatan
hidup terkumpul semua dalam Ruang Sidang Istana itu — karya-karya
seni yang begitu indah dari segenap penjuru di Timur. Gerangan apa
ini!! Dapatkah semua itu dibalas dengan rasa syukur kepada Allah?
Tetapi bagi Sa'd dan sahabat-sahabat tak dapat berbuat lain daripada
rasa syukur itu kepada Allah yang telah memberikan kemenangan
kepada mereka. Dengan demikian Sa'd mengadakan salat syukur kepada
Allah, salat kemenangan, delapan rakaat dengan satu kali salam.
Setelah itu ia memerintahkan anak buahnya agar membawa keluarga
pasukan Muslimin dari Hirah dan kota-kota serta desa-desa lain di Irak
ke Mada'in. Sa'd tinggal di Istana Kisra itu, dan Ruang Sidang Istana dijadikannya
musala. Patung-patung yang ada di dalamnya dibiarkannya tidak
terusik di tempatnya. Buat apa pula diusik yang hanya merupakan
hiasan yang memperindah Istana dan tempat-tempat lain di dalam
serarribi, kendati Ruang Sidang Istana itu diutamakan lebih indah dan
lebih cemerlang. Dinding Istana dihiasi dengan ukiran-ukiran dari dasar
di bawah sampai ke kolong-kolong kubah. Dinding yang tampak dari
luar putih metah dibiarkan polos. Dalam lemari-lemari Kisra itu Sa'd bin Abi Waqqas menemukan
penuh dengan harta, pakaian yang mahal-mahal, bermacam-macam alat
rumah tangga dan bejana, barang-barang lain yang nilainya tak mungkin
dapat dilukiskan dengan kata-kata dan angka. Dalam pada itu Sa'd
sudah mengirim pasukannya untuk mengejar Yazdigird dan mereka
yang lari bersamanya ke Hulwan. Mereka berhasil menyusul dan membawa
kembali sebagian mereka berikut barang-barang bawaannya, yang
ternyata nilainya melebihi harta yang ada di dalam Istana. Dan di dalam
gedung-gedung sekitar Istana di Mada'in itu pasukan Muslimin
juga menemukan barang-barang berharga dengan nilai yang dapat
membingungkan daya khayal mereka, dan segalanya menunjukkan
kemewahan penghuninya, dan yang hanya dikenal oleh Persia.
Kita sekarang juga merasa kagum mengenai nilai barang-barang
rampasan perang itu, baik nilai ataupun jumlahnya. Tidak heran jika
para panglima yang melihat dengan mata kepala sendiri barang-barang
rampasan perang itu begitu terperangah dan kagum melebihi kita, dan
kalangan sejarawan Arab menyebut rampasan perang itu dengan terinci
sekali yang dapat membenarkan kekaguman kita dan para panglima
itu.Disebutkan pula bahwa di tempat-tempat penyimpanan Kisra itu
Sa'd menemukan tiga triliun dinar, dan barang-barang berharga di
Istana yang sudah tak terhitung nilainya. Dan mereka yang berangkat
mengejar Kisra membawa kembali sebuah mahkota bertatahkan mutu
manikam, mutiara dan permata, dan pakaian dari sutera bersulam emas
dan bertatahkan permata. Yang bukan sutera, yang juga bersulam, di
samping mutiara Kisra, adalah pedang dan baju besinya yang juga
dihiasi permata. Ketika Qa'qa' bin Amr mengejar seorang Persia dan
berhasil membunuhnya, ia menemukan dari orang itu dua kopor besar
berisi beberapa pedang, baju-baju besi milik Kisra, Heraklius, raja
Turki dan raja-raja lain yang pernah diperangi dan memerangi Persia.
Sesudah itu datang pula Ismah bin Khalid ad-Dibbi membawa dua buah
keranjang, salah satunya berisi kuda dari emas dengan pelana dari
perak, mulut dan lehernya dihiasi batu yakut dan zamrud yang ditatah
dengan perak, begitu juga kekangnya, dan penunggang kuda terbuat
dari perak bermahkotakan permata. Dalam keranjang yang sebuah lagi
berisi unta terbuat dari perak dengan kain wol penutup punggung dan
perut dari emas berikut tali kendalinya yang juga dari emas. Semua itu
ditatah dengan batu yakut dengan patung seorang laki-laki di atasnya
terbuat dari emas bermahkotakan permata. Di gedung-gedung besar di
Mada'in pasukan Muslimin menemukan juga keranjang-keranjang yang
disegel dengan timah, yang dikira berisi makanan, tetapi ternyata adalah
bejana-bejana dari emas dan perak yang seragam. Di tempat-tempat
itu juga mereka menemukan tidak sedikit kapur barus, yang karena
banyaknya mereka mengiranya garam. Setelah dibuat adonan baru diketahui
karena rasanya yang pahit. Adakah semua harta karun itu menggoda orang-orang Arab itu, lalu
ada yang tergoda dari mereka ingin mengambilnya barang sedikit untuk
dirinya dan bukan dikembalikan kepada kolektor yang sudah ditunjuk
oleh Sa'd untuk kemudian dibagikan? Tidak! Bahkan masing-masing
yang memperoleh barang rampasan itu menyerahkannya kepada kolektor
itu sampai nanti Sa'd sendiri memberikan pendapatnya.
Sesudah itu Qa'qa' bin Amr yang datang membawa pedang-pedang
Kisra dan raja-raja yang lain dan menyerahkannya kepada Sa'd, oleh
Sa'd ia disuruh memilih. la memilih pedang Heraklius, yang lain ditinggalkan.
Ketika ada laki-laki datang kepada kolektor itu membawa
sebuah botol yang sangat berharga, kolektor itu dan beberapa orang
yang berada di tempat itu menanyakan: Dari semua yang ada pada kita,
kita tidak melihat yang semacam ini atau yang mirip dengan ini.
Mereka menanyakan lagi laki-laki itu: Adakah yang sudah Anda ambil?
Tidak, katanya. Kalau tidak karena Allah, tidak akan saya serahkan ini
kepada kalian. Mereka menanyakan lagi tentang siapa dia? "Tidak akan
saya beritahukan kepada kalian, agar kalian tidak memuji saya, tetapi
yang saya puji hanya Allah dan saya sudah akan senang dengan
karunia-Nya." Tetapi Sa'd segera tahu siapa orang itu dan yang semacamnya.
Kemudian ia berkata: Angkatan bersenjata itu sangat berpegang
teguh pada amanat. Kalau tidak karena veteran Badr sudah
berlalu, tentu saya katakan bahwa pada mereka itulah ciri-ciri khas veteran
Badr. Jabir bin Abdullah berkata: "Demi Allah, Yang tiada tuhan
selain Dia, saya tidak melihat siapa pun dari penduduk Kadisiah yang
menghendaki dunia bersama akhirat. Kita pernah menyangsikan tiga
orang, Tulaihah, Amr bin Ma'di Karib dan Qais bin Maksyuh padahal
kita tidak melihat orang yang begitu jujur dan zuhud seperti mereka.
Kesaksian Jabir atas ketiga orang itu punya alasan sendiri. Mereka dulu
memimpin kaum murtad yang ditumpas oleh Abu Bakr dan yang memerangi
Abu Bakr karena rakusnya pada dunia dan kekuasaan. Sekarang
mereka menjadi Muslim yang baik dan berada di garis depan
dalam berjuang di jalan Allah, menjauhi dunia dan mendekatkan diri
kepada Allah dengan mengerjakan segala amal kebaikan dan matimatian
mempertaruhkan diri dalam perang.
Sa 'd membagi hasil rampasan perang
Sa'd memisahkan seperlima rampasan perang itu untuk dikirim ke
Medinah, dan yang diutamakan sekali apa yang menjadi kesenangan
Muslimin di sana. Ia bermaksud mengirim permadani beledru milik
Kisra seperlima, tetapi dilihatnya pembagiannya tidak akan seimbang.
Maka, katanya kepada sahabat-sahabatnya: Adakah kalian puas dengan
empat perlimanya, dan kita mengirimkannya kepada Umar supaya dapat
diatur sesuai dengan yang dikehendakinya? Kita berpendapat di tempat
kita ini tidak akan terbagi, karena hanya sedikit, tetapi bagi pihak
Medinah akan sangat berarti. Permadani ini enam puluh hasta dalam
segi empat, yang disediakan bagi para kisra jika datang musim dingin
yang keras dan tidak ada tumbuhan yang harum tumbuh. Permadani ini
berlukiskan jalan-jalan kerajaan, dihamparkan di atas tanah yang keemasan,
disela-sela air sungai yang mengalir bertatahkan mutiara, bagian
bawahnya seperti tanah yang ditanami tanam-tanaman musim semi
dengan batang dari emas, daun dari sutera dan buahnya dari permata.
Setelah pendapat Sa'd mereka setujui permadani bersama seperlima
(rampasan perang) dikirim ke Medinah.
Sa'd membagikan rampasan perang itu kepada anggota-anggota
pasukannya, dan sudah selesai untuk 60.000 orang dari pasukan berkuda,
setiap orang mendapat dua belas ribu. Untuk penduduk negeri
diberi sesuai dengan perjuangan mereka. Sa'd juga mengatur pembagian
rumah-rumah kepada anggota-anggota pasukannya. Yang berkeluarga
banyak ditempatkan di gedung-gedung dan mereka tinggal di sana sampai
tiba saatnya, ada di antara mereka yang harus meninggalkan tempat
tersebut sesudah gerakan pembebasan itu makin meluas sampai ke
desa-desa di Persia. Kita bebas membayangkan sendiri betapa gembiranya
para prajurit itu dengan rampasan perang tersebut, serta semangat
mereka menghadapi pembebasan baru dengan rampasan perangnya
yang baru pula.
Umar, Sa 'd dan Yazdigird
Basyir bin al-Khasasiah berangkat ke Medinah membawa seperlima
rampasan perang itu, dan diserahkannya ke tangan Amirulmukminin.
Umar sudah lebih dulu mendapat berita tentang pembebasan
Mada'in, karena Sa'd memang sudah mengirim laporan kepadanya
tentang apa yang dikerjakannya sehingga seolah Umar sendiri hadir.
Sungguhpun begitu ia terkejut sekali melihat begitu banyak rampasan
perang itu dan nilainya serta usaha pasukan Muslimin memperolehnya
secara utuh. Ia menoleh kepada orang-orang di sekitarnya sambil berkata:
"Mereka orang-orang yang dapat dipercaya yang telah melaksanakan
semua ini!" Ali bin Abi Talib menjawab: "Anda hidup
sangat sederhana dengan menahan diri dari segala yang Anda rasa tidak
baik, sehingga rakyat Anda juga begitu. Kalau saja Anda mau menyenangkan
diri tentu mereka juga akan demikian." Umar memperhatikan
segala pakaian Kisra, beberapa pedang dan baju besinya. Lalu dipakaikannya
pada sebatang kayu dan diletakkannya di depannya supaya
dilihat oleh orang banyak betapa mengagumkan perhiasan itu. Dikatakan
konon ia memanggil Suraqah bin Ju'syum, orang yang paling besar
badannya dan paling gemuk. la mengenakan baju Kisra itu kepadanya
berikut celana, jubah, pedang, sabuk, gelang, mahkota dan kasutnya.
Disuruhnya ia mundar mandir di depannya. Kemudian katanya: "Bah,
bah. Arab pedalaman dari Banu Mujlij memakai jubah Kisra berikut
celana, pedang, mahkota dan kasutnya!! Hai Suraqah, sekiranya suatu
hari barang-barang Kisra dan keluarga Kisra ini menjadi milik Anda
tentu merupakan suatu kehormatan bagi Anda dan masyarakat Anda!..."
Dikatakan begitu karena Kisra mempunyai beberapa macam pakaian,
pada setiap acara dengan pakaian tersendiri.
Setelah Umar mendatangkan orang yang paling besar tubuhnya di
Medinah, setiap macam pakaian demi pakaian itu dipakaikan kepadanya.
Ia melihat orang-orang menyaksikan semua pakaian itu sebagai peristiwa
keajaiban dunia yang luar biasa. Sesudah selesai orang badui
tersebut mengenakan pakaian itu semua, Umar menengadah ke atas
seraya berkata: "Allahumma ya Allah, Engkau telah menghindarkan
semua ini dari Rasul-Mu dan Nabi-Mu, padahal dia lebih Kaucintai
daripada aku, lebih Kaumuliakan daripadaku, juga Engkau telah menghindarkannya
dari Abu Bakr, yang lebih Kaucintai daripadaku, lebih
Kaumuliakan daripadaku. Maka jika semua ini akan Kauberikan kepadaku,
aku berlindung kepada-Mu ya Allah, juga jangan sampai Kauberikan
kepadaku untuk memuliakan aku!"
Itulah salah satu ciri khas Umar yang kelak akan dikenang orang
dan pengaruhnya yang sangat jelas terhadap umat pun akan dikenang.
Ia sudah merasakan kemewahan ini akan menimbulkan daya tarik
dalam hati orang dan akan dijadikan pola hidup untuk dicontoh, dan
dengan segala daya upaya orang akan membayar berapa pun harganya
demi tujuan itu. Akibatnya, orang akan menjauhkan diri dari segala arti
kemanusiaan yang lebih terhormat, yang akan mengantarkan hati dan
pikiran kita ke puncak tertinggi untuk mendekatkan diri kepada Allah,
yang dengan karunia-Nya pula kita akan melihat wajah Kebenaran.
Karena ciri khas Umar itu, karena kekhawatirannya bahwa Allah
memberikan harta kekayaan Kisra kepadanya itu untuk mengujinya,1 ia
menangis sehingga orang-orang merasa iba hati melihatnya. Kemudian
sambil menunjuk kepada harta itu ia berkata kepada Abdur-Rahman bin
Auf: "Saya meminta Anda dengan sungguh-sungguh, hendaklah sebelum
sore ini sudah Anda jualkan harta ini kemudian bagi-bagikan!"
Selanjutnya Umar membagi-bagikan yang seperlima itu kepada orang
banyak sesuai dengan kadar mereka dan memberikan tambahan kepada
mereka yang hadir dan yang tidak hadir dari keluarga orang-orang yang
sudah berjuang. Melihat permadani yang tak dapat dibagi ia berkata
kepada mereka yang ada di sekitarnya: "Bagaimana pendapat kalian
mengenai permadani ini." Mereka berkata: "Semua pasukan sudah
memberikan itu untuk Anda, dan pendapat kami mengenai ini kami
menyerahkan kepada Anda. Ada lagi yang berkata: Itu hanya untuk
Amirulmukminin sendiri. Tetapi Umar tak mau memilikinya atau memberikan
pendapat. Saat itulah Ali bin Abi Talib berkata: "Allah tidak
akan menjadikan ilmu yang ada pada Anda untuk membuat Anda
bodoh, dan keyakinan Anda menjadi keraguan. Anda tak mempunyai
apa-apa di dunia ini selain yang sudah diberikan kepada Anda, maka
itu pun sudah berlalu, atau yang Anda pakai, itu pun sudah usang, atau
yang Anda makan, dan itu juga sudah habis. Kalau ini Anda simpan
sekarang Anda tidak akan menghilangkan hak orang yang tidak punya."
Umar berkata: "Anda memang bersungguh-sungguh menasihati saya."
Kemudian permadani itu dipotongnya dan dibagikan kepada khalayak.
Ali juga mendapat sepotong tetapi bukan dari yang terbaik. Sungguhpun
begitu sudah pula dijualnya dengan, harga dua puluh ribu.
Sementara Umar membagi-bagikan rampasan perang kepada penduduk
Medinah, orang melihat apa yang sudah mereka terima itu suatu
karunia dari Allah yang belum pernah mereka rasakan. Dalam pada itu
Sa'd bin Abi Waqqas pun sudah merasa tenteram di Mada'in. Ia tinggal
di Istana itu dan Ruang Sidangnya dijadikan musala untuk kaum Muslimin.
Suara azan diperdengarkan di dalamnya, dan salat pun dilaksanakan.
Setiap hari Jumat orang berkumpul di tempat ini dan Sa'd yang
bertindak sebagai khatib dan imam.
Sementara itu Yazdigird sudah pula tiba di Hulwan, dengan perasaan
sedih, terkulai dalam keadaan kalah. Jantungnya terasa remuk
dirundung kesedihan, hatinya terasa pecah terbawa rasa putus asa.
Teringat ia akan keagungan Persia, kemegahannya yang menjulang
begitu tinggi. Bertambah sedih hati mengenangnya. Terbayang di depan
matanya sosok Rustum dan segala yang disebutnya dulu tentang
ramalan-ramalan nujum. Di mana sejarah silam itu sekarang, tatkala
nenek moyangnya bergerak dari Iran ke Irak, lalu menyusur sepanjang
pantai Tigris, dan ketika mereka berada di Cteciphon (Mada'in) yang
berhadapan dengan Seleusia (Saluqiah),1 dan ketika Cteciphon diperluas
dan kota-kota sekitarnya digabungkan ke dalamnya, lalu kota ini
dan Seleusia disatukan, yaitu Mada'in, kemudian Seleusia diberi nama
Bahrasir supaya masa jayanya dulu dilupakan orang! Kalau ada kota
Yunani bertahan dengan kebebasannya sendiri, maka itulah Sparta.
Tetapi mana sekarang sejarah masa kisra-kisra nenek moyangnya
dari dinasti Sasani yang dulu telah menaklukkan dunia itu? Dari masa
kakeknya Ardasyir, yang telah membangun Istana Kisra dan Ruang
Sidangnya yang paling megah dan mewah?! Sekarang dia menjadi seorang
raja yang sudah tidak lagi berkuasa, terusir dari ibu kota kerajaannya,
lalu lari seperti pengecut. Tabahkah dia menghadapi kekalahan
itu, menghadapi bencana yang menimpanya? Adakah nasib masih akan
mendukung pasukan Muslimin untuk terus mengejarnya sampai sejauh
mana pun? Darah mudanya yang dulu mendidih dan keteguhan hatinya
yang terus memberikan harapan, masih adakah harapan itu baginya,
ataukah kekalahannya sudah membuat keteguhan hatinya mencair dan
darah mudanya sudah tidak lagi mendidih, sehingga segala cita-cita dan
harapannya hilang terbawa angin? Tatkala pertama kali tinggal di Hulwan tak ada yang dipikirkan
oleh anak muda yang sudah kalah itu. la sudah menawarkan perdamaian
kepada pasukan Muslimin atas dasar Sungai Tigris sebagai
pembatas antara dia dengan mereka. Ya, sesudah mereka membebaskan
Mada'in, cukupkah dengan itu dan hanya sampai di situ? Kalau mereka
lakukan ini berarti mereka ikut mewujudkan cita-citanya, dan hari
depan cukup untuk menjamin kekuasaannya. Tetapi mereka pihak yang
menang, dan pihak yang menang tak mengenal gencatan senjata. Angkatan
bersenjatanya yang dulu banyak berlimpah, sudah beterbangan
kian ke mari mencari selamat. Serahkanlah semua itu kepada masa
yang akan datang! Dan hari esok bagi yang mengawasinya itu dekat!
Apa yang akan terjadi besok? Itulah yang akan kita bicarakan
dalam bab berikut ini.


1 komentar: