Jumat, 16 Maret 2012

UMAR MEMULAI TUGASNYA


UMAR MEMULAI TUGASNYA
Abu Bakr wafat Senin petang setelah matahari terbenam
21 Jumadilakhir tahun ke-13 sesudah hijrah (22 Agustus 832 M.).
Setelah malam tiba jenazahnya dimandikan dan dibawa ke Masjid di
tempat pembaringan yang dulu dipakai Rasulullah, disalatkan dan dibawa
ke makam Rasulullah. Ia dimakamkan dalam lahad di samping Rasulullah
Sallallahu 'alaihi wa sallam, kepalanya di arah bahu Rasulullah dan
lahad dengan lahad itu berdampingan. Pemakaman dilakukan oleh Umar
bin Khattab, Usman bin Affan, Talhah bin Ubaidillah dan Abdur-Rahman
bin Abu Bakr.

Pelantikan Umar dan mobilisasi ke Irak
Umar sudah menyelesaikan tugasnya yang terakhir terhadap Khalifah
pertama. la keluar dari liang lahad di rumah Aisyah itu dan
setelah memberi salam kepada sahabat-sahabatnya ia kembali pulang ke
rumahnya lewat tengah malam.1 Ia masuk ke tempat tidur dengan pikiran
apa yang hendak dilakukannya besok. Pagi-pagi besok umat akan
Dalam at-Tabaqat Ibn Sa'd mengutip beberapa sumber tentang khutbah Umar yang
pertama, di antaranya dari sumber yang mengacu kepada Affan bin Muslim dan Wahb
bin Jarir, dari Jarir bin Hazim dan dari Humaid bin Hilal di antara orang-orang yang
menyaksikan kematian Abu Bakr — sebagai berikut: "Selesai pemakaman Umar mengebutkan
tangannya dari debu kuburan. Kemudian ia mengucapkan pidato, yang
teksnya akan pembaca lihat nanti dalam bab ini. Kita meragukan bahwa Umar berpidato
dalam situasi seperti ini; kita lebih cenderung mengatakan bahwa Umar berpidato dalam
kesempatan lain. Putrinya Aisyah Ummulmukminin, Ali bin Abi Talib dan Umar menyampaikan
eulogi (pujian duka) begitu berita kematian Abu Bakr diumumkan setelah
matahari terbenam. Dalam pujian dukanya itu tak lebih Umar mengatakan: "Wahai
membaiatnya untuk tugas mengurus mereka. la akan menghadapi mereka
yang menyetujui pencalonannya karena terpaksa, lalu menghadapi
situasi perang yang amat pelik di Irak dan Syam. Lalu apa yang harus
dilakukannya untuk mengatasi kedua masalah itu, padahal kedua tempat
tersebut merupakan kawasan yang paling berbahaya dalam sejarah
kedaulatan yang baru tumbuh itu.
Posisi Muslimin di Irak dan Syam ketika itu memang sangat sulit.
Kekuatan pasukan Muslimin di Syam sudah tak berdaya berhadapan
dengan pasukan Rumawi. Abu Bakr ingin menyelamatkannya dengan
mengirimkan Khalid bin Walid bersama sejumlah personel dari pasukan
Irak. Sungguhpun sudah dengan mengerahkan pasukan di bawah
pimpinan Khalid, namun belum ada juga berita kepada pihak Muslimin
di Medinah yang memberi harapan kemenangan, setidak-tidaknya berita
tentang keadaan mereka. Dengan keberangkatan Khalid dan pasukannya
sebagian ke Syam pasukan Muslimin di Irak jadi lemah. Al-Musanna
bin Harisah asy-Syaibani dengan segala kemahiran dan kemampuannya,
tak dapat mempertahankan apa yang sudah diperoleh Muslimin dari
daerah Sawad1 Irak. Malah ia kembali ke Hirah dan bertahan di sana.
Memang ia dan pasukannya sudah dapat mengalahkan pasukan Persia
Khalifatullah! Sepeninggalmu, sungguh ini suatu beban yang sangat berat yang harus
kami pikul. Sungguh engkau tak tertandingi, bagaimana pula hendak menyusulmu!"
Abu Bakr dimakamkan di rumah Aisyah setelah malam turun, dalam lubang tempat
Rasulullah dimakamkan. Tak ada siapa pun di pemakaman itu selain mereka yang menyelenggarakan.
Abdullah anak Abu Bakr bermaksud hendak membantu mereka, tetapi
Umar berkata: "Sudah cukup." Rasanya tidak wajar Umar akan berpidato di tengahtengah
mereka. Di samping itu orang pun sudah pulang semua ke rumah masing-masing.
Pada saat semacam itu di Masjid sudah tak ada orang selain sebagian kecil penghuni
Suffah, sebab pada waktu itu di Masjid tak ada penerangan.
1 As-Sawad al-'Iraq. Nama 'Iraq berasal dari kata bahasa Pahlavi "Airak" yang berarti
"tanah rendah" atau "tanah selatan." Tetapi as-Sawad dengan arti "tanah hitam" nama
dalam bahasa Arab yang tertua untuk tanah resapan di tepi Sungai Tigris (Tigris) dan
Furat (Euphrates), hilir Mesopotamia. Kata ini dipakai juga untuk menyatakan daerah
pertanian atau perkebunan suatu wilayah atau kota, seperti "sawad al-'Iraq," "sawad
Khuzistan," "sawad al-Urdun," "sawad Bagdad," "sawad Basrah" dan sebagainya.
Sawad al-'arabi berada di kawasan Irak Hilir, termasuk Basrah dan Kufah yang sekarang.
Irak terbagi menjadi dua kawasan, al-'Iraq al-'arabi (Irak-Arab) yang secara
umum dalam sejarah lama sama dengan Mesopotamia, termasuk Irak Hulu atau Al-
Jazirah, dan al-'Iraq al-'ajami (Irak-Persia) yang dibatasi oleh pegunungan Zagros,
yang kurang lebih sama dengan Media. Kota Tikrit biasanya disebut yang membatasi
kedua kawasan itu. (dari beberapa sumber). Dalam terjemahan seterusnya dipakai kata
Sawad atau daerah pinggiran kota. — Pnj.
yang dikirimkan Syahriran anak Ardasyir dan dipimpin oleh Ormizd
Jadhuweh di reruntuhan Babel sehingga mereka terusir kalah. Tetapi
sesudah kemenangannya ini Musanna hanya bertahan di posisinya semula,
karena khawatir akan disergap musuh, dengan keyakinan bahwa
kendati ia dapat mengadakan perlawanan tetapi tak akan dapat maju.
Bahkan perlawanannya itu pun sudah sangat sulit jika keadaan di istana
Persia sudah kembali tenang dan tidak lagi bergejolak. Ia menulis surat
kepada Abu Bakr meminta izin akan meminta bantuan kaum pembangkang
(kaum Riddah) yang sudah jelas-jelas bertobat. Tetapi dulu
Abu Bakr sudah melarang meminta bantuan mereka dalam perang.
Sesudah lama menunggu jawaban Khalifah, ia menunjuk Basyir bin al-
Khasasiah menggantikannya di Irak. Dia sendiri berangkat ke Medinah
akan melaporkan keadaannya secara lebih terinci, dan akan mempertahankan
pendapatnya tentang kepergiannya dari sana.
Ya, bagaimana Umar harus menghadapi semua ini? Soal inilah dan
segala yang berhubungan dengan ini yang menggoda pikirannya malam
itu, dengan permohonan kepada Allah agar diberi jalan keluar dan menunjukinya
ke jalan yang benar. Apabila pagi besok tiba ia akan melihat
Musanna berada di barisan depan. Musanna akan meminta izin kepadanya
seperti permintaannya dulu kepada Abu Bakr — agar mendapat
bantuan orang-orang yang dulu pernah membangkang dan kini sudah
memperlihatkan tobatnya, dan akan diulanginya bahwa yang diharapkan
kaum murtad yang sudah bertobat itu hanya harta rampasan perang.
Dalam berperang sebenarnya tak ada yang dapat menandingi semangat
mereka. Mengenai Irak Abu Bakr sudah berwasiat kepada Umar dan
harus dilaksanakan tatkala ia memanggilnya dan berkata: "Umar, perhatikan
apa yang saya katakan ini dan laksanakanlah. Saya kira saya
akan mati hari ini juga. Kalau saya mati, sebelum petang ini mobilisasi
harus sudah Anda laksanakan dan berangkatkan bersama Musanna. Jika
tertunda sampai malam, begitu tiba waktu pagi mobilisasi harus sudah
terlaksana dan berangkatkan bersama Musanna. Jika Allah memberi
kemenangan di Syam tarik kembali pasukan Khalid ke Irak. Mereka
penduduk sana dan yang menguasainya. Mereka orang-orang yang suka
ketagihan dan pemberani."
Akan dilaksanakankah mobilisasi bersama Musanna atau biar saja
ia meminta bantuan kaum murtad yang sudah jelas bertobat? Ia khawatir
orang akan menjadi tak acuh jika dikerahkan sesudah melihat
teman-teman yang di Syam tak dapat maju dan melihat Musanna di
Medinah dalam ketakutan melihat Persia dan kekejamannya. Tetapi
Muslimin tak akan bertahan di Irak jika pasukan mereka tidak diperkuat
dengan perlengkapan yang benar-benar tangguh. Samasekali tak
pernah terpikir oleh Musanna akan menarik pasukannya dari daerahdaerah
itu. Dia yang dulu mendorong Abu Bakr supaya menyerangnya,
dia pula yang mendahului Khalid dan yang lain ke sana. Tidak mudah
buat dia akan menarik diri dari suatu negeri yang dia sendiri memelopori
penyerangannya, dan akan keluar dari sana padahal ia yakin
benar akan kemampuannya dapat membebaskan daerah tersebut. Kalau
Umar memasoknya dengan kaum murtad yang sudah bertobat, niscaya
kemenangan akan membawanya sampai ke takhta Persia.
Juga tak pernahkah terpikir oleh Umar akan menarik diri dari Irak?
Abu Bakr mencalonkannya menjadi khalifah karena kepercayaannya
bahwa dari kalangan Muslimin dialah yang paling mampu meneruskan
kebijakan politiknya, dan untuk meneruskan politik ini tak ada jalan
lain harus dijalankan dengan tegas, wasiat Abu Bakr harus dilaksanakan
dengan mengadakan mobilisasi pemberangkatan bersama Musanna,
dan pasukan Muslimin di Syam harus diperkuat. Adakah pemuka-pemuka
Muslimin dan sahabat-sahabat Rasulullah yang tidak setuju dengan
pencalonannya sebagai khalifah mau membantunya dengan tulus hati?
Kalau mereka masih maju mundur hendak membantunya apa yang
harus diperbuatnya? Dan apa pula pengaruh keraguan mereka terhadap
orang-orang Arab serta kesetiaan mereka kepada Medinah? Ya, hanya
dengan politik yang tegas itu sajalah yang akan memberikan jalan
keluar dari situasi ini. Dan ketegasan itu tidak akan mengurangi sifat
Umar. Ambillah keputusan yang pasti, dan bertawakal kepada Allah.
Malam itu Umar cukup lelah memikirkan semua ini. Paginya ia
menemui orang-orang di Masjid. Mereka menyambutnya sudah siap
akan membaiatnya, kesiapan yang membuat gejolak hatinya terasa lebih
tenteram. Apabila waktu lohor sudah tiba dan orang sudah berdatangan
akan melaksanakan salat, Umar menaiki mimbar, tangga demi tangga
yang biasa dipakai oleh Abu Bakr. Sesudah mengucapkan hamdalah
dan salawat kepada Nabi, dan setelah menyebut tentang Abu Bakr serta
jasanya, ia berkata:
"Saudara-saudara!1 Saya hanya salah seorang dari kalian. Kalau
tidak karena segan menolak tawaran Khalifah Rasulullah saya pun akan
enggan memikul tanggung jawab ini." Dia mengucapkan kata-kata itu
dengan rasa haru, dengan rendah hati dan sangat berhati-hati — yang
Ayyuhan-nas, harfiah, "Wahai semua orang." — Pnj.
dinilai orang sebagai pertanda tepatnya firasat Abu Bakr — dengan
pandangan yang jauh dalam mencalonkan penggantinya. Mereka memuji
sikap Umar itu, lebih-lebih setelah mereka melihatnya menengadah
ke atas sambil berkata: "Allahumma ya Allah, aku ini sungguh
keras, kasar, maka lunakkanlah hatiku! Allahumma ya Allah, saya sangat
lemah, maka berilah saya kekuatan! Allahumma ya Allah, aku ini
kikir, jadikanlah aku orang dermawan bermurah hati!" Umar berhenti
sejenak, menunggu orang lebih tenang lagi. Kemudian sambungnya:
"Allah telah menguji kalian dengan saya, dan menguji saya dengan
kalian. Sepeninggal sahabatku, sekarang saya yang berada di tengahtengah
kalian. Tak ada persoalan kalian yang harus saya hadapi lalu
diwakilkan kepada orang lain selain saya, dan tak ada yang tak hadir di
sini lalu meninggalkan perbuatan terpuji dan amanat. Kalau mereka
berbuat baik akan saya balas dengan kebaikan, tetapi kalau melakukan
kejahatan terimalah bencana yang akan saya timpakan kepada mereka."
Selesai berpidato Umar turun dari mimbar lalu mengimami salat.
Selesai salat ia menoleh kepada mereka dan mengumumkan mobilisasi
ke Irak dengan Musanna. Disebutkan juga wasiat Abu Bakr mengenai
hal ini. Mendengar seruan Khalifah, mereka berpandang-pandangan
satu sama lain tetapi tak ada yang menyambut seruan itu, seolah
mereka teringat apa yang telah menimpa saudara-saudara mereka di
Syam. Mereka tak ingin yang demikian akan terulang menimpa mereka
lagi. Bukankah Abu Bakr sudah mengajak mereka untuk menyerbu
Syam, tetapi mereka masih maju mundur, lalu ketika itu Umar berteriak
kepada mereka: "Kaum Muslimin sekalian, mengapa kalian tidak menjawab
seruan Khalifah yang mengajak kalian untuk hal-hal yang akan
menghidupkan iman kalian?" Kemudian baru mereka mau memenuhi
seruan itu, dan mereka pun berangkat untuk menghadapi Heraklius dan
pasukannya. Termasuk di antara mereka Abu Ubaidah bin Jarrah, Amr
bin As, Yazid bin Abi Sufyan dan beberapa orang sahabat, diikuti oleh
para amir dan para pahlwan dari segenap penjuru Semenanjung. Dalam
berhadapan dengan pihak Rumawi mereka tak dapat mengalahkan. Juga
Khalid bin Walid setelah membuat pihak Persia porak poranda dengan
serangkaian kemenangannya di Irak, telah diperbantukan kepada mereka.
Akan lebih baikkah nasib mereka jika seruan Umar itu mereka
penuhi dan mereka berangkat bersama Musanna ke Irak? Ataukah
posisi mereka di sana dalam menghadapi Persia akan sama saja dengan
sahabat-sahabat mereka menghadapi pasukan Heraklius di Syam? Tak
ada dari mereka yang mengharapkan Umar mengembalikan Khalid ke Irak karena
mereka tahu citra Umar terhadap jenderal itu. Mereka masih
ingat sikapnya terhadap peristiwa Malik bin Nuwairah.
Musanna bin Harisah memang seorang jenderal besar yang tak
disangsikan lagi, tetapi dia bukan dari Kuraisy dan tidak pula termasuk
sahabat Rasulullah. Dia dari kabilah Banu Bakr bin Wa'il. Di samping
itu, tatkala Khalid meninggalkan Irak ke Syam, Musanna menarik pasukannya
dari pinggiran Irak ke Hirah, kemudian datang ke Medinah
meminta bala bantuan dari Khalifah. Ini menunjukkan bahwa posisinya
terhadap Persia tak dapat disalahkan, sebab nama Persia bagi orang
Arab ketika itu sangat mengerikan. Ada sebagian yang menduga bahwa
Khalid dapat mengalahkan Persia karena pada mulanya mereka menganggap
Khalid enteng, sehingga tidak menghadapinya dengan kekuatan
yang akan dapat memukulnya mundur. Kalau memang sudah demikian
kenyataannya, untuk apa mereka berperang yang mungkin hanya akan
membawa bencana kepada mereka?

Tawanan perang dipulangkan kepada keluarga masing-masing
Tak ada pemuka-pemuka dan orang-orang bijak yang segera metnenuhi
seruan Umar itu. Kalau mereka saja sudah enggan lebih-lebih lagi
masyarakat umum tentunya. Sejenak Umar mengangguk-angguk, kemudian
kembali ke tempatnya semula di Masjid. Orang banyak pun masih
berturut-turut meneruskan acara baiat tadi. Lepas isya baru mereka
bubar. Tinggal Umar malam itu yang masih terus berpikir. Pagi-pagi
keesokannya ia kembali ke tempatnya di Masjid. Orang pun masih meneruskan
acara pembaiatannya. Sementara itu terdengar suara azan
untuk salat lohor. Tak lama kemudian setelah Umar keluar dari tempat
itu ia berseru kepada orang banyak dengan suaranya yang menggelegar,
memerintahkan mereka untuk membebaskan semua tawanan Perang
Riddah (kaum murtad) dan mengembalikan kepada keluarga-keluarga
mereka, dengan mengemukakan alasan: "Saya tidak ingin melihat adanya
tawanan perang menjadi kebiasaan di kalangan Arab."
Mendengar perintah itu mata mereka terbelalak melihat kepada
Umar. Satu sama lain mereka saling bertanya: Apa maksudnya!? Kaum
Muslimin memang sudah menawan orang-orang Arab tawanan Perang
Riddah sesuai dengan perintah Abu Bakr tatkala ia mengumumkan ke
seluruh Semenanjung Arab dengan perintah kepada setiap panglima
agar menyerukan orang murtad kembali kepada Islam. Yang menolak
supaya diperangi, dan jangan membiarkan orang yang masih kuat; mereka
supaya dibakar dengan api dan dibunuh habis, semua perempuan
dan anak cucu mereka supaya ditawan. Dengan perintah itu adakah
maksud Umar hendak menentang Abu Bakr dan akan berjalan sendiri
tanpa menghiraukan tuntunannya? Ataukah karena dia melihat orang
masih malas-malas ketika diminta berangkat bersama Musanna lalu ia
mau membujuk orang-orang Arab dari berbagai kabilah untuk membantu
Musanna? Apa pun masalahnya, perintah yang baru dalam politik
negara boleh kita pikirkan dalam-dalam dan perlu dipertanyakan.
Sebenarnya sedikit sekali Umar tidur dalam dua malam setelah kematian
Abu Bakr itu. Orang masih berdatangan meneruskan baiat untuk
menghormati Abu Bakr dan wasiatnya. Tetapi pemuka-pemuka mereka
masih tidak puas dengan sikap Umar yang begitu keras, dan di antara
mereka memang ada yang mempunyai ambisi kekuasaan. Suatu pemerintahan
tidak akan stabil jika dalam menjalankan politiknya para
pemikirnya tidak dilibatkan. Keadaan memang sangat pelik untuk membiarkan
segalanya kepada waktu, dan Umar cukup dengan hanya berdoa
kepada Allah supaya orang mencintainya dan dia mencintai mereka.
Kalau dia tak dapat menanganinya dengan tegas, pemerintahan akan
menjadi kacau. Bahwa dia sudah mengeluarkan perintah agar tawanan
perang dikembalikan kepada keluarga masing-masing dan untuk mengambil
hati kabilah-kabilah Arab yang dulu menjauhinya karena sikapnya
yang keras itu, jangan diragukan lagi biarlah politik ini diteruskan.

Pidato pertama
Hari ketiga ia datang ke Masjid, dan selesai baiat ia berkata: "Orang
Arab ini seperti unta yang jinak, mengikuti yang menuntunnya ke mana
saja dibawa. Tetapi saya, demi Allah, akan membawa mereka ke jalan
yang benar." Orang makin banyak memperhatikan Umar. Terbayang oleh semua
hadirin yang ada di Masjid, bahwa orang ini akan membawa malapetaka
kepada mereka, karena sikapnya yang begitu tegar dan keras.
Umar dapat menangkap perasaan itu dari wajah mereka. Ketika orang
sudah banyak berkumpul akan melaksanakan salat lohor, Umar naik ke
tangga mimbar setapak demi setapak dan berkata:
"Saya mendapat kesan, orang merasa takut karena sikap saya yang
keras. Kata mereka Umar bersikap demikian keras kepada kami, sementara
Rasulullah masih berada di tengah-tengah kita, juga bersikap
keras demikian sewaktu Abu Bakr menggantikannya. Apalagi sekarang,
kalau kekuasaan sudah di tangannya. Benarlah orang yang berkata
begitu. "... Ketika itu saya bersama Rasulullah, ketika itu saya budak dan
pelayannya. Tak ada orang yang mampu bersikap seperti Rasulullah,
begitu ramah, seperti difirmankan Allah: Sekarang sudah datang
kepadamu seorang rasul dari golonganmu sendiri: terasa pedih hatinya
bahwa kamu dalam penderitaan, sangat prihatin ia terhadap kamu,
penuh kasih sayang kepada orang-orang beriman. (Qur'an, 9:128) Di
hadapannya ketika itu saya adalah pedang terhunus, sebelum disarungkan
atau kalau dibiarkan saya akan terus maju. Saya masih bersama
Rasulullah sampai ia berpulang ke rahmatullah dengan hati lega terhadap
saya. Alhamdulillah, saya pun merasa bahagia dengan Rasulullah.
"Setelah itu datang Abu Bakr memimpin Muslimin. Juga sudah
tidak asing lagi bagi Saudara-saudara, sikapnya yang tenang, dermawan
dan lemah lembut. Ketika itu juga saya pelayan dan pembantunya. Saya
gabungkan sikap keras saya dengan kelembutannya. Juga saya adalah
pedang terhunus, sebelum disarungkan atau kalau dibiarkan saya akan terus
maju. Saya masih bersama dia sampai ia berpulang ke rahmatullah dengan
hati lega terhadap saya. Alhamdulillah, saya pun merasa bahagia
dengan Abu Bakr. "Kemudian sayalah, saya yang akan mengurus kalian. Ketahuilah
Saudara-saudara, bahwa sikap keras itu sekarang sudah mencair.. Sikap
itu hanya terhadap orang yang berlaku zalim dan memusuhi kaum
Muslimin. Tetapi buat orang yang jujur, orang yang berpegang teguh
pada agama dan berlaku adil saya lebih lembut dari mereka semua.
Saya tidak akan membiarkan orang berbuat zalim kepada orang lain
atau melanggar hak orang lain. Pipi orang itu akan saya letakkan di
tanah dan pipinya yang sebelah lagi akan saya injak dengan kakiku
sampai ia mau kembali kepada kebenaran. Sebaliknya, sikap saya yang
keras, bagi orang yang bersih dan mau hidup sederhana, pipi saya ini
akan saya letakkan di tanah. "Dalam beberapa hal, Saudara-saudara berhak menegur saya.
Bawalah saya ke sana; yang perlu Saudara-saudara perhatikan, ialah:
"Saudara-saudara berhak menegur saya agar tidak memungut pajak atas kalian
atau apa pun yang diberikan Allah kepada Saudara-saudara,
kecuali demi Allah; Saudara-saudara berhak menegur saya, jika ada
sesuatu yang di tangan saya agar tidak keluar yang tak pada tempatnya;
Saudara-saudara berhak menuntut saya agar saya menambah penerimaan
atau penghasilan Saudara-saudara, insya Allah, dan menutup segala
kekurangan; Saudara-saudara berhak menuntut saya agar Saudarasaudara
tidak terjebak ke dalam bencana, dan pasukan kita tidak ter98
perangkap ke tangan musuh; kalau Saudara-saudara berada jauh dalam
suatu ekspedisi, sayalah yang akan menanggung keluarga yang menjadi
tanggungan Saudara-saudara.
"Bertakwalah kepada Allah, bantulah saya mengenai tugas Saudarasaudara,
dan bantulah saya dalam tugas saya menjalankan amar ma 'ruf
nahi munkar, dan bekalilah saya dengan nasihat-nasihat Saudarasaudara
sehubungan dengan tugas yang dipercayakan Allah kepada saya
demi kepentingan Saudara-saudara sekalian. Demikianlah apa yang
sudah saya sampaikan, semoga Allah mengampuni kita semua."
Sesudah menyampaikan pidatonya itu Umar turun dari mimbar dan
langsung memimpin sembahyang. Selesai salat ia pergi meninggalkan
mereka. Hadirin masih merenungkan apa yang mereka dengar tadi.
Mereka memang sudah mengenai Umar sebagai yang suka berterus
terang, lahirnya sama dengan batinnya, yang dikatakannya dan yang
tidak dikatakannya sama. Mereka sudah mengenalnya sebagai orang
yang adil dengan segala kekerasan watak dan kekasarannya. Ternyata
kini dia sendiri yang mengatakan bahwa sikap kerasnya itu hanya
ditujukan kepada orang-orang zalim. Dia tidak menipu mereka ketika
mengatakan bahwa bagi orang yang jujur dan adil ia akan lebih lembut
dari mereka semua. Yang harus mereka akui dan tak boleh dilupakan,
dalam beberapa hal mereka juga sudah mengenalnya ia bersikap ramah.
Di samping itu ia sudah berjanji akan menambah penerimaan dan penghasilan
mereka dan akan menjadi pelindung keluarga mereka selama
mereka berada jauh di medan perang. Bukankah sudah seharusnya mereka
mencurahkan segala kepercayaan kepadanya dan memenuhi seruannya
itu kalau mereka dipanggil?
Demikianlah perasaan sebagian besar mereka yang hadir. Tetapi
pemuka-pemuka mereka masih tetap berhati-hati. Sebagian mereka
merasa tidak puas terhadap Umar, dan yang sebagian besar mereka ikut
prihatin melihat keadaan di Irak dan Syam.

Muslimin ragu menghadapi kehebatan Persia
Sekarang Umar datang kembali hendak melakukan salat asar, kemudian
mengadakan mobilisasi untuk diberangkatkan bersama Musanna.
Tetapi mereka tampaknya masih tampak enggan. Ketika itu Musanna
hadir, dan ia mendesak sekali kepada Umar agar kaum murtad yang
sudah jelas-jelas bertobat diperbantukan kepadanya; mereka lebih
mampu dalam memerangi Persia. Ia makin keras mendesak tatkala
Umar memerintahkan para tawanan perang keluarga kaum murtad
dikembalikan kepada keluarga-keluarga mereka. Yakin dia bahwa perintah
ini akan membuat mereka lebih siap berangkat bersama dia.
Melihat Umar tidak segera menjawab permintaannya itu dan melihat
orang makin banyak yang menyetujui Umar dan pemerintahannya,
harapannya mereka akan segera maju sesuai dengan seruan Khalifah
untuk bergabung kepadanya. Tetapi melihat keengganan mereka dan di
wajah mereka terlihat bahwa muka-muka orang Persia memang sangat
mereka benci karena bengisnya mereka berkuasa, tindakan mereka yang
sewenang-wenang dan keserakahannya menguasai bangsa-bangsa lain,
Musanna tampil berpidato di hadapan mereka:
"Saudara-saudara! Saudara-saudara jangan takut menghadapi wajah
mereka. Kami sudah menjelajahi desa Persia dan kami dapat mengalahkan
mereka di kanan kiri Sawad, kami hadapi dan kami hancurkan
mereka. Jadi yang sebelum kita sudah mempunyai keberanian menghadapi
mereka, maka yang sesudahnya juga insya Allah demikian."
Umar menyimak kata-kata Musanna itu dan melihat dampaknya
yang baik pada pendengarnya. Setelah berdiri dan berpidato di hadapan
mereka, di antaranya ia mengatakan: "Di Hijaz sudah tak ada lagi rumah
buat kita kecuali di tempat mencari rumput, dan kekuatan penduduknya
hanya dengan itu. Manalah orang-orang asing kaum Muhajirin itu dari
yang sudah dijanjikan Allah. Mengembaralah di muka bumi, bumi yang
akan diwariskan kepada kamu sekalian, seperti dijanjikan Allah dalam
Kitab-Nya. Ia berfirman untuk memenangkannya di atas semua agama.
Allah akan memenangkan agama-Nya, akan memuliakan pembelanya
dan mewariskan bangsa-bangsa kepada yang berhak. Manakah hambahamba
Allah yang saleh itu!"
Sesudah menyimak kata-kata Musanna dan Umar, orang banyak itu
merasa sangat tercela dengan sikap mereka yang masih malas-malas itu.
Mereka sudah membela Rasulullah dan memuliakan agama Allah, tetapi
mengapa dengan seruan Umar mereka tak mau beranjak? Mereka
maju mundur: maukah mereka menyambut seruan itu ataukah masih
akan tetap enggan? Sementara mereka dalam keadaan demikian tibatiba
Abu Ubaid bin Mas'ud bin Amr as-Saqafi tampil, siap akan
berangkat ke Irak. Dialah orang pertama yang menyambut tugas ini.
Menyusul kemudian orang kedua, Salit bin Qais. Ketika itulah orang
baru datang mengerumuni mereka dan mereka sepakat akan berangkat
bersama-sama. Jumlah mereka mencapai seribu orang dari Medinah.
Umar senang sekali melihat mereka sudah. berkumpul demikian.
Jantungnya tergetar karena rasa bersyukur kepada Allah, bahwa kaum
Muslimin sekarang sudah tergugah dari kebekuannya selama ini, yang
tadinya hampir saja merusak suasana.

Abu Ubaid memimpin pasukan ke Irak
Siapakah dari kalangan Muhajirin dan Ansar yang akan memegang
pimpinan ekpedisi itu? Keadaan ini menjadi pemikiran mereka yang
tadinya masih ragu memenuhi seruan itu. Mereka khawatir jika Umar
menyerahkan pimpinan pasukan kepada satu orang yang bukan dari
Medinah sementara kebanyakan anggota pasukannya terdiri dari orangorang
Medinah. Cepat-cepat mereka berkata kepada Khalifah: "Pimpinan
mereka hendaknya seorang sahabat yang mula-mula, dari Muhajirin
dan Ansar." Tetapi sikap ragu-ragu mereka selama tiga hari pertama
pemerintahan Umar telah melukai hati dan masih terasa bekasnya. Oleh
karena itu Umar langsung menjawab mereka: "Tidak! Allah telah
mengangkat Saudara-saudara karena kesigapan dan kecepatan Saudarasaudara
menghadapi musuh. Kalau kalian takut dan enggan menghadapi
musuh, lebih baik pimpinan diserahkan kepada orang yang mau mempertahankan
dan menyambut seruan itu. Pimpinan akan saya serahkan
hanya kepada orang yang pertama menyambut tugas ini. Kemudian ia
memanggil Abu Ubaid, dan pimpinan pasukan diserahkan kepadanya.
Setelah itu ia memanggil Sa'd bin Ubaid dan Salit bin Qais dan
katanya kepada mereka: "Kalian berdua kalau dapat menyusulnya akan
saya serahi pimpinan dan kalian akan dapat melakukan itu dengan
keberanian kalian."
Musanna bin Harisah merasa lega setelah melihat pasukan itu
sudah siap berangkat ke Irak. Menurut pendapat Umar Musanna tidak
perlu tinggal di Medinah, dan diperintahkannya ia kembali ke Irak
dengan angkatan bersenjatanya. Kata Umar kepadanya: "Cepat-cepatlah
supaya kawan-kawanmu segera menemuimu!" Pasukan baru itu sekarang
sudah dalam persiapan. Bilamana waktu keberangkatan sudah
dekat, Umar berpesan kepada Abu Ubaid:
"Dengarkanlah dari sahabat-sahabat Nabi Sallallahu 'alaihi wa
sallam dan ajaklah mereka bersama-sama dalam hal ini. Janganlah
cepat-cepat berijtihad sebelum Anda teliti benar-benar. Ini adalah perang,
dan yang cocok untuk perang hanya orang yang tenang, yang
pandai melihat kesempatan dan pandai pula mengelak."
Inilah masalah yang sungguh pelik. Dengan ilham yang diberikan
Allah kepadanya, dalam empat hari pemerintahannya ia telah dapat
mengatasinya, sehingga kesibukannya dalam soal ini tidak sampai
mengganggu pikirannya dalam menghadapi soal-soal latin yang sekarang
sedang bertimbun di depannya. Pikirannya tertuju pada soal Syam, orangorang
Kristiani Najran dan sekian lagi masalah, yang menurut pendapatnya
berbeda dengan pendapat Abu Bakr. la sedang memikirkan
suatu strategi yang harus diambil untuk mewujudkan konsepnya itu dan
mendapat persetujuan Muslimin yang ada di sekitarnya. Tatkala melaksanakan
konsepnya dalam menghadapi problem seperti ini, seperti
biasa ia berterus terang, dan sangat tegas, tak kenal ragu atau basa-basi,
dan tidak mengelak untuk memikul semua tanggung jawab sepenuhnya,
sebab ia percaya bahwa ia benar, dan untuk itu pasti Allah mendukungnya.

Khalid bin Walid dipecat dari pimpinan militer
Semua orang sudah tahu pandangannya yang begitu jelek terhadap
Khalid bin Walid dan keprihatinannya sehubungan dengan peristiwa
Malik bin Nuwairah. Ia meminta kepada Abu Bakr supaya Khalid dijatuhi
sanksi. Sejak peristiwa itu pandangan Umar terhadap Khalid
tidak berubah. Jenderal itu telah dipindahkan dari Irak ke Syam atas
perintah Abu Bakr dan menyerahkan pimpinan kepada pasukan Muslimin.
Di samping itu sudah lebih dari sebulan ia tak dapat mengalahkan
pasukan Rumawi, bahkan tidak menghadapinya. Mana ada kesempatan
lebih baik dari ini untuk memecat Khalid dari pimpinan
militer dan menyerahkannya kepada Abu Ubaidah! Dan inilah yang
dilakukan Umar. Keesokan harinya sesudah Abu Bakr wafat ia menulis
surat kepada Abu Ubaidah memberitahukan tentang meninggalnya
Khalifah, kemudian surat tentang pemecatan Khalid dan pengangkatan
Abu Ubaidah menggantikannya sebagai panglima dan Khalid sebagai
komandan batalion yang tadinya dipegang Abu Ubaidah. Untuk menyampaikan
berita wafatnya Abu Bakr Umar mengutus Yarfa' pembantunya,
sedang mengenai pemecatan Khalid dan pengangkatan Abu
Ubaidah yang diutusnya Mahmiyat bin Zanim dan Syaddad bin Aus.
Dalam surat pengangkatannya ia berpesan kepada Abu Ubaidah dengan
mengatakan: "Jangan menjerumuskan pasukan Muslimin karena mengharapkan
rampasan perang. Janganlah menempatkan mereka di suatu
tempat sebelum Anda merahasiakan kekuatannya dari mereka dan
mengetahui bagaimana kedatangannya. Janganlah mengirim satuan
kecuali dalam rombongan besar. Janganlah menjerumuskan pasukan
Muslimin ke dalam malapetaka! Allah telah menguji Anda dengan saya
dan mengujiku dengan Anda. Tutuplah matamu dari kesenangan dunia
dan lupakan. Janganlah Anda sampai binasa seperti yang terjadi dengan
yang sebelummu, dan Anda sudah melihat sendiri kehancuran mereka!"
Bagaimana Umar berani mempertaruhkan diri dengan memecat
Khalid padahal pimpinan angkatan bersenjata Muslimin di Syam di tangan
Khalid dan angkatan ini dalam situasi yang sangat genting! Mereka di
sana tidak menghadapi pihak Rumawi secara berhadap-hadapan, dan
untuk itu memang tidak mampu. Demikian juga halnya pasukan Rumawi
terhadap pasukan Muslimin. Begitulah keadaan mereka sebelum
keberangkatan Khalid bin Walid dari Irak ke Syam. Setelah Khalid
berada di tengah-tengah mereka keadaan pun tetap demikian. Kedua
pihak menunggu kesempatan keluar dari situasi- yang begitu mencekam
untuk menyerbu musuh. Tidakkah Khalifah merasa khawatir dengan
pemecatan Khalid itu keadaan pasukan Muslimin akan berantakan dan
situasinya akan makin gawat? Tidakkah lebih baik ia menunggu sampai
Khalid lepas dari situasi kritis sekarang ini. Sesudah itu baru ia bertindak
dengan cara yang bagaimanapun?! Melihat perkembangan perang yang sedang berlangsung itu, sudah
tentu segala pertimbangan ini besar sekali artinya. Nanti akan kita lihat
bahwa Abu Ubaidah sangat menghargainya tanpa merasa khawatir
Khalifah akan marah kepadanya. Tetapi Umar melihatnya dari segi lain.
Jika pemecatan Khalid ditunda sampai perang selesai keadaan akan
membahayakan politiknya dan akan merusak strateginya. Tak terlihat
jalan lain dalam perang itu: berkesudahan dengan kekalahan pasukan
Muslimin, atau dengan kemenangan. Kalau Muslimin kalah, pemecatan
Khalid tak ada arti apa-apa atas kekalahan itu. Kebalikannya, kalau
menang dan Khalid sebagai panglimanya, Umar tidak akan memecat
seorang panglima yang sedang dalam puncak kejayaannya. Kalau ini
juga yang dilakukannya, berarti ia mengambil suatu tindakan yang
sangat mengerikan. Umar cenderung tidak akan membiarkan Khalid
sebagai panglima tertinggi di Syam atau di tempat lain. Oleh karenanya
ia cepat-cepat mengeluarkan perintah pemecatannya. Apa boleh buat,
Khalid tak dapat mewujudkan apa yang dipercayakan Abu Bakr kepadanya.
Kalau sesudah itu pasukan Muslimin menang, Umar tidak
salah. Ia hanya melakukan apa yang diyakininya bahwa dia benar.
Dalam hal ini Khalid dalam posisi yang tidak dirugikan oleh orang
yang memerintahkan pemecatannya. Sampai pada masa kita sekarang ini orang masih bertanya-tanya
gerangan apa rahasia di balik pemecatan Khalid oleh Umar itu, dan
Khalid Saifullah seperti diucapkan oleh Rasulullah. Dialah yang ber-
hasil menumpas kaum murtad, kaum pembangkang dan yang telah
membebaskan Irak. Dia pahlawan yang tak ada bandingannya dan dia
jenius perang yang sudah tak dapat dibantah. Benarkah terbunuhnya
Malik bin Nuwairah dan dikawininya istrinya oleh Khalid itu juga yang
masih membekas di hati Umar sehingga ia bertindak seperti itu?
Ataukah Umar khawatir orang akan terpengaruh oleh Khalid karena
kemenangannya yang terus-menerus di medan perang, yang bukan tidak
mungkin akibatnya akan menjerumuskan negara ke dalam bencana?
Ada beberapa orang yang berpendapat seperti kemungkinan terakhir ini.
Mereka mengatakan bahwa ketika Khalid kembali ke Medinah menanyakan
kepada Umar alasan pemecatannya Umar menjawab: "Saya
memecatmu bukan karena meragukan Anda, tetapi banyak orang sudah
tergila-gila kepadamu, maka saya khawatir Anda pun akan terpengaruh
oleh mereka." Sumber ini tak ada dasarnya. Yang jelas sesudah pemecatannya
itu Khalid tidak pergi ke Medinah. Ia tetap di Syam
meneruskan tugasnya dalam perang di bawah pimpinan Abu Ubaidah,
sampai pada tahun tujuh belas sesudah hijrah Umar baru memecatnya
dari segala jabatannya dalam tentara. Saya juga tidak berpendapat
bahwa terbunuhnya Malik bin Nuwairah menjadi sebab pemecatannya.
Peristiwa itu sudah berlalu dua tahun silam setelah Umar mejijabat
Khalifah, dan selama dalam dua tahun ini kehebatan Khalid dalam pimpinan
militer mencapai puncaknya. Peranannya dalam perang Yamamah
dan perang Irak sudah menjadi buah bibir semua orang di seluruh
Semenanjung, di Persia dan di Rumawi. Menurut hemat saya, Umar
memecat Khalid karena krisis kepercayaan antara kedua orang ini.
Sejak sebelum Umar menjadi Khalifah sampai selama ia dalam jabatan
itu kepercayaan ini memang sudah tidak ada.
Yang saya maksudkan bukan kepercayaan Umar kepada kejeniusan
Khalid, atau kepercayaan Khalid akan keadilan Umar. Tetapi yang saya
maksudkan kepercayaan orang yang berpandangan bijaksana terhadap
temannya. Karena itu ia menutup mata atas segala kekurangannya,
sehingga segala perbuatannya yang baik dapat dua kali lipat menghapus
kejahatannya. Umar melihat Khalid begitu sombong sehingga ia serba
tergesa-gesa, kendati ketergesaan ini bukan alasan lalu boleh melanggar
perintah atasan. Karena kesombongan dan main tergesa-gesa itu juga
maka ketika dalam pembebasan Mekah dulu ia melakukan pembunuhan,
padahal Nabi sudah melarang pembunuhan. Begitu juga ketika ia
pergi ke tempat Banu Tamim, ia membunuh Malik bin Nuwairah tanpa
izin dari Abu Bakr. Khalid menuduh Umar yang mendorong Khalifah
pertama itu menimpakan segala kesalahan kepadanya, sehingga tatkala
Abu Bakr memerintahkan ia meninggalkan Irak pergi ke Syam ia
berkata: "Ini perbuatan si kidal anak Um Sakhlah1, dia dengki kepada
saya karena saya yang membebaskan Irak." Jika kepercayaan antara
kedua orang itu sudah hilang sedemikian rupa, kerja sama pun sudah
tidak akan mungkin, terutama jika yang seorang kepala negara dan
yang seorang lagi pemimpin militer dan panglimanya. Jadi tidak heran
Umar memecat Khalid. Maksudnya supaya antara keduanya jangan ada
hubungan langsung. Malah ia meminta Abu Ubaidah untuk menjadi
atasan Khalid dan mengeluarkan segala instruksi kepadanya. Persahabatan
antara Khalid dengan Abu Ubaidah sangat akrab dan baik
sekali. Kadang ada yang berkeberatan dengan pendapat kita ini, karena
Khalifah tidak mengurus masalah negara untuk kepentingan dirinya,
melainkan untuk kepentingan umat. Oleh karena itu Umar harus melupakan
segala persoalan dengan Khalid, dan membiarkan Saifullah
berjalan tanpa diamati, dengan mengambil contoh dari Abu Bakr, dan
apa yang dikerjakannya menjadi contoh pula bagi kaum Muslimin
dalam menilai pekerjaan orang, dan penilaian ini berada di atas segala
pertimbangan dan kecenderungan pribadi. Sudah tentu menurut teori
logika keberatan ini ada nilainya juga, tetapi dalam kenyataan hidup
nilai ini menjadi hilang samasekali. Kita umat manusia tak dapat
bertindak sendiri menghadapi masalah-masalah kehidupan ini menurut
pertimbangan akal kita saja; perasaan kita juga sering sekali mempengaruhi
kita. Baik yang kita isyaratkan itu khusus mengenai persoalan
kita sendiri atau mengenai persoalan orang lain yang diwakilkan
kepada kita. Seperti dengan pikiran kita, kita terpengaruh ketika tindakan
itu kita lakukan dengan perasaan kita. Dalam kecenderungan
kita, adakalanya pengaruh perasaan itu lebih besar daripada pengaruh
pikiran kita. Suatu hal yang mustahil kita dapat membuat tabir pemisah
antara kekuatan perasaan dengan kekuatan akal pikiran. Memang benar,
ada orang yang lebih banyak terpengaruh oleh perasaan, ada pula yang
lebih banyak terpengaruh oleh pikirannya. Tetapi perbedaan jumlah
tidak akan mengubah perpaduan perasaan dengan akal pikiran itu dalam
menjalankan keputusan-keputusan kita. Sudah tentu, Umar juga terpengaruh
oleh perasaannya sendiri terhadap Khalid. Barangkali juga ia
menduga bahwa Khalid mendengkinya dalam soal kekhalifahan, seperti
1 Maksudnya Umar bin Khattab. — Pnj.
halnya dengan Khalid dulu yang mengira Umar mendengkinya dalam
soal pembebasan Irak. Kedua orang ini luar biasa kuatnya dalam
bidangnya masing-masing. Jika dua perasaan ini saling bertemu dalam
keadaan demikian, dikhawatirkan akan terjadi perbenturan, dan perbenturan
ini akan membawa akibat yang buruk sekali terhadap negara
dan masa depannya. Oleh karena itu Umar segera mengambil langkah
tegas yang tak kenal ampun. Yang dilihatnya bukan segi keadilan,
tetapi segi ketertiban umum dan keselamatan negara.
Tetapi dari pihaknya tindakan Umar memecat Khalid tidak aneh,
sekalipun ini yang pertama dalam bentuknya. Bahkan inilah politiknya
yang dijalankan terhadap para wakil dan gubernurnya selama pemerintahannya
itu. Kelak akan kita lihat bahwa tindakannya terhadap para
pejabatnya dengan disiplin yang keras sudah biasa dalam garis kebijaksanaannya,
dan memang ini pula yang diajarkan kepada mereka
dan jika ada pengaduan dalam soal ini mereka akan diadili, dan siapa
saja yang tidak memuaskan dalam memegang amanat dan menjalankan
tugasnya akan dipecat. Itulah, karena ia cenderung memusatkan semua
kekuasaan di tangannya. Pada pertama kali memegang jabatannya itu ia
berkata: "Demi Allah, jika terjadi sesuatu mengenai persoalan kalian
ini, lalu yang lain datang berkuasa jauh sesudahku, maka mereka
kembali akan meninggalkan pesan dan amanat itu. Kalau mereka berbuat
baik akan saya balas dengan kebaikan, tetapi kalau melakukan
kejahatan terimalah bencana yang akan saya timpakan kepada mereka."
Kalau pandangan demikian bertemu dalam suatu politik negara seperti
yang dikenal tentang Umar dan pandangannya terhadap Khalid serta
hilangnya kepercayaan dan persahabatan antara kedua orang ini, rahasia
pemecatan Khalid ini akan terungkap, dan akan terungkap pula letal
rahasia ini dari hati Umar.
Umar sudah memecat Khalid dari pimpinan militer di Syam dan
pimpinan itu diserahkannya kepada Abu Ubaidah. Tetapi ini tidak
mengubah posisi pasukan Muslimin terhadap Rumawi dan tidak pula
akan memperkuat mereka dalam perang. Bahkan sebaliknya, akan
menimbulkan malapetaka besar.
Kalau Umar memerintahkan agar tawanan perang dari kaum
murtad dikembalikan kepada keluarganya, dan dengan begitu dapat
mengambil hati mereka, maka dari segenap penjuru kini mereka cepatcepat
datang memenuhi seruannya dengan tujuan ingin ikut mengambil
bagian dalam perang, ingin membersihkan diri dari kemurtadan mereka
yang lalu, mereka dan yang sesama mereka akan mendapat pula ram-
pasan perang seperti yang diperoleh Muslimin yang lain. Dengan demikian
Umar merasa puas dengan karunia Allah dalam mengatasi situasi
yang begitu genting dihadapi pasukan Muslimin di luar Semenanjung
Arab. Sekarang pikirannya tertuju ke arah lain yang pada dasarnya
tidak menyimpang dari kebijaksanaan Rasulullah dan kebijaksanaan
Abu Bakr, kendati dalam beberapa hal secara detail berbeda.
Rasulullah mengajak semua orang kepada agama Allah, tidak membeda-
bedakan antara Ahli Kitab dengan yang lain. Tetapi orang-orang
Yahudi Medinah melihat dakwah ini membahayakan mereka. Maka
mereka pun mengadakan pendekatan dengan Muhammad dan mengadakan
perjanjian tentang kebebasan beragama. Hanya saja tak lama
setelah mereka melihat keadaan Nabi sudah stabil, mereka berkomplot
memusuhinya. Maka mereka pun dihadapinya dan dikeluarkan dari
Medinah dan dari beberapa perkampungan mereka di Jazirah Arab.
Mereka yang masih tinggal hanya sebagian kecil, yang sesudah perang
Khaibar mereka meminta damai untuk tetap tinggal dan bekerja di
daerah mereka dengan ketentuan separuh dari hasil pertanian untuk
Muslimin. Adapun kaum Nasrani Najran mereka mengirim delegasi
untuk berdebat dengan Nabi. Setelah Nabi mengajak mereka agar hanya
menyembah Allah dan jangan mempersekutukan-Nya dengan siapa pun
dan mereka tidak akan saling mempertuhan selain Allah, mereka menolak
dan kembali ke negeri mereka. Setelah itu mereka mengirim
sebuah delegasi lagi meminta damai dengan membayar jizyah dengan
imbalan mereka mendapat perlindungan dan kebebasan atas keyakinan
agama mereka. Pihak Nasrani Najran juga memberikan pengakuan pada
pemerintahan Abu Bakr dan mengadakan perjanjian yang sama dengan
perjanjian yang diadakan dengan Nabi. Juga perlakuan terhadap Yahudi
Khaibar sama dengan perlakuan Rasulullah terhadap mereka.

Pengosongan Nasrani Najran
Tatkala menerima pergantian itu Umar memperhatikan masalahnya.
Dalam hal ini ia menempuh suatu langkah baru. la memerintahkan
kepada Ya'la bin Umayyah agar Nasrani Najran itu mengosongkan
perkampungan mereka, dengan mengatakan: "Selesaikanlah urusan mereka
dan janganlah mereka diganggu dari agama mereka. Keluarkanlah
barang siapa yang masih berpegang pada agamanya. Tempatkanlah
Muslim, dan berkelilinglah di tempat yang sudah dikosongkan. Kemudian
biarlah memilih sendiri tempat lain. Katakan kepada mereka bahwa kita
mengeluarkan mereka atas perintah Allah dan Rasul-Nya untuk tidak
membiarkan ada dua agama di jazirah Arab. Orang yang masih berpegang
pada agamanya hendaklah keluar, kemudian kita beri mereka
tanah seperti tanah mereka sebagai pengakuan mereka kepada hak kita,
dan memenuhi janji kita memberi perlindungan kepada mereka sebagaimana
diperintahkan Allah, menggantikan hubungan mereka dengan
tetangga-tetangga penduduk Yaman dan yang lain, yang sudah menjadi
tetangga-tetangga mereka di pedesaan."
Sebagian orang mengira bahwa kebijakan Umar ini melanggar apa
yang sudah ditempuh oleh Rasulullah dan diteruskan oleh Abu Bakr.
Kalangan orientalis berpegang pada alasan ini untuk menyerang Umar.
Tetapi kalangan, sejarawan Muslim mengemukakan beberapa alasan.
Rasulullah mengadakan perjanjian dengan umat Kristiani Najran untuk
tidak diganggu dari agama mereka "sepanjang mereka memelihara
perjanjian itu, beritikad baik dan tidak menjalankan riba." Tetapi ternyata
mereka menjalankan riba dengan melipatgandakan; jadi mereka
sudah melanggar janji. Maka Umar berhak mengusir mereka dari
Semenanjung. Sumber lain menyebutkan bahwa mereka saling berselisih
di antara sesama mereka dan setelah perselisihan makin memuncak,
mereka meminta kepada Umar agar mereka dikeluarkan dari
perkampungan itu. Dan yang lain lagi mengatakan, bahwa setelah
kedudukan mereka makin kuat Umar khawatir, maka mereka pun
dikeluarkan. Baik sebagian Sumber ini autentik atau semua tidak,
menurut hemat saya penyebabnya tidak terletak pada rencana kerja
Umax, untuk mengeluarkan mereka dari Semenanjung, tetapi pada
ketentuan umum politik negara yang oleh Umar sudah diyakininya, lalu
dengan tegas dan adil ia laksanakan.
Untuk melihat ketentuan ini baik kita singkirkan dulu .tuduhan
bahwa Umar fanatik, seperti yang dilontarkan kalangan orientalis! Mereka
mengatakan itu berdasarkan keyakinan orang masa kita sekarang
tentang kebebasan beragama sebagai suatu argumen untuk menyalahkan
tindakan Umar. Sudah tentu ini salah sekali, dengan menutup mata
pada kenyataan. Kenyataannya pada masa Umar agama merupakan
dasar yang paling utama dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka yang
berbeda dengan agama masyarakat umumnya, atau yang melawannya,
bagi mereka termasuk hukum melawan agama, dan pihak penguasa sah
memerangi mereka bahkan wajib. Untuk itu Muhammad diperangi ketika
mengajak orang menyembah Allah dan agama Allah, dan karena
agama pulalah maka terjadi perang dahsyat antara Rumawi dengan Persia.
Keadaan tetap berjalan demikian di Eropa dan di luar Eropa sam108
pai pada waktu belum berselang lama ini dari zaman kita. Demi agama
pula pecah Perang Salib antara Islam dengan Kristen. Untuk itu pula
terjadi beberapa tragedi pembantaian antara Katolik dengan Protestan.
Rasulullah sudah mengadakan perjanjian dengan kaum Nasrani Najran
karena kesatuan politik di Semenanjung ketika itu belum ada. Letak
Najran berdekatan dengan Yaman, yang sejak waktu lama sebelum
Muhammad dan sebelum Nasrani mereka memang hidup dalam paganisme.
Sesudah Rasulullah wafat dan digantikan oleh Abu Bakr, Yaman
termasuk pelopor yang murtad dan memberontak kepada kekuasaan
Medinah. Jadi wajar saja Abu Bakr mengadakan perjanjian dengan
kaum Nasrani Najran seperti yang dilakukan oleh Rasulullah. Perang
Riddah sudah dapat menumpas kaum murtad dan pemberontakannya
sekaligus, yang menyebabkan mereka habis kemudian diteruskan dengan
perang Irak dan Syam sehingga tergalang persatuan dan kesatuan
politik dan kesatuan agama di segenap penjuru Semenanjung, dan
semua itu melahirkan sebuah kedaulatan dengan Medinah sebagai ibu
kotanya dan kepala pemerintahannya Khalifah Rasulullah. Tatkala
Umar memegang kekuasaan, semua faktor penyebab lahirnya perjanjian
Najran di masa Nabi dan masa Abu Bakr sudah tak ada lagi. Sekarang
tiba saatnya Umar harus memikirkan suatu rencana baru dalam politik
negara yang akan dapat menyatukan semua bagian dari utara sampai ke
selatan Semenanjung dan Medinah menjadi ibu kotanya yang tak
tersaingi. Bahwa sekarang seluruh kawasan Arab sudah menjadi sebuah
negara kesatuan dengan satu agama, dipimpin oleh orang yang sudah
disepakati pengangkatannya, maka layak sekali apabila pemimpin ini
berusaha membuang semua unsur yang akan mendatangkan kelemahan,
di antaranya banyaknya suku bangsa atau agama yang berbagai macam
yang mempunyai kekuasaan mutlak pada penduduk. Inilah kenyataan
yang berlaku dan tetap berlaku. Kita melihat misalnya macam-macam
perjanjian yang diadakan sampai waktu akhir-akhir ini mengenai perpindahan
kelompok-kelompok dari jenis ras yang sama ke dalam satu
lingkungan yang sama. Atas dasar itu juga suatu bangsa beradab tidak
dibenarkan menganut lebih dari satu ketentuan hukum. Hal-hal yang
menjadi pegangan Islam tidak sejalan dengan ketentuan-ketentuan yang
ada pada agama Kristen. Islam mengharamkan riba, Kristen membolehkan;
Islam mengharamkan minuman keras, Kristen tidak mengharamkan;
dasar Islam tauhid, dasar Kristen trinitas.' Waktu itu ketentuan5.
ketentuan ini dan yang semacamnya berlaku ketat, orang tak dapat
menenggangnya seperti sekarang, atas nama kebebasan beragama atau
berkeyakinan. Tidak heran apabila Umar bersikeras tidak mau membiarkan
ada dua agama di jazirah Arab. Orang-orang Arab di Semenanjung
itu semua menerima dan rela hanya dengan satu agama sejak masa
Rasulullah, dan sesudah pernah sebagian murtad pada masa Abu Bakr
kemudian kembali lagi. Kesatuan agama itulah yang menjamin ketenteraman
dan kuatnya persatuan mereka, dan jangan ada di antara mereka yang tidak seagama 
yang memberontak, yang akan mengganggu ketenteraman dan merusak persatuan mereka. Itulah yang dilakukannya,
dan itu pula sebabnya ia memanggil Ya'la bin Umayyah untuk mengeluarkan
orang-orang Nasrani dari Najran. Tindakan Umar dalam hal ini patut dipuji, bukan diserang dan
disalahkan. Acuan mereka pada apa yang pernah dilakukan oleh kaum
mayoritas dari kalangan Katolik atau Protestan ketika mereka menekan
lawan sektenya sampai mereka dibunuh dan disiksa dengan berbagai
macam cara. Bahkan pesan pertama yang diberikan Umar kepada Ya'la, jangan
sampai. ada orang memperdaya dan menggoda umat Nasrani Najran
dari agama mereka; biarkan mereka bebas sepenuhnya, ingin tetap
dengan agama mereka atau akan berpindah kepada Islam; mereka agar
diberi-tanah yang sama di luar Semenanjung Arab, seperti tanah
mereka itu. Dengan demikian mereka tidak dirugikan, dan apa yang
dilakukan Umar itu sama seperti yang dilakukan negara-negara beradab
dewasa ini, ketika ada suatu golongan atau ras menghadapi pembagian
dipindahkan ke tempat golongannya yang mayoritas. Bahaya perselisihan
di kalangan mereka dengan tetangga-tetangga tidak akan lebih
berbahaya daripada dengan golongan mayoritas yang berada di sekitar
mereka. Sesudah orang tahu Umar mengeluarkan kaum Nasrani Najran,
mereka pun yakin bahwa ia akan juga mengeluarkan orang-orang
Yahudi dan bukan Muslim lainnya dari Semenanjung Arab. Politik
macam ini baru adanya. Tetapi buat mereka bukan sesuatu yang aneh
dan tidak heran. Justru yang barangkali lebih aneh buat mereka pengangkatan
Abu Ubaid as-Saqafi menjadi komandan pasukan di Irak
termasuk adanya orang-orang Medinah dari kaum Muhajirin dan
Ansarnya di dalamnya. Dan yang lebih lagi mengherankan mereka
pemecatan Khalid bin Walid dari pimpinan militer di Syam. Mereka
juga melihat tindakan yang diambil Umar itu tegas dan adil. Mereka
 ingat posisi Umar dengan Rasulullah dan dengan Abu Bakr, juga
mereka ingat posisi Muslimin dan gentingnya keadaan di Irak dan
Syam. Mereka melihat ketika ia berpidato di hadapan mereka. la tidak
mementingkan diri sendiri, tetapi semata-mata demi Allah dan demi
kepentingan umat. Maka lebih baik mereka menyerahkan persoalan dan
t anggung jawab itu ke tangannya. Mereka hanya akan bermohon kepada
Allah dengan doa semoga ia berhasil seperti keberhasilan Abu
Bakr sebelumnya. Apa yang dipidatokan Umar itu pengaruhnya tidak kurang dari
pandangan-pandangannya yang lain dalam hati mereka. Ketulusan hatinya
terpantul dalam kata-katanya. Sikapnya tidak mementingkan diri
sendiri tetapi semata-mata demi Allah dan untuk kepentingan umum
tampak dari setiap kata yang diucapkannya. Katanya kepada mereka:
"Saya mengharapkan masih akan bersama-sama dengan Saudarasaudara.
Sedikit banyak saya akan bekerja atas dasar kebenaran insya
Allah. Jangan sampai ada seorang Muslim — walaupun sedang dalam
dinas militernya — yang tidak mendapat haknya dan bagiannya dari
harta Allah." Ia juga berkata: "Saya seorang manusia Muslim, seorang
hamba yang lemah, kecuali jika dapat pertolongan Allah Yang Mahakuasa.
Yang telah memberi kepercayaan kepada saya dalam kekhalifahan
ini samasekali tidak akan mengubah perangai saya, insya Allah.
Keagungan hanya pada Allah 'Azza wa J alia. Tak ada seorang hamba
pun yang mempunyai keagungan, jangan ada di antara kalian yang akan
mengatakan, bahwa sejak pengangkatannya Umar sudah berubah. Saya
menyadari hak saya, akan saya kemukakan dan akan saya jelaskan
keadaan saya ini kepada Saudara-saudara. Siapa pun orang yang
memerlukan atau merasa dirugikan atau ada keluhan tentang saya
sehubungan dengan perangai saya, temuilah saya. Saya adalah salah
seorang dari kalian...Yang menjadi dambaanku hanya kebaikan bagi
kalian." Segala kritik kalian sangat berharga bagi saya, dan saya
bertanggung jawab atas amanat yang dipercayakan kepada saya. Insya
Allah saya akan mengawasi dan datang sendiri, tidak akan saya
wakilkan kepada orang lain. Hanya di tempat-tempat yang jauh akan
saya serahkan orang yang dapat memegang amanat dan orang-orang
yang ikhlas memberikan pendapat di antara kalian untuk kepentingan
umum. Insya Allah saya tidak akan memberikan kepercayaan ini selain
kepada mereka." Dengan kata-kata itu dan yang senada dengan itu Umar berpidato
kepada mereka serta mendekatkan hati mereka. Hati orang Arab di
seluruh Semenanjung sudah merasa dekat kepadanya sejak ia memerintahkan
pengembalian para tawanan perang kaum murtad kepada
keluarga mereka. Sesudah ia mengangkat Abu Ubaidah dan memecat
Khalid dan memerintahkan pengosongan kaum Nasrani Najran, tidak
ada lagi orang yang merasa kesal kepadanya, kendati mereka melihat
hal-hal baru yang diadakan Umar menurut pendapatnya sendiri selama
masanya itu, yang dalam hal ini ia tidak mencontoh pendahulunya.
Buat apa mereka harus merasa kesal, sedang segala tanggung jawab ada
di tangannya. Mereka pun sudah mengenalnya, sudah biasa ia memikul
tanggung jawab besar tanpa harus merasa lelah, dan tidak jarang Allah
memberi ilham kepadanya sehingga ia dapat mengatasinya sampai
mencapai hasil gemilang.

Gelar Umar dengan Amirulmukminin
Suatu hari Umar sedang duduk di Masjid selesai memberikan
pedoman kepada Muslimin mengenai kebijaksanaannya, dan bahwa
sudah tiba saatnya harus mereka laksanakan. Abu Ubaidah datang
kepadanya untuk mengucapkan selamat tinggal sehubungan dengan
keberangkatannya ke Irak memimpin pasukan yang sudah berkumpul di
sekitar bendera, diikuti oleh orang-orang yang tidak sedikit jumlahnya.
Semua mereka menyambut Khalifah Khalifah Rasulullah itu. Dengan
kata-kata yang diulang, gelar ini terasa berat diucapkan dan berat pula
di telinga. Apa yang bergejolak dalam hati ini menjadi bahan pembicaraan
mereka pula. Sementara dalam keadaan demikian tiba-tiba
salah seorang dari mereka tampil menyambut Umar dengan kata-kata:
"Salamullah 'alaika ya amirul mu'minin — Salam sejahtera bagi
Anda, wahai Amirulmukminin!"1 Mendengar gelar baru ini orang menyambutnya
dengan gembira disertai senyum tanda setuju. Sejak itu tak
1 Dalam Tarikh Damsyiq Ibn Asakir mengutip dua sumber mengenai siapa yang
memulai penyebutan "Amirulmukminin" ini. Sumber pertama mengatakan bahwa al-
Mugirah bin Syu'bah yang pertama kali memanggilnya dengan gelar ini. Sumber kedua
mengatakan bahwa Umar menulis surat kepada wakilnya di Irak agar mengirim dua
orang yang tangguh dan terpandang untuk dimintai keterangan mengenai keadaan di
sana. Maka diutus Adi bin Hatim at-Ta'i dan Labid bin Rabi'ah. Sesampai di Medinah,
setelah menambat unta mereka di serambi Masjid mereka masuk. Mereka menemui Amr
bin al-As. "Izinkan kami menemui Amirulmukminin," kata mereka. Amr berkata: Saya
masuk menemui Umar seraya kata saya: "Amirulmukminin!" Dijawab dengan mengatakan:
"Yang Anda katakan itu akan saya pakai. "Amirulmukminin, gubernur Irak
mengutus Adi bin Hatim dan Labid bin Rabi'ah... lalu kata mereka: Izinkan kami
menemui Amirulmukminin. Maka kata saya: Tepat sekali kalian, dia Amir dan kita
ada lagi orang memanggil Umar dengan Khalifah Khalifah Rasulullah,
melainkan semua orang sudah menyebutnya "Amirulmukminin." Gelar
ini tetap melekat pada Umar dan pada para khalifah dan raja-raja
Muslimin sesudahnya. Sekarang Musanna sudah mendahului kita ke Irak. Kita harus
cepat-cepat menyusulnya untuk meneruskan ceritanya tatkala Abu
Ubaid dan pasukannya menyusul kita dan yang akan menjadi panglimanya.
Kemudian bagaimana ia bertempur mati-matian dengan perjuangan
penuh bahaya dan akhirnya gugur sebagai syahid.
orang-orang mukmin." Sejak itu gelar ini melekat pada Umar dan seterusnya dipakai
oleh para penulis."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar