Jumat, 16 Maret 2012

ABU UBAID DAN MUSANNA DI IRAK


ABU UBAID DAN MUSANNA DI IRAK
Musanna menuju Irak Abu Ubaid bin Mas'ud as-Saqafi wakil pertama di Irak. Itu
sebabnya Umar mengangkatnya sebagai panglima, dan memerintahkan
memimpin pasukan itu berangkat apabila persiapan pasukan
sudah selesai. Umar mendahulukan Musanna bin Harisah cepat-cepat
dengan mengatakan: "Cepat-cepatlah supaya kawan-kawan Anda segera
menemui Anda!" Musanna segera memacu kudanya dan kembali ke
Hirah. Sementara dalam perjalanan itu ia teringat beberapa waktu yang
lalu di masa pemerintahan Abu Bakr saat al-Ala' bin al-Hadrami menumpas
kaum murtad di Bahrain. Dia bergabung kepadanya dan menghadang
setiap jalan yang dilalui kaum murtad, yang hidupnya hanya
membuat keresahan. Kemudian ia pergi menyusuri pantai Teluk Persia
dalam menghadapi intrik-intrik pihak Kisra1, dan ia berhasil menumpas
kabilah-kabilah yang menjadi sekutunya hingga mencapai muara Furat.
Di tempat itu Abu Bakr memperkuatnya dengan Khalid bin Walid.
Musanna pun berangkat di bawah panji jenderal jenius itu memorakporandakan
pasukan Persia. Kedua pasukan itu menyeruak ke beberapa
kota, membebaskan Hirah, Anbar, Ain Tamr dan yang lain, sehingga
Khalid mencapai al-Firad di perbatasan dengan Syam, utara Irak.
Khalid sudah dapat menduduki tempat-tempat yang dikuasai Kisra.
Musanna tentu sangat gembira Allah telah memberikan kemenangan
kepadanya. Lebih setahun ia tinggal di Hirah dan di Sawad bersama
angkatan bersenjatanya. Sesudah itu Abu Bakr memerintahkan Khalid
Gelar raja-raja keluarga Sasani di Persia yang memegang kekuasaan mutlak, dalam
literatur Islam biasa disebut Kisra (Khosrau, Khoesroes). — Pnj.
berangkat ke Syam untuk memimpin pasukannya menghadapi pasukan
Rumawi. Khalid memisahkan diri dari Irak dengan beberapa pasukan
inti. Musanna merasa khawatir akan akibatnya. Tetapi Allah memberikan
kemenangan kepadanya sampai dapat menghancurkan Ormizd
Jadhuweh di reruntuhan Babel. Kemudian ia kembali ke Hirah dan
bertahan di sana. Ia meminta izin kepada Abu Bakr untuk menggunakan
kaum yang jelas-jelas sudah bertobat. Karena tidak segera mendapat
jawaban dari Khalifah yang sekarang sedang menghadapi masalah
Syam, Musanna berangkat ke Medinah. Tetapi ternyata Abu Bakr
sudah di ranjang kematian. Tak lama kemudian ia berpulang ke
rahmatullah. Pimpinan pemerintahan setelah itu di tangan Umar. Ia
mengadakan mobilisasi untuk segera berangkat bersama Musanna
dengan pimpinan di tangan Abu Ubaid.

Persekongkolan dan pergolakan di Istana Persia
Sementara mengenang segala peristiwa ini Musanna tidak lupa
adanya pergolakan yang sekarang sedang terjadi dalam Istana Persia.
Pergolakan ini akan sangat melemahkan kekuatan Persia dan akan
memperkuat tekad pasukan Muslimin. Para Kisra itu sudah memerintah
Persia, juga memerintah kawasan Arab di Irak secara otoriter. Kisra
Abraviz (Parvez) yang membunuh Abu Qabus an-Nu'man bin al-
Munzir dan menghancurkan raja-raja Banu LakhnT di Hirah, dia juga
yang telah memerangi Rumawi dan berhasil mengalahkannya, yang
terus membentang sampai ke daerah mereka di Yerusalem dan Mesir.
Setelah Heraklius yang berkuasa di Rumawi, Kisra berhasil dipukul
mundur. Baik orang Arab ataupun orang Persia yang merasa kesal
karena kekejaman Kisra merasa gembira dengan kejadian itu. Setelah
Syiraweh (Kavadh II) anaknya memberontak kepadanya dan membunuhnya,
terjadi perselisihan di kalangan pembesar-pembesar Persia
dan pendapat mereka saling berbeda mengenai apa yang menimpanya
itu. Syiraweh sendiri di Persia kemudian menjadi lambang kebodohan
dan kecerobohan yang membuat keluarga istananya tidak menyukainya.
Masing-masing pihak yang ingin menduduki takhta bersekutu dengan
pihak yang mau membantunya untuk mencapai tujuan. Parvez sendiri
terbunuh, dan mereka yang berebut ingin menduduki takhta berbunuhbunuhan,
adakalanya terang-terangan, kadang dengan pembunuhan
gelap. Pihak yang menang sempat berkuasa selama beberapa bulan,
kemudian terbunuh juga. Selama empat tahun sudah ada sembilan raja
yang berturut-turut menduduki takhta. Dengan keadaan serupa itu tidak
heran kekuatan Persia menjadi lemah sekali dan berantakan. Dalam
perang dengan Arab pun keadaan jadi berbalik, malah mereka yang
menderita kekalahan. Menyadari kehancuran akibat kekacauan yang menimpa mereka itu
pihak Persia kemudian menobatkan Syahriran anak Ardasyir, dan
kalangan kerajaan berjanji akan mendukungnya.
Syahriran sudah mengetahui perjalanan Khalid bin Walid dari Irak
ke Syam. Rencananya yang pertama akan mengusir Muslimin dari Irak.
Tetapi Musanna berhasil mengalahkan panglimanya di reruntuhan Babel
dan mati setelah terserang demam.
Dokht Zanan1, putri Kisra, menduduki takhta menggantikan saudaranya
yang laki-laki. Tetapi dia terlalu lemah untuk dapat mengatasi
persoalan. la pun diturunkan. Kemudian naik Shapur anak Syahriran
menggantikannya. Shapur mengangkat Farrakhzad menjadi perdana
menterinya. la bermaksud mengawinkannya dengan Azarmi Dokht putri
Kisra, tetapi putri ini tidak senang dikawinkan dengan hambanya. Maka
ia sengaja menggunakan Siyavakhash, seorang pembunuh bayaran, dan
membunuhnya di kamarnya pada malam pengantin. Kemudian ia pergi
lagi bersamanya dengan beberapa orang pembantunya kepada Shapur,
dan setelah dikepung orang itu pun dibunuhnya.
Sekarang terpikir oleh Musanna akan menghadapi Persia yang
istananya sedang bergolak itu. Ia meminta bantuan Abu Bakr, tetapi
karena terasa lambat, ia sendiri pergi ke Medinah meminta bantuan
dipercepat. Sekarang ia sedang dalam perjalanan kembali ke Hirah.
Masih jugakah Persia dalam pergolakannya, saat yang paling tepat
untuk mengalahkannya? Ataukah sudah tenang kembali, sehingga untuk
mengalahkannya diperlukan persiapan sumber tenaga manusia dan
perlengkapan senjata yang lebih besar?
Begitu sampai di Hirah, pertanyaannya yang pertama mengenai
perkembangan di Istana Persia. Yang diketahuinya, selama ia tidak di
tempat, mereka sibuk dengan perselisihan mereka sendiri, sehingga
Muslimin tidak lagi mendapat perhatian mereka. Kemudian diketahuinya
juga bahwa Boran putri Kisra sedang berusaha mempersatukan
mereka. Boran ini seorang pangeran putri yang cerdas dan bijak. Di
Persia, setiap mereka berselisih, segala keputusan dan pertimbangannya
1 Kebanyakan nama orang-orang Persia di sekitar istana ini ejaannya saya salin hampir
sepenuhnya dari ejaan huruf Arab; hanya sebagian yang- ditambahkan dalam tanda
kurung. — Pnj.
yang adil, mereka terima dengan senang hati. Sesudah Siyavakhash
membunuh Farrakhzad, dan Azarmi Dokht menduduki takhta, terjadi
perselisihan. Setelah melihat tak ada jalan untuk mendamaikan mereka,
Boran mengutus orang kepada panglima Rustum (Rustam), anak
Farrakhzad memberitahukan tentang ayahnya yang terbunuh dan mendesaknya
pergi ke kota Mada'in (Ctesiphon). Ketika itu Rustum sedang
berada di celah Khurasan. Sebagai seorang panglima yang mahir, cepatcepat
ia dan pasukannya berangkat ke Mada'in. Di perjalanan itu ia
bertemu dengan pasukan tentara Azarmi Dokht. Setelah pasukan ini
dapat dilumpuhkan, kemudian Mada'in dikepungnya, ia juga mengepung
Azarmi Dokht dan Siyavakhasy. Sesudah musuhnya dapat dikalahkan
dan ia memasuki kota itu, Siyavakhasy dibunuhnya dan Azarmi Dokht
dicukil matanya. Sekarang Boran yang naik takhta, yang akan menguasai
Persia selama sepuluh tahun. Setelah itu yang akan menjadi
raja dari keluarga Kisra: kalau ada laki-laki, kalau tidak ada ya
perempuan. Boran mengangkat Rustum menjadi perdana menteri dan
panglima angkatan perang, membebaskannya dari urusan negara.
Dimintanya rakyat Persia agar menaatinya.

Perjalanan Abu Ubaid ke Irak untuk menghadapi Persia
Semua itu diketahui oleh Musanna sementara ia berada di Hirah,
tetapi ia tak dapat berbuat apa-apa. Pasukan sudah makin menyusut,
tidak mungkin ia akan dapat menyerang sebelum Abu Ubaid datang.
Abu Ubaid yang masih tinggal di Medinah selama sebulan setelah
Musanna — kini mempersiapkan pasukannya dan sudah siap berangkat.
Selesai persiapan ia meminta izin kepada Umar akan berangkat. Umar
mengizinkan sesudah diulangnya pesannya untuk memperhatikan pendapat
sahabat-sahabat Nabi dan mengikutsertakan mereka dalam segala
hal, bermusyawarah dengan SaUt bin Qais, mengingat keberanian dan
pengalamannya. Umar memang memberi kepercayaan kepada Salit,.
sehingga ia berkata kepada Abu Ubaid: "Saya tidak berkeberatan
mengangkat Salit kalau tidak karena ketergopohannya dalam perang.
Orang yang tergopoh-gopoh dalam perang akan kehilangan arah. Yang
sangat diperlukan dalam perang hanya orang yang tenang dan tabah."
Abu Ubaid berangkat dengan pasukannya. Sesampainya di Irak ia
melihat Musanna sudah menarik pasukannya dari Hirah ke Khaffan, di
perbatasan dengan daerah pedalaman.
Rustum orang yang pemberani dan ambisius. Ambisinya ini membuat
rakyat Persia kagum dan senang kepadanya. Karena ambisinya ini
juga para sejarawan menyebutkan bahwa dia ahli perbintangan, di
bintang-bintang itu ia melihat nasib masa depan Persia. Ditanya bagaimana
ia memegang jabatan itu padahal sudah melihat segala yang ada
dalam perbintangan, dia menjawab: Ambisi dan kehormatan.
Tak lama sesudah ia diangkat oleh Boran, ia menulis surat kepada
para pejabat1 di Sawad dengan perintah agar mereka memberontak
kepada kekuasaan Muslimin. Di setiap kampung diselundupkan satu
orang untuk menghasut penduduk, di samping mengirim pasukan untuk
memancing bentrok senjata dengan Musanna. Semua perintahnya itu
sudah meluas di kalangan rakyat. Maka akibatnya orang-orang Irak di
bagian hulu sampai ke hilir, semua bergolak. Berita peristiwa ini diketahui
oleh Musanna. Menurut hematnya tak ada gunanya pasukannya
menghadapi orang-orang yang sudah disiapkan Rustum untuk mengadakan
bentrok senjata dengan dia. Lebih baik dia berhati-hati dan menarik
pasukannya dari Hirah ke Khaffan supaya tidak disergap dari belakang.
Abu Ubaid pun menyusulnya ke Khaffan dan ia menghentikan pasukannya
untuk sekadar mengistirahatkan anak buahnya sambil mengatur
rencana untuk menyerang kekuatan yang datang hendak menyerangnya
itu. Di Mada'in Rustum sudah mengirim dua pasukan untuk menghadapi
pasukan Muslimin, salah satunya di bawah pimpinan panglima
Javan (Khafan Japan) yang mendapat perintah menyeberangi Furat ke
Hirah, dan yang lain di bawah pimpinan panglima Narsi dengan
perintah bermarkas di Kaskar yang terletak di antara Furat dengan
Tigris (Dajlah). Abu Ubaid berangkat dari Medinah dengan empat ribu
orang, yang dalam perjalanan kemudian anggota pasukannya bertambah
jumlahnya menjadi sepuluh ribu. Setelah mereka berkumpul, ia berangkat
hendak menghadapi Javan. Mereka bertemu di suatu tempat yang
disebut Namariq terletak antara Hirah dengan Kadisiah (Qadisiyah).
Kedua pihak itu bertemu dan terjadilah pertempuran sengit yang luar
biasa, dan Allah memberikan kemenangan kepada Abu Ubaid dalam
menghadapi Javan dan pasukannya itu. Javan sendiri ditawan bersama
seorang komandan bawahannya bernama Mardan Syah, tetapi orang ini
dibunuh oleh yang menawannya.
Bahasa Arab menggunakan kata dihqan, duhqan, jamak dahaqln, — alau dihkans
dalam ejaan bahasa Inggris — dari kata bahasa Persia. Menurut kamus-kamus bahasa
Arab, "kepala desa, kepala distrik, tuan tanah alau pedagang." — Pnj.
Javan seorang panglima yang sudah berusia lanjut, ia dapat menipu
orang yang menawannya dengan mengatakan: "Kalian orang-orang
Arab, orang yang suka menepati janji. Maukah Anda mempercayai
saya, dan saya akan memberikan kepada Anda dua orang budak muda
yang cekatan sekali yang akan dapat membantu pekerjaan Anda dan
akan saya berikan lagi sekian dan sekian..." dan janji-janji lain yang
melimpah. Lalu kata orang yang menawannya: "Ya." Maka katanya:
"Bawalah saya kepada komandan Anda supaya terlihat." Dia dibawa
masuk ke tempat Abu Ubaid, dan dia menyaksikan apa yang terjadi.
Tetapi ada sekelompok Muslimin segera mengenalnya, maka kata mereka
kepada Abu Ubaid: "Bunuh saja dia. Dia komandan pasukan mereka."
"Sekalipun dia komandan," kata Abu Ubaid. "Saya tidak akan
membunuhnya, dia telah dijamin oleh salah seorang dari kita. Dalam
persahabatan dan saling menolong Muslimin seperti satu badan, yang
berlaku bagi yang seorang berarti berlaku untuk semua."
Boran sudah mengetahui apa yang terjadi terhadap Javan, dan
berita itu sampai juga kepada Rustum. Ia memerintahkan Jalinus untuk
menolong teman-temannya dan menyusul Narsi di Kaskar. Jalinus
memisahkan diri berangkat cepat-cepat ke tujuannya. Tetapi Abu Ubaid
dalam menempuh perjalanan rupanya lebih cepat. Tak lama sesudah
mengalahkan Javan ia memerintahkan pasukannya berangkat untuk
menghadapi Narsi, yang kemudian dijumpainya bersama-sama dengan
pasukan yang sudah kalah melarikan diri dari Namariq di suatu tempat
yang disebut Saqatiah, tak jauh dari Kaskar. Hal ini terjadi sebelum ada
kontak senjata dengan Jalinus. Narsi tidak lebih tabah dari Javan dalam
menghadapi Muslimin. Ia lari bersama pasukannya dengan meninggalkan
rampasan perang yang tidak sedikit. Sekarang Abu Ubaid tahu
bahwa Jalinus dan pasukannya berada di Barusma, sebuah desa. Ia
mengejarnya terus, dan seperti Narsi ia pun melarikan dalam kekalahan
bersama pasukannya hingga mencapai Mada'in.
Sekarang Abu Ubaid mengerahkan para komandannya dengan dipelopori
oleh Musanna, dan berhasil menduduki daerah pinggiran Irak
di bagian hulu sampai ke hilir, dengan menyebarkan ketakutan di
kalangan penduduk. Mereka teringat kini zaman Khalid bin Walid dan
tindakannya. Para pejabat itu kembali mengajak damai Abu Ubaid
sambil meminta maaf karena dulu mereka telah berpihak dan bekerja
sama dengan pihak Persia. Mereka mengatakan bahwa mereka memang
sudah tak berdaya menghadapi segala kejadian itu. Selesai mengadakan
perdamaian, mereka datang kepada Abu Ubaid.membawakan hidangan
terdiri dari berbagai macam masakan Persia yang lezat-lezat dengan
mengatakan: Ini hidangan penghormatan kami untuk menghormati
Anda. Abu Ubaid membalas: Kalian menghormati tentara dengan hidangan
seperti ini? Mereka menjawab: Tidak! Abu Ubaid membalas
lagi: Kami tidak memerlukan semua itu. Celaka benar Abu Ubaid yang
bersama-sama dengan anggota-anggota rombongannya, baik yang dalam
pertumpahan darah pernah ikut atau tidak, lalu ia dikecualikan dari
mereka dengan menyantap makanan tersendiri. Tidak! Saya tidak akan
makan apa pun dari mereka selain seperti yang dimakan rata-rata
kawan-kawan saya!" Ia tidak menyantap makanan yang dibawa oleh
para pejabat pagi itu sebelum diketahuinya bahwa mereka juga menyediakan
makanan serupa untuk anak buahnya.
Setelah pertempuran Saqatiah pasukan Muslimin mendapat rampasan
perang cukup banyak, di antaranya berupa makanan dalam
jumlah besar. Yang sangat menggembirakan mereka sejenis kurma yang
disebut nirrisiyan yang menjadi kesukaan raja-raja Persia. Kurma itu
dibagi-bagikan kepada mereka dan diberikan juga sebagian kepada para
petani, dan seperlimanya dikirimkan kepada Umar di Medinah dengan
diserta surat pengantar: "Allah telah memberikan kepada kami makanan
yang menjadi kesukaan para Kisra. Kami ingin Anda juga melihatnya
untuk mengingat nikmat dan karunia Allah."
Musanna memasuki Hirah kembali dan menetap di sana dengan
harapan keadaan akan kembali stabil seperti di masa Khalid bin Walid
dulu, yang selama setahun penuh tinggal di sana tak ada pasukan Persia
yang berani menantang. Mungkinkah Musanna akan mendapat nasib
seperti nasib Khalid, tinggal lama di Hirah kemudian sempat membebaskan
Mada'in? Itulah semua cita-citanya. Harapannya yang paling
besar ingin mewujudkan cita-cita itu.
Tetapi harapan itu rupanya segera hilang. Bagi Rustum suatu hal
yang luar biasa kalau pasukan Persia sampai kalah menghadapi orangorang
Arab yang kasar itu. Seperti sudah kita sebutkan, dia sangat
sombong dan ambisinya memang besar sekali. Dia menanyakan stafnya:
"Menurut pendapat kalian siapa yang paling kuat untuk'menghadapi
orang-orang Arab itu?" Mereka menjawab: "Bahman Jadhuweh,
pejabat istana." Bahman dipanggil dan dihadapkan pada suatu kekuatan
besar. Tetapi Jalinus menambahkan: Kalau dia kembali seperti yang
pernaji dilakukannya, penggal saja lehernya, dan perlihatkan kepada
orang sejauh mana perhatiannya terhadap situasi ini dan keinginannya
untuk mengangkat apa yang ditimpakan pasukan Muslimin terhadap
pasukan Persia. Di barisan depan pasukan dikibarkan bendera Kisra,
yang terbuat dari kulit harimau, lebarnya delapan hasta dan panjangnya
dua belas hasta. Bahman berangkat dari Mada'in dengan tujuan hendak
melumatkan musuh. Abu Ubaid menarik diri dan pasukannya mundur ke sebuah desa di
Qus an-Natif dengan menyeberangi sungai dan sambil menunggu
kedatangan musuh, ia bertahan di sana. Tak lama kemudian datang
Bahman. Mereka hanya dibatasi oleh sungai itu. Ia mengutus orang
kepada Abu Ubaid dengan pesan: Kalian menyeberang ke tempat kami
dan akan kami biarkan kalian menyeberang, atau biarkan kami yang
menyeberang ke tempat kalian. Staf Abu Ubaid menyarankan untuk
tidak menyeberang, dan biarkan pasukan Persia itu yang menyeberang.
Tetapi lalu timbul kesombongan pada Abu Ubaid: "Jangan mereka
memperlihatkan lebih berani mati daripada kita," katanya. "Biarlah kita
yang menyeberang ke tempat mereka. Tetapi Salit bin Qais dan beberapa
tokoh terkemuka mengimbaunya sungguh-sungguh dengan mengatakan:
"Sejak dulu pasukan Arab belum pernah berhadapan dengan
pasukan Persia. Mereka sudah menyiapkan diri untuk menghadapi kita
dan akan menyambut kita dengan persiapan dan perlengkapan besarbesaran;
kita belum pernah menghadapi yang demikian. Anda telah
membawa kami ke suatu tempat yang ada lapangannya, tempat berlindung
dan tempat melakukan taktik 'serang dan kembali."' Tetapi ia
menjawab: "Tidak! Kalau begitu saya pengecut!" Ia menuduh Salit pengecut.
Tetapi ia menjawab: "Saya lebih berani dari Anda. Kami sudah
memberikan pendapat kami kepada Anda; akan Anda lihat nanti."
Anehnya, Abu Ubaid bersikap demikian terhadap sahabat-sahabatnya.
Ia lupa nasihat Umar, supaya ia berkonsultasi dengan sahabat-sahabat
Nabi, mengikutsertakan mereka dalam musyawarah dan memperhatikan
pendapat Salit. Yang lebih mengherankan lagi ia lupa kata-kata Umar:
"Anda akan memasuki suatu negeri penuh tipu muslihat dan pengkhianatan,
dan Anda akan menemui suatu golongan yang berani
melakukan segala kejahatan, karena hanya itu yang mereka ketahui,
mereka akan mengabaikan segala kebaikan karena mereka memang
tidak mengenal yang demikian." Dia lupa bahwa dialah yang ditunjuk
oleh Khalifah untuk memimpin pasukan, bukan Salit, sebab yang cocok
untuk perang hanya orang yang tenang; dalam perang Salit suka
tergopoh-gopoh dan sifat demikian dalam perang akan kehilangan arah.
Tetapi kedudukan itu sering membuat orang yang arif lupa akan kearifannya.
Siapa tahu! Barangkali saran Salit agar Muslimin jangan
menyeberang sungai ke pihak Persia menambah keras kepala Abu
Ubaid mau bertahan dengan pendapatnya. Dia tetap memerintahkan
anak buahnya menyeberang sungai. Mereka menyeberang dari Marwahah
tempat mereka bertahan ke Qus an-Natif, markas pasukan Persia.
Dan Salit bin Qais pun menyeberang di depan sekali.
Pasukan Muslimin ketika itu tak sampai sepuluh ribu orang. Kendati
demikian tempat yang ditinggal pasukan Persia di balik jembatan
itu sudah terasa sangat sempit. Di tempat itu tak ada tempat berlindung
jika melakukan taktik 'serang dan kembali.' Sesudah selesai mereka
menyeberang semua, tanpa ditunda-tunda lagi Bahman memerintahkan
pasukannya melakukan serangan, didahului oleh sepasukan gajah dengan
genta yang bergemercingan. Melihat dan mendengar dering genta
yang dirasakan begitu asing dan aneh, kuda itu lari lintang pukang.
Hanya sebagian kecil yang masih terpaksa bertahan. Pihak Persia
menghujani pasukan Muslimin dengan panah sehingga tidak sedikit
mereka yang tewas. Pihak Muslimin benar-benar merasa pedih atas
bencana yang telah menimpa mereka sebelum mereka sampai ke tempat
musuh. Abu Ubaid sendiri melihat bahwa barisannya sudah hampir
kacau-balau. Sekarang dia berikut pasukannya bergerak menuju ke arah
pasukan Persia dengan berjalan kaki, yang kemudian menyapu mereka
dengan pedang, sehingga akibatnya enam ribu orang dari mereka
terbunuh. Dengan demikian pasukan Muslimin merasa bertambah kuat.
Tetapi pasukan gajah itu terus maju ke arah mereka, dan mampu
mendorong mereka setiap mulai berhadapan. Abu Ubaid menyerukan
anak buahnya agar memotong pelangkin pasukan gajah itu dan membalikkan
isinya dan membunuh mereka. Perintah ini mereka laksanakan
dan setiap gajah mereka balikkan sehingga tak seekor gajah pun yang
tidak mereka balikkan dan penumpangnya mereka bunuh. Dengan
demikian pertempuran sengit selama beberapa waktu siang itu antara
kedua pihak berlangsung maju dan mundur, kalah dan menang silih
berganti.

Pembalasan Persia dan kekalahan pasukan Muslimin
Hari itu Abu Ubaid bernafsu sekali ingin menang. Lebih-lebih lagi
karena penolakannya atas saran-saran Salit bin Qais dan yang lain yang
menasihatkan jangan menyeberangi sungai ke tempat musuh. Sekiranya
kemenangan ada pihak di Persia dan ia sampai kalah menghadapi Persia,
niscaya dia sendiri yang akan menanggung malu, dan malu ini akan
melekat padanya seumur hidup. Karenanya ia gelisah selalu, dan setiap
terjadi perubahan dalam pertempuran, keseimbangannya terganggu. la
merasa gembira manakala setiap maju ia melihat pihak Persia mundur,
tetapi kalau dilihatnya mereka maju ia dicekam perasaan takut mendapat
malu lalu ia terjun maju untung-untungan. Ia merasa puas tatkala
melihat pasukannya menjungkirbalikkan penumpang-penumpang pasukan
gajah itu sehingga tak ada lagi orang yang akan menuntunnya. Tetapi
tak jauh dari tempatnya itu ia melihat seekor gajah putih besar melenggang-
lenggangkan belalainya ke kanan dan ke kiri sehingga dengan demikian
menceraiberaikan pasukan Muslimin di sekitarnya, dan seolah dia
pahlawan besar yang sudah tahu sasaran yang akan dihantamnya. Abu
Ubaid yakin bahwa dengan membunuh gajah ini akan membuat semangat
pasukan Muslimin bangkit kembali dan pasukan Persia akan terpukul.
Ia melangkah maju, belalai gajah itu ditebasnya dengan pedangnya.
Merasakan pedihnya pukulan pedang, gajah itu berang sekali sambil
menghampiri Abu Ubaid. Ditendangnya orang ini dengan kakinya dan
setelah terhempas jatuh diinjaknya sambil berdiri di atas tubuh Abu
Ubaid sampai ia menemui ajalnya. Abu Ubaid memang sudah berwasiat,
kalau dia mati, kepemimpinan dipegang oleh tujuh orang dari
Banu Saqif — masyarakatnya sendiri — secara bergantian dengan menyebutkan
nama-nama mereka. Sesudah yang pertama melihat musibah
yang menimpa pemimpinnya itu, dengan mengambil bendera menggantikannya
ia berusaha menjauhkan gajah itu dari Abu Ubaid, ditariknya
jenazahnya ke tempat pasukan Muslimin dan dia kembali berusaha
hendak membunuh gajah itu, tetapi seperti Abu Ubaid dia juga menemui
ajalnya. Ketujuh orang Banu Saqif itu berturut-turut masing-masing
memegang bendera dan berjuang terus sampai menemui ajalnya.' Sejak
itulah semangat mereka menjadi lemah. Banyak di antara mereka yang
kembali ke jembatan, masing-masing mau menyelamatkan diri. Keberadaan
mereka dengan pasukan itu kini sudah tak ada artinya lagi.
Pemimpin mereka sudah tak ada, disiplin sudah rusak dan barisan
mereka pun sudah kacau-balau.
Melihat keadaan begitu genting Musanna maju merebut bendera
itu. Ia sudah tidak ingin lagi bertempur dan mencari kemenangan se-
1 At-Tabari dan kalangan sejarawan yang lain menyebutkan bahwa Daumah. istri Abu
Ubaid, juga ikut ke Marwahah. Ia bermimpi bahwa ada seorang laki-laki turun dari
langit membawa sebuah bejana berisi dari surga. Abu Ubaid dan sahabat-sahabatnya
dari Banu Saqif sama-sama minum dari bejana itu. Ketika Daumah menceritakan
mimpinya kepada suaminya, ia berkata: Itulah mati syahid. Lalu ia berwasiat mengenai
siapa yang akan menggantikannya memimpin pasukan sudah musibah
 menimpa pasukan Muslimin. Tetapi ia ingin menyusun
kembali organisasinya lalu menyeberang sungai kembali ke Marwahah.
Setelah itulah ia nanti akan menentukan langkah. Sementara ia sedang
menyusun rencana akan kembali itu tiba-tiba Abdullah bin Marsad as-
Saqafi merintangi perahu-perahu yang akan menyeberangi jembatan
sambil berteriak sekuat-kuatnya: "Saudara-saudara! Matilah seperti pemimpin-
pemimpin kita, atau menang!" Merasa ngeri melihat apa yang
dilakukan oleh Ibn Marsad, mereka yang tidak sabar berlompatan terjun
ke sungai, dan banyak di antara mereka yang tenggelam. Musanna
khawatir akan terjadi kekacauan. Ia berdiri sambil berseru dengan bendera
di tangan. "Saudara-saudara! Saya di belakangmu, menyeberanglah
menurut cara-cara kalian dan jangan panik, tidak akan kami tinggalkan
kalian sebelum kami melihat kalian sudah di seberang!" Setelah Ibn
Marsad dijemput dan dibawa ia mendapat pukulan sebagai hukuman.
Kapal yang sudah pecah dihimpun dan dijadikan jembatan penyeberangan.
Mereka mulai kembali ke tempat semula dengan menyeberanginya.
Di belakang mereka Musanna terus bertempur. Ia dan
pasukannya menghalang-halangi pasukan Persia. Dalam posisinya yang
demikian itu Musanna terkena. sasaran panah sehingga ia mengalami
luka-luka dan meninggalkan sebuah lingkaran di baju besinya. Tetapi
dia terus bertempur bersama Abu Zaid at-Ta'i an-Nasrani melindungi
pasukan Muslimin. Keberanian Salit bin Qais tidak kurang dari
Musanna. Dengan demikian pasukan Muslimin yang masih ada dapat
menyeberang ke Marwahah. Musanna tidak beranjak di tempatnya
tanpa menghiraukan luka-luka yang dideritanya. Sesudah melihat rekanrekannya
semua menyeberang, baru ia sendiri bertolak di belakang
mereka, dengan meninggalkan Salit bin Qais yang gugur sebagai
syahid, darahnya bercampur aduk dengan tanah medan pertempuran
yang telah mengubur ribuan pahlawan Islam.
Coba kita lihat, adakah Bahman Jadhuweh lalu menyeberang sungai
menyusul dan menggempur mereka habis-habisan sehingga segala
pengaruh Muslimin di bumi Irak terkikis habis?! Ataukah dengan
kemenangan telak ini sudah cukup buat dia dapat membanggakan diri
di hadapan Rustum dan Boran serta semua orang Persia, hal yang tak
pernah diperoleh oleh panglima-panglima lain seperti dia?!
Musanna tidak akan lengah bahwa mungkin Bahman masih akan
membuntutinya. Oleh karenanya, cepat-cepat ia dan pasukannya meluncur
turun dari Marwahah ke Hirah, kemudian terus menyusur ke
selatan menuju Ullais. Pengejarannya ini sudah diperhitungkannya
seribu kali. Mengapa tidak, mengingat dalam pertempuran itu anggota
pasukan Muslirnin sudah begitu banyak yang terbunuh, tenggelam di
Furat dan dua ribu o.rang lagi dari Medinah lari menyelamatkan diri!
Tetapi mata Abu Ubaid yang sudah tertutup oleh kedudukan dan oleh
besarnya jumlah orang, sehingga ia terdorong ingin menyeberangi
sungai itu sampai akhirnya dia sendiri menemui ajalnya dan sekaligus
menjerumuskan Muslirnin ke dalam malapetaka, rupanya masih akan
melindungi Musanna.
Sementara masih dalam pertempuran itu Bahman mendapat berita
bahwa pasukan Persia di Mada'in terpecah dua, sebagian berpihak
kepada Rustum dan yang sebagian lagi di pihak Fairuzan menentang
Rustum. Itu sebabnya ia dan pasukannya kembali ke ibu kota. Yang
masih tinggal hanya Javan dan Mardan Syah dengan sejumlah kecil
pasukan. Kedua pasukan inilah yang mengejar Musanna dengan anggapan
bahwa mereka mampu menghadapinya. Mengenai berita-berita
sekitar Persia oleh penduduk Ullais disampaikan kepada Musanna. Ia
dan pasukannya disertai sejumlah besar penduduk Ullais segera bergerak,
dan berhasil menawan Javan dan Mardan Syah. Mereka semua
akhirnya dibunuh. Dengan demikian Javan menemui ajalnya sebagai
akibat pengkhianatannya kepada Abu Ubaid ketika ditawan di Namariq,
ia pun dilindungi setelah meminta perlindungan kepada yang menawannya.
Bahwa kefhudian Javan berkhianat dan menyalahi janji
dengan memerangi kembali pihak Muslirnin, maka hukuman mati ini
sungguh adil sekali. Pertama sekali pasukan Muslirnin yang ikut menyaksikan Perang
Jembatan memasuki Medinah ialah Abdullah bin Zaid. Umar melihatnya
ketika ia memasuki Masjid. Ada apa, Abdullah? tanya Umar
kemudian. Abdullah melaporkan semua berita itu kepada Umar, tetapi
Umar menerima berita itu dengan sikap tenang, tidak tampak sedih.
Kemudian menyusul datang mereka yang lari dari medan pertempuran
itu ke Medinah dengan kepala menekur karena rasa malu atas kekalahan
yang mereka alami sampai mereka melarikan diri itu. Yang
lain, yang juga lari, mereka turun ke lembah-lembah karena malu akan
menemui keluarga, yang akan menganggap mereka pengecut. Melihat
keadaan mereka Umar merasa kasihan. Ia berusaha menghibur dan
membela mereka dari kritik dan kemarahan orang, dengan mengatakan:
"Setiap Muslim sudah dibebaskan dari sumpahnya kepadaku. Saya
adalah pasukan setiap Muslim. Barang siapa menjumpai musuh lalu
merasa ngeri maka sayalah pasukannya. Saudara-saudara Muslirnin,
janganlah kalian bersedih hati! Saya termasuk pasukanmu dan kalian
telah bergabung kembali kepada saya. Semoga Allah mengampuni Abu
Ubaid! Sekiranya dia bergabung kepada saya niscaya sayalah pasukannya."
Ketika itu Mu'az penghafal Qur'an dari Banu Najjar termasuk
yang melarikan diri ke Medinah dari pertempuran di jembatan itu. Dia
menangis setiap membaca firman Allah ini: Barang siapa berbalik ke
belakang hari itu kecuali untuk suatu muslihat perang atau mundur
ke pasukan sendiri ia akan mendapat kemurkaan Allah, dan
tempatnya adalah neraka, tempat kembali yang terburuk. Untuk itu
Umar berkata: "Mu'az, janganlah menangis. Saya pasukan Anda, Anda
mundur berarti kembali kepada saya."
Sikap Umar terhadap mereka yang lari dan kembali ke Medinah
sesudah mengalami kekalahan di jembatan, mengingatkan kita kepada
sikap Rasulullah terhadap pasukan Muslimin yang kembali dari ekspedisi
Mu'tah setelah perwira-perwira mereka terbunuh. Khalid bin
Walid mulai menyusun siasat perangnya dengan anggota pasukan yang
masih ada, -kemudian kembali ke Medinah tanpa dapat mengalahkan
musuh. Penduduk Medinah berdatangan menaburkan tanah kepada
pasukan itu seraya mengatakan: "Hai orang-orang pelarian! Kamu lari
dari jalan Allah!" Tetapi Rasulullah berkata: "Mereka bukan pelarian,
tetapi orang-orang yang akan tampil kembali, insya Allah." Tetapi
mundurnya Muslimin di Mu'tah tidak seperti kehancuran Muslimin di
jembatan itu, sangat mengerikan dan akibatnya buruk sekali. Juga sikap
Umar tidak seperti sikap Rasulullah yang penuh kasih sayang dan
lembah lembut. Sungguhpun begitu, Umar cukup belas kasihan kepada
yang sudah mengalami malapetaka di jembatan itu, bahkan ia menempatkan
diri sebagai pasukan mereka, di pihak mereka dan membela
mereka. Dengan memperlihatkan sikap kasih sayang itu, mereka dapat
dibuat lebih tenang dan beban aib karena kekalahan itu terasa lebih
ringan. Tidak heran, dia sudah menjadi pemimpin mereka, menjadi
Amirulmukminin, ia harus bersikap penuh kasih dan lebih menyantuni
mereka. Lebih-lebih belas kasihannya kepada kaum yang lemah,
kendati terhadap kaum yang kuat ia tetap tegar dan keras, dan
memperlihatkan tangan besi terhadap orang-orang yang zalim.
Demikian keadaan Umar dan mereka yang berbalik dari pertempuran
Jembatan itu. Tetapi Musanna selama beberapa waktu masih
bertahan di Ullais setelah Javan, Mardan Syah dan pasukannya dihancurkan.
Sesudah beristirahat dan mengumpulkan pasukannya, sekarang
pikirannya mengenai posisinya terhadap Irak dan nasib umat Islam
di sana. Sudah tentu ini merupakan hal yang sungguh rumit. Bilamana
keadaan di istana Mada'in sudah kembali tenang, maka pasukan yang
penuh sesak didahului pasukan gajah akan kembali lagi menyerangnya.
Apa yang harus ia lakukan? Adakah takdir nanti akan menentukan
bahwa kekuasaan para kisra itu sudah akan kembali hidup lagi? Kalau
itu juga yang menjadi ketentuan Allah, maka dia dan pasukannya tak
dapat lagi tinggal di Irak. Tak ada jalan lain ia harus menarik diri,
seperti mereka yang dulu sudah menarik diri dan lari ke Medinah, dan
dia sendiri kembali ke tanah kabilahnya Banu Bakr bin Wa'il, tinggal
di Bahrain menghabiskan sisa umurnya.
Tetapi Musanna, seperti dikatakan oleh Qais bin Asim al-Minqari
ketika ditanya oleh Abu Bakr tentang orang ini, "Dia bukan orang yang
tidak dikenal, asal usulnya diketahui, juga bukan orang yang hina. Dia
Musanna bin Harisah asy-Syaibani."
Di Irak ia pernah memegang peranan besar, yang tidak kurang
rumit dan gawatnya dari peranannya yang sekarang. Ketika pertama
kali ia datang dari Bahrain ke Delta Mesopotamia keadaan memang
sudah seperti itu, yaitu sebelum Abu Bakr mengirimkan bala bantuan
dengan Khalid bin Walid. Posisinya itu makin genting tatkala Khalid
harus meninggalkan Irak pergi ke Syam untuk memberi pelajaran
kepada Runiuwi agar melupakan bisikan setan. Itulah wataknya, lakilaki
yang tidak mudah menyerah atau menjerumuskan diri karena takut
menghadapi masa depan yang masih gelap, tetapi dia laki-laki yang
kuat yang mau menghadapi masa depan untuk membimbing jaiannya
sejarah. Akan diatasinya bencana itu sesuai dengan apa yang diketahuinya
sebagai seorang jenderal yang teliti, tekun dan berpengalaman. Dia
yakin Khalifah akan mengirimkan bala bantuan. Yang pantas untuk
menghadapi perang hanya orang yang dapat menguasai diri, tenang.
Begitulah Musanna, ia berdiri tegak, kukuh dan tabah. Dia menghadapi
masa-masa hitam akibat Perang Jembatan yang hampir mengikis
habis kekuasaan Muslimin di Irak. Tidak cukup hanya dengan mengutus
orang meminta bala bantuan kepada Umar, karena kedatangan
pasukan dari Medinah akan memakan waktu lama, tetapi sesudah itu
dikirimnya pula kabilah-kabilah Arab sehingga jumlahnya menjadi
besar, terdapat di antaranya kaum Nasrani Banu Namr, yang pernah
berkata: Kami akan bertempur bersama golongan kami. Mereka lalu
memindahkan markasnya dari Ullais ke Marj as-Sibakh — yang terletak
di antara Kadisiah dengan Khaffan — supaya berdekatan dengan perbatasan
orang-orang Arab. Kami akan berlindung kepada mereka jika 
dikalahkan oleh Persia, dan akan memberi bala bantuan baru jika Persia
yang dikalahkan. Perlu sekali mendapat bala bantuan untuk melanjutkan
keberhasilannya. Di markasnya di Marj Sibakh sudah berkumpul
sejumlah besar tentara. la sudah merasa tenang. la tinggal di tengahtengah
mereka sambil menantikan keputusan Allah, apa yang akan
terjadi terhadap Persia dan terhadap dirinya.
Sesudah Perang Jembatan itu Umar bin Khattab tak kurang gelisahnya
dari Musanna memikirkan keadaan Muslimin di Irak. la tidak
lupa bahwa Musanna memang sangat memerlukan bala bantuan
secepatnya untuk menghadapi situasi yang sungguh genting itu. Dalam
pada itu orang-orang Arab sudah berdatangan ke Medinah dari segenap
penjuru Semenanjung Arab, memenuhi seruan Khalifah sejak dicabutnya
ancaman bagi kaum murtad yang telah memperlihatkan tobatnya.
Oleh Umar mereka dimobilisasi ke Irak. Hanya saja mereka masih mau
saling menghindar dan agak segan-segan. Mereka lebih memperlihatkan
keinginan tampil ke Syam dan ikut berperang di sana. Tetapi di Syam
Khalid bin Walid sudah mendapat kemenangan menghadapi pihak
Rumawi yang dipergokinya di Yarmuk. la tidak memerlukan bala
bantuan. Oleh karena itu Umar tidak ingin mengirimkan mereka ke
Syam, dan tak ada pula orang yang berminat tampil ke Irak. Tatkala itu
Jarir bin Abdullah al-Bajili datang menemui Abu Bakr di masa kekhalifahannya.
Disebutnya perjanjian yang diadakannya dengan Rasulullah
untuk mengumpulkan kabilah Bajilah yang terpencar-pencar di beberapa
kalilah. Tetapi oleh Abu Bakr dijawab: "Anda mengganggu kami
dalam keadaan kami sekarang mau menolong pasukan Muslimin yang
sedang menghadapi dua singa raksasa, Persia dan Rumawi. Di samping
itu Anda mau membebani saya dengan pekerjaan yang tak akan
mendapat rida Allah dan Rasul-Nya. Baiklah, sekarang Anda pergi
kepada Khalid bin Walid sambil menunggu ketentuan Allah mengenai
kedua persoalan ini."
Sesudah Umar memegang tampuk pimpinan umat Jarir mengulangi
lagi janji dengan Rasulullah itu, dengan mengemukakan bukti yang
kuat. Umar lalu menulis surat kepada wakil-wakilnya. Sekarang Banu
Bajilah sudah dipersamakan. Setelah mereka berkumpul Umar berkata
kepada Jarir: "Berangkatlah kalian menyusul Musanna."
"Tetapi kami ingin ke Syam karena leluhur kami di sana," kata Jarir.
"Tidak, ke Irak saja," kata Umar lagi. "Di Syam sudah cukup."
Sementara itu Umar masih dengan Banu Bajilah yang enggan
berangkat ke Irak. Setelah mendapat tambahan seperempat dari seperlima 
 (khums) rampasan perang yang diperoleh pasukan Muslimin
barulah mereka setuju berangkat ke Irak, dan pasukan itu dipimpin oleh
Jarir. Melihat apa yang dilakukan oleh Banu Bajilah itu yang lain pun
ingin seperti mereka. Mereka yang lari dari pertempuran di jembatan di
depan sekali, diikuti oleh Banu Azd yang dipimpin oleh Arfajah bin
Harsamah, dan Banu Kinanah di bawah pimpinan Galib bin Abdullah,
dan sekian banyak lagi yang lain dari berbagai kabilah. Sekarang
mereka semua berangkat dengan membawa istri dan anak-anak mereka,
bertolak menuju Irak untuk bergabung dengan pasukan Musanna
sebagai bala bantuan.

Musanna bertahan, bala bantuan Umar dan para kabilah
Demikian ini posisi Umar di Medinah, dan demikian juga posisi
Musanna di Irak. Lalu bagaimana posisi Persia di Mada'in? Beritaberita
mengenai adanya bala bantuan yang datang berturut-turut ke Irak
sampai juga kepada pihak Persia. Mereka merasa takut juga sebab
mereka menyadari bahaya yang sedang mengintai. Oleh karenanya,
Rustum dan Fairuzan kini berbagi kekuasaan. Mereka membentuk
gabungan pasukan yang besar di bawah pimpinan Mehran Hamazani.
Mereka memerintahkan Mehran segera berangkat untuk menghadapi
pasukan Muslimin yang siap menyerang. Angkatan perang ini berangkat
didahului oleh pasukan gajah. Mehran sendiri orang yang paling
berambisi hendak mencetak kemenangan yang akan membuat orangorang
Persia lupa akan kemenangan Bahman dalam Pertempuran
Jembatan. Keberangkatan pasukan ini pun diketahui oleh Musanna
sementara ia berada di markasnya di Marj Sibakh. la mengirim surat
kepada Jarir bin Abdullah dan pemimpin-pemimpin yang lain yang datang
hendak memberikan bantuan dengan mengatakan: "Kami menghadapi
suatu masalah yang harus kami pecahkan sebelum kalian datang kepada
kami. Maka segeralah susul kami. Sampai bertemu di Buwaib."1 Kemudian
ia berangkat dengan angkatan bersenjatanya hingga mencapai
Buwaib di pantai Furat, tempat semua pasukan Muslimin berkumpul.
Mehran juga bergerak dengan angkatan bersenjatanya hingga berhadapan
langsung dengan pasukan Muslimin, yang hanya dibatasi oleh
sungai. Musanna merasa lega setelah memeriksa barisan angkatan bersenjatanya.
Kendati ia tak mempunyai pasukan gajah seperti pada 
pasukan Persia, namun bala bantuan dari semua kekuatan di Semenanjung
Arab dan di luarnya yang sekarang bergabung, sudah cukup
mewakili. Di antaranya bala bantuan yang diminta oleh Musanna ketika
ia masih di Ullais, termasuk Bajilah, Azd, Kinanah dan kabilah-kabilah
Arab yang lain yang telah memenuhi seruan Abu Bakr; ada Banu
Namir, orang-orang Nasrani yang datang bersama Anas bin Hilal dan
kaum Nasrani Taglib yang juga datang bersama Ibn Mirda al-Fihr at-
Taglabi, dan para pemacu kuda. Selain mereka ada pula beberapa
kabilah Arab lain yang tinggal di Irak. Mereka semua melihat posisi
Arab yang berhadapan dengan orang asing Persia. Mereka berteriak:
Kita berperang bersama golongan kita. Tidak sedikit dari kaum Nasrani
Irak yang dipersatukan oleh ikatan etnis bergabung dalam barisan
Muslimin dan ikut berperang. 

Perjalanan pasukan Persia hendak menghadapi pasukan Muslimin
Mehran mengirim utusan kepada Musanna dengan pesan: "Kalian
menyeberang ke tempat kami, atau biarkan kami menyeberang ke
tempat kalian." Musanna belum lupa apa yang telah menimpa Abu
Ubaid ketika ia menyeberangi sungai dan berhadapan dengan Bahman.
Umar mengimbaunya setelah peristiwa jembatan itu untuk tidak menyeberangi
sungai sebelum mencapai kemenangan. Oleh karena itu ia
membalas seruan Mehran dengan mengatakan agar mereka yang menyeberang.
Sekarang pihak Persia yang menyeberang ke Buwaib dengan
mempersiapkan tiga barisan masing-masing dengan seekor gajah.
Musanna pun menyambut mereka dengan kudanya yang diberi
nama Syamus, yang dinaikinya hanya untuk berperang. Selesai perang
kembali dikandangkan. Kuda itu diberi nama Syamus karena sangat
penurut. Dengan kudanya itu Musanna memeriksa barisan demi barisan
sambil memberi semangat dan perintah dengan sebaik-baiknya. Pada
setiap panji ia berhenti sambil berkata: "Saya mengharapkan sekali
pasukan kita jangan sampai dihancurkan oleh kita sendiri. Apa yang
akan menyenangkan hati saya hari ini berarti juga akan menyenangkan
hatimu semua." Kata-katanya itu disambut baik oleh mereka. Mengingat
waktu bulan Ramadan, ia berseru kepada pasukan Muslimin:
"Saudara-saudara. Kalian semua sedang berpuasa, tetapi puasa dapat
melemahkan badan kita. Saya berpendapat lebih baik kalian iftar1 supaya
dengan makanan kalian lebih kuat menghadapi musuh. Memenuhi
sarannya itu mereka semua beriftar. Musanna mendengar dengungan
suara yang diulang-ulang dari pihak Persia yang makin mendekat.
"Yang kalian dengar itu menandakan mereka pengecut. Maka tetaplah
kalian diam, dan berbicaralah dengan berbisik."
Mereka memperhatikan apa yang dikatakan Musanna itu. Segala
yang diperbuatnya atau dikatakannya yang ditujukan kepada mereka,
semua mereka sambut tanpa ada kritik. Malah ia makin dekat di hati
mereka. Kata Musanna lagi:
"Saya akan bertakbir tiga kali. Maka siap-siaplah kalian, kemudian
pada takbir yang keempat serentak seranglah."
Panji-panji sudah disiapkan semua sambil menunggu serangan kepada
musuh. Itulah saat yang sangat dinanti-nantikan dengan harapan
mendapat kemenangan.

Pertempuran Buwaib
Tetapi baru Musanna mengucapkan takbir pertama, pihak Persia
sudah mendahului menyerang, yang dibalas segera dengan serangan
serupa. Akibat serangan pihak Persia itu beberapa barisan pasukan
Muslimin dari Banu Ijl jadi kacau. Musanna mengutus orang kepada
mereka dengan pesan: "Salam Komandan kepada kalian, janganlah
kalian mempermalu pasukan Muslimin hari ini." Sekarang Banu Ijl
memperkuat diri dan seperti pasukan yang lain mereka juga mulai
bersama-sama melakukan serangan terhadap pasukan Persia dengan
barisan mereka yang sudah lebih teratur. Kedua pihak sekarang terlibat
dalam pertempuran sengit, yang berlangsung sampai sekian lama.
Musanna melihat bahwa pertarungan ini akan makin dahsyat dan akan
memakan waktu lebih lama. Ia sedang memikirkan cara untuk mencapai
kemenangan. Terpikir olehnya akan menyerang komandan Persia itu
dan menghalaunya dari tempatnya atau membunuhnya. Untuk melaksanakan
rencananya ini ia memanggil Anas bin Hilal an-Namiri,
kemudian memanggil Ibn Mirda al-Fihr at-Taglabi. Kepada mereka
masing-masing ia berkata: "Anda orang Arab sekalipun tak seagama
dengan kami. Kalau Anda melihat saya sudah menyerang Mehran,
ikutlah menyerang bersamaku." Musanna mulai menyerang Mehran
dengan gempuran yang benar-benar telak sehingga ia tergeser dari
tempatnya dan masuk ke barisan sayap kanan. Pihak Persia melihat apa
yang terjadi, mereka menghunjam hendak melindungi pemimpin mereka.
Kedua barisan tengah sekarang bertemu dan debu pun membubung
tinggi, sehingga sudah tak diketahui lagi pihak mana yang menang.
Ketika debu-debu itu terkuak selintas dan pasukan Muslimin melihat
barisan kanan Persia sudah mundur, mereka langsung digempur oleh
barisan kanan dan barisan kiri. Mereka mengelak ke arah pinggir
sungai hendak menyelamatkan diri. Dalam pada itu Musanna terus
mengerahkan pasukannya dan mengutus orang kepada mereka dengan
mengatakan: "Adat kalian seperti bunyi peribahasa: Belalah agama Allah,
Dia akan menolong kalian." Pasukan Muslimin tambah bersemangat
menggempur barisan musuh sampai ke pusatnya.


Kemenangan pasukan Muslimin
Pasukan Persia sudah tak dapat lagi menahan kekuatan itu. Mereka
sudah porak poranda dan berbalik mundur melarikan diri hendak menyeberangi
jembatan. Melihat mereka sudah berantakan - demikian-
Musanna cepat-cepat mendahului mereka ke jembatan dan mereka
dihalau kembali dari jembatan. Mereka makin kacau-balau. Satu regu
naik ke pantai sungai dan yang lain menggempur mereka. Barisan berkuda
Muslimin kini mengepung mereka yang sedang kacau dan ketika
itulah mereka digempur habis-habisan. Demikian rupa pasukan Persia
itu dalam ketakutan, sehingga seorang prajurit dari pasukan Muslimin
dapat membunuh beberapa orang dari mereka tanpa ada yang mampu
balik membunuh, sehingga peristiwa di Buwaib ini dinamai "Peristiwa
Puluhan," karena setiap satu orang dari seratus orang pasukan Muslimin
dapat membunuh sepuluh orang anggota pasukan Persia. Titik
kelemahan musuh terus diikuti dan dihujani dengan pukulan-pukulan
mematikan sampai malam. Paginya mereka terus dikejar lagi sampai malam. Oleh karena itu
nyawa melayang di medan perang Buwaib ini lebih banyak daripada di
tempat mana pun. Anggota pasukan Persia yang terbunuh sudah mencapai
seratus ribu, mayatnya tergeletak di medan pertempuran sampai
busuk dan hanya meninggalkan timbunan tulang belulang, sampai selama
bertahun-tahun tanpa dikuburkan. Baru kemudian tertimbun oleh
tanah setelah dibangunnya kota Kufah. Kemenangan pasukan Muslimin
di Buwaib ini meyakinkan sekali. Kecintaan anggota pasukan Muslimin yang serentak kepada Musanna
menjadi salah satu penyebab kemenangan itu, bahkan itulah
penyebab utamanya. Mereka sudah menyaksikan ia terjun ke dalam
pertempuran dengan gagah berani dan penuh keyakinan. Yang lain pun
mengikutinya bertempur habis-habisan. Maka Allah telah memberi
pertolongan kepada mereka. Mereka yang dulu pernah lari dari Pertempuran Jembatan, 
sekarang bertempur mati-matian tanpa pedulikan
maut untuk menebus kekalahan yang dulu tercoreng di kening
mereka.Sementara Musanna sedang mengatur barisan untuk menghadapi
pertempuran dilihatnya ada yang maju keluar dari barisan hendak menyerbu
pasukan Persia, tetapi oleh Musanna ia diketuk dengan tombak
sambil berkata: "Jangan meninggalkan tempatmu! Jika datang lawanmu
di medan perang, bantulah kawanmu dan jangan mempertaruhkan diri."
Orang itu menjawab: "Saya memang pantas untuk itu." Kemudian ia
kembali ke tempatnya dalam barisan. Para perwira dan prajurit-prajurit
yang lain memang mempunyai peranan luar biasa yang patut dibanggakan.
Tatkala pertempuran sedang sengit-sengitnya, Mas'ud bin Harisah
— saudara Musanna — menyerbu ke tengah-tengah medan. Dia jatuh
terkapar dan teman-temannya merasa sudah tak berdaya — sebelum
pihak Persia dapat dikalahkan. Hal ini dilihatnya saat ia sudah dalam
sekarat. "Saudara-saudara Bakr bin Wa'il!" katanya. "Angkatlah bendera
kalian, semoga Allah mengangkat kalian! Kejatuhanku ini jangan
sampai membuat kalian kehilangan semangat!" Sebelum ia terkena itu
ia pernah befkata kepada mereka: ."Hati kalian jangan cemas hanya
karena melihat saya sudah terkena sasaran. Tentara itu datang dan
pergi. Pertahankanlah garis barisan kalian. Manfaatkanlah kemampuan
mereka yang di belakang kalian." Juga Anas bin Hilal an-Namiri orang
Nasrani itu, bertempur sampai ia menemui ajalnya. Seorang budak
Nasrani Banu Taglab datang menyerang Mehran dan berhasil membunuhnya
kemudian merampas kudanya. Ia lalu pergi sambil berdendang:
"Saya budak Taglabi. Saya yang membunuh pemimpin Persia."
Sesudah Musanna dapat mengejar pasukan Persia di jembatan dan
dapat mencegah mereka menyeberang, Arfajah bin Harsamah menggiring
satu regu pasukan berkuda Persia sampai ke Furat. Setelah
mereka merasa terjepit mereka mengadakan perlawanan dan menyerang
Arfajah dan anak buahnya. Maka terjadilah lagi pertempuran sengit,
tetapi berhasil mereka dilumpuhkan. Salah seorang dari mereka berkata
kepada Arfajah: "Bawalah benderamu mundur ke belakang!" Tetapi
Arfajah menjawab: "Siapa yang paling berani dari kalian, majulah!''
Lalu diserangnya mereka, dan mereka lari ke arah Furat. Tetapi tak
seorang pun yang sampai ke sana dalam keadaan hidup. Dari pihak
Muslimin yang luka-luka dan terbunuh juga tidak sedikit, termasuk dari
Banu Namir, Banu Taglab dan dari kabilah-kabilah Arab yang lain di
Irak. Sungguhpun begitu, kemenangan telah memahkotai mereka,
 dan nama-nama mereka tercatat kekal dalam sejarah. Dalam pandangan
Tuhan mereka tetap hidup. Setelah pertempuran pun usai, Musanna merangkul Mas'ud, saudaranya,
dan Anas bin Hilal orang Nasrani itu dengan perasaan amat
sedih, tanpa membedakan agama kedua orang itu. Pasukan Muslimin
yang gugur disalatkan oleh Musanna, kemudian katanya: "Sungguh
kesedihan saya terasa sudah lebih ringan karena mereka telah menyaksikan
Pertempuran Buwaib. Mereka pemberani, sabar dan tabah,
tak kenal putus asa dan tak pernah mundur. Mati syahid adalah suatu
penebusan dosa." Petang itu selesai pertempuran pasukan Muslimin duduk-duduk
dengan perasaan gembira. Musanna berkata: "Saya sudah berperang
melawan orang-orang Arab dan bukan Arab di masa jahiliah dan Islam.
Seratus orang Arab di masa jahiliah dulu bagi saya lebih berat daripada
seribu orang Arab sekarang, dan seratus orang Arab sekarang bagi saya
lebih berat daripada seribu orang bukan Arab. Allah telah melumpuhkan
kekuatan mereka, membuat tipu daya mereka menjadi tak berdaya.
Janganlah kalian gentar melihat segala gemerlapan mereka itu. Tak ada
kesulitan yang tak dapat diatasi. Mereka seperti binatang, jika sudah
terdesak atau kehilangan arah, ke mana pun kamu bawa mereka akan
ikut." Di antara mereka ada yang bercerita bagaimana Musanna merebut
jembatan itu dari pasukan Persia, yang mengakibatkan hancurnya
mereka. Tetapi Musanna tidak membiarkan orang itu meneruskan
ceritanya dengan membantah bahwa itu adalah hasil kerjanya dan ia
menyatakan penyesalannya dengan mengatakan: "Saya benar-benar
tidak berhasil, tetapi Allah masih melindungi saya dari bencana dengan
mendahului mereka ke jembatan sehingga saya dapat mempersulit
gerak mereka. Saya tidak akan kembali dan kalian jangan kembali dan
jangan meneladani saya. Saudara-saudara, itu adalah langkah saya yang
salah. Tidak seharusnya orang mengganggu siapa pun kecuali orang
yang sudah tidak dapat menahan diri."
Kata-kata yang keluar dari mulut seorang panglima yang menang
perang besar ini telah menghapus arang yang tercoreng di kening
pasukan Muslimin karena peristiwa di jembatan itu, membuktikan
tentang keberanian Musanna dan keterusterangannya memvonis dirinya
sendiri — sama dengan keberaniannya memimpin pertempuran dahsyat
dan menerjunkan diri ke dalamnya. Kalau dia seorang yang senang
membangga-banggakan diri dan dimabuk pujian, tentu ia tak akan
mengeluarkan kata-kata itu. Dia melihat pasukan Persia yang berbalik


dari jembatan itu membunuhi pasukan Muslimin dan mati-matian ingin
membalas dendam. la merasa sedih sekali atas kematian beberapa orang
prajuritnya, dan menyesali perbuatannya, dan barangkali sejauh apa
yang berlaku karena tindakan musuhnya yang mati-matian sehingga
kemenangan berbalik ke pihaknya. Di samping itu, ia berani menyatakan
kesalahannya, supaya yang lain tidak mengalami seperti dia.
Dalam Perang Buwaib itu pasukan Muslimin mendapat rampasan
perang yang tidak sedikit, terdiri dari sapi, kambing dan tepung terigu,
yang kemudian dikirimkan di tangan orang-orang yang datang dari Medinah
kepada keluarga-keluarga yang ditinggalkan di perbatasan Semenanjung
Arab, dan kepada keluarga-keluarga yang tinggal di Hirah yang
sudah lebih dulu ke Irak sebelum terjadi Perang Buwaib dan pertempuran
di jembatan. Perempuan-perempuan yang tinggal di perbatasan
Semenanjung itu melihat kedatangan kafilah berkuda yang membawa
perbekalan mereka kira ada serangan musuh. Di depan anak-anak
mereka segera bersiap-siap dengan batu dan tiang-tiang. Tetapi Amr bin
Abdul-Masih yang bersama kafilah itu berkata: "Istri-istri pasukan ini
seharusnya demikian." Kaum lelaki itu meminta jaminan keamanan dari
perempuan-perempuan itu dan membawakan kabar gembira kepada
mereka tentang kemenangan dan menyerahkan segala yang dibawa
kepada mereka, dengan mengatakan: "Inilah rampasan perang pertama."
Musanna mengeluarkan perintah kepada para perwira dan anak
buahnya. Mereka berangkat melalui Sawad hingga sampai ke Sabat,
yang dari Mada'in sudah terlihat. Pasukan Persia di depan berlarian
lintang pukang. Pada gilirannya Musanna pun berangkat mengadakan
serangan ke Khanafis dan Anbar pada hari pasar kedua kota itu. Di
kedua tempat ini pasukannya mendapat rampasan yang tidak sedikit
pula. Pasukan Muslimin sekarang sudah sampai di Tigris dan mengadakan
serangan ke desa Bagdad sampai ke Tikrit. Setiap serangan itu
mereka membunuh pasukan tentara, menawan keluarga mereka dan
mengambil harta yang ada sehingga tak terhitung banyaknya. Dengan
demikian barulah seluruh Irak mau tunduk sekali lagi. Hasil rampasan
itu oleh Musanna dibagi-bagikan, dan penduduk negeri lebih diutamakan
daripada semua kabilah. Seperempatnya diberikan untuk daerah
Bajilah sesuai dengan pesan Umar, dan yang tiga perempat dikirimkan
kepada Amirulmukminin di Medinah.
Keadaan di bawah Musanna sekarang sudah stabil kembali seperti
pada masa Khalid bin Walid. Kaum Muslimin yang tersebar di Sawad
Irak juga ikut menikmati hasil rampasan perang itu. Selama tinggal di


Hirah yang dipikirkan Musanna siapa saja dari anggota pasukan
Muslimin yang gugur dalam pertempuran sengit itu, serta cara-cara
untuk memperkuat pasukannya dengan orang yang akan menggantikannya.
Barangkali belum perlu meminta bala bantuan cepat-cepat.
Pihak Persia sudah dalam ketakutan setelah malapetaka yang menimpa
mereka di Buwaib, sehingga ia membayangkan bahwa sesudah itu
mereka tak akan mampu lagi mengadakan perlawanan. Malah akibatnya,
perselisihan mereka di Mada'in akan makin keras, yang akan
mengakibatkan pula berkecamuknya pemberontakan di seluruh Persia.
Mereka akan makin lemah dan organisasi mereka pun akan goyan.
Baik kita tinggalkan dulu Musanna memikirkan posisinya yang
sekarang, dan kita sendiri memikirkan tanda-tanda (indikasi) apa akibat
yang dibawa oleh Perang Buwaib terhadap sejarah. Dalam perang ini
terdapat beberapa tanda. Kita melihat kaum Nasrani Arab penduduk
Irak berada dalam barisan Muslimin, bersama-sama memerangi pasukan
Persia, dengan semangat yang sama seperti semangat Muslimin. Kita
menyaksikan Musanna berkata kepada Anas bin Hilal an-Namiri:
"Anda orang Arab sekalipun tak seagama dengan kami. Kalau-Anda
melihat saya sudah menyerang Mehran, ikutlah menyerang bersama
saya." Kemudian kata-kata yang sama dikatakannya juga kepada Ibn
Mirda al-Fihri dari Banu Taglib. Bukankah ini sudah memastikan bahwa
perang di Irak itu bukan perang salib, juga bukan perang Islam, karena
bukan dibangkitkan oleh agama, melainkan oleh keinginan orang-orang
Arab membebaskan golongannya dari kekuasaan asing yang sudah
berabad-abad menjajah mereka, dan supaya masyarakat Arab mempunyai
kesatuan politik, bagaimanapun, posisinya? Saya rasa soalnya
memang sudah jelas, tak perlu diragukan lagi. Segala pertimbangan
yang membangkitkan perang di Irak sama dengan di Syam. Bahwa
perang itu untuk menyebarkan Islam tak pernah terlintas, baik dalam
pikiran Abu Bakr ataupun Umar. Pikiran yang ada pada mereka hanya
supaya dakwah Islam bebas tanpa ada rintangan apa pun. Jadi jelas,
bahwa ajakan kepada Islam dengan kekuatan senjata tidak sesuai
dengan prinsip-prinsip Islam, dan tidak pula dibenarkan oleh Qur'an.
Rasulullah dan para penggantinya selalu ingat firman Allah: Ajaklah
mereka ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan pesan yang baik; dan
berbantahlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik. (Qur'an,
16: 125). Dan firman-Nya lagi: Tolaklah (kejahatan) dengan yang lebih
baik; maka akan ternyata permusuhan yang ada antara Anda dengan
dia akan menjadi seperti teman dekat. (Qur'an, 41: 34). 
Islam tersebar sejalan dengan meluasnya daerah-daerah yang dibebaskan,
sebab penduduk daerah-daerah itu melihat dasar-dasar agama
yang benar ini, maka mereka sangat mengagumi, sangat menghormatinya,
lalu mereka pun menganutnya, kadang dengan pembuktian dan
pemikiran, kadang dengan melihat orang-orang yang datang dengan
segala cara yang menakjubkan dalam usaha pembebasan dan cara
menjalankan kekuasaan. Kalau dengan alasan itu dapat dibenarkan
mengaitkan tersebarnya Islam dengan perluasan daerah-daerah yang
dibebaskan itu, maka tidaklah benar untuk mengatakan bahwa tujuan
pembebasan itu untuk menyebarkan Islam dengan kekuatan pedang.




lndikasi terjadinya Perang Buwaib
Inilah beberapa indikasi terjadinya Perang Buwaib. Juga ini
merupakan suatu indikasi bahwa permusuhan Arab-Persia itu sudah
sampai di puncaknya dan sudah menghilangkan segala harapan akan
ada perdamaian atau perletakan senjata. Perang Buwaib itu terjadi
sesudah Pertempuran Jembatan yang membuat pasukan Muslimin
mengalami kekalahan telak. Kebalikannya kejadian di Buwaib telah
menghapus dampak kekalahan itu dan mengangkat martabat pasukan
Muslimin; dalam hati pihak Persia timbul rasa takut, dan semangat
mereka sangat menurun. Sungguhpun begitu, setelah Pertempuran
Jembatan itu tidak terpikir oleh pasukan Muslimin akan menyerah atau
mengajak damai. Demikian juga setelah Perang Buwaib tidak terpikir
oleh pasukan Persia akan menyerah atau mengajak damai. Jadi tak ada
jalan lain perang harus berlanjut sehingga salah satu pihak ada yang
menyerah tanpa syarat. Itu sebabnya tatkala trauma Perang Buwaib
hilang dari pihak Persia, kembali mereka berpikir-pikir tentang nasib
apa yang akan menimpa mereka jika masih terus dalam perpecahan,
masih terbagi-bagi. Terbayang oleh mereka bahwa pasukan Arab itu
akan memasuki ibu kota kerajaan mereka, akan merobohkan semua
benteng pertahanan mereka dan putra-putra Kisra akan tunduk di bawah
kekuasaan musuh. Kecuali jika terjadi suatu mukjizat, mereka mau
bersatu menghadapi kaum penyerang dan mengusirnya dari bumi
mereka. Tetapi bagaimana mereka akan bersatu sementara Rustum dan
Fairuzan saling berebut kekuasaan, para pembesar dan para petinggi
terbagi-bagi, yang satu mendukung satu kelompok, yang lain menjadi
pendukung kelompok yang lain. Oleh karena itu para pemuka Persia
menemui kedua pihak dengan mengingatkan akibat perselisihan itu
akan menjerumuskan Persia ke dalam kehancuran. "Sesudah Bagdad, Sabat dan Tikrit,
 kini hanya tinggal Mada'in!" Mereka mengancam
keduafiya dengan mengatakan: "Kalian bersatu atau kami sendirilah
yang akan bertindak, sebelum kita disoraki orang!"
Sekarang Rustum dan Fairuzan mengadakan perundingan dan meminta
Boran menulis surat untuk mendatangkan istri-istri dan gundikgundik
Kisra. Setelah mereka datang, diketahui bahwa keturunan Kisra
yang laki-laki sudah tak ada lagi selain Yazdigird bin Syahriar bin
Kisra. Dulu ibunya menyembunyikannya di tempat saudara-saudara
ibunya ketika Syiri dulu membunuhi semua anak laki-laki keturunan
ayahnya. Mereka datang membawa anak itu, yang ketika itu sudah
berumur dua puluh satu tahun.- Sesudah kemudian mereka sepakat
hendak mengangkatnya ke takhta kerajaan leluhurnya dan berlomba
memberikan bantuan, Persia sekarang kembali tenang, dan mulai mengadakan
persiapan baru untuk menuntut balas mengembalikan harga diri
dan kehormatannya.Sudah tentu berita-berita mengenai Persia ini sampai juga kepada
Musanna. 'Ia gelisah karena yakin penduduk Sawad akan memberontak
kepada pasukan Muslimin bilamana pasukan Persia memasuki tempattempat
mereka. Ditulisnya surat kepada Umar di Medinah melaporkan
segala yang diketahuinya itu serta kemungkinan akan timbulnya pemberontakan.
Tetapi surat itu terlambat sampai ke tangan Umar. Pihak
Persia sendiri sudah bersiap-siap dan persiapan demikian sudah pula
membuat gempar desa-desa dan kota-kota di Irak. Tak ada jalan lain
buat Musanna ia harus menarik pasukannya sekali lagi ke perbatasan
Semenanjung dan membawanya ke Zu Qar kemudian mengumpulkan
mereka dalam satu markas sambil menunggu bala bantuan dari Khalifah
untuk meneruskan rencananya membebaskan Mada'in.
Tatkala surat Musanna sampai ke tangan Umar dan ia mengetahui
persiapan Persia sesudah ada persepakatan, ia berkata: "Akan kuhajar
Raja-raja Persia itu dengan raja-raja Arab!" Ia membalas surat Musanna
dengan perintah agar segera berangkat ke perbatasan Irak dan
terpencar di beberapa mata air yang berdekatan dengan Persia, dan
meminta bantuan penduduk supaya bersama-sama di pihak mereka
supaya tidak disergap mendadak oleh Persia tanpa ada persiapan tenaga
manusia dan perlengkapan. Musanna bermarkas di Zu Qar. Belum terpikir oleh pihak Persia
hendak berangkat menghadapinya. Musanna tinggal di sana sampai kevmudian
datang Sa'd bin Abi Waqqas menyusul. Kedatangannya sebagaipasukan Persia. 
Tetapi Musanna tidak lama tinggal bersama Sa'd. Lukanya yang lama akibat Pertempuran Jembatan kambuh lagi, yangdideritanya terus sampai ia menemui ajalnya. Beberapa sumber menyebutkan
bahwa Musanna meninggal di Zu Qar sebelum Sa'd tiba di
Irak, dan bahwa ia meninggalkan wasiat untuk Sa'd — yang akan kita
sebutkan nanti pada waktunya. Dengan meninggalnya Musanna, rasanya sudah menjadi kewajiban
kita untuk menyudahi bab ini. Tetapi sebelum kita teruskan dengan
peristiwa-peristiwa dalam arus yang begitu keras, mari kita berhenti
sejenak di makam panglima yang hebat ini untuk mengucapkan selamat
jalan dan menempatkannya sebagaimana mestinya, sesuai dengan kenyataan.
komandan pasukan yang disiapkan oleh Umar untuk menghadapi 



Kebesaran Musanna
Dalam perang dengan Persia orang ini telah memikul beban Muslimin
yang begitu berat, yang belum ada orang lain melakukan hal
seperti dia. Dialah Muslim pertama yang pergi ke Delta Furat dan
Tigris dan mengajak Abu Bakr untuk memikirkan pembebasan Irak.
Kalau tidak karena kepergiannya ke sana dan sekaligus ia menyabung
nyawanya di sana, niscaya tak terpikir oleh Khalifah- untuk menghadapi
Persia. Bersama dengan Khalid bin Walid tidak sedikit daerah pinggiran
Irak yang sudah dibebaskannya. Kalau tidak karena keberanian
Musanna dan pandangannya yang bijaksana di samping kepiawaiannya
memimpin pasukan, tentu Khalid belum akan dapat pergi ke Syam dan
membuktikan kemampuannya menghadapi Persia.
Sesudah itu Abu Bakr dulu berpesan kepada Umar untuk memobilisasi
orang bersama Musanna. Wajar sekali bilamana Musanna yang
akan memimpin angkatan bersenjata ke Irak untuk memberi pertolongan
kepadanya. Dialah yang mengetahui seluk beluknya dan memasuki
daerah-daerah itu. Dalam hal ini yang mempunyai keberanian yang tak
dipunyai oleh yang lain. Sekiranya Abu Bakr masih hidup niscaya ia
tak akan menyerahkan pimpinan itu kepada yang lain. Hanya Umar
yang kemudian menyerahkannya kepada Abu Ubaid karena ia orang
yang pertama mencalonkan diri dan karena dari Banu Saqif di Hijalz;"
sedang Musanna dari Banu Bakr bin Wa'il. Marahkah Musanna karenanya
atau terluka perasaannya karena Umar telah meninggalkan pesan
Abu Bakr mengenai dirinya? Tidak! Pikirannya lebih tinggi daripada
sekadar memikirkan hal-hal serupa itu. Orang-orang Hijaz memang
sangat fanatik terhadap orang-orang sedaerahnya, maka lalu Abu Ubaid
yang diberangkatkan ke Irak dan dia sendiri berada di bawah pimpinannya.
Bersama dialah Abu Ubaid mendapat kemenangan di Namariq,
dan sesudah dia dan anak buahnya terbunuh dalam pertempuran di
jembatan, dia pula yang mengambil alih memegang bendera dan menarik
pasukannya ke Ullais, sambil menunggu datangnya bala bantuan,
dan dalam Perang Buwaib dia memimpin pertempuran begitu piawai,
yang mengingatkan orang pada peranan Khalid bin Walid dalam menghadapi
pertempuran-pertempuran besarnya.
Umar mengangkat Abu Ubaid menjadi atasan Musanna merupakan
salah satu langkah pertamanya yang sudah diputuskan oleh Amirulmukminin
dalam menyusun sistem kepangkatan di kalangan Muslimin.
Kiranya Umar dapat dimaafkan dengan langkahnya itu mengingat Abu
Ubaid adalah orang pertama yang maju mencalonkan diri sementara
yang lain masih menolak. Tetapi kenyataanhya langkah itu memang
sesuai dengan pemikiran Umar. Bukti untuk itu terjadi pada Jarir bin
Abdullah al-Bajili yang berangkat setelah Pertempuran Jembatan sebagai
bala bantuan kepada MusanAa. Setelah diketahui ia berada tak
jauh dari posisinya, ditulisnya surat agar ia datang menghadapnya
sebab ia dikirim sebagai bala bantuan kepadanya. Tetapi Jarir membalas:
"Saya tidak akan melakukan itu kecuali kalau ada perintah dari
Amirulmukminin. Anda komandan dan saya juga komandan." Musanna
rnenulis surat kepada Umar mengadukan hal Jarir itu. Tetapi Amirulmukminin
menjawab: "Saya tidak akan menempatkan Anda di atas
salah seorang sahabat Muhammad Sallallahu 'alaihi wa sallam."
Ketika Umar memberangkatkan Sa'd bin Abi Waqqas ke Irak, ia
rnenulis kepada Musanna dan kepada Jarir bahwa Sa'd-lah yang
menjadi atasan mereka berdua. Soalnya karena Sa'd termasuk salah
seorang yang mula-mula dalam Islam, dan Umar melihat orang yang
mula-mula dalam Islam itu merupakan kelas yang harus lebih
diutamakan daripada kelas-kelas Muslimin yang lain.
Musanna tidak marah karena yang diangkat itu orang Iain, bukan
dia; karena dia memang sudah b'enar-be"har beriman, di samping sebagai
seorang prajurit sejati yang menjunjung tinggi arti disiplin. Dia sangat
menaatinya, dan ia menempatkan disiplin dan iman di atas segala
kepentingan pribatii dan keinginannya. Tetapi, kendati dia sudah dipisahkan
dari kepemimpinan militer, orang tak dapat menutup mata dari
jasanya. Apa yang sudah dicatat dalam lembaran sejarah, tak akan
dapat dihapifs. Kalau Khalid bin Walid adalah jenius perang dan
Saifullah, maka Musanna bin Harisah adalah orang pertama yang membebaskan Irak. 
Dialah jenderal yang berpengalaman, yang telah
memikul beban berat dalam situasi pasukan Muslimih yang paling kritis
dan berbahaya. Dialah tokoh bijaksana yang telah mempersatukan
masyarakat Arab penduduk Irak, padahal mereka berlainan agama.
Maka dengan tindakannya itu ia telah berhasil menghantam pasukan
Persia di Buwaib, sehingga mereka tak berkutik lagi dan sejak itu tak
pernah lagi memperoleh kemenangan. Dan yang lebih membanggakan lagi, Musanna menyelesaikan
semua itu dalam waktu yang begitu singkat. Abu Ubaid mencapai
perbatasan Irak pada permulaan musim rontok tahun 634 M., mendapat
kemenangan di Namariq bulan Oktober tahun itu juga dan terbunuh
dalam pertempuran di jembatan sekitar akhir-akhir bulan itu. Maka
kemudian Musanna yang mengambil alih pimpinan dan ia mendapat
kemenangan di Ullais disusul kemenangannya yang telak di Buwaib
bulan November. Sekiranya sesudah perang di Buwaib ia mendapat
bala bantuan, tentu ia akan memasuki Mada'in dan akan menaklukkannya
sebelum akhir tahun itu. Tetapi bala bantuan itu terlambat, dan
maut pun mendahuluinya. Dia meninggal, sementara kemenangan yang
akan menjadi mahkota kebanggaannya sepanjang masa sudah di ambang
pintu. Sekarang selamat jalan wahai panglima piawai, dalam lindungan
Allah! Kini kami akan meninggalkan medan lagamu yang telah mendengungkan
dengan bahana kemenanganmu itu. Kami akan menengok
Syam, mendampingi sahabatmu Khalid bin Walid! Hendaklah orang
semua ingat tahun demi tahun, bahwa Musanna bin Harisah asy-
Syaibani seorang pelopor dalam merambah jalan Kedaulatan Islam, di
samping selaku pendirinya yang bijak dan kukuh. Dalam pembinaan itu
orang tidak akan menutup mata dari jasanya yang besar, bahwa dia
bukan orang Kuraisy, juga bukan dari sahabat Rasulullah. Tak pernah
lagi ia memegang pimpinan militer sesudah Khalid. Ia memegang pimpinan
militer itu dalam Perang Buwaib, yang dalam hal ini keberaniannya
sebanding dengan Khalid, atau barangkali lebih lapang dada dan
lebih bijaksana dari Khalid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar