Jumat, 16 Maret 2012

PEMBEBASAN DAMSYIK DAN PEMBERSIHAN YORDANIA

PEMBEBASAN DAMSYIK DAN PEMBERSIHAN YORDANIA
Barangkali kita masih ingat bahwa tatkala Abu Bakr bermaksud
membebaskan Syam, ia meminta bantuan semua orang Arab dengan
mengerahkan empat brigade ke sana. Yang pertama di bawah
pimpinan Abu Ubaidah bin al-Jarrah, yang kedua di bawah Ikrimah bin
Abi Jahl, yang ketiga di bawah Yazid bin Abi Sufyan dan yang keempat
di bawah Amr bin al-As. Setiap brigade dikhususkan untuk
menyerang satu daerah di Syam. Kalau berkumpul, maka sebagai panglimanya
atas mereka semua adalah Abu Ubaidah. Semua pasukan ini
sudah menghadapi perlawanan dan kekuatan pihak Rumawi, sehingga
memaksa mereka bersepakat akan berkumpul di tepi Sungai Yarmuk.
Mereka tidak diberi kesempatan maju oleh pasukan Heraklius, tetapi
berhenti hanya sampai di seberang pantai. Merasa kesal melihat pasukannya
yang dingin, tidak bergerak, Abu Bakr menulis surat kepada
Khalid bin Walid di Irak agar berangkat ke Syam memimpin semua
pasukan itu. Sesampainya di Syam, ia tinggal selama sebulan lagi di
pantai Yarmuk tanpa berhadapan dengan pasukan Rumawi. Sesudah
Abu Bakr wafat dan Umar naik sebagai Amirulmukminin keadaan tetap
dingin. Langkah pertama yang dilakukannya dalam pemerintahannya ia
mengutus Mahmiyat bin Zanim dan Syaddad bin Aus mengantarkan
surat kepada Abu Ubaidah mengenai pemecatan Khalid dari pimpinan
angkatan bersenjata dan menyerahkannya kepada Abu Ubaidah seperti
sebelum keberangkatannya dari Irak ke Syam.


Khalid dipecat dari pimpinan militer
Sementara Mahmiyat bin Zanim dan Syaddad bin Aus sedang
dalam perjalanan ke Syam membawa surat Umar mengenai pemecatan
Khalid, Khalid sendiri sedang mengatur strategi untuk menghadapi dan
menghancurkan pasukan Rumawi. Dia sudah tahu bahwa pihak Rumawi
sedang bersiap-siap hendak menghadapinya. Maka disusunnya
pasukannya ke dalam beberapa "batalion"1 seperti yang biasa dilakukan
orang Arab sebelum itu, sebab yang terlihat tak ada yang lebih besar
dari itu. Keesokan harinya ia bergerak dan bertemu dengan pasukan
Rumawi. Pasukan Rumawi dapat dihancurkan dan segala impiannya
ingin bertahan terus di Syam berakhir sudah.2
Ada pula sumber yang menyebutkan bahwa kedua utusan Umar
yang membawa surat tentang pemecatan Khalid itu sampai di Syam
pagi hari ketika sedang terjadi pertempuran yang menentukan itu, dan
mereka menyampaikan surat Amirulmukminin itu kepada Abu Ubaidah
tanpa mengumumkan isinya sebelum pertempuran selesai. Sesudah jelas
kemenangan ada di pihak pasukan Muslimin Khalid diberi tahu dan disiarkan
kepada semua pasukan. Barulah ia memegang pimpinan menggantikan
posisi Khalid. Sumber-sumber lain menyebutkan bahwa selepas
pertempuran pun Abu Ubaidah tidak mengumumkan isi itu. Ia berangkat
ke Damsyik di bawah pimpinan Khalid. Baru setelah selesai semua
dan diadakan perdamaian dengan yang bersangkutan, surat Amirulmukminin
tersebut diumumkan. Ada juga beberapa sumber yang tidak
sama dalam melangsir peristiwa-peristiwa ini, dengan menyebutkan
bahwa Umar memerintahkan pemecatan Khalid dari segala jabatan
dalam militer serta diadilinya ia mengenai hal-hal yang dialamatkan
kepadanya dan dimintai pertanggungjawabannya.
pendapat kami dalam Abu Bakr as-Siddiq bab ke-14, yakni mengenai pembebasan Syam
Yang lebih dapat diterima menurut hemat saya, begitu Abu Ubaidah
menerima berita ia tidak segera mengumumkan pemecatan Khalid, baik
waktu pagi sedang dalam pertempuran di Yarmuk atau sesudah Khalid
mendapat kemenangan. Ia merahasiakan berita itu selama beberapa hari
sementara ia sedang mencari jalan apa yang harus dilakukannya dan
bagaimana cara mengumumkan. Dalam pada itu orang sudah tahu
bahwa Abu Bakr sudah wafat dan Umar yang kini menggantikan
kedudukannya. Mereka saling berbeda pendapat, ada yang tidak senang
dengan kepemimpinan Umar, ada juga yang dari kalangan Medinah
sendiri. Setelah itu mereka tenang kembali dan menerima kenyataan,
setelah diketahui bahwa hal itu sesuai dengan pesan Abu Bakr. Khalid
memang sudah memperkirakan bahwa Umar tidak senang ia menjadi
panglima pasukan di Syam, dan dia pasti dipecat. Hal ini dikatakannya
kepada stafnya yang terdekat, atau barangkali juga kepada Abu
Ubaidah sendiri. Saat itulah ia diberi tahu oleh Abu Ubaidah. Tetapi
dia tidak marah. Bahwa pimpinan angkatan perang itu akan dipegang
oleh Abu Ubaidah diterimanya dengan patuh. Begitu juga dulu, Abu
Ubaidah dengan patuh menerima penunjukan Abu Bakr agar ia berada
di bawah pimpinan Khalid ketika Abu Bakr memerintahkan Khalid
berangkat dari Irak ke Syam.1 Orang pun tidak marah kepada Umar
serta tindakannya memecat Khalid, karena mereka sudah tahu tentang
1 Beberapa sumber menyebutkan bahwa ketika surat pemecatan Khalid diterima oleh
Abu Ubaidah mereka sedang mengepung Damsyik, dan merahasiakannya dari Khalid
sampai sekitar dua hari setelah Damsyik direbutnya. Dalam al-Bidayah wan-Nihayah
Ibn Kasir menyebutkan, bahwa ketika berita pemecatan oleh Umar disampaikan kepada
Khalid, ia berkata kepada Abu Ubaidah: "Semoga Allah memberi rahmat kepada Anda.
Mengapa Anda tidak menyampaikannya kepada saya waktu berita itu Anda terima?"
Abu Ubaidah menjawab: "Saya tidak ingin mengganggu Anda yang sedang berperang.
Saya tidak mengharapkan kekuasaan, dan saya bekerja bukan untuk dunia. Saya tidak
melihat akan hilang atau akan terputus, tetapi kita bersaudara. Apa salahnya orang
digantikan oleh saudaranya sendiri, dalam agama dan dalam dunianya." Jawaban Abu
Ubaidah ini mengingatkan kita kepada surat Khalid kepadanya tatkala Abu Bakr
memerintahkannya memimpin pasukan Muslimin ke Syam menggantikan Abu Ubaidah.
Dalam suratnya itu Khalid menulis: "Saya menerima surat dari Khalifah Rasulullah
memerintahkan saya berangkat ke Syam, mengawasi dan memimpin pasukan di sana. Itu
bukan atas permintaan saya, bukan keinginan saya, juga saya tidak menulis surat
kepadanya untuk itu. Semoga Allah memberi rahmat kepada Anda dalam keadaan Anda
sekarang ini. Orang tidak akan melanggar perintah Anda, tidak akan menentang
pendapat Anda dan tidak akan memutuskan sesuatu tanpa Anda. Anda salah seorang
pemimpin Muslimin. Tak ada orang yang akan mengingkari jasa Anda dan kita masih
selalu memerlukan pendapat Anda. Semoga Allah merampungkan tugas kebaikan kita
posisi kedua orang itu sejak terjadinya peristiwa Malik bin Nuwairah
dulu. Demikianlah perombakan dalam pimpinan militer itu selesai sesudah
pertempuran yang dimenangkan oleh Khalid secara gemilang. Tidak
ada pengaruh apa pun dalam kesatuan umat Islam dan pasukannya yang
mungkin akan membawa akibat yang patut dikhawatirkan.
Inilah yang lebih dapat saya terima, yang saya simpulkan dari pelbagai
sumber. Abu Ubaidah sudah menulis surat kepada Umar memberitahukan
kemenangan di Yarmuk dalam menghadapi pasjukan Rumawi,
dengan mengirimkan seperlima hasil rampasan perang, dan menyebutkan
bahwa dia telah mengangkat Basyir bin Sa'd bin Ubai al-Himyari
untuk Yarmuk, dan dia sendiri berangkat ke Marj as-Suffar hendak
mengejar sisa-sisa tentara musuh yang kalah yang masih berserakan
dan berkumpul di Fihl (Pella). Dia mendapat berita bahwa Heraklius
dari Hims tempat kediamannya mengirimkan bala bantuan angkatan
perangnya ke Damsyik. Tidak tahu dia, akan memulai dengan Damsyik
atau dengan Fihl di Yordania.
Begitu menerima dan membaca surat Abu Ubaidah, Umar segera
membalasnya: "Mulailah dengan Damsyik dan perjuangkanlah, karena
kota ini benteng Syam dan jantung kerajaannya. Alihkanlah perhatian
Fihl dari Anda dengan pasukan berkuda di hadapan mereka. Jika Allah
memberi kemenangan sebelum Damsyik, itulah yang kita harapkan,
kalau kemenangan di sana tertunda sampai Allah memberi kemenangan
di Damsyik, biarlah yang merebut Damsyik turun ke sana. Anda sendiri
serta para perwira meneruskan perjalanan hingga dapat menyerang Fihl.
Jika Allah memberi kemenangan kepada kalian, berangkatlah bersama
Khalid ke Hims (Emessa atau Horns) dan tempatkanlah Syurahbil dan
Amr di Yordan dan Palestina." Begitu surat Umar diterima, Abu Ubaidah mengirim sepuluh perwira
ke Fihl dipimpin oleh Abu al-A'war as-Sulami. Dia sendiri dan
Khalid bin Walid dengan kekuatan pasukan yang besar berangkat menuju
Damsyik. Pihak Rumawi yang berlindung di Fihl — sementara pengaruh
Yarmuk serta bekas ketakutan yang masih membayang di wajah
mereka, terasa sekali mencekam — melihat pasukan Muslimin sedang
menuju ke daerah mereka, cepat-cepat mereka melepaskan air danau
Tabariah (Tiberias) dan Sungai Yordania ke tanah sekitarnya. Dengan
semua sebagai suatu nikmat, dan Allah melimpahkan kasih-Nya kepada kita dan kita
dijauhi dari azab neraka." Sudah tentu kerja sama dan saling pengentian antara para
panglima Muslimin ini merupakan faktor yang paling penting dalam memberikan
kemenangan. tanah yang menjadi lumpur tak akan mungkin dapat dilalui pihak lawan.
Pasukan Muslimin marah atas perbuatan musuhnya itu, terkepung
berhenti di hadapan mereka, tak dapat maju di daratan berlumpur.
Sementara mereka masih dalam keadaan demikian, saudara-saudara
mereka sudah berhasil membebaskan Damsyik. Dengan demikian mereka
dapat memberikan bala bantuan kepada mereka dengan kekuatan pasukan.
Pasukan Muslimin sekarang bertambah kuat dan tambah berani
pada masa Khalifah pertama itu. Sumber-sumber yang saling bertentangan itu membantah
urutan peristiwa-peristiwa itu sehingga ada sebagian yang menyebutkan bahwa
Yarmuk merupakan perang terakhir di Syam. Begitu juga halnya dengan pemecatan
Khalid, adakah ia dipecat dari pimpinan angkatan bersenjata dengan tetap sebagai
panglima pasukannya dan pasukan Abu Ubaidah, ataukah dari seluruh jabatannya dalam
angkatan bersenjata? Seperti dalam Abu Bakr as-Siddiq di sini kami akan mengacu pada
sumber at-Tabari dan mereka yang sependapat dengan dia. Menurut hemat kami ini
lebih mendekati kenyataan. Kalau perlu kami akan mengambil juga sumber al-Balazuri
dan yang Iain, yang bertentangan dengan at-Tabari yang kami sebutkan di atas.
1 Karadis jamak kurdus dalam istilah sekarang kira-kira sama dengan "batalion"
mengingat jumlahnya tiap kurdus kurang lebih sama dengan satu batalion. — Pnj.
2 Pertempuran ini dengan terinci sekali sudah kami uraikan dalam Abu Bakr as-Siddiq.

Perjalanan Abu Ubaidah dan Khalid ke Damsyik
Tidak heran pasukan Muslimin dapat membebaskan Damsyik
dengan benteng-bentengnya yang begitu kukuh, ditambah pula dengan
pasukan Rumawi yang begitu besar dikirimkan oleh Heraklius. Dulu
ketika Allah memberikan kemenangan kepada pasukan Muslimin di
Yarmuk, mereka berjalan di tanah dengan air yang sedang mengalir.
Tetapi kesuburan dan lahan perkebunan yang ada tidak melebihi
tempat-tempat subur yang ada di Medinah dan sekitarnya. Godaannya
pun tidak sebesar Delta di Irak. Tatkala mereka dalam perjalanan dari
Waqusah di Yarmuk ke Damsyik mereka melihat keindahan yang begitu
memukau. Mereka melihat tanah-tanah Balqa' di selatan dengan lapangan
rumput hijau yang membentang luas sejauh mata memandang,
di sebelah utara terlihat tanah rumput gembala di dataran Golan, suatu
pemandangan yang sungguh indah dan subur. Mereka juga melihat
lahan-lahan pertanian gandum dan jawawut sela-menyela di antara
padang rumput gembala itu, diselang-seling oleh pelbagai macam pepohonan,
ada yang berbuah ada pula yang tidak, ada yang semerbak
menyebarkan harumnya ke lingkungan sekitar. Sungai-sungai kecil dan
kolam-kolam tempat penampungan air mengalir jernih, kadang berkilauan
di permukaannya, kadang meluap serentak, mengairi perkebunan, pepohonan
dan taman-taman yang indah, turun perlahan-lahan dari bukitbukit
yang lereng-lerengnya ditutupi hamparan hijau, atau ditumbuhi
pohon-pohon yang menjulang tinggi. Dataran-dataran tinggi itu tampak
jelas seperti bukit barisan di tengah-tengah wadi yang kadang membentang
panjang dan kadang bergelombang naik turun. Keadaan yang
memanjang atau bergelombang itu diselimuti oleh hamparan bungabunga
yang semerbak dan sedap dipandang mata. Ditambah lagi dengan
gadis-gadis "kuning,"1 seperti dalam ungkapan bahasa Arab lingkungan alam ini yang begitu indah, 
meliuk-liuk di atas dataran tinggi dan di antara lembah-lembah itu, pandangan terpadu dengan
bentukbentuktubuh yang langsing dan pipi mereka yang halus kemerahmerahan,

menandakan sehat dan segar berisi. Mereka diciptakan oleh
Maha Pencipta dalam bentuknya yang paling indah. Mereka itu para
malaikat penghuni surga ini, yang sekarang sedang ditapaki orangorang
Arab di jalan menuju ibu kota yang kukuh itu. Di sana sini
berdiri kota-kota yang dibangun oleh pihak Rumawi dan dibangun pula
pentas-pentas dan arena-arena tempat pertunjukan serta bangunanbangunan
gereja. Semua itu merupakan bangunan yang kebesaran dan
keindahannya sangat memukau. Di sebelah sana, di perbatasan agak ke
utara tampak gunung-gunung yang menjulang tinggi, yang puncaknya
bermahkotakan salju, memperlihatkan keagungan, berwibawa seperti
orang tua yang sudah tampak putih rambutnya. Pesona apa ini yang
sampai begitu memukau, begitu gemilang! Adakah dorongan lain yang
lebih kuat selain iman sehingga untuk itu mereka mau terjun mempertaruhkan
segalanya! Dan bagi pasukan Muslimin kekuatan iman
kepada Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih besar! Semua pesona itu
telah menambah kekuatan iman dalam hati mereka, mendorong mereka
cepat-cepat menuju ibu kota Syam, yang memang sangat mereka
dambakan hendak menerobos benteng-bentengnya masuk ke pusat kota.
Bahkan nama Damsyik itu sendiri memperbesar keinginan mereka
hendak cepat-cepat membuat penyelesaian. Betapa memesonakan yang
pernah mereka dengar dari saudara-saudara dan nenek moyang mereka
dulu, yang dalam musim panas mengadakan perjalanan ke Syam!
Betapa pula pembicaraan mereka tentang sejarahnya, orang-orang setanah
air yang beragama Nasrahi, yang datang berziarah ke Baitulmukadas
(Yerusalem). Kemudian mereka pergi ke tempat bersemayamnya
raja di Syam, merasakan nikmatnya peradaban di sana, membeli
barang-barang hadiah yang tak ada taranya di kota suci di Palestina itu.
Orang-orang Nasrani menceritakan sejarah negeri itu kepada mereka.
Hasrat mereka ingin tahu makin besar, ingin menyaksikan dan menikmati
taman-tamannya yang harum, air yang mengalir di sela-sela
keteduhan yang rimbun serta buah-buahannya yang lezat, dengan segala
keindahannya sekarang, lebih-lebih di masa silam. Damsyik termasuk
salah satu kota tua di dunia kalaupun tidak akan dikatakan yang tertua.1
1 Dalam Lisanul 'Arab disebutkan bahwa nama kota Damsyik diambil dari nama
pendirinya, Dimsyaq bin Kan'an atau Damascus. Para sejarawan mengatakan — dengan 
Beberapa abad silam tempat ini menjadi pusat penyembahan yang besar
kaum pagan. Setelah datang agama Kristen, tempat ibadah pagan itu
dijadikan gereja untuk pengikut-pengikut Almasih. Keagungan dan keindahannya
tak ada yang dapat menandingi selain gereja Antakiah
(Antioch), tempat ibadah Kristen terbesar di Syam, di samping bangunan-
bangunan yang didirikan oleh kerajaan Rumawi, yang keagungan
dan kemegahannya melebihi semua yang dapat ditangkap mata orangorang
Arab dalam perjalanan mereka ke sana itu. Bagaimana pasukan
Muslimin tidak ingin secepatnya sampai ke sana! Apa lagi yang masih
menyangsikannya bahwa mereka harus menguasainya setelah mereka
dapat mengalahkan pasukan Rumawi di Yarmuk, dan puluhan ribu
prajurit habis terbantai di medan perang atau tersungkur hancur di
jurang Waqusah! Damsyik dikepung
Pasukan yang berjaya hampir tidak mendapat perlawanan yang
berarti. Dalam perang ini pihak Rumawi tak dapat berlindung seperti
pasukan Persia yang berlindung di sungai-sungai dan mengalirnya air
yang saling bersambung di Furat dan Tigris, sebab di Syam tak ada
sungai semacam itu. Juga di pihak Rumawi tak ada yang mau terjun
bertempur mati-matian seperti pasukan Persia, karena^bagi Persia Irak
besar sekali artinya, sedang Mada'in yang menjadi ibu kota para Kisra
terletak di pantai Sungai Furat, sungai yang terbesar. Kebalikannya
Syam yang merupakan wilayah kekuasaan Rumawi, ibu kotanya
Konstantinopel jauh dari Baitulmukadas dan dari Damsyik. Pihak yang
mempertahankan pun tak mempunyai semangat keagamaan yang
bersedia mati demi Baitulmukadas. Sebelum itu Persia sudah pernah
mengalahkan Rumawi dan menguasai Gereja Hari Kiamat1 dan Gereja
Buaian.2 Dalam menghadapi perubahan yang menimpa para penguasa
itu tidak ada yang menggerakkan hati penduduk negeri yang akan
mengorbankan nyawa membela rumah-rumah ibadah itu. Kalau Heraklius
sudah memukul mundur Persia dan merebut kembali Palestina,
kekuasaan para pejabatnya di sana rata-rata tidak lebih baik dan tidak
mengacu kepada Kitab Torat — bahwa Damsyik adalah sebuah kota besar pada masa
Nabi Ibrahim 'alaihis-salam, dan berada di bawah kekuasaan Mesir pada masa keluarga
yang kedelapan belas, dan namanya terukir di bukit "al-'Ammariyah" dengan nama
Dimasyqah.    lebih lunak daripada kekuasaan Persia. Oleh karena itu sandaran Heraklius
di negeri-negeri ini hanya kota-kota yang sudah diperkuat dengan
benteng-benteng, seperti Damsyik, Hims dan Antakiah (Antioch),
dengan mengandalkan pada benteng-benteng dan kuatnya pertahanan.
Pasukan Muslimin sudah sampai di al-Gutah,1 daerah subur selatan
Damsyik, dan mereka maju dengan semangat yang makin tinggi. Mata
mereka beradu pada dataran luas tempat berdirinya kota-kota penting
dan yang tertua, yang seolah sebidang tanah surga yang dibawa turun
oleh malaikat dari langit ke bumi: sungai-sungai yang mengalir, mata
air yang memancar deras, pohon-pohon yang rindang, kebun-kebun
anggur, tin, zaitun dan taman yang penuh bahagia. Di celah-celah
daerah yang rindang dan teduh itu menyelir hembusan yang membawa
keharuman yang segar, dengan rumah-rumah yang menjadi milik orangorang
kaya. Oleh Allah mereka telah diberi segala yang menyenangkan
di dunia ini, menggambarkan apa dan siapa mereka yang dulu ada di
tempat itu — tuan-tuan yang sudah menikmati segala kesenangan dan
dayang-dayang yang seperti bidadari. Mana pula keindahan yang begitu
memesona itu, kenikmatan yang begitu melimpah yang dulu dilihat
oleh orang-orang yang pernah menemani Khalid bin Walid ke Irak.
Ketika itu mereka sudah melihat pesona dan segala godaan yang luar
biasa! Kalau benar kata-kata Khalid di Irak dulu: "Tidakkah kalian lihat
makanan ini yang setinggi gunung? Demi Allah, kalau hanya untuk
mencari makan, dan bukan karena kewajiban kita berjuang demi Allah
dan mengajak orang kepada ajaran Allah, pasti kita gempur desa ini
sehingga hanya tinggal kita yang berkuasa di sini; dan orang-orang
yang enggan berjuang seperti yang kalian lakukan ini, akan kita biarkan
dalam kelaparan dan kekurangan." Kalau kata-kata ini layak untuk Irak
satu kali, maka apa yang ada di Damsyik dan daerah subur sekitarnya
itu lebih layak seribu kali. Apa yang mereka lihat di sini bukan makanan
yang setinggi gunung, tetapi yang di luar dugaan kebanyakan
mereka, makanan yang tak pernah terbayangkan dalam khayal, tak
pernah terlihat mata, tak terdengar telinga dan tak pernah terlintas
dalam pikiran.Pasukan Muslimin melihat rumah-rumah dan istana-istana di daerah
subur itu sudah-kosong dan sunyi. Yang terdengar hanya nyanyian 
burung-burung di taman-taman yang beraneka warna. Para penghuni
rumah dan istana itu sudah meninggalkan tempat-tempat mereka untuk
berlindung di pagar-pagar tembok kota yang kekar. Tentang kekukuhan
dan kekekaran pagar-pagar tembok Damsyik itu memang sudah menjadi
peribahasa. Dibangun dari batu-batu besar yang kuat, dengan ketinggian
lebih dari enam meter dan tebal lebih dari tiga meter. Benteng-bentengnya
pun dengan puncak-puncak yang tinggi dan kotak-kotak pengintai
yang tak sedikit jumlahnya, tempat berlindung para pemanah dan para
pemakai manjaniq1. Heraklius memang sudah makin memperkukuh
tempat itu sesudah ada serangan pihak Persia ke sana, dengan harapan
dapat menangkis setiap serangan kepada kerajaannya. Tembok-tembok
itu dilengkapi dengan pintu-pintu yang kuat dan tangguh dan dapat
ditutup rapat sehingga tak mungkin orang dapat masuk atau keluar. Di
sekeliling tembok dipasang pula parit-parit dengan lebar lebih dari tiga
meter, dialirkan ke dalamnya air Sungai Barada. Dengan demikian seluruh
Damsyik itu sudah merupakan sebuah benteng dengan menaramenara
di setiap penjuru. Tak mungkin ada penyerang yang dapat
menerobos kecuali sesudah diadakan pengepungan lama yang akan
membuat penghuninya menjadi lemah, kehilangan semangat dan memaksa
mereka menyerah.Abu Ubaidah sudah memperkirakan untuk menyerbu kota yang
kukuh ini memerlukan pengepungan yang cukup lama. Maka diperintahkannya
pasukannya membuka dan menempati gereja-gereja dan
rumah-rumah daerah subur sekitar Damsyik itu. Diperkirakannya juga
bahwa Heraklius sudah mengirim pasukan dari Hims atau Palestina
untuk mengepung kekuatannya yang di sekitar Damsyik di antara
benteng-benteng kota dengan kekuatan pasukan Rumawi. Abu Ubaidah
memerintahkan Zul-Kula' al-Himyari menempatkan markasnya di suatu
tempat antara Damsyik dengan Hims, sedang Alqamah bin Hakim dan
Masruq al-Akki diperintahkan bermarkas di antara Damsyik dengan
Palestina. Setelah merasa puas dengan strateginya itu para perwira dan
pasukannya diperintahkan maju untuk mengepung ibu kota, sebagai
persiapan untuk melancarkan serangan. la juga menunjukkan pintu
mana yang harus menjadi bagian mereka masing-masing. Dia sendiri
turun di Gerbang al-Jabiah, Amr bin As di Gerbang Tauma', Syurahbil
bin Hasanah di Gerbang al-Faradis dan Yazid bin Abi Sufyan diGerbang Kisan sedang 
Khalid bin Walid di Gerbang asy-Syarqi. Tak
jauh dari Gerbang itu ada sebuah biara bernama Biara Saliba, yang
oleh Khalid dijadikan tempat tinggalnya, dan kemudian disebut "Biara
Khalid." Pasukan Muslimin mulai menempatkan beberapa manjaniq dan
"tank-tank"1 di sekitar kota dan mulai menyerang benteng-benteng kota
itu. Tetapi benteng-benteng itu rupanya begitu kukuh sehingga dapat
bertahan dari peralatan Arab dan segala macamnya yang masih bersahaja
dan anggota-anggota pasukan yang digunakan pun belum begitu
terlatih untuk menghadapi cara-cara pengepungan demikian. Oleh karenanya,
setiap serangan mendapat perlawanan dan pengawal-pengawal
"tank" manjaniq dipukul mundur dengan panah dan tombak. Ketika itu
Nestas, gubernur kota itu dan Bahan panglima perangnya yakin sekali
bahwa Heraklius tidak akan membiarkan ibu kota kerajaannya di Syam
itu jatuh ke tangan musuh-musuhnya sementara ia tinggal tak jauh di
Hims dengan pasukannya yang sangat besar, dan orang-orang Arab itu
tidak akan bertahan lama dan akan melepaskan kepungannya pergi dari
sana seperti yang sudah pernah dilakukan musuh-musuh sebelumnya.
Keyakinan ini memperpanjang perlawanan mereka, dan pasukan Muslimin
tidak pula dapat menembus kota. Sebenarnya Heraklius tidak
menyalahi dugaan mereka. Dari Hims sudah dikirimnya beberapa
pasukan sebagai bala bantuan ke Damsyik. Tetapi dalam perjalanan
angkatan bersenjata ini dihadang oleh Zul-Kula' dan oleh pasukan
berkuda dari Yaman, maka terjadilah pertempuran sengit antara keduanya.
Pasukan Rumawi mundur kembali membawa kekalahan ke Hims.
Mengetahui hal ini Nestas dan Bahan merasa gelisah sejenak, tetapi
kemudian mereka kembali yakin akan kemampuan Damsyik untuk
mengadakan perlawanan. Tak lama lagi musim akan dingin sekali, dan
Arab anak-anak Sahara yang panas itu tidak akan tahan, dan akan
kembali pulang ke kota mereka.
Tetapi keyakinan mereka tidak mengurangi hasrat mereka mengirim
utusan kepada Heraklius meminta bala bantuan dipercepat,
khawatir pengepungan itu masih akan lama dan semangat mereka akan
lemah. Heraklius membalas bahwa ia akan mengirim bala bantuan dan menanamkan 
semangat kepada pasukannya agar tetap tabah mengadakan
perlawanan. Surat Heraklius itu membangkitkan semangat mereka
dan mereka akan tabah menghadapi dan mengadakan perlawanan terhadap
serangan pasukan Muslimin, kendati mereka tidak akan menanggung
risiko keluar dari pagar-pagar tembok kota untuk menghadapi
pihak yang telah mengalahkan dan menghancurkan pasukan Rumawi di
Yarmuk dulu. Perlawanan mereka cukup lama dan pasukan Muslimin
pun tidak kurang pula lamanya mengepung mereka: ada yang mengatakan
tujuh puluh hari, ada juga yang mengatakan empat bulan, yang lain
mengatakan enam bulan. Selama waktu itu pasukan Muslimin terus
memperketat pengepungannya. Sia-sia mereka menunggu datangnya
bala bantuan Kaisar yang begitu lama. Musim dingin pun berlalu dan
sekarang datang musim semi, pasukan Muslimin masih tidak beranjak
dari pengepungannya. Sebaliknya pihak Rumawi sudah merasa makin
lemah dan semangat mereka terasa makin dingin. Harapan mereka
sudah buyar akan memperoleh bala bantuan dari Kaisar dan mengusir
pasukan musuh. Mereka mulai berpikir hendak mengadakan pembicaraan
dan perdamaian dengan pihak Muslimin.

Penaklukan Damsyik dengan kekerasan atau dengan jaIan damai?
Pasukan Muslimin akhirnya memasuki kota dan mengadakan perdamaian
dengan mereka. Bagaimana mereka masuk? Dengan jalan
kekerasan? Atau pihak Damsyik membukakan pintu-pintu gerbang?
Siapa dari pihak Muslimin yang mengadakan perjanjian perdamaian,
dan dengan cara apa diadakan? Di sini sumber-sumber masih saling
berlawanan, malah masih kacau. Sumber yang lebih terkenal menyebutkan
bahwa Khalid bin Walid yang tinggal di Gerbang asy-Syarqi tidak
tidur dan tidak membuat orang tidur. la mempunyai mata-mata yang
tajam sehingga segala apa yang terjadi di Damsyik tak ada yang
terlewat. Suatu hari ia menerima laporan bahwa seorang panglima
tinggi di kota itu mendapat anak. Karena gembiranya ia mengadakan
pesta dan prajurit-prajurit pun ikut makan dan minum sehingga mereka
lupa akan tugas mereka. Khalid sudah pula menyiapkan tali-temali
dalam bentuk tangga dan laso1. Sesudah mulai larut malam. ia dan
pasukannya yang dibawanya dari Irak bangun. "Kalau kalian mendengar
suara kami bertakbir dari atas pagar-pagar tembok itu naiklah ke
1 Lasso, tali panjang penjerat yang dilemparkan untuk menangkap binatang atau
manusia. — Pnj.
tempat kami," katanya kepada mereka. la melangkah maju dengan
mengajak Qa'qa' bin Amr dan Maz'ur bin Adi dan yang semacamnya,
yang sangat pemberani. Mereka menyeberangi parit dengan menggunakan
kirbat-kirbat.1 Mereka melemparkan tali-temali itu ke kotak-kotak
pengintai di atas pagar-pagar tembok lalu naik dengan memanjat tangga
tali itu. Begitu mereka sudah memanjat dinding tali-tali sebagian ditarik
dan dilemparkan ke kotak-kotak pengintai berikutnya di dalam kota dan
mereka pun terjun. Khalid bersama beberapa orang lagi meluncur turun
dan mereka berhenti di depan pintu gerbang dan cepat-cepat berusaha
membukanya dengan pedang. Teman-temannya yang berada di atas
dinding kini makin banyak. Setelah mendengar anak buah Khalid bertakbir,
cepat-cepat mereka menyeberangi air itu dan memanjat talitemali
tangga menyusul teman-teman mereka di atas pagar tembok.
Pintu Gerbang Syarqi merupakan yang terkuat di Damsyik serta
paling banyak airnya dan jalan masuknya paling kukuh. Oleh karena itu
jumlah penjaganya tidak banyak. Khalid dan kawan-kawannya menyergap
dan membunuh mereka saat mereka sedang lengah. Kunci-kunci
pintu gerbang itu dibuka dengan pedang, dan yang tidak ikut naik memanjat
pagar tembok menyerbu masuk ke dalam kota sambil bertakbir.
Semua orang yang ada dalam ketakutan. Berita-berita sudah tersiar di
kalangan mereka bahwa pasukan Muslimin telah menyerbu Gerbang
Syarqi dan membunuh siapa saja yang mereka jumpai di tempat itu.
Ketika itu juga cepat-cepat mereka menyerbu ke gerbang-gerbang yang
lain. Sesudah berhasil dibuka, dan perdamaian diadakan dengan Abu
Ubaidah, mereka diberi jaminan keamanan, ia masuk dari Gerbang
Jabiah. Dia tidak tahu apa yang sudah dilakukan Khalid. Setelah
kemudian ia mengetahui ada pertumpahan darah, ia mengutus orang
kepada Khalid agar tindakan demikian itu dihentikan, dan bahwa dia
sudah mengadakan perjanjian perdamaian dan menjamin keamanan
mereka. Khalid membantah bahwa dia membuka gerbang kota itu
dengan paksa. Tetapi Abu Ubaidah adalah panglima pasukan, dan tak
ada jalan lain Khalid harus mematuhi perintahnya dan harus diadakan
perjanjian perdamaian dengan pihak didudukinya.
Demikian sumber-sumber yang paling terkenal mengenai pembebasan
Damsyik. Kendati peristiwa-peristiwa ini terasa aneh, namun
didukung oleh para sejarawan Arab dan kalangan orientalis — karena pahlawannya 
Khalid bin Walid. Andaikata yang menjadi pahlawan
bukan panglima jenius ini — yang banyak mendatangkan berbagai keajaiban
dalam perang — niscaya semua sejarawan akan mengenyampingkan
peristiwa itu. Bahkan untuk melaporkannya pun tak akan ada
yang berani. Siapa selain Khalid yang tidak tidur dan membuat orang
tidak tidur! Siapa selain dia yang mampu mengetahui segala rahasia
yang ada di balik pagar tembok kota Damsyik, sehingga ia tahu betul
bahwa ada seorang panglima tinggi mendapat anak dan dia mengundang
orang dan pengawal-pengawal ikut berpesta makan minum
sehingga melalaikan tugasnya? Dan siapa selain dia, yang sesudah
pengepungan yang berlangsung selama tujuh puluh hari itu, atau empat
bulan, atau enam bulan, yang berani menyeberangi parit bersama anak.
Perbedaan pendapat tentang perdamaian Damsyik
Gambaran ini saling mendukung kedua sumber itu, dan sumbersumber
yang berbeda tentang pembebasan Damsyik tidak lagi saling
bertentangan. Di antara sumber-sumber itu ada yang menyebutkan,
bahwa Uskup kota Damsyik beberapa kali berada di pagar berbicara
dengan Khalid bin Walid. Suatu hari ia berkata kepada Khalid: "Abu
Sulaiman, soal kalian sudah di ambang pintu, tetapi ada perjanjian saya
dengan Anda. Maka adakanlah perdamaian dengan saya mengenai kota
ini." Khalid setuju. Khalid meminta tinta dan kertas lalu menulis:
"Bismillahir-rahmanir-rahim. Inilah yang dibuat Khalid untuk penduduk
Damsyik bilamana ia sudah memasuki kota. Keamanan mereka
dijamin: jiwa mereka, harta benda, gereja-gereja dan pagar-pagar
tembok kota mereka. Tak boleh merusak atau menempati bangunanbangunan
mereka. Dalam hal ini mereka memperoleh janji Allah dan
jaminan Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam serta para khalifah dan
orang-orang beriman. Jangan sampai mereka mendapat gangguan bilamana
mereka sudah membayar jizyah." Sesudah menyebutkan tentang
surat ini oleh al-Balazuri ditambahkan, bahwa pada suatu malam Uskup
itu mengungkapkan kepada Khalid bahwa kota ini sekarang sedang
dalam hari raya dan penduduk sedang sibuk. Ia meminta disediakan
sebuah tangga, maka dibawakan dua buah tangga. Beberapa orang
pasukan Muslimin menaiki tangga itu ke atas pagar tembok, lalu turun
di sebuah gerbang yang hanya ada satu atau dua orang. Mereka saling
membantu dan gerbang dibuka saat matahari terbit. Dalam pada itu
Abu Ubaidah di bagian samping sudah. memasuki Gerbang Jabiah dengan
cara kekerasan. Uskup itu menunjukkan kepadanya surat Khalid.
Beberapa kalangan Muslimin mengatakan: "Pimpinan bukan di tangan
Khalid, ia tidak layak mengadakan perdamaian." Maka Abu Ubaidah
berkata: "Perlindungan yang sudah diberikan oleh salah seorang dari
Muslimin kepada mereka, tak dapat dibatalkan." 
Sumber lain menyebutkan bahwa setelah pengepungan berjalan
begitu lama dan keadaan makin terasa berat bagi penduduk Damsyik,
diam-diam mereka menghubungi pihak Muslimin untuk mengadakan
perdamaian. Pihak Muslimin bertahan agar diadakan bagi rata, yakni
segala yang ada di Damsyik separuh untuk mereka. Pihak Damsyik
maju-mundur untuk menerima tawaran ini. Karena garnisun kota itu tak
mampu mempertahankan diri dan melindungi penduduk, maka tak ada
jalan lain kecuali menyerah. Setelah mengirim utusan kepada Abu
Ubaidah dan ia menjamin keamanan kota, mereka membukakan pintupintu
gerbang itu. Abu Ubaidah bersama para perwira dan angkatan
bersenjatanya memasuki kota tanpa pertempuran.
Sebagian orientalis mengatakan bahwa untuk mempertahankan kota
Damsyik penanggung jawabnya sudah putus asa. Kota itu mereka
tinggalkan. Sekarang penduduknya yang mengambil keputusan untuk
menyerah dan mereka membukakan kota itu untuk pasukan Muslimin.
Sesudah memasuki kota dan keadaan sudah stabil, Abu Ubaidah mengadakan
persetujuan dengan mereka.
Demikian beberapa sumber yang beraneka macam mengenai pembebasan
Damsyik. Kalangan sejarawan sepakat — di samping adanya
perbedaan-perbedaan bahwa mereka memasuki kota secara damai,
bukan dengan kekerasan. Ini memperkuat apa yang sudah kita sebutkan
di atas, bahwa karena lamanya pengepungan dan mereka putus asa
menunggu bala bantuan dari Heraklius, pihak Damsyik lalu meminta
damai, dengan adanya perbedaan mengenai syarat-syaratnya. Karena
pasukan Muslimin bermaksud hendak menyerbu tembok-tembok kota,
pihak Damsyik segera membukakan pintu-pintu gerbang itu. Barangkali
ada di antara pintu-pintu yang kemudian dibuka dengan paksa. Kemudian
diadakan perundingan dan berakhir dengan perdamaian.
Sebelum menyinggung soal syarat-syarat perdamaian ini bersama
Abu Ubaidah, Khalid bin Walid dan rekan-rekannya, kita ingin melintasi
tembok-tembok Damsyik itu. Kita menengok sebentar bersama
mereka ke sela-sela kota yang padat ini, dengan sejarahnya yang
beraneka macam dan indah, dan selama dalam perjalanan ini melihatlihat
selayang pandang apa yang ada di dalamnya. Kita melihat selintas
karena hubungannya erat sekali dengan syarat-syarat perdamaian itu. Di
atas sudah saya singgung betapa indahnya jalan yang menuju ke
Damsyik dari Yarmuk dan tentang keindahan daerah subur sekitar kota
itu. Kotanya sendiri sebenarnya melebihi keindahan dan kemegahan
semua ini. Sejak dahulu kala kota ini merupakan tempat pertemuan
7. PEMBEBASAN DAMSYIK DAN YORDANIA 157
niaga timur dan barat. Oleh karenanya ia menjadi kota yang paling
padat penduduknya dan paling kaya, dibelah oleh sebuah jalan lurus
yang menghubungkan barat dengan timur, membentang dari Gerbang
Jabiah ke Gerbang Syarqi. Di kanan kirinya berdiri toko-toko, orang
Arab sendiri tak pernah melihat yang semacam itu di negerinya, juga di
Irak tak pernah mereka lihat. Di tengah-tengah kota itu mengalir Sungai
Barada dengan airnya yang mengalir deras dan jernih. Di sekitarnya
berdiri pula istana-istana yang megah dengan taman-taman beraneka
warna diselang-seling oleh air mancur yang mencuat tinggi. Alangkah
banyaknya di kota Damsyik gereja yang indah sekali, yang merupakan
bangunan-bangunan Rumawi dengan kemegahan yang beraneka rupa.
Jumlahnya lima belas buah, yang terbesar Gereja Santo Yohana
Pembastis (Saint John the Baptist). Pihak Rumawi membangun gereja
ini sebagai tempat pemujaan orang-orang pagan sebelum mereka
menganut agama Kristen. Sesudah menjadi penganut agama Kristen
tempat ini dijadikan pusat kebaktian mereka kepada Yesus dan ibunya
Perawan Maria. Di sekitar gereja-gereja, istana-istana dan toko-toko itu,
seperti sudah menjadi kebiasaan orang-orang dibangun pula gedunggedung
teater, tempat-tempat pemandian dan lapangan olahraga. Alangkah
hebatnya semua ini di mata orang-orang Arab yang lewat di tempat itu!
Mereka belum pernah menyaksikan kemegahan dan keagungan serupa
itu. Alangkah bedanya dengan yang pernah mereka lihat di San'a dan
di Hirah! Mana pula jika dibandingkan dengan Khawarnaq dan Sadir,1
dua istana an-Nu'man bin al-Munzir bin Ma'as-Sama'! Coba kita lihat,
syarat-syarat perdamaian apa yang ditetapkan dengan adanya kekayaan
yang begitu besar itu, keindahan yang begitu cemerlang?! Adakah
mereka lalu ditelanjangi dari semua itu dan tidak diberi bagian? Atau
membiarkan mereka mendapat bagian yang lebih kecil?!
Sumber-sumber itu tidak sama mengenai hal ini, seperti halnya
dengan pembebasan Damsyik. Menurut sumber al-Balazuri, perdamaian
itu berlangsung seperti yang terdapat dalam surat Khalid bin Walid
kepada Uskup Damsyik, seperti yang sudah kita kutip di atas, pihak
Muslimin hanya mendapat jizyah tanpa yang Iain-lain, yang dipungut
sebagai imbalan atas keamanan yang diberikan kepada penduduk kota,
meliputi jiwa, harta benda, bangunan-bangunan, gereja-gereja dan tembok-
tembok kota. Untuk memperkuat pendapatnya, Balazuri mengutip


buahnya dengan menggunakan beberapa kirbat, dan memanjati pagarpagar
tembok dengan tali dan dia sendiri turun ke dalam pagar itu
dengan mempertaruhkan diri ke dalam bahaya ketika fajar menyingsing?!
Tetapi di medan perang Khalid memang suatu mukjizat, suatu
keajaiban, seperti yang sudah kita lihat dalam Perang Riddah, dalam
pembebasan Irak dan dalam Pertempuran Yarmuk. Tidak heran jika ini
merupakan salah satu mukjizat yang telah memberikan keunggulan dan
kemenangan dalam setiap pertempuran yang dihadapinya, sehingga ada
kalangan sejarawan Arab dan orientalis yang mendukungnya.
Tetapi dukungan ini tidak bebas dari kritik dan kecaman orang.
Mereka mengutip sumber-sumber lain yang lebih wajar dalam hal seperti
peristiwa Damsyik ini. Misalnya, sumber-sumber yang menyebutkan
bahwa Abu Ubaidah dengan pasukannya menyerang Gerbang Jabiah
dan dibuka dengan kekerasan, sementara Khalid yang mengadakan
persetujuan damai dengan pihak kota di Gerbang Syarqi. Setelah kedua
panglima itu bertemu di dalam kota Damsyik perdamaian yang diadakan
oleh Khalid itu diterima oleh Abu Ubaidah dan diperlakukan
untuk seluruh kota. Sebenarnya sumber ini tidak berbeda dengan sumber
yang pertama, kecuali yang berkenaan dengan mukjizat-mukjizat
Khalid, seperti dia sudah mengetahui panglima Rumawi yang mengadakan
pesta dan pengaruhnya terhadap para pengawal, memanjat pagar
tembok dan tentang tali-temali. Andaikata soal mukjizat-mukjizat itu
tidak disebut-sebut, dan katanya Khalid yang membuka Gerbang Syarqi
dengan kekerasan dan Abu Ubaidah yang mengadakan persetujuan
dengan pihak Gerbang Jabiah lalu terjadi perdamaian di seluruh kota,
tentu kedua sumber itu tetap sejalan, artinya bahwa panglima-panglima
Muslimin mengetahui bahwa pengepungan itu melemahkan mereka
yang terkepung, lalu mereka sepakat menyerang semua gerbang kota.
Sesudah pihak Damsyik melihat serangan pasukan Muslimin, terjadi
perselisihan apa yang akan mereka perbuat. Lalu sebagian mereka pendapat 
Abu Abdullah al-Waqidi: "Yang saya baca dari surat Khalid
bin Walid tak terdapat pembagian sama rata mengenai rumah-rumah
dan gereja-gereja." al-Waqidi menambahkan, bahwa pasukan Muslimin
tinggal dan menetap di rumah-rumah di Damsyik itu karena pemiliknya
meninggalkan kota setelah diduduki. Mereka bergabung dengan Heraklius
ketika tinggal di Antakiah dan rumah-rumah tak bertuan itu ditempati
oleh pasukan Muslimin. Tetapi at-Tabari menyebutkan bahwa persetujuan Damsyik itu atas
dasar pembagian bersama mengenai dinar dan harta tak bergerak serta
jizyah satu dinar per kepala, Ibn Kasir menafsirkan pembagian bersama
harta dan barang tak bergerak itu karena sebagian kota dibebaskan
dengan kekerasan dan seharusnya menjadi milik Muslimin semua, dan
sebagian lagi yang dibebaskan dengan jalan damai harus dikenakan
jizyah saja. Oleh karena itu pasukan Muslimin mengambil separuh dari
gereja-gereja, rumah-rumah dan harta yang ada di kota atas dasar
dibebaskan dengan kekerasan, dan yang harus membayar jizyah atas
dasar dibebaskan dengan jalan damai. Mereka yang menentukan pembagian 
bersama mengenai gerejagereja, rumah-rumah dan harta benda itu menyebutkan bahwa pihak
Muslimin mengambil tujuh buah gereja dari empat belas gereja yang
ada di Damsyik, dan gereja besar, Gereja Santo Yohana Pembaptis
dibagi dua, separuh untuk kaum Nasrani untuk melaksanakan kebaktian
dan membaca Bibel, yang separuh lagi dijadikan mesjid untuk Muslimin
membaca Qur'an serta berzikir dan di bagian atasnya untuk menyerukan
azan. Pembagian ini berjalan selama lebih kurang tiga puluh tahun.
Dalam pada itu Mu'awiah bin Abi Sufyan menuntut, kemudian Abdul-
Malik juga menuntut agar sebagian dari gereja itu ditambahkan untuk
mesjid. Kendati untuk itu ditawarkan uang yang tidak sedikit, pihak
Gereja menolak dengan alasan mereka berpegang pada nas perjanjian
yang sudah disepakati bersama ketika pembebasan Damsyik. Setelah
naik Walid bin Abdul-Malik sebagai penguasa, diulanginya lagi permintaan
itu kepada pihak Nasrani seperti dulu, dan akan diberi ganti
rugi yang cukup besar jumlahnya. Tetapi seperti dulu juga, sekali ini
pun mereka tetap menolak. Kemudian mereka diancam bangunan itu
akan dirobohkan kalau tawaran itu ditolak. Setelah ditakut-takuti dengan
datangnya kemurkaan Allah mereka tidak juga merasa takut, maka
bagian itu dihancurkan dan dimasukkan ke bagian mesjid. Setelah yang
naik sebagai khalifah kemudian Umar bin Abdul-Aziz, pihak Nasrani
mengadukan perbuatan Walid terhadap Gereja mereka itu kepadanya.
Khalifah menulis surat kepada wakilnya dengan perintah agar Gereja
tersebut dikembalikan kepada mereka, seperti semula. Ulama fikih dan
penduduk Muslimin di Damsyik tidak senang dengan perintah Umar itu
dan mereka berkata: "Akan merobohkan mesjid kami setelah kami salat
dan azan di tempat itu dan dikembalikan menjadi gereja." Mereka
menawarkan kepada pihak Kristen akan memberikan gereja-gereja yang
ada di daerah subur sekitar Damsyik yang mereka ambil dengan
kekerasan dan jatuh ke tangan pasukan Muslimin, dengan syarat tidak
lagi menuntut Gereja Santo Yohana. Mereka setuju. Umar bin Abdul-
Aziz pun menyetujui.
Kalau persetujuan Damsyik bukan atas dasar pembagian bersama,
tentu sebagian Gereja Yohana tidak akan dijadikan mesjid, Mu'awiah
dan Abdul-Malik tidak akan menuntut memasukkan sisanya yang masih
di tangan kaum Nasrani ke dalam mesjid, tentu al-Walid tidak akan
merobohkan Gereja itu dan pihak Nasrani tidak akan mengadukan hal
itu kepada Umar bin Abdul-Aziz. Demikian dikatakan oleh mereka
yang berpendapat bahwa perjanjian Damsyik itu atas dasar pembagian
bersama, dan tidak terbatas hanya pada jizyah. Sebaliknya mereka yang
berbeda pendapat mengatakan, bahwa dalam persetujuan Khalid itu
Gereja Yohana tidak dibagi-bagi dan tidak ada gereja-gereja, rumahrumah
dan harta yang dibagi-bagi. Yang diputuskan dalam perjanjian
ini hanya jizyah. Mu'awiah bin Abi Sufyan dan Abdul-Malik bin
Marwan menuntut agar Gereja itu dijadikan mesjid baru sesudah
Damsyik menjadi ibu kota kedaulatan Islam dan sesudah jumlah kaum
Muslimin melebihi jumlah penduduk Kristen dan pemerintahan berada
di tangan Amirulmukminin. Kalaupun pihak Kristen menolak permintaan
mereka dan Gereja dibiarkan seperti apa adanya, itu menunjukkan
tentang adanya toleransi Islam serta menghormati perjanjian perdamaian
meskipun keadaan sudah berubah — Damsyik yang Rumawi
Kristen sudah menjadi Arab Islam. Maka sejalan dengan perubahan
itulah kemudian Walid bin Abdul-Malik bertindak seperti itu. Dengan
adanya perkembangan ini pihak Nasrani pada zaman Umar bin Abdul-
Aziz setuju Gereja tersebut dijadikan mesjid untuk kaum Muslimin,
dan mengambil kembali gereja-gereja di daerah subur Gutah di luar
tembok ibu kota. Kita lebih cenderung memperkuat pendapat yang terakhir ini.
Bagaimanapun inilah pendapat mayoritas, berurutan dan narasumbernya
juga terbanyak. membuka pintu-pintu gerbang itu dan yang sebagian lagi kemudian.
Lalu panglima yang berikutnya membuka gerbang itu dengan paksa.
Dengan demikian ada pasukan Muslimin yang masuk dengan cara
damai, dan ada pula yang menyerbu tanpa menemui perlawanan. Maka
terjadilah kemudian persetujuan damai untuk seluruh kota.
Kalangan sejarawan memang berbeda pendapat mengenai pembagian
bersama tersebut, tetapi semua mereka sepakat bahwa persetujuan
itu menentukan pengenaan jizyah kepada penduduk Damsyik sebagai
imbalan bagi hak-hak mereka, kebebasan beragama dan melindungi
kota dan harta mereka. Jumlah jizyah itu per kepala satu dinar, gandum,
minyak dan cuka dalam jumlah tertentu. Ini di luar pajak yang
biasa dibayar oleh penduduk Damsyik kepada penguasa Rumawi. Yang
demikian ini tetap berlaku, mereka akan membayarnya kepada siapa
saja yang memerintah, termasuk pemerintahan Muslimin.
Abu Ubaidah menyampaikan persetujuan perdamaian itu kepada
Umar bin Khattab. Umar kemudian menulis surat kepadanya agar diadakan
perubahan, jizyah harus dibedakan menurut tingkatnya. Kepada
yang kaya empat dinar per kepala dan yang di bawahnya empat puluh
dirham. Konon tingkatan itu disesuaikan menurut kadar kekayaannya,
ada yang kurang dari itu, ada yang menengah dan ada juga yang lebih
di bawah. Kemudian penghasilan Muslimin berupa gandum, minyak,
lemak dan madu ditentukan.
Itulah jumlah minimum sehubungan denga^ jizyah dalam persetujuan
Damsyik, dan demikian juga yang dikatakan mengenai pembagian
bersama. Atas dasar persetujuan yang adil sesudah pengepungan yang
memakan waktu lama itu, pasukan Muslimin sudah mantap di ibu kota
Syam itu dan pendudukan Heraklius pun berakhir, sedang warga yang
fanatik kepada Rumawi keluar. Politik Muslimin menjalankan administrasinya
sesuai dengan kebijakan yang digariskan oleh Abu Bakr
sebelumnya, ketika ia mengirim Khalid bin Walid untuk membebaskan
Irak: administrasi kota itu diserahkan kepada pihak Damsyik sendiri.
Pemerintahan itu dijalankan seperti yang digambarkan oleh Khalid
dalam kata-katanya kepada beberapa penduduk Irak: "Kalau kamu
orang-orang Arab apa yang membuat kamu memusuhi Arab, dan kalau
kamu orang-orang Persia apa yang membuat kamu membenci keadilan!"
Setelah keadaan pihak Muslimin di kota yang indah itu kembali
tenang, mulailah mereka memikirkan kewajiban mereka terhadap agama
dan tanah air.
Tentu wajar saja jika yang pertama-tama dipikirkannya mengenai
siapa pasukan Muslimin yang akan menggantikannya di Fihl di Yordania
itu, dan apa pula yang harus dilakukannya setelah mematahkan kekuatan
Rumawi di sana. Tetapi surat Umar supaya dia mengubah jumlah
minimum jizyah masih menyangkut beberapa masalah yang harus segera
dilaksanakan, di antaranya yang harus diprioritaskan, mengembalikan
kekuatan pasukan yang ditinggalkan Khalid bin Walid ke Irak, dengan
Khalid supaya tetap di Syam. Di antara pesan Abu Bakr kepada Umar
saat ia menggantikannya, katanya: "Jika Allah memberikan kemenangan,
dalam menghadapi penguasa-penguasa Syam tariklah kembali pasukan
Khalid ke Irak, karena mereka penduduk sana dan para penguasa di
sana. Mereka sudah terlatih dan berani menghadapi musuh."
Sekarang Allah telah membebaskan Damsyik di tangan Abu
Ubaidah. Di samping itu pasukan Muslimin di Irak dalam berperang
melawan pasukan Persia menghadapi pelbagai kesulitan. Mereka amat
memerlukan bala bantuan. Kekuatan yang dipisahkan dari Irak ke Syam
merupakan bala bantuan yang tidak dapat dipandang kecil. Di dalamnya
terdapat pahlawan-pahlawan tangguh yang telah menggoncangkan dan
digoncang perang, dan dalam setiap pertempuran yang dimasukinya
sahamnya tidak sedikit. Oleh karena itu Abu Ubaidah mengangkat
Hasyim bin Utbah untuk memimpin pasukan Irak didampingi oleh al-
Qa'qa' bin Amr dan yang semacamnya yang nekat dan berani, dan
menggantikan mereka yang sudah gugur di medan perang Syam dengan
pasukan yang jumlah dan kekuatannya seimbang dengan pasukan yang
datang dari Irak. Mereka semua berangkat ke markas Musanna di Zu
Qar yang berbatasan dengan daerah pedalaman di jalan padat yang
biasa dilalui kafilah untuk menghindari jalan yang penuh risiko yang
dulu pernah dilalui Khalid tatkala ia datang ke Syam untuk memberikan
pelajaran kepada Rumawi. Tak pernah terlintas dalam pikiran
Hasyim bin Utbah atau para perwiranya dan pasukannya selama dalam
perjalanan mengarungi Sahara itu, bahwa mereka maju ke Irak untuk
bersama-sama dengan pasukan Muslimin yang dipimpin oleh Sa'd bin
Abi Waqqas, Ialu menghadapi pertempuran sangat menentukan melawan
pasukan Persia yang membuka jalan ke Mada'in dan jantung
Persia: Pertempuran Kadisiah. Pertempuran Fihl dan kemenangan Muslimin
Kita tinggalkan mereka sekarang dalam perjalanan mereka itu. Kita
kembali menemani Abu Ubaidah di Syam, dan sebentar lagi kita akan
kembali menyaksikan mereka dalam pertempuran dahsyat yang melumatkan
pasukan Kisra, menggantikan kekuasaannya dan membuka
lembaran-lembaran baru yang amat cemerlang dalam sejarah.
Abu Ubaidah sudah merasa lega dengan adanya pasukan Muslimin
di Damsyik. Pikirannya sekarang tertuju pada siapa yang akan menggantikannya
dalam pasukan Muslimin di Fihl, Yordania. Sebagian perwiranya
sudah dipacu oleh semangat kemenangan. Mereka mengusulkan
untuk melanjutkan perjalanan dari Damsyik ke Hims. Selama
pengepungan Damsyik Heraklius tinggal di kota ini. Setelah dilihatnya
angkatan bersenjatanya tak mampu mencapai ibu kota Syam itu untuk
memberikan perlindungan, ia menyingkir dari Hims ke Antakiah. Jika
sekiranya Abu Ubaidah pergi ke Hims dan membebaskannya, niscaya
Heraklius akan menyingkir dari Antakiah ke Anatolia atau ke Konstantinopel.
Kalau ini yang dilakukannya semangat pasukannya di seluruh
Syam akan hancur. Mereka akan angkat tangan, tidak akan mengadakan
perlawanan dan tidak akan bertempur. Tetapi Abu Ubaidah menolak saran
itu. Ia tidak akan menerimanya sebab dalam perintahnya Umar
melarang ia maju mendahului sisa pasukan Rumawi yang ada di
belakangnya yang akan merupakan ancaman jika ia mundur atau akan
memotong barisan belakangnya. Pasukan Rumawi yang selamat dari
Pertempuran Yarmuk masih bertahan di Fihl sebelah selatan danau at-
Tabariah (Tiberias), kemudian Heraklius menopangnya dengan angkatan
bersenjata baru. Rasa takut angkatan bersenjata ini belum hilang
akibat kekalahan yang mereka alami di Yarmuk ketika Abul-A'war as-
Sulami berangkat dengan pasukannya hendak menghadapi mereka.
Karenanya mereka lalu melepaskan air danau dan sungai ke daratan
sekitar sehingga terjadi tanah lumpur, dan pasukan Muslimin tak dapat
maju. Tetapi pasukan Rumawi sendiri juga tak dapat maju, sehingga tak
ada gunanya bala bantuan Heraklius kepada mereka. Selama musim
dingin dan selama pengepungan kota Damsyik tanah itu tetap berlumpur,
dan pihak Rumawi pun terkepung di balik lumpur di Lembah
Baisan (Scythopolis). Sesudah Damsyik menyerah dan datang musim
panas, tanah pun sudah mulai kering, Abu Ubaidah menyerahkan
Damsyik ke tangan Yazid bin Abi Sufyan dengan kekuatan pasukan
berkuda Yaman yang dipimpinnya. Dia sendiri bersama Khalid bin
Walid dan angkatan bersenjatanya melangkah maju ke Fihl dan Lembah
Baisan. Tanah yang sudah mulai kering itu memungkinkan pasukannya
menghadapi pertempuran lagi.
pada sejarah beberapa peristiwa di Irak dan Syam. Dalam menentukan waktunya itu
secara cermat sukar sekali karena perbedaan yang ada di kalangan sejarawan sangat
jauh.
Ketika itu Abu Bakr sudah menyerahkan Yordania ke tangan
Syurahbil bin Hasanah, Hims kepada Abu Ubaidah, Balqa' kepada
Yazid bin Abi Sufyan dan Arabat kepada Amr bin al-As. Komando di
lapangan kepada pihak yang mengalami pertempuran di bawah pimpinannya.
Perintah ini oleh Umar tidak diubah. Dengan demikian komando
pasukan Muslimin yang berada di Fihl tetap di tangan Syurahbil, dan
yang sebagian masih tinggal di sana sebelum Damsyik dikepung di
bawah Abul-A'war as-Sulami, dan yang datang sesudah pengepungan
Damsyik di bawah Abu Ubaidah.
Syurahbil mengirim Abul-A'war dengan brigadenya ke Tabariah
(Tiberias) untuk mengadakan pengepungan, Khalid bin Walid memimpin
barisan depan, Abu Ubaidah dan Amr bin al-As masing-masing di
sayap kanan dan kiri sementara Dirar bin al-Azwar memimpin pasukan
berkuda. Angkatan bersenjata ini berangkat semua menyeberangi
Sungai Yarmuk di Umm Qais di dekat sebuah muara di Yordania, yang
selanjutnya menyeberangi Lembah Gor, kemudian bermarkas di Fihl,
berhadap-hadapan dengan pasukan Rumawi di Baisan. Tatkala sudah
tak dapat melampaui tanah berlumpur para komandan itu berunding.
Mereka melaporkan kepada Umar mengenai keadaan itu dan menunggu
jawabannya. Bahan makanan yang tinggal sedikit tidak membuat mereka
cepat-cepat berpindah tempat. Tanah subur yang mereka peroleh
lebih baik daripada yang diperoleh pasukan Rumawi, karena dengan
kesuburan yang ada di sekitar mereka memungkinkan mereka membuat
bahan-bahan makanan dan kehidupan mereka lebih makmur. Pasukan
Rumawi yang kini di depannya terdiri atas delapan puluh ribu orang
dengan nafsu besar ingin menghancurkan pihak yang telah mengalahkan
angkatan bersenjata mereka di Yarmuk dulu dan kemudian merebut
Damsyik. Sesudah pasukan Muslimin lama bertahan di Fihl, terbayang oleh
Siqlar bin Mikhraq,1 komandan angkatan bersenjata yang besar di
bawah Heraklius, lebih baik menyergap musuhnya itu dengan tiba-tiba
supaya dapat dihancurkan. Untuk itu pasukan perintisnya ditugaskan
mencarikan tempat untuk angkatan bersenjatanya di tanah sekitarnya.
Setelah malam tiba, ia bergerak dengan pasukan perintisnya. la sudah
yakin bahwa pasukan Muslimin sudah merasa aman, dan tidak dalam
keadaan siap tempur. Dengan demikian, begitu mendapat serangan pertama
barisan Muslimin akan kacau balau. Tetapi rupanya perhitungannya
meleset. Ternyata pasukan Muslimin sepenuhnya waspada terhadap
kemungkinan munculnya pasukan Rumawi. Malam mau tidur dan
bangun tidur Syurahbil selalu siap siaga. Sergapan Siqlar dan pasukannya
itu disambut dengan gempuran yang luar biasa hebatnya. Pihak
Rumawi pun nekat mati-matian bertempur. Pertempuran ini berlangsung
lama semalam suntuk dan bersambung ke hari berikutnya sampai
malamnya lagi. Peranan Khalid bin Walid dan Dirar bin Azwar waktu
itu mengingatkan pasukan Muslimin pada peperangan dan pertempuranpertempuran
sebelumnya. Sesudah gelap malam pasukan Rumawi tampak
kepayahan, barisannya centang perenang. Mereka berlarian dalam
kebingungan setelah melihat apa yang telah menimpa Siqlar dan para
perwiranya. Tak adakah tempat berlindung bagi angkatan bersenjata yang sudah
kalah ini dalam pelarian mereka atau rencana pertahanan yang akan
dapat menampung mereka? Tidak ada! Kekalahan dan kebingungan
mereka itu mengantarkan mereka ke dalam lumpur. Mereka tak dapat
berjalan lagi. Pasukan Muslimin terus mengejar mereka. Semula dikira
sengaja mereka demikian, tetapi ternyata mereka memang dalam
kekacauan dan kebingungan, tak dapat melangkah maju atau mundur,
juga tak dapat melarikan diri. Pasukan Muslimin menggempur mereka
dengan panah, sehingga mereka tersungkur, berjatuhan ke dalam
lumpur dan tidak sedikit dari mereka yang terbunuh. Dari delapan puluh
ribu itu tak ada yang lolos kecuali sisa-sisa yang terpencar-pencar.
Kemenangan yang diperoleh pasukan Muslimin sangat meyakinkan dan
cukup memuaskan. Rampasan perang yang mereka peroleh juga tidak
sedikit, yang kemudian dibagi-bagikan di antara mereka. Mereka
merasa puas bahwa Allah telah memberi kemenangan. Abu Ubaidah
menulis Iaporan kepada Amirulmukminin di Medinah memberitahukan
mengenai kemenangan itu, dan bahwa dia bersama Khalid bin Walid
sudah akan berangkat ke Hims.
Dengan pertolongan Allah itu iman pasukan Muslimin makin kuat
ketika mereka melihat bagaimana Allah menentukan sesuatu yang pada
mulanya tidak mereka sukai. Mereka tidak senang melihat tanah yang
berlumpur karena itu merintangi mereka untuk berhadapan dengan
musuh. Apa yang tidak mereka senangi ternyata meriolong mereka dan
membuat musuh yang terkepung akhirnya hancur berantakan. Bukankah
ini merupakan tanda kebesaran Allah dan suatu bukti bahwa Allah pasti menolong mereka
 dan mereka akan menggantikan kekuasaan Rumawi dan Persia? 
Perdamaian Tabariah sampai Busyra
Waktu pasukan Muslimin sudah selesai dengan Pertempuran Fihl,
Abul-A'war masih mengepung Tabariah. Syurahbil keluar dari Fihl
bersama Amr bin As dan pasukannya menuju Baisan (Scythopolis)
untuk mengadakan pengepungan. Tetapi pihak Baisan di setiap tempat
sudah memperkuat diri dan berusaha hendak membendung pasukan
Muslimin. Mereka melakukan itu karena sudah tahu bahwa Khalid bin
Walid dan Abu Ubaidah sudah kembali ke Damsyik dan akan mengadakan
perjalanan dengan pasukannya ke Hims, bahwa Abul-A'war
masih mengepung Tabariah dan bahwa kekuatan pasukan Muslimin
terbagi-bagi di beberapa tempat di Syam. Angkatan bersenjata yang
masih tinggal di sana untuk mengepung mereka bukan tidak bisa
dibendung. Tetapi perlawanan mereka tidak lama dan sebentar lagi
mereka akan terpaksa menyerah dan menerima perdamaian seperti
perdamaian Damsyik. Soalnya, secara moral keadaan mereka sudah
amat lemah karena nasib yang menimpa mereka di Yarmuk, kemudian
di Damsyik dan Fihl. Di samping itu penduduk Syam tidak begitu
memusuhi pasukan Muslimin dalam arti mau membantu pihak Rumawi
dalam mengadakan perlawanan. Pihak Rumawi memerintah mereka
dengan kekerasan dan tangan besi sehingga tak ada yang mau mendukungnya
atau mengharapkan tetap bertahan. Penduduk Syam sendiri
terdiri dari kabilah-kabilah Arab dan Nasrani. Sudah lama ikatan serumpun
dan ikatan seagama bersaing di antara mereka. Mereka orangorang
Arab, seperti kaum Muslimin, dan juga kaum Nasrani, seperti
orang-orang Rumawi. Sesudah melihat kelemahan Heraklius serta kepengecutan
istananya dan kekalahan perwira-perwiranya, sebagian
mereka berpihak kepada orang-orang Arab Muslim dan ditunjukkannya
kepada mereka titik-titik kelemahan Rumawi, di samping kemenangan
yang begitu berkilauan menyilaukan mata mereka dan membuat orang
begitu kagum kepada pemenangnya dan ikut bergabung kepadanya.
Pengalaman pihak Tabariah (Tiberias) juga sama dengan yang
dialami oleh pihak Baisan. Meminta kepada Abul-A'war untuk berdamai
dengan Syurahbil. Maka mereka pun dipertemukan dengan panglima itu lalu 
diadakan persetujuan perdamaian seperti yang dilakukan
dengan pihak Baisan menurut perdamaian Damsyik, yakni membagi
dua rumah-rumah di kota-kota dan sekitarnya dengan kaum Muslimin
dan yang separuh lagi buat mereka; membayar jizyah per tahun satu
dinar tiap kepala dan sejumlah tertentu hasil gandum menurut kadar
tertentu tanahnya. Demikian juga Azri'at (Dar'a atau Edrei), Amman,
Jarasy, Ma'ab (Moab) dan Busra (Bostra) mengikuti cara-cara di atas
dan mengadakan persetujuan perdamaian seperti dengan mereka dulu.
Demikian juga dengan Yordania, Hauran sampai ke pedalamannya. Dan
penguasa Muslimin yang membangun pasukan di kota-kota setuju
menyerahkan kepengurusan administrasinya kepada warga setempat,
dengan syarat administrasi itu harus dilaksanakan secara adil dan tidak
berat sebelah.



Menghadapi ancaman Perang Kadisiah
Sekarang apakah kita akan mengikuti Abu Ubaidah bin Jarrah dan
Khalid bin Walid dalam perjalanan ke Hims, ataukah mengikuti Hasyim
bin Utbah dan Qa'qa' bin Amr dan pasukan Irak untuk melihat bagaimana
ketentuan Allah yang berlaku terhadap Musanna dan anak buahnya
yang tinggal bersama dia, dan kita menyaksikan Kadisiah bersama
Sa'd bin Abi Waqqas? Dengan kata lain: Kita akan mengikuti angkatan
bersenjata Muslimin dalam membebaskan Syam hingga Allah memberi
kemenangan di seluruh Syam, atau akan berpindah ke Irak mengikuti
berita-beritanya sampai pembebasannya selesai? Ada ahli sejarah yang
berpihak pada yang pertama, yang sebagian lagi memilih yang kedua.
Dalam hal ini kita akan lebih cenderung mengikuti yang kedua dan kita
akan berpindah ke Irak, supaya kawasan Kedaulatan Islam berada di
bawah mata kita dan mengikutinya secara utuh. Kita akan melihat di
depan mata kita sendiri terkuak sedikit demi sedikit, ke timur dan ke
barat. Ini lebih tepat buat kita menilai perjuangan Muslimin yang mulamula
dulu dalam menghadapi dua raksasa sekaligus, Persia dan Rumawi,
juga lebih cocok untuk mengetahui politik Umar, untuk mengetahui
bagaimana ia menghadapi peristiwa-peristiwa besar yang datang bertubi-
tubi itu, bagaimana pula ia memik.ul beban pemerintahan di Medinah
dan di seluruh Semenanjung Arab untuk menambah ketenteraman
hidup bagi orang-orang Arab itu dan semangat. pembebasan yang telah
melimpahkan kekayaan Persia dan Rumawi kepada mereka, hal yang
tak pernah terlintas dalam pikiran mereka dalam zaman mana pun
sepanjang sejarah mereka.
Tetapi sebelum kita pindah ke Irak bersama Hasyim bin Utbah dan
kawan-kawannya, di sini kita perlu merenung sejenak, seperti yang kita
sebutkan dalam biografi Abu Bakr tentang adanya perbedaan kalangan
sejarawan sekitar urutan sejarah mengenai peristiwa-peristiwa pembebasan
di Syam. Kita sudah melihat segala peristiwa dalam bab itu
bahwa ketika Abu Bakr wafat pasukan Muslimin sedang berada di
Yarmuk, dan bahwa pasukan Muslimin mendapat kemenangan di
Yarmuk pada masa pemerintahan Umar, yakni ketika datang berita ke
Syam tentang meninggalnya Abu Bakr dan pemecatan Khalid bin Walid
dari pimpinan angkatan bersenjata serta penyerahannya kepada Abu
Ubaidah bin Jarrah, bahwa sesudah itu atas perintah Umar mereka
berangkat ke Damsyik, mengepungnya lalu membebaskannya. Kemudian
sesudah perdamaian Damsyik mereka kembali ke Yordania untuk
mengadakan pembersihan lalu mengadakan persetujuan dengan pihak
Yordan seperti yang dibuat dengan Damsyik. Ini menurut sumbersumber
at-Tabari, Ibn Khaldun, Ibn Asir, Ibn Kasir dan mereka yang
sejalan dengan pendapat ini. Tetapi Azdi, Waqidi dan Balazuri berbeda
pendapat dengan Tabari mengenai urutan peristiwa-peristiwa dalam
pembebasan Syam itu. Mereka mengatakan bahwa peristiwa-peristiwa
Ajnadain, Damsyik dan yang lain sebelum perang Yarmuk, dan yang
lain berpendapat bahwa perang Yarmuk adalah yang terakhir di Syam.
Memang sulit sekali kita mengambil keputusan yang tepat mengenai
adanya perbedaan-perbedaan ini. Tabari sendiri menyebutkan adanya
perbedaan ini dan ia tidak menentukan suatu pendapat. Misalnya ia
mengatakan: "Muhammad bin Ishaq berkata: Pembebasan Damsyik
tahun empat belas bulan Rajab. Pertempuran Fihl sebelum Damsyik,
tetapi mereka berada di Damsyik sebagai pasukan yang meninggalkan
komandannya di Fihl dan mereka dibuntuti oleh pasukan Muslimin,
kendati Pertempuran Fihl itu terjadi tahun tiga belas bulan Zulkaidah.
Sebaliknya Waqidi beranggapan bahwa pembebasan Damsyik tahun
empat belas dan beranggapan bahwa Pertempuran Yarmuk dalam tahun
lima belas dan bahwa Heraklius keluar dari Antakiah ke Konstantinopel
dalam bulan Syaban tahun itu, setelah Pertempuran Yarmuk,
dan bahwa sesudah itu dia tidak pernah mengalami suatu pertempuran
lagi.Rasanya tak perlu kita berlama-lama mengikuti perbedaan pendapat
ini selama memang tidak mudah untuk menentukan pendapat yang pasti. 
Dalam bab ini kita sudah berpegang pada sumber Tabari dan
mereka yang sependapat dengan dia. Sebaiknya ini kita teruskan,
selama hal ini tidak akan merusak apa yang kita inginkan mengenai
pencatatan sejarah Kedaulatan Islam itu pada masa pemerintahan Umar.
Pembebasan Damsyik itu baik terjadi sebelum Pertempuran Yarmuk
atau sesudahnya, terjadinya pembebasan secara umum disepakati,
kendati ada perbedaan mengenai tanggal dan beberapa uraiannya.
Sumber Tabari dari Saif bin Amr dan dari mereka yang mengutipnya,
bahwa Pertempuran Yarmuk terjadi dalam bulan Rajab tahun tiga belas
(September 634) dan Damsyik dikepung pada bulan Syawal tahun itu
juga, dan dapat dibebaskan pada permulaan tahun berikutnya (antara
Desember 634 dengan permulaan musim semi tahun 635), sementara
Pertempuran Fihl terjadi sesudah Damsyik pada musim panas tahun
635, kemudian menyusul kota-kota lain di Yordania.
Setelah Pertempuran Fihl itu Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid
berangkat ke Hims, sementara Hasyim bin Utbah kembali lagi ke Irak.
Kita tinggalkan Abu Ubaidah dan Khalid, dan kita berangkat bersama
pasukan Irak untuk menyaksikan perang Kadisiah, perang yang sangat
menentukan yang telah membukakan pintu ke Mada'in bagi pasukan
Muslimin, dan menurut semua ahli sejarah dianggap sebagai salah satu
perang yang paling sengit yang telah mengantarkan sejarah dunia ke
arah yang baru.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar