Jumat, 16 Maret 2012

MENDAMPINGI NABI


MENDAMPINGI NABI
Lalu an Nadr bin al-Haris datang menyusup menggantikan Muhammad pada
setiap majelis pertemuan untuk bercerita kepada Kuraisy tentang Persia
dan agamanya. Kemudian katanya: "Sungguh, cerita Muhammad tidak
akan lebih baik dari cerita saya. Apa yang diceritakannya hanya dongeng-
dongeng zaman dulu, hanya menyalin cerita seperti yang saya
lakukan ini." Mereka juga menyebarkan kabar bahwa ada seorang
budak Nasrani bernama Jabr yang mengajari Muhammad dengan segala
yang diajarkannya itu. Muhammad ketika itu sering duduk-duduk di
kedai budak itu di Marwah. Sekarang Kuraisy makin menjadi-jadi mengganggu Muhammad
dan sahabat-sahabatnya: Umm Jamil istri Abu Lahab memasang duri di
jalan yang akan dilalui Rasulullah; Umayyah bin Khalaf setiap melihatnya
mengeluarkan kata-kata kotor yang ditujukan kepadanya. Cobaan
yang dialami kaum duafa dengan segala macam cara kekerasan sudah
merupakan soal yang biasa terjadi di Mekah setiap hari. Rasulullah dan
kaum Muslimin yang tetap tinggal di Mekah dan tidak ikut hijrah ke
Abisinia menghadapi semua penderitaan yang menimpa mereka itu
dengan hati tabah dan sabar. Sesudah gangguan itu sampai di puncaknya
dan mereka diboikot oleh Kuraisy, mereka pergi berlindung ke
celah-celah gunung di luar kota Mekah. Di sana mereka benar-benar
menderita kekurangan. Makanan yang mereka peroleh hanya sedikit
sekali dibawa oleh penduduk yang masih merasa iba melihat keadaan
mereka. Kalau tidak karena itu mereka akan mati kelaparan. Mereka
tinggal di celah gunung itu selama tiga tahun terus-menerus, tak dapat
keluar selain pada bulan-bulan suci. Pada bulan-bulan itu Muhammad
turun menemui orang-orang Arab untuk menyampaikan tugas Tuhannya.
Di antara mereka yang melihat kesabaran dan ketabahannya serta
ketabahan sahabat-sahabatnya menelan segala penderitaan dengan penuh
iman kepada kebenaran yang diwahyukan Allah kepadanya itu, ada
yang lalu menjadi pengikutnya,
Tetapi dalam pada itu ada dua tokoh, Hisyam bin Amr dan Zuhair
bin Abi Umayyah yang tidak senang melihat piagam yang begitu kejam
berupa pemboikotan kepada Muhammad itu. Setelah mengadakan pertemuan
dengan beberapa tokoh, mereka sepakat mencabut piagam itu
dari dinding Ka'bah lalu merobeknya. Kuraisy tidak bereaksi atas perbuatan
mereka itu. Dengan demikian Muhammad dan sahabat-sahabatnya
keluar dari celah gunung. la tetap menyampaikan dakwahnya di
Mekah dan di kalangan kabilah-kabilah yang datang ke kota itu pada
bulan-bulan suci. Kuraisy makin keras menyerang Muhammad setiap
melihat Muhammad masih juga gigih menyampaikan dakwahnya.
Kemudian pamannya Abu Talib meninggal, disusul istrinya Khadijah.
Peristiwa ini makin mendorong Kuraisy melakukan penganiayaan
kepadanya. Ia mencoba mencari bantuan kabilah Saqif di Ta'if, tetapi ia
diusir dengan cara yang kejam. Pada musim-musim ziarah ia pun pergi
menawarkan diri kepada kabilah-kabilah di tempat-tempat mereka,
tetapi tak ada yang menyambutnya.
Sesudah itu terjadi peristiwa Isra, malah ada sekelompok Muslimin
yang lalu meninggalkan agamanya. Kuraisy makin gigih menyakiti
mereka yang masih tetap bertahan dalam Islam dengan harapan supaya
mereka juga keluar. Tetapi dakwah Muhammad yang sudah berjalan
bertahun-tahun dan sudah membekas, banyak di antara mereka yang
berpikir-pikir tentang dakwah itu dan tentang kebenaran yang dibawanya.
Bekas yang paling dalam pada penduduk Yasrib, melebihi penduduk
Arab lainnya. Sekelompok orang yang dulu sudah masuk Islam,
mereka itulah yang menjadi bibit Ikrar Aqabah Pertama. Dan ini pula
yang menyebabkan Rasulullah pertama kali berpikir tentang hijrah ke
Yasrib. Tahun berikutnya, ada tujuh puluh lima orang Muslim datang dari
Medinah — tujuh puluh tiga laki-laki dan dua perempuan. Mereka inilah
yang membaiat Ikrar Aqabah Kedua. Rasulullah menerima baiat
mereka bahwa mereka akan memberikan perlindungan kepadanya
sebagaimana perlindungan yang mereka berikan kepada istri dan anakanak
mereka. Sejak itu ia menganjurkan sahabat-sahabatnya di Mekah
agar menyusul kaum Ansar di Yasrib dengan jalan meninggalkan
Mekah secara terpencar-pencar supaya tidak membuat gempar Kuraisy.
Inilah pertama kali hijrah ke Medinah. Islam pun pindah ke sana, dan
dari sana pula Islam tersebar ke kawasan-kawasan lain di Semenanjung.

Peranan Umar di Mekah dan hijrahnya ke Medinah
Saat yang terjadi antara islamnya Umar dengan perintah Muhammad
kepada sahabat-sahabatnya agar menyusul Ansar ke Yasrib,
sudah tentu merupakan saat yang paling penting yang pernah dialami
oleh Rasulullah dan agama Allah ini. Adakah juga peranan Umar bin
Khattab yang sejalan dengan wataknya yang suka berterus terang dan
tegas, dengan rasa harga diri yang tinggi itu? Dalam buku-buku
biografi dan buku-buku sejarah tidak banyak yang kita peroleh mengenai
hal ini. Tetapi ini tidak berarti bahwa di masa mudanya, masa
sedang perkasa dan sedang kuat-kuatnya Umar memegang peranan
yang negatif dalam hal-hal yang dialami oleh Rasulullah dan kaum
Muslimin. Sudah tentu ketika itu ia termasuk Muslim yang paling tabah
dan sabar dalam menanggung penderitaan, dan yang paling keras
memberikan pembelaan sedapat yang dapat dilakukannya dalam menghadapi
gangguan kepada Rasulullah dan saudara-saudaranya kaum
Muslimin. Tetapi dia juga orang yang sangat meyakini ketertiban dan
berusaha sedapat mungkin menaati dan menjaganya. Yang demikian ini
sudah menjadi bawaannya sejak masa jahiliah, dan lebih-lebih lagi sesudah
dalam Islam. Kebijakan Rasulullah pada periode yang sedang kita bicarakan
sekarang selalu menghindari segala bentuk kekerasan. Tak lebih ia
hanya memaafkan setiap perlakuan tidak baik yang ditujukan kepadanya.
Ia berdakwah dengan bijaksana, mengajak orang dengan cara-cara
yang baik dan berdiskusi dengan cara yang lebih baik, sehingga orang
yang semula sangat memusuhinya berubah menjadi seperti sahabat
karib. Itulah sikapnya terhadap Kuraisy ketika itu di Mekah dan
terhadap Saqif di Ta'if, juga terhadap kabilah-kabilah lain yang diajaknya
memasuki pintu cahaya dan bimbingan Allah. Tetapi mereka
bersikap sombong dan menolak ajakannya. Ini suatu kebijakan yang tak
terdapat dalam ketegasan dan kekuatan Umar seperti ketika ia masuk
Islam dan mati-matian melawan kaum musyrik sehingga ia dan kaum
Muslimin bersama-sama dengan dia dapat salat di Ka'bah.
Setelah terjadi hijrah, Umar pun ikut hijrah ke Medinah seperti
Muslimin yang lain. Dengan diam-diam ditinggalkannya Mekah tanpa
setahu penduduknya, kendati ada sebuah sumber yang dihubungkan
kepada Ali bin Abi Talib menyebutkan: "Setahu saya semua Muhajirin
hijrah dengan sembunyi-sembunyi, kecuali Umar bin Khattab. Sesudah
siap akan berangkat hijrah dibawanya pedangnya dan diselempangkannya
panahnya dengan menggenggam anak panah di tangan dan sebatang
tongkat komando. Ia pergi menuju Ka'bah sementara orangorang
Kuraisy di beranda Ka'bah. Umar melakukan tawaf di Ka'bah
tujuh kali dengan khusyuk, menuju ke Maqam (Ibrahim) lalu salat. Setelah
itu setiap lingkaran orang banyak didatanginya satu persatu seraya
berkata kepada mereka: "Wajah-wajah celaka! Allah menista orangorang
ini! Barang siapa ingin diratapi ibunya, ingin anaknya menjadi
yatim atau istrinya menjadi janda, temui aku di balik lembah itu."
Baik Ibn Hisyam, Ibn Sa'd atau at-Tabari tidak mencatat peristiwa
ini. Ibn Hisyam dalam as-Sirah an-Nabawiyah dan Ibn Sa'd dalam at-
Tabaqat al-Kubra menyebutkan bahwa Rasulullah mengizinkan orang
hijrah meninggalkan Mekah dengan terpencar-pencar sehingga tidak
menimbulkan kegaduhan di kalangan Kuraisy, dan Muslimin keluar
secara bebas. Yang mempunyai kendaraan dapat bergantian, yang tidak
supaya berjalan kaki. Umar bin Khattab berkata: "Saya dan Ayyasy bin
Abi Rabi'ah dan Hisyam bin al-As bin Wa'il sudah berjanji akan keluar
diam-diam. Kami berkata, jika di antara kita ada yang terlambat dari
waktu yang sudah dijanjikan, berangkatlah dua orang. Saya berangkat
bersama Ayyasy bin Abi Rabi'ah; Hisyam bin al-As masih tertahan.
Seperti yang lain dia juga dibujuk oleh Kuraisy. Saya dan Ayyasy
meneruskan perjalanan sampai di Quba'." Sesudah itu sumber tersebut
menyebutkan bahwa Ayyasy kembali ke Mekah memenuhi permintaan
ibunya, dan bahwa di sana ia dimasukkan ke dalam penjara, kemudian
dibujuk dan dia pun terbujuk.
Adakah kedua sumber ini saling bertentangan? Atau keduanya
dapat disesuaikan, bahwa ia menantang orang-orang musyrik seperti
dalam sumber yang dihubungkan kepada Ali bin Abi Talib, kemudian
setelah itu menurut sumber Ibn Hisyam dan Ibn Sa'd ia berangkat
hijrah dengan diam-diam? Kita lebih cenderung pada pendapat bahwa
Umar tidak menantang siapa pun, dan bahwa dia hijrah meninggalkan
Mekah diam-diam tanpa diketahui penduduk Mekah. Dia melakukan itu
bukan karena lemah atau takut, yang memang tak pernah dikenalnya
selama hidupnya, tetapi dia laki-laki yang penuh disiplin. Dia mengikuti
jemaah dan meminta yang lain juga mengikuti mereka. Kaum
Muslimin semua berangkat hijrah dengan diam-diam. Jadi tidak heran
jika Umar juga mengikuti jejak mereka untuk menjaga ketentuan yang
berlaku, dan supaya tidak timbul perasaan pada mereka yang pergi
diam-diam bahwa keimanan Umar kepada Allah dan Rasul-Nya lebih
kuat dari mereka. Umar sudah sampai di Quba'. Di Banu Amr bin Auf ia bersama
keluarganya tinggal pada keluarga Rifa'ah bin Abdul-Munzir. Setelah
Rasulullah yang hijrah ditemani Abu Bakr tiba, Umar termasuk yang
menyambutnya dan pergi bersama-sama dengan rombongan itu ke
Medinah. Seperti Rasulullah dan Muslimin yang lain Umar juga ikut
bekerja membangun mesjid dan tempat tinggal Rasulullah. Setelah itu
Rasulullah 'alaihis-salam pindah dari rumah Abu Ayyub al-Ansari.
Peristiwa hijrah ke Medinah ini merupakan permulaan zaman baru
dan kebijaksanaan baru dalam sejarah Islam dan kaum Muslimin.
Kaum Muhajirin yang hijrah dari Mekah berkumpul dengan mereka
yang sudah menganut Islam di Medinah. Mereka kini merupakan suatu
kekuatan yang dapat mengangkat martabat dan membina kaum
Muslimin. Rasulullah menginginkan agar martabat mereka lebih tinggi,
persatuan mereka lebih kuat. Dengan menjalin pertalian yang lebih erat
antara kaum Muhajirin dengan kaum Ansar, maka rasa persatuan dan
harga diri mereka itu akan lebih kuat lagi. Oleh karena itu diajaknya
mereka saling bersaudara setiap dua orang. Dia sendin mempersaudarakan
Ali bin Abi Talib; Hamzah pamannya dipersaudarakan dengan
bekas budaknya Zaid bin Harisah; Abu Bakr dipersaudarakan dengan
Kharijah bin Zaid; juga setiap orang dari kaum Muhajirin dipersaudarakan
dengan seorang dari Ansar, yang oleh Rasulullah dijadikan hukum
saudara sedarah dan senasab. Dalam hal ini Umar bin Khattab
dipersaudarakan dengan Utban bin Malik, saudara Banu Salim bin Auf
bin Amr bin Auf al-Khazraji.
Cara mempersaudarakan demikian memperkuat kedudukan Muslimin
di Medinah, sehingga kaum musyrik dan Yahudi benar-benar
memperhitungkan kekuatan mereka. Karena itu kalangan Yahudi tanpa
ragu lagi mengajak damai dengan Rasulullah. Mereka membuat perjanjian
dengan Rasulullah yang menjamin adanya kebebasan beragama
dan kebebasan menyatakan pendapat serta menghormati kota Medinah,
menghormati kehidupan dan harta dan larangan melakukan kejahatan.
Persetujuan ini memperlemah kedudukan Aus dan Khazraj yang masih
tetap musyrik, dan sekaligus memperkuat kedudukan kaum Muslimin.
Kedudukan dan kekuatan yang dicapai Muslimin dalam kehidupan
masyarakat di Medinah telah membuka cakrawala bam bagi Umar bin
Khattab, yang selama di Mekah tak pernah ada. Dia laki-laki yang
penuh disiplin, laki-laki bijaksana yang telah berjuang demi disiplin.
Kaum Muslimin di Mekah merupakan kaum minoritas yang dilindungi
oleh keimanan mereka yang kuat kepada Allah dan Rasul-Nya sehingga
mereka tidak tergoda dan tidak menjadi lemah, dengan bersikap negatif
dalam perlawanan terhadap mereka yang mencoba menggoda agar
meninggalkan agama Allah. Perlawanan negatif demikian tidak sesuai
dengan watak Umar yang selalu memberontak meluap-luap menantang
siapa saja yang mau merintanginya. Untuk itu di Mekah tidak cukup
1 Menurut sumber-sumber Ibn Sa'd disebulkan bahwa Rasulullah mempersaudarakan
Abu Bakr dengan Umar, sumber lain menyebutkan bahwa ia mempersaudarakan Umar
dengan Uwaim bin Sa'idah; sumber ketiga menyebutkan Umar dipersaudarakan dengan
Mu'az bin Afra'. Kemudian terdapat lagi beberapa sumber lain seperti yang dicatat oleh
Ibn Hajar dalam Fathul Ban. Sumber yang sudah masyhur dan mutawatir menyebutkan
bahwa Umar dipersaudarakan dengan Utban bin Malik.
tempat untuk melaksanakan segala kegiatannya sehingga menampakkan
hasil. Tetapi dalam kehidupan Muslimin sekarang di Medinah dengan
segala disiplinnya yang begitu jelas, bagi Umar sudah tiba saatnya untuk
memperlihatkan kepribadiannya dan harus ada pengaruhnya dalam
kehidupan masyarakat. Bahkan ada sifat-sifat Umar yang di Mekah
dulu tak terlihat sudah mulai tampak: sebagai manusia yang dapat melihat
peristiwa sebelum terjadi, dan apa yang terjadi seolah sudah
diduganya.

Umar dan permulaan azan
Sesudah Rasulullah merasa tenang di Medinah, pada waktunya
tanpa dipanggil orang-orang datang berkumpul untuk salat. Rasulullah
ingin menggunakan trompet seperti trompet orang Yahudi untuk memanggil
Muslimin. Tetapi ia tidak menyukai trompet, maka dimintanya
menggunakan genta yang ditabuh pada waktu salat seperti dilakukan
orang Nasrani. Genta dibuat dengan menugaskan Umar agar keesokannya
membeli dua potong kayu. Sementara Umar sedang tidur di rumahnya
ia bermimpi: "Jangan gunakan genta, tetapi untuk salat serukanlah
azan." Umar pergi menemui Rasulullah memberitahukan mimpinya.
Tetapi wahyu sudah mendahuluinya. Ada juga disebutkan bahwa Abdullah
bin Zaid (bin Sa'labah) sudah lebih dulu datang kepada Rasulullah dengan
mengatakan: "Rasulullah, semalam saya seperti bermimpi: Ada laki-laki
berpakaian hijau lewat di depan saya membawa genta. Saya tanyakan
kepadanya: Hai hamba Allah, akan Anda jual genta itu? Orang itu menjawab
dengan bertanya: Akan Anda apakan? 'Untuk memanggil orang
salat,' jawab saya. 'Boleh saya tunjukkan yang lebih baik?' tanyanya
lagi. Kemudian ia menyebutkan kepadanya lafal azan. Rasulullah pun
lalu menyuruh Bilal dan ia menyerukan azan dengan lafal itu. Umar di
rumahnya mendengar suara azan itu, ia keluar menemui Rasulullah
sambil menyeret jubahnya dan berkata: "Rasulullah, demi Yang mengutus
Anda dengan sebenarnya, saya bermimpi seperti itu."
Sejak itu suara azan bergema di udara Medinah setiap hari lima
kali, dan ini merupakan bukti yang nyata bahwa Muslimin kini di atas
angin, lebih unggul. Azan untuk salat merupakan seruan kepada disiplin
yang menambah kekuatan orang yang berpegang pada disiplin itu.
Bahwa hal ini sudah dikatakan Umar sebelum turun wahyu, suatu bukti
bahwa agama telah menyerap ke dalam diri orang kuat ini, sehingga
pikirannya hanya tertumpu pada disiplin yang akan membuat agama ini
makin kukuh dan tersebar luas.
Tetapi orang-orang Yahudi dan kaum musyrik yang masih berpegang
pada kepercayaan mereka sudah merasa jemu. Mereka mulai berkomplot
dan mengadakan oposisi. Dalam menghadapi persekongkolan
itu banyak cara yang ditempuh Muslimin, termasuk cara-cara kekerasan
kalau perlu. Seperti yang lain Umar bin Khattab juga ikut mengadakan
perlawanan. Dengan maksud menakut-nakuti pihak Yahudi dan kaum munafik
dan untuk meyakinkan pihak Kuraisy, bahwa lebih baik mereka menempuh
jalan damai demi kebebasan berdakwah agama, Rasulullah
mengirim beberapa ekspedisi dan pimpinannya diserahkan kepada
Hamzah bin Abdul-Muttalib, Ubaidah bin al-Haris, Sa'd bin Abi Waqqas
dan Abdullah bin Jahsy, seperti juga sebagian ekspedisi yang
dipimpin sendiri oleh Nabi. Buku-buku biografi dan buku-buku sejarah
samasekali tak ada yang menyebutkan bahwa Umar pernah terlibat
dalam ekspedisi yang pertama ini. Barangkali Rasulullah lebih menyukai
ia tinggal di Medinah mengingat kebijakannya yang baik serta
keterusterangannya dalam menegakkan kebenaran. Hal ini terlihat
tatkala ada delegasi Nasrani dari Najran datang ke Medinah mau
berdebat dengan Rasulullah. Tetapi perdebatan mereka, juga perdebatan
Yahudi, ditolak dengan firman Allah:
"Katakanlah: Wahai Ahli Kitab! Marilah menggunakan istilah
yang sama antara kami dengan kamu: bahwa kita takkan menyembah
siapa pun selain Allah; bahwa kita takkan mempersekutukan sesuatu
apa pun dengan Dia; bahwa kita tak akan saling mempertuhan satu
sama lain selain Allah. Jika mereka berpaling; katakanlah: Saksikanlah
bahwa kami orang-orang Muslim (tunduk bersujud pada
kehendak Allah)." (Qur'an, 3:64). Kemudian ia mengajak delegasi itu
menerima apa yang sudah diwahyukan itu atau saling berdoa.1 Tetapi
Yula'inu, sama dengan Yabtahilu, atau mubahalah yang dalam terjemahan ini kadang
disamakan dengan saling berdoa. Nabi mengusulkan kepada pihak Kristen mengadakan
mubahalah, suatu pertemuan khidmat dengan masing-masing pihak yang mempertahankan
pendiriannya berdoa sungguh-sungguh kepada Allah, agar Allah menjatuhkan
pihak Nasrani berpendapat akan kembali kepada masyarakat mereka
tanpa mengadakan mubahalah. Mereka juga melihat Nabi sangat teguh
berpegang pada keadilan. Mereka ingin supaya dikirim orang bersama
mereka yang dapat memberikan keputusan mengenai hal-hal yang
mereka perselisihkan. Kata Rasulullah kepada mereka: Ke marilah sore
nanti; akan saya utus orang yang kuat dan jujur bersama kalian. Ibn
Hisyam menceritakan bahwa Umar bin Khattab ketika itu berkata: Yang
paling saya sukai waktu itu ialah pimpinan, dengan harapan sayalah
yang akan menjadi pemimpin itu. Saya pergi ke mesjid akan salat lohor
dengan datang lebih dulu. Selesai Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa
sallam mengucapkan salam, ia melihat ke kanan dan ke kiri. Saya
sengaja menjulurkan kepala lebih tinggi supaya ia melihat saya. Sementara
ia sedang mencari-cari dengan pandangannya, terlihat Abu
Ubaidah bin al-Jarrah. Ia dipanggilnya seraya katanya: Anda pergilah
bersama mereka dan selesaikan apa yang mereka perselisihkan dengan
adil dan besar. Setelah itu Abu Ubaidah berangkat."
Sebenarnya Umar sangat mengharapkan dia yang akan ditunjuk
oleh Rasulullah menjadi penengah, seperti yang biasa dilakukannya
sejak nenek moyangnya dulu di zaman jahiliah, jika terjadi perselisihan
di antara para kabilah. Tetapi pilihan Nabi jatuh kepada Abu Ubaidah,
padahal Umar begitu dekat di hatinya. Hal ini membuktikan bahwa
Rasulullah menginginkan Umar tetap berada di Medinah. Keterusterangannya,
keberanian serta pandangannya yang tepat sangat diperlukan.
Tetapi mungkin juga ia khawatir mengingat watak Umar yang
keras, maka yang dipilihnya Abu Ubaidah, karena selain kejujurannya,
sikapnya lemah lembut dan periang.

Umar, Perang Badr dan tawanan perang
Kuraisy tidak puas dengan perdamaian yang ditawarkan Rasulullah
agar memberikan kebebasan orang berdakwah demi agama Allah.
Mereka bahkan tetap memperlihatkan permusuhan kepadanya dan kepada
sahabat-sahabatnya. Tatkala Rasulullah dengan kekuatan tiga ratus
laknat kepada pihak yang berdusta. "Barang siapa berbantah dengan engkau sesudah
engkau memperoleh ilmu, kalakanlah: Marilah, mari kila kumpulkan bersama-sama
anak-anak kami dan anak-anak kamu, perempuan-perempuan kami dan perempuan
kamu, diri kami sendiri dan diri kamu; kemudian kita bermohon sungguh-sungguh,
agar laknat Allah menimpa pihak yang berdusta." (Qur'an, 3:61). Mereka yang benarbenar
murni dan benar-benar yakin lak akan ragu. Tetapi pihak Nasrani di sini mengundurkan
diri.
orang Muslimin keluar meiiyongsong mereka di Badr, dan dia tahu
bahwa di pihak Mekah yang datang dengan kekuatan lebih dari seribu
orang. ia bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya: Akan tetap menghadapi
perang dengan mereka atau akan kembali ke Medinah. Umar
dan Abu Bakr menyarankan lebih baik mereka dihadapi. Setelah pertempuran
dimulai, dan perang pun berkobar, korban pertama di pihak
Muslimin adalah Mihja', bekas budak Umar bin Khattab. Di tengahtengah
pertempuran itu Umar pun sempat membunuh saudara ibunya,
al-As bin Hisyam. Disebutkan bahwa ketika itu Umar bertemu dengan
Sa'id. anak al-As, maka katanya: "Saya lihat Anda seperti menyimpan
sesuatu dalam hati Anda. Saya lihat Anda mengira saya sudah membunuh
ayah Anda. Kalaupun saya bunuh dia, tidak perlu saya meminta
maaf kepada Anda, sebab yang saya bunuh paman saya, saudara ibu
saya al-As bin Hisyam bin al-Mugirah. Tentang bapa Anda, ketika saya
melewatinya ia sedang mencari-cari sesuatu seperti lembu mencari
tanduknya. saya menghindar dari dia. Lalu ia mendatangi Ulayya, sepupunya,
maka dibunuhnyalah dia."
Kata-kata yang diucapkan Umar ini merupakan yang pertama kali
dikutip tentang dia dalam perang ini, perang yang telah membentuk
sejarah Islam dan sejarah dunia ke dalam bentuk baru. Perang ini
melukiskan pengaruh yang ditanamkan Islam ke dalam diri Umar
dengan sangat jelas sekali. Demi agama ini orang harus menganggap
segalanya itu tak ada artinya, ia tak boleh ragu ketika terjadi jika ia
harus berhadapan dengan saudara atau dengan kerabat dekat. Ia
mempersembahkan hidupnya untuk Allah dan di jalan Allah. Dengan
pertimbangan apa pun ia tak boleh ragu dalam membela agama Allah.
Muslimin menawan tujuh puluh orang Kuraisy, kebanyakan pemimpin-
pemimpin dan orang-orang berpengaruh di kalangan mereka.
Umar bin Khattab termasuk orang yang paling keras ingin membunuh
para tawanan itu. Tetapi para tawanan itu masih ingin hidup dengan
jalan penebusan. Mereka mengutus orang kepada Abu Bakr agar
membicarakan dengan Rasulullah untuk bermurah hati kepada mereka
dan mereka bersedia membayar tebusan. Abu Bakr berjanji akan berusaha.
Tetapi karena mereka khawatir Umar akan mempersulit keadaan,
mereka juga mengutus orang kepada Umar dengan pesan seperti kepada
Abu Bakr. Tetapi Umar menatap mereka penuh curiga. Abu Bakr
datang menemui Rasulullah dengan permintaan agar bermurah hati
kepada para tawanan perang itu atau menerima tebusan dari mereka,
yang berarti dengan demikian akan memperkuat Muslimin. Tetapi Umar
tetap keras dan tegar. "Rasulullah," katanya. "Mereka musuh-musuh
Allah. Dulu mereka mendustakan, memerangi dan mengusir Rasulullah.
Penggal sajalah leher mereka. Mereka inilah biang orang-orang kafir,
pemuka-pemuka orang sesat. Allah sudah menghina kaum musyrik itu
dengan Islam."
Dalam hal ini Rasulullah bermusyawarah dengan Muslimin dan
berakhir dengan menerima tebusan dan Nabi membebaskan mereka.
Tetapi tak lama sesudah itu datang wahyu dengan firman Allah ini:
"Tidak sepatutnya seorang nabi akan mempunyai tawanantawanan
perang, sebelum ia selesai berjuang di dunia. Kamu
menghendaki harta benda dunia; Allah menghendaki akhirat. Allah
Mahakuasa, Mahabijaksana." (Qur'an, 8:67).
Begitulah Umar, memberikan pendapatnya sekitar peristiwa Badr,
seolah sudah melihat peristiwa itu sebelum terjadi, seperti halnya
dengan soal azan untuk salat. Dengan demikian Nabi dan kaum Muslimin
sangat menghargai pendapatnya, kedudukannya makin tinggi di
samping Nabi dan di kalangan kaum Muslimin umumnya.
Sekarang datang Mikraz bin Hafs hendak menebus Suhail bin Amr.
Suhail ini seorang orator ulung. Melihat Mikraz melakukan tebusan,
cepat-cepat Umar menemui Rasulullah seraya katanya: Izinkan saya
mencabut dua gigi seri Suhail bin Amr ini supaya lidahnya menjulur ke
luar dan tidak lagi berpidato mencerca Anda di mana-mana. Tetapi
Rasulullah menjawab: "Saya tidak akan memperlakukannya secara kejam, supaya Allah
tidak memperlakukan saya demikian, sekalipun saya seorang nabi."
Ucapan Umar itu terus terang menunjukkan kegigihannya mengenai
pendapatnya untuk tidak membiarkan para tawanan yang berkemampuan
kembali mengadakan perlawanan kepada kaum Muslimin. la sangat
menekankan pendapatnya itu kendati masyarakat Muslimin sudah memutuskan
menerima tebusan. Wahyu turun memperkuat pendapat Umar mengenai para tawanan
perang. Ini juga yang membuat Umar makin dekat di hati Nabi. Ia telah
menjadi pendampingnya seperti juga Abu Bakr: Hafsah putri Umar istri
Khunais bin Huzafah, adalah salah seorang yang mula-mula dalam Islam.
Tetapi Hafsah ditinggalkan wafat oleh Khunais beberapa bulan
sebelum Perang Badr. Kemudian Rasulullah menikah dengan Hafsah,
seperti dengan Aisyah putri Abu Bakr sebelum itu. Pertalian semenda
ini makin mempererat hubungan Nabi dengan Umar, sehingga dengan
demikian lebih memudahkan Umar sering datang menemui Nabi, seperti
juga Abu Bakr.

Umar dalam Perang Uhud
Tahun berikutnya cepat-cepat Kuraisy mengadakan persiapan untuk
melakukan balas dendam terhadap kekalahannya di Badr. Para sahabat
menyarankan kepada Rasulullah untuk keluar menyongsong musuh di
Uhud, di luar kota Medinah. Rasulullah masuk ke rumahnya, disusul
oleh Abu Bakr dan Umar, yang kemudian mengenakan ikat kepala dan
baju besinya. Dengan menyandang pedang ia berangkat bersama
sahabat-sahabatnya hendak menghadapi musuh: Sampai menjelang tengah
hari pasukan Muslimin di pihak yang menang. Tetapi kemudian
keadaan berbalik menimpa mereka tatkala pasukan pemanah melanggar
perintah Rasulullah. Mereka turun dari markas mereka di atas bukit,
ikut yang lain memperebutkan rampasan -perang. Kesempatan ini
digunakan oleh Khalid bin Walid memutar pasukan berkuda Kuraisy ke
belakang pasukan Muslimin. Kemudian ia berteriak sekeras-kerasnya
yang membuat pihak Kuraisy kembali menyerang Muhammad dan sahabat-
sahabatnya, yang sedang sibuk mengumpulkan rampasan perang.
Karena serangan Kuraisy itu sekarang pasukan Muslimin menjadi kacau
dan barisan centang-perenang, keadaan makin panik dan mereka ceraiberai
setelah seorang musyrik berteriak: Muhammad sudah terbunuh!
Mendengar teriakan itu terbayang oleh pihak Muslimin bahwa
mereka dan agama yang mereka imani tidak akan lagi tetap hidup.
Agama ini tetap hidup dan mereka juga tetap hidup karena Allah sudah
menjanjikan kepada Rasul-Nya kemenangan. Sekarang Rasulullah sudah
terbunuh di tangan kaum musyrik, dan sahabat-sahabatnya sudah
mengalami kekalahan dihajar oleh pihak musyrik! Bahkan tokoh-tokoh
Muhajirin dan Ansar pun sudah pasrah dan sudah putus asa. Mereka
lalu pergi menyendiri dan duduk-duduk di sisi gunung. Ketika itulah
kemudian Anas bin an-Nadr datang ke tempat mereka. Dilihatnya juga
ada Umar bin Khattab, Talhah bin Ubaidillah dan beberapa orang lagi
kaum Muslimin yang sedang dalam keadaan kacau balau dan putus asa,
tak tahu apa yang harus diperbuat. Ketika itu ia berkata kepada mereka:
"Mengapa kamu duduk-duduk di sini?!" Mereka menjawab: "Rasulullah
sudah terbunuh." "Untuk apa lagi kita hidup sesudah itu. Bangunlah!
Biarlah kita juga mati untuk tujuan yang sama." Sesudah itu ia maju
menghadapi musuh. Ia bertempur mati-matian, bertempur tiada taranya.
Ia menemui ajalnya setelah mengalami tujuh puluh pukulan musuh,
sehingga ketika itu orang sudah tidak dapat mengenalnya lagi, kalau
tidak karena saudara perempuannya yang datang dan dapat mengenalnya
dari ujung jarinya. Tetapi setelah kemudian Muslimin tahu bahwa Rasulullah masih
hidup, keimanan mereka kembali menggugah mereka, bahwa Allah
akan menolong Rasul-Nya. Abu Bakr, Umar, Ali bin Abi Talib, az
Zubair bin al-Awwam dan yang lain bergegas melindunginya. Mengetahui
keadaan ini Khalid bin Walid naik ke atas bukit memimpin pasukan
berkuda dengan tujuan menghabisi Muhammad dan orang-orang
di sekitarnya. Tetapi Umar bin Khattab dan beberapa orang lagi dari
pihak Muslimin sudah siap menghadapi Khalid dan pasukan berkudanya.
Mati-matian mereka mengadakan perlawanan dan melindungi
Rasulullah sampai berhasil mengusir mereka mundur. Tujuan Khalid
tidak tercapai.
Di atas Sudah kita sebutkan tentang Umar dan apa yang diduganya
akan terjadi, seperti soal azan untuk salat, membuktikan bahwa agama
telah menyerap ke dalam diri orang kuat ini, sehingga pikirannya hanya
tertumpu pada disiplin yang akan membuat agama ini makin kukuh dan
tersebar lebih luas. Sikap Umar terhadap tawanan Perang Badr dan
wahyu yang kemudian turun memperkuat pendapatnya serta sikapnya
menghadapi Khalid bin Walid sebelum menyergap Nabi dan orangorang
di sekitarnya, kedua sikapnya ini sudah menunjukkan bukti yang
kuat sekali tentang menyatunya agama Allah ke dalam diri Umar begitu
rupa sehingga ia begitu bersemangat dan makin kuat hendak membelanya.
Tidak heran, sejak mudanya hatinya sudah teguh pada apa yang
diyakininya, dan orang demikian bersedia menyerahkan hidupnya demi
keyakinannya. Kita sudah melihat beberapa posisi Umar di masa
jahiliah. Semangatnya atau fanatiknya yang begitu besar terhadap
Kuraisy di luar kabilah-kabilah yang lain, juga semangatnya dalam
menghadapi dakwah Muhammad, sehingga dia sendiri juga ikut menyiksa
kaum Muslimin yang mula-mula. Setelah mendapat hidayah dan
Allah membimbing hatinya dengan inaan yang kuat kepada-Nya, ia
berdiri tegak di samping agama Allah, membelanya dengan semangat
dan cara yang sama seperti ketika memeranginya dulu. Sekarang,
setelah Muslimin dapat agama dan Nabinya, dalam membela agama ini
Umar mau mengorbankan segalanya, juga mau mengorbankan nyawanya.
Rasa putus asa yang sempat menimpanya dan menimpa Muslimin
yang lain tatkala pihak Kuraisy mengatakan Nabi sudah meninggal,
menjadi. sebagian rasa semangatnya terhadap agama ini, sehingga rasa
sedihnya itu membuatnya lepas dari ketajaman pikirannya. Tetapi setelah
diketahuinya bahwa Rasulullah masih hidup, ia tampil menyerahkan
seluruh hidupnya demi imannya itu, dan Allah memberi kemenangan
kepadanya melawan jenderal jenius yang sangat dibanggakan
Kuraisy itu dan telah memberi keuntungan kepada mereka dalam
Perang Uhud. Tetapi iman dan semangat Umar terhadap imannya itu tak dapat
menahan kebanggaan dirinya, tak dapat menahan kepercayaannya
kepada pendapatnya di depan Rasulullah sendiri. Dalam membanggakan
pendapatnya Umar termasuk orang yang paling kuat alasannya di
kalangan Muslimin, dan paling menonjol. Memang benar bahwa Muslimin,
semuanya tidak mengenal lemah, dan ada yang menyampaikan
pendapatnya kepada Rasulullah dan be'rdebat untuk mempertahankan
pendapatnya atau mau meyakinkan lawan bicaranya, yang memang
sudah menjadi ciri khas orang-orang yang berpendirian kuat di masamasa
revolusi, karena dengan itu mereka ingin pendirian yang menjadi
cita-citanya mencapai tujuan. Tetapi Umar yang paling berterus terang
dan paling berani. Tanpa mengurangi cintanya kepada Rasulullah serta
kuatnya iman akan risalahnya, ia mau menyampaikan pendapatnya di
depan Rasulullah dan mau mempertahankannya. Sudah kita lihat sikapnya
mengenai tawanan Perang Badr, bagaimana ia meminta izin akan
mencabut dua gigi seri Suhail bin Amr sesudah Muslimin menerima
tebusan para tawanan itu. Dan kelak kita akan melihat sikap demikian
ini dalam persahabatannya dengan Rasulullah dan pada masa pemerintahan
Abu Bakr. Kita akan melihat ijtihadnya di masa Rasulullah
yang kemudian sebagian dikuatkan oleh Qur'an, di samping ketentuanketentuan
hukum dan prinsip-prinsip hasil ijtihadnya yang kita lihat
sesudah Rasulullah wafat, yang sampai sekarang tetap menjadi pegangan
kaum Muslimin.
Setelah Rasulullah selesai menghadapi perang dengan Banu Mustaliq,
ada dua orang dari kalangan Muslimin yang bertengkar mem-
perebutkan mata air; yang seorang dari kalangan Muhajirin dan yang
seorang lagi dari Ansar. Yang dari Muhajirin berteriak: Saudara-saudara
Muhajirin! Dibalas oleh Ansar: Saudara-saudara Ansar! Pada waktu
itulah Abdullah bin Ubai bin Salul, pemimpin kaum munafik di Medinah
berkata kepada orang-orang di sekitarnya: "Di kota kita ini sudah
banyak kaum Muhajirin. Penggabungan kita dengan mereka akan
seperti kata peribahasa: 'Seperti membesarkan anak harimau.' Sungguh,
kalau kita sudah kembali ke Medinah, orang yang berkuasa akan
mengusir orang yang lebih hina." Kata-kata ini disampaikan kepada
Rasulullah, yang ketika itu ada Umar bin Khattab. Umar naik pitam
dan katanya: Rasulullah, perintahkan kepada Abbad bin Bisyir supaya
membunuhnya. Tetapi Rasulullah menjawab: Umar, bagaimana kalau
sampai menjadi pembicaraan orang, bahwa Muhammad membunuh
sahabat-sahabatnya sendiri. Lalu ia meminta diumumkan supaya kaum
Muslimin segera berangkat pada waktu yang tidak biasa mereka
lakukan.

Ijtihad Umar di masa Rasulullah
Abdullah bin Ubai menemui Rasulullah dan membantah bahwa ia
berkata demikian. Tetapi wahyu datang mendustakannya. Ketika itu
Abdullah anak Abdullah bin Ubai — yang sudah menganut Islam
dengan baik — berkata: "Rasulullah, saya mendengar Anda menginginkan
Abdullah bin Ubai dibunuh. Kalau memang begitu, berikanlah
tugas itu kepada saya, akan saya bawakan kepalanya kepada Anda.
Orang-orang Khazraj sudah tahu, tak ada orang yang begitu berbakti
kepada ayahnya seperti yang saya lakukan. Saya khawatir Anda akan
menyerahkan tugas ini kepada orang lain. Kalau sampai orang lain itu
yang membunuhnya, saya tak akan dapat menahan diri membiarkan
orang yang membunuh ayah saya berjalan bebas. Tentu akan saya
bunuh dia dan berarti saya membunuh orang beriman yang membunuh
orang kafir, dan saya akan masuk neraka." Rasulullah menjawab:
Kita tidak akan membunuhnya. Bahkan kita harus berlaku baik
kepadanya, harus menemaninya baik-baik selama dia masih bersama
dengan kita." Sejak itu penduduk Medinah melihat kepada Abdullah
bin Ubai dengan penuh curiga dan tidak lagi menghargainya. Tatkala
pada suatu hari Nabi sedang berbicara dengan Umar mengenai masalah-
masalah kaum Muslimin, sampai juga menyebut-nyebut Abdullah
bin Ubai dan yang juga disalahkan oleh golongannya sendiri. "Umar,
bagaimana pendapatmu," kata Rasulullah. "Ya, kalau Anda bunuh dia
ketika Anda katakan kepada saya supaya dibunuh saja, tentu akan jadi
gempar karenanya. Kalau sekarang saya suruh bunuh tentu akan Anda
bunuh." "Sungguh sudah saya ketahui bahwa perintah Rasulullah lebih
besar artinya daripada perintah saya."
Sesudah Abdullah bin Ubai meninggal dan Nabi bermaksud menyembahyangkannya,
Umar segera mengingatkan tipu daya dan kejahatan
orang itu terhadap Islam, dengan membacakan firman Allah:
"Engkau memohonkan ampunan untuk mereka atau tidak memohonkan
ampunan, sampai tujuh puluh kali sekalipun, Allah tidak akan
mengampuni, sebab mereka sudah mengingkari Allah dan Rasul-Nya.
Allah tidak memberi petunjuk kepada golongan orang fasik." (Qur'an,
9:80). Nabi tersenyum melihat semangat Umar demikian rupa menyerang
orang yang sudah meninggal seraya katanya: "Kalau saya tahu
dengan menambah lebih dari tujuh puluh dapat diampuni akan kutambah."
Nabi menyembahyangkan juga dan ikut mengantarkan sampai
selesai penguburan. Setelah itu datang firman Allah: "Sekali-kali janganlah
kau menyembahyangkan siapa pun dari mereka yang mati,
juga janganlah berdiri di atas kuburannya; mereka mengingkari Allah
dan Rasul-Nya, dan mati dalam keadaanfasik." (Qur'an, 9:84).
Rasulullah mengumumkan tentang keberangkatan menunaikan ibadah
haji pada tahun keenam sesudah hijrah ke Medinah. Sesampainya
ke dekat Mekah, pasukan berkuda Kuraisy menghadangnya dan melarang
memasuki Mekah. Mereka bersumpah bahwa Muhammad tak
boleh masuk dengan paksa, padahal kedatangan Rasulullah untuk menunaikan
ibadah haji; bukan untuk berperang. Oleh karena itu ia dan
sahabat-sahabatnya berhenti di Hudaibiah dan bermaksud mengadakan
perundingan dengan pihak Kuraisy agar dibukakan jalan untuk melakukan
tawaf di Ka'bah dan menyelesaikan kewajiban haji. Ia memanggil
Umar bin Khattab supaya memasuki Mekah dan berbicara dengan
Kuraisy mengenai maksud kedatangannya. Tetapi Umar berkata: "Rasulullah,
saya khawatir Kuraisy akan mengadakan tindakan terhadap
saya, mengingat di Mekah sudah tidak ada lagi Banu Adi bin Ka'b
yang akan melindungi saya. Kuraisy sudah cukup mengetahui bagaimana
permusuhan saya dan tindakan tegas saya terhadap mereka dulu.
Saya ingin menyarankan orang yang lebih baik dalam hal ini daripada
saya, yaitu Usman bin Affan."
Usman pun memasuki Mekah. Lama ia mengadakan pembicaraan
dengan Kuraisy dan terpisah dari Muslimin, sehingga dikira ia sudah
dibunuh. Maka Rasulullah dan sahabat-sahabatnya mengadakan ikrar
atau yang dikenal dengan Bai'at Ridwan akan memerangi Kuraisy kalau
sampai Usman dibunuh. Tetapi tak lama kemudian Usman kembali
dan mengatakan bahwa untuk menjaga kewibawaan Kuraisy di kalangan
orang-orang Arab mereka menolak kedatangan Muslimin ke Mekah
tahun ini. Namun mereka tidak menolak perundingan untuk keluar dari
suasana permusuhan, sesudah diyakinkan bahwa Muhammad datang
akan menunaikan ibadah haji, bukan untuk berperang. Pembicaraan dilanjutkan
antara kedua pihak untuk mengadakan perjanjian dan mencari
perdamaian. Tetapi Umar tampaknya sudah kesal benar karena Nabi
menyetujui pembicaraan demikian, sehingga ia melompat dan pergi menemui
Abu Bakr, dan katanya: Abu Bakr, bukankah dia Rasulullah?
Abu Bakr menjawab: Ya, memang! Bukankah kita ini Muslimin? tanya
Umar lagi. Ya. memang! kata Abu Bakr. Umar melanjutkan: Bukankah
mereka kaum musyrik? Ya, benar! jawab Abu Bakr. Mengapa kita mau
direndahkan dalam soal agama kita? tanya Umar. Akhirnya kata Abu
Bakr kepada Umar: Umar, duduklah, taatilah dia dan jangan langgar
perintahnya. Saya bersaksi, bahwa dia Rasulullah. Umar pun kemudian
berkata: Saya bersaksi bahwa dia Rasulullah.
Umar merasa tidak puas pembicaraannya dengan Abu Bakr. Ia
pergi menemui Rasulullah dengan garis-garis kemarahan masih membayang
di mukanya. Maka katanya: Rasulullah, bukankah Anda Rasulullah?
Ya, memang, jawab Nabi. Bukankah kita ini Muslimin? tanya
Umar lagi. Ya, memang! Bukankah mereka kaum musyrik? Ya, benar!
Tanya Umar lagi: Mengapa kita mau direndahkan dalam soal agama
kita? Lalu kata Rasulullah:
"Saya hamba Allah dan Rasul-Nya. Saya tidak akan melanggar
perintah-Nya, dan Dia tidak akan menyesatkan saya." Dengan jawaban
itu Umar terdiam. Setelah itu kemudian ia pernah berkata: Saya masih
mengeluarkan zakat, berpuasa, salat dan membebaskan budak di antara
yang saya kerjakan waktu itu, sebab saya khawatirkan kata-kata yang
saya ucapkan itu, sementara saya mengharapkan segala yang terbaik.
Kita lihat bagaimana ia begitu percaya diri dan sangat membanggakan
pendapatnya. Betapa Umar tidak akan merasa bangga dengan
pendapatnya itu karena Qur'an sudah memperkuat sikapnya dalam
menghadapi para tawanan Badr. la tetap dengan pendapatnya bahwa
Abdullah bin Ubai harus dibunuh sampai kemudian ia dapat diyakinkan
bahwa perintah Rasulullah lebih besar artinya daripada perintahnya.
Begitu juga ia masih bertahan dengan pendapatnya mengenai Perjanjian
Hudaibiah, sampai kemudian turun wahyu memperkuat Rasulullah dan
disebutkan bahwa perjanjian itu akan merupakan kemenangan besar.
Perdebatannya dengan Rasulullah seperti ia berdebat dengan orang lain
sebelum dapat dibuktikan kebenarannya, baik dengan wahyu atau melihat
bukti yang nyata atau sebaliknya.
Kita melihat bahwa dengan pikirannya Umar tidak berorientasi
kepada teori-teori yang abstrak yang disusun dan diuji coba agar dapat
dijadikan pegangan yang logis, tetapi langsung orientasinya kepada Islam,
seperti sebelum itu, dengan pengalaman yang praktis dalam kenyataan
hidup yang dihadapinya. Pengalaman praktis ini jugalah yang
menggugah pikirannya mengenai para tawanan Badr, mengenai Abdullah
bin Ubai dan mengenai Perjanjian Hudaibiah. Ini juga yang kemudian
menggugah pikirannya, yang tidak disertai turunnya wahyu, mengenai
persoalan-persoalan umat Islam umumnya, atau yang khusus mengenai
Nabi. Kegemaran penduduk Mekah memang minuman keras, dan Umar
pun di masa jahiliah termasuk orang yang sudah sangat kecanduan
khamar. Ketika itu kaum Muslimin juga minum minuman keras selama
mereka masih tinggal di Mekah sampai beberapa tahun kemudian
setelah hijrah ke Medinah. Umar melihat betapa minuman itu dapat
membakar amarah hati orang dan membuat peminumnya saling mengecam
dan memaki. Tidak jarang orang-orang Yahudi dan kaum
munafik menggunakan kesempatan minum minuman itu untuk membangkitkan
pertentangan lama antara Aus dengan Khazraj. Sehubungan
dengan itu Umar menanyakan soal minuman keras ini kepada Rasulullah—
ketika itu Qur'an belum menyinggungnya — maka kata Nabi:
Allahumma ya Allah, jelaskanlah soal ini kepada kami. Setelah itu kemudian
turun ayat ini: "Mereka bertanya kepadamu tentang khamar
dan judi. Katakanlah, keduanya mengandung dosa hesar dan heherapa
manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada
manfaatnya." (Qur'an, 2:219). Karena dalam ayat ini minuman belum
merupakan larangan kaum Muslimin tetap saja menghabiskan waktu
malam dengan minum minuman khamar sebanyak-banyaknya. Kalau
mereka melakukan salat, sudah tidak tahu lagi apa yang mereka baca.
Kembali Umar bertanya dan katanya: Allahumma ya Allah, jelaskanlah
tentang khamar itu kepada kami. Minuman ini merusak pikiran dan
harta! Kemudian turun ayat ini: "Orang-orang beriman! Janganlah
kamu mendekati salat dalam keadaan mabuk supaya kamu tahu apa
yang kamu ucapkan." Sejak itu muazin Rasulullah berkata: Orang yang
mabuk jangan mendekati salat. Kaum Muslimin sudah mulai mengurangi
minum khamar kendati belum berhenti samasekali. Pengaruh buruk
yang ada pada sebagian mereka masih terasa. Ketika sedang minumminum
salah seorang dari Ansar sempat mencederai salah seorang dari
Muhajirin dengan tulang unta yang mereka makan akibat perselisihan
di antara mereka. Dan ada dua suku yang sedang mabuk bertengkar lalu
mereka saling tikam. Umar kembali berkata setelah melihat semua itu:
Ya Allah, jelaskanlah kepada kami tentang hukum khamar ini dengan
tegas, sebab ini telah merusak pikiran dan harta. Setelah itu firman
Allah turun: "Mai orang-orang beriman! Bahwa anggur dan judi, dan
(persembahan kepada) batu-batu, atau meramal nasib dengan anak
panah, suatu perbuatan keji buatan setan. Jauhilah supaya kamu
beruntung. Dengan minuman keras dan judi maksud setan hanya akan
menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu dan
mengalangi kamu mengingat Allah dan melaksanakan salat. Tidakkah
kamu hendak berhenti juga?" (Qur'an, 5:90-91).
Di kalangan Muslimin ada orang yang merasa kurang senang
dengan larangan itu, lalu berkata: Mungkinkah khamar itu kotor, keji,
padahal sudah bersarang di perut si polan dan si polan yang sudah
terbunuh dalam Perang Uhud, di perut si anu dan si anu yang sudah
terbunuh dalam Perang Badr? Maka firman Allah ini turun: "Bagi
mereka yang beriman dan berbuat baik tiada berdosa atas apa yang
mereka makan (waktu lalu), selama mereka menjaga diri dan beriman
dan berbuat segala amal kebaikan, kemudian menjaga diri dan
beriman, kemudian sekali lagi menjaga diri dan berbuat baik. Allah
mencintai orang yang berbuat amal kebaikan. " (Qur'an, 5:93).
Demikian salah satu peranan Umar sehubungan dengan beberapa
persoalan umat Islam secara umum sebelum ada ketentuan wahyu. Mengenai
hubungan dengan Rasulullah secara pribadi dalam pandangan
Umar bukan tidak sama dengan segala urusan Muslimin yang lain.
Oleh karenanya tidak segan-segan ia membicarakannya dengan Nabi.
Bukhari menyebutkan dengan mengacu kepada Aisyah yang mengatakan:
Umar berkata kepada Rasulullah Sallalldhu 'alaihi wa sallam:
"Pasangkan hijablah untuk istri-istrimu. Tetapi Nabi tidak melakukan3.
nya. Ketika itu istri-istri Nabi malam-malam pergi ke tempat-tempat
orang buang air. Suatu ketika Umar bin Khattab melihat Saudah binti
Zam'ah — sosok perempuan ini tinggi — maka kata Umar: saya mengenal
Anda, Saudah. Harapannya supaya memakai hijab, maka Allah
menurunkan ayat hijab." Disebutkan bahwa Umar berkata: "Rasulullah,
yang datang kepada Anda ada orang yang baik, ada yang jahat. Sebaiknya
para Ummul-mu'minin ('Ibu orang-orang beriman') suruh memakai
hijab." Ayat hijab seperti firman Allah ini: "Wahai istri-istri Nabi!
Kamu tidak seperti perempuan lain mana pun; jika kamu bertakwa,
janganlah terlalu lunak bicara, supaya orang yang ada penyakit di
dalam hatinya, tidak bangkit nafsunya; tapi bicaralah dengan katakata
yang baik. Dan tinggallah di rumah kamu dengan tenang, dan
janganlah memamerkan diri seperti orang jahiliah dulu; dirikanlah
salat dan keluarkanlah zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya;
Allah hanya hendak menghilangkan segala yang nista dari kamu, ahli
bait, dan membuat kamu benar-benar suci dan bersih." (Qur'an,
33:32-33). Dan firman-Nya lagi: "Wahai Nabi! katakanlah kepada istriistrimu,
putri-putrimu dan perempuan-perempuan beriman, agar
mereka mengenakan jilbab (bila keluar), supaya mereka lebih mudah
dikenal dan tidak diganggu. Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih."
(Qur'an, 33:59).

Umar dan istri-istri Nabi
Masih ada peranan Umar yang lain dengan Nabi yang menyangkut
hubungan pribadi, yang mungkin tidak akan diketahuinya kalau tidak
karena Hafsah sebagai salah seorang Ummul-mu'minin. Suatu ketika
istri-istri Nabi mengutus Zainab binti Jahsy kepadanya — yang ketika
itu sedang di rumah Aisyah — mengatakan terus terang bahwa Nabi
memperlakukan mereka tidak adil, dan karena cintanya kepada Aisyah
mereka merasa dirugikan. Setelah Maria melahirkan Ibrahim besar
sekali cinta Rasulullah kepada bayinya ini. Hal ini dinyatakan oleh
Hafsah dan Aisyah, diikuti oleh istri-istrinya yang lain, sehingga Nabi
bermaksud meninggalkan mereka dan mengancam akan menceraikan
mereka. Disebutkan dalam Sahih dari Ibn Abbas bahwa ia bertanya
kepada Umar, siapa dari dua istri Nabi yang menunjukkan perasaan
demikian itu. Hafsah dan Aisyah, jawab Umar. Kemudian katanya lagi:
"Ya, sungguh di zaman jahiliah dulu, perempuan-perempuan tidak kami
hargai. Baru setelah Allah memberikan ketentuan tentang mereka dan
memberikan pula hak kepada mereka." Dan katanya lagi: "Ketika saya
sedang dalam suatu urusan tiba-tiba istri saya berkata: 'Coba Anda
berbuat begini atau begitu. Jawab saya, 'Ada urusan apa Anda di sini,
dan perlu apa dengan urusan saya.' Dia pun membalas, 'Aneh sekali
Anda ini, Umar. Anda tidak mau ditentang, padahal putri kita menentang
Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam sehingga ia gusar
sepanjang hari. Kata Umar selanjutnya: "Saya ambil mantelku, saya
pergi keluar menemui Hafsah. 'Anakku', kata saya kepadanya. 'Anda
menentang Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam sampai ia merasa
gusar sepanjang hari?! Hafsah menjawab: 'Memang kami menentangnya.'
'Anda harus tahu', kata saya. 'Kuperingatkan Anda jangan
teperdaya. Orang telah terpesona oleh kecantikannya sendiri dan mengira
cinta Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam hanya karenanya.'
Kemudian saya pergi menemui Umm Salamah, karena kami masih
berkerabat. Hal ini saya bicarakan dengan dia. Kata Umm Salamah
kepada saya: 'Aneh sekali Anda ini, Umar! Anda sudah ikut campur
dalam segala hal, sampai-sampai mau mencampuri urusan Rasulullah
Sallallahu 'alaihi wa sallam dengan rumah tangganya!' Kata Umar
lagi: 'Kata-katanya mempengaruhi saya sehingga tidak jadi saya melakukan
apa yang sudah saya rencanakan. Saya pun pergi. Ada seorang
kawan dari Ansar yang suka membawa berita kepada saya jika saya
tidak hadir, kalau dia yang tidak hadir saya yang membawakan berita
buat dia. Kami sedang dalam keadaan cemas karena konon salah
seorang raja Gassan akan menuju ke tempat kami. Sementara kami
sedang gelisah demikian, tiba-tiba temanku orang Ansar itu datang
mengetuk pintu seraya berkata: Buka, buka. Orang Gassan itu datang?!
tanya saya. Bukan, katanya. Lebih penting dari itu. Rasulullah Sallallahu
'alaihi wa sallam telah meninggalkan semua istrinya. Karena tunduk
kepada Hafsah dan Aisyah! Saya ambil pakaianku dan saya pergi
hendak menemuinya. Saya lihat Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa
sallam di Masyrabah yang dinaikinya dengan anak tangga dari batang
kurma yang berlekuk-lekuk. Pelayan Rasulullah orang hitam itu di atas
anak tangga. Kata saya kepadanya: Katakair ada Umar bin Khattab.
Saya pun diizinkan masuk. Kata Umar selanjutnya: Maka saya ceritakan
kepada Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam peristiwa itu.
Sesudah sampai pada cerita tentang Umm Salamah ia tersenyum."
Dalam sebuah sumber disebutkan bahwa Nabi meninggalkan istriistrinya
sebulan penuh. Sesudah cukup satu bulan, ketika itu Muslimin
yang sedang berada dalam Masjid sedang menekur dalam suasana kesedihan;
mereka berkata: Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam men3.
ceraikan istri-istrinya. Ketika itulah Umar pergi hendak menemui
Rasulullah Sallallahu 'alalhi wa sallam di Masyrabah. la memanggil
Rabah pembantunya supaya memintakan izin, tetapi Rabah tidak
menjawab. la mengulangi permintaannya. Sesudah untuk kedua kalinya
Rabah tidak memberikan jawaban, dengan suara lebih keras Umar
berkata: "Rabah, mintakan saya izin kepada Rasulullah — Sallallahu
'alaihi wa sallam — saya kira dia sudah menduga kedatangan saya ini
ada hubungannya dengan Hafsah. Sungguh, kalau dia menyuruh saya
memenggal leher Hafsah, akan saya penggal lehernya." Sekali ini Nabi
memberi izin dan Umar pun masuk. Tak lama kemudian kata Umar:
"Rasulullah, apa yang menyebabkan Anda tersinggung karena para istri
itu. Kalau mereka Anda ceraikan, niscaya Tuhan di samping Anda,
demikian juga para malaikat — Jibril dan Mikail—juga saya, Abu
Bakr, dan semua orang beriman berada di pihak Anda." la terus bicara
dengan Nabi sehingga bayangan kemarahan di wajahnya berangsur
hilang dan ia pun tertawa. Disebutkan bahwa Umar telah menemui istri-istri Nabi sesudah
mereka ditinggalkan oleh Nabi dan berkata kepada mereka: "Kalau
kamu tidak mau mengubah sikap kamu Allah akan menggantikan kamu
dengan yang lebih baik dari kamu semua." Salah seorang dari mereka
menjawab: "Umar, Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam tak pernah
menceramahi istri-istrinya, mengapa Anda yang berceramah! Dalam hal
ini firman Allah turun:
"Allah telah mewajibkan kepada kamu (hai manusia), melepaskan
sumpah kamu (dalam beberapa hal); dan Allah Pelindung kamu, dan
Dia Mahatahu, Mahabijaksana. Tatkala Nabi secara rahasia menyampaikan
suatu berita kepada salah seorang istrinya, maka kemudian ia
(istrinya) membocorkannya (kepada yang lain), dan Allah memberitahukan
hal itu kepadanya (Nabi), ia memberitahukan sebagian dan
menyembunyikan yang sebagian. Maka setelah ia memberitahukan hal
demikian kepadanya (istrinya) ia berkata, "Siapa yang mengatakan ini
kepadamu?" (Nabi) berkata, "Yang memberitahukan Yang Mahatahu,
Maha Mengenal (segalanya)." Jika kamu berdua bertobat kepada
Allah, hatimu memang sudah cenderung; tetapi jika kamu saling
membantu menentangnya, sungguh Allah Pelindungnya, juga Jibril dan
orang yang saleh di antara orang-orang beriman dan sesudah itu,
para malaikat akan melindungi(nya). Kir any a Tuhannya, jika ia
menceraikan kamu (semua), memberinya ganti istri-istri yang lebih
baik dari kamu, perempuan-perempuan yang patuh menyerahkan
kehendak, yang beriman, yang patuh, yang bertobat, yang beribadah,
yang mengembara (karena iman) dan yang berpuasa, yang pernah
bersuami, yang perawan." (Qur'an, 66:2-5). Sesudah ayat-ayat turun
Rasulullah kembali kepada istri-istrinya yang sudah bertobat.1
Semua sejarawan mencatat peristiwa ini, yakni bahwa wahyu itu
memperkuat pendapat Umar. Menurut Sahih Umar berkata: "Tuhan
menyetujui pendapat saya dalam tiga hal. Kata saya: Rasulullah, kita
jadikan Maqam Ibrahim tempat salat Kata saya:
Rasulullah, sebaiknya istri-istri Anda itu mengenakan hijab, sebab yang
berbicara kepada mereka ada orang yang baik, ada yang jahat." Maka
turun ayat hijab. Tatkala istri-istri Nabi Sallallahu 'alaihi wa sallam
berkumpul karena perasaan cemburu, saya berkata kepada mereka:
Kalau kamu diceraikan mudah-mudahan Tuhan memberi ganti dengan
istri-istri yang lebih baik, maka turun ayat ini." Barangkali turunnya
wahyu sesuai dengan pendapat Umar dalam peristiwa-peristiwa itu, itu
pula sampai Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Allah
telah menempatkan kebenaran di lidah dan di hati Umar," atau ia
katanya: "Allah telah menentukan kebenaran di lidah Umar apa yang
dikatakannya." Dari sekian banyak peristiwa yang dialami Umar, dari para tawanan
Badr, Abdullah bin Ubai, Perjanjian Hudaibiah, ketentuan minuman
keras sampai kepada masalah istri-istri Nabi merupakan bukti yang
1 Lihat peristiwa ini lebih terinci dalam Sejarah Hidup Muhammad h. 496-502 (cetakan
ke-20). Pnj. cukup menonjol dan mengungkapkan sebagian kepribadian Umar, yang
makin lama terasa makin jelas. Dengan segala keberaniannya, keterusterangannya
dan kepribadiannya yang begitu menonjol dan segala yang
sudah kita sebutkan di atas, bukanlah semua itu yang menjadi tujuan
kita, juga bukan dengan pendapatnya yang tepat dan pengetahuannya
yang luas yang kita inginkan, tetapi yang menjadi tujuan kita dengan
semua peristiwa itu hanya untuk menunjukkan betapa besar perhatiannya
terhadap segala kepentingan umum yang dihadapinya serta politik
bangsanya yang banyak mendapat perhatian itu. Ia mengurus semua
persoalan dan pekerjaan itu dengan disiplin yang tinggi. Segi ini padanya
memang lebih menonjol dari yang lain. Itu sebabnya Nabi menyebut
dia sebagai wazirnya. Dan bilamana bermusyawarah dengan
sahabat-sahabatnya ia menempatkan pendapat Umar sama dengan
pendapat yang dikemukakan Abu Bakr, orang pilihan dan sahabat
Rasulullah. Penghargaan kepada Umar di mata semua Muslimin sudah begitu
tinggi, padahal dalam banyak peristiwa Nabi sering menentang pendapatnya
karena sikap Umar yang begitu bersikukuh sudah melampaui
sikap keteguhan hati. Karenanya tidak bertemu dengan sifat-sifat
Rasulullah yang mempunyai keteguhan hati dan bijaksana, mempunyai
kemampuan dan sifat pemaaf. Sesudah Muslimin berangkat akan membebaskan Mekah, Abbas
bin Abdul-Muttalib keluar. Maka dilihatnya pasukan dan kekuatan kemenakannya
itu, dan Kuraisy tak akan lagi mampu menandinginya.
Juga Abu Sufyan bin Harb keluar dalam satu regu hendak mencari-cari
berita. Sementara Abu Sufyan berbicara dengan kawan-kawannya
Abbas sudah mengenal suaranya. Maka katanya: "Hai Abu Sufyan, Rasulullah berada
di tengah-tengah rombongan itu. Apa jadinya Kuraisy jika ia memasuki Mekah dengan kekerasan!"
Abu Sufyan menukas: "Apa yang harus kita perbuat! Kupertaruhkan ibu-bapaku.
" Ketika itu Abbas di atas seekor bagal putih kepunyaan
Nabi. Dinaikkannya ia di belakangnya, sedang teman-temannya disuruhnya
kembali ke Mekah dan Abu Sufyan diajaknya ke tempat
Nabi. Melihat bagal itu dan mengetahui ada Abu Sufyan, sadar dia
bahwa Abbas mau melindunginya. Maka cepat-cepat Umar menuju ke
kemah Nabi dan ia meminta izin akan memenggal leher Abu Sufyan.
Tetapi Abbas berkata: "Rasulullah, saya sudah melindunginya." Sekarang
terjadi perdebatan sengit antara Umar dengan Abbas mengenai
Abu Sufyan. Rasulullah menangguhkan perkara itu sampai besok.
Keesokan harinya Abu Sufyan sudah menerima Islam setelah terjadi
dialog dengan Rasulullah. Nabi memberikan kehormatan kepada Abu
Sufyan dengan mengatakan: "Barang siapa datang ke rumah Abu
Sufyan, ia akan selamat, barang siapa menutup pintu rumahnya ia akan
selamat dan barang siapa masuk ke dalam Masjid ia juga akan
selamat." Umar pergi dengan hati kesal karena Abu Sufyan selamat.
Sesudah kemudian Mekah membuka pintu, baru dia tahu pentingnya
perintah Rasulullah, seperti soal Abdullah bin Ubai dulu, bahwa perintah
Rasulullah lebih besar artinya daripada perintahnya. Tetapi kegigihan
dan keterusterangannya serta sikapnya sering menentang pendapat Nabi
seperti yang sudah saya sebutkan, tak pernah mengurangi kedudukan
Umar yang tetap terhormat. Soalnya karena apa yang dilihatnya dan disampaikannya
itu benar-benar keluar dari hati yang ikhlas. Bagi orang
yang ikhlas memang patut sekali kita hormati, kendati pendapatnya
tidak kita terima. Bagaimana pendapat kita kalau apa yang dikatakannya
itu dalam banyak hal memang benar. Lalu bagaimana pendapat
kita kalau kita berbeda pendapat kemudian kita lihat pendapatnya itu
yang benar dan kita menerima pendapatnya. Ketika Nabi mengutus Abu
Hurairah agar memberitahukan bahwa barang siapa mengucapkan
kalimat syahadat — tiada tuhan selain Allah — dengan sungguh-sungguh
dari hati, ia akan masuk surga. Setelah hal itu didengar oleh Umar,
dengan keras ia mau mengoreksi Rasulullah, dan langsung ia mengikutinya
akan menanyakan kembali kepada Rasulullah, benarkah ia
telah mengutus Abu Hurairah dengan pengumuman berita itu. Sesudah
oleh Rasulullah dibenarkan, Umar berkata: Jangan lakukan itu! Saya
khawatir orang hanya akan berpegang pada itu; biarlah orang mewujudkannya
dengan amal perbuatan. Pendapatnya oleh Rasulullah
diterima. Saat sakit Rasulullah yang terakhir terasa sudah makin berat, ia
memberi isyarat kepada beberapa pemuka Muslimin yang ada di
sekelilingnya dalam rumah ketika itu dengan mengatakan: "Bawakan
dawat dan lembaran, akan saya minta tuliskan surat buat kamu sekalian,
supaya sesudah itu kamu tidak lagi akan sesat." Ada sebagian
mereka yang menentang, dipelopori oleh Umar dengan mengatakan:
"Rasulullah sudah dalam keadaan sakit. Pada kita sudah ada Qur'an,
sudah cukup Kitabullah buat kita." Melihat perselisihan pendapat itu
Nabi berkata: "Pergilah kamu sekalian! Tidak patut kamu berselisih di
hadapan Nabi." Penulisan tidak jadi. Barangkali ia lebih banyak terkesan
oleh pendapat Umar daripada pendapat yang lain, karena
diketahuinya benar kejujuran dan keikhlasannya serta keterusterangannya
dalam menyampaikan pendapat.


Yang ikhlas dan zuhud
Yang lebih pantas kita hormati dan kita hargai justru orang yang
tidak begitu mengutariiakan kepentingannya sendiri, dan dengan ikhlas
memberikan pendapatnya demi kepentingan umum. Dalam hal ini Umar
merupakan teladan yang baik. Di atas sudah kita lihat pendapat-pendapatnya
itu memang bersih dari segala yang mencurigakan. Bahkan
juga sudah kita lihat bagaimana cita-citanya sekiranya Allah mengharamkan
khamar yang ketika itu belum diharamkan, padahal di zaman
jahiliah dia sendiri seorang peminum minuman keras yang sudah melebihi
semestinya. Harapannya agar minuman itu diharamkan hanya
karena cintanya demi segala kebaikan masyarakat disertai disiplinnya
yang begitu kuat. Di samping itu ia termasuk seorang zahid yang paling
keras menjauhi harta. Kalau Rasulullah memberikan kepadanya harta
hasil rampasan perang yang diperoleh Muslimin, ia berkata: "Berikan
kepada yang lebih miskin dari saya." Suatu hari ia berkata demikian
kepada Rasulullah, maka kata Nabi: "Terimalah dan simpan kemudian
sedekahkan." Bahkan begitu kuat zuhudnya, ketika ia mendapat bagian tanah di
Khaibar, dan ia menemui Nabi Sallallahu 'alaihi wa sallam maka
katanya: "Saya mendapat bagian tanah di Khaibar, yang sebenarnya
belum pernah saya mendapat harta begitu berharga, tetapi apa yang
harus saya perbuat dengan itu." "Kalau Anda mau pokoknya wakafkan
dan sedekahkan dengan itu." Maka dengan itu oleh Umar disedekahkan
kepada fakir miskin, kaum kerabat, membebaskan hamba sahaya, fi
sabilillah dan kepada tamu. Boleh juga orang yang mengurusnya ikut
menikmati dengan sepantasnya atau memberikan kepada teman yang
tidak ikut memilikinya. Dan dia berkata: Yang tak boleh dijual, dihibahkan
atau diwariskan pokoknya. Inilah yang pertama kali sedekah
dilakukan dalam Islam, dan inilah pokok yang pertama yang menjadi
sistem wakaf di kalangan Muslimin di mana pun mereka berada.
Tidak heran jika orang yang sudah demikian rupa keadaannya dan
zuhudnya akan sangat dihargai dan dihormati oleh semua umat Islam
lepas dari wataknya yang begitu keras dan tegar. Ia juga sangat dicintai dan
dihargai oleh Rasulullah sehingga ia memanggilnya dengan Saudaraku.
Pernah Umar meminta izin kepadanya akan melaksanakan umrah. Nabi
mengizinkan dengan mengatakan: "Saudaraku, jangan lupakan kami
dalam doa Anda." Setiap Umar ingat akan kata-kata ini ia berkata:
"Sejak terbit matahari kata "Saudaraku," inilah yang saya senangi."
Allah menempatkan kebenaran di lidah dan di hati Umar
Keikhlasan dan kebersihan hati dari segala hawa nafsu serta
cintanya pada keadilan, itulah yang membuat gelar "al-Faruq" melekat
padanya. Belum terdapat kata sepakat siapa yang menamakan Umar al-
Faruq. Ketika ditanya mengenai hal ini menurut sumber dari Aisyah
ketika ditanya ia berkata: "Nabi 'alaihis-salam." Disebutkan bahwa
Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Allah menempatkan
kebenaran di lidah dan di hati Umar. Dialah al-Faruq" ("Pemisah"),
yang memisahkan antara yang hak dengan yang batil." Dalam at-Tabaqat
Ibn Sa'd mengutip sebuah ungkapan berikut rujukannya sebagai
berikut: "Saya mendapat kabar bahwa yang pertama kali mengatakan
Umar al-Faruq Ahli Kitab. Kaum Muslimin menggunakan sebutan itu
dari kata-kata mereka. Belum ada suatu berita yang kami terima bahwa
Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengatakan itu." Mana
pun yang benar dari sumber-sumber tersebut, yang tak dapat diragukan
lagi Umar adalah seorang Faruq — yang memisahkan antara yang hak
dengan yang batil. Dan inilah yang mengabadikan nama al-Faruq
sepanjang sejarah, yang melekat pada Umar sampai sekarang, dan akan
tetap demikian selamanya. Mengenai sikapnya yang begitu keras dan tegar, itu pulalah maka
Nabi lebih mengutamakan Abu Bakr, dan selain Abu Bakr tak ada
orang yang lebih diutamakan, karena keikhlasannya, keterusterangannya,
keteguhan hati serta kebijakannya. Umar, yang begitu terkenal
karena sikapnya yang keras dan tegar sehingga tak dapat ditawar-tawar,
dalam beberapa peristiwa tampak ia lemah lembut dengan perasaan
yang halus seperti sebagian sudah kita kemukakan peristiwanya ketika
ia masuk Islam. Disebutkan bahwa ketika Umar meminta izin akan
menemui Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam, ada beberapa perempuan
Kuraisy yang sedang berbicara kepada Nabi dengan suara
tinggi. Setelah diizinkan, perempuan-perempuan itu cepat-cepat mengenakan
hijab.1 Begitu Umar masuk, Rasulullah tertawa seraya
berkata: "Heran saya melihat perempuan-perempuan yang sejak tadi
sudah di tempat saya, tetapi begitu mendengar suara Anda cepat-cepat
1 Hijab, biasanya berarti tabir, pemisah. Di sini rupanya, seperti di beberapa tempat
lain, juga berarti kerudung.
mereka mengenakan hijab." Umar menjawab: "Lebih berhak Rasulullah
yang harus mereka segani." Kemudian sambungnya: "Mereka memusuhi
diri mereka sendiri. Kalian segan kepada saya dan tidak segan
kepada Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam? Mereka menjawab:
"Ya, karena Anda kasar dan keras."

Akhlak Umar dan kesedihannya ketika Nabi wafat
Mungkin karena kerasnya Umar, ketika dalam sakitnya Rasulullah
meminta Abu Bakr mengimami salat. Suatu waktu Abu Bakr tak ada di
tempat, dan yang menjadi imam salat Umar dengan suaranya yang
nyaring terdengar menggelegar, maka Rasulullah bertanya: "Mana Abu
Bakr? Allah dan kaum Muslimin tidak menghendaki yang demikian."
Melihat wataknya yang keras dan tegar adakalanya kita heran
ketika ada berita Rasulullah telah wafat melihat Umar kebingungan
menghadapi kenyataan. Ia menolak setiap usaha orang yang hendak
meyakinkannya mengenai kenyataan pahit itu. Ia berdiri di depan orang
banyak sambil berkata: "Ada orang dari kaum munafik yang mengira
bahwa Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam telah wafat. Tetapi,
demi Allah sebenarnya dia tidak meninggal, melainkan ia pergi kepada
Tuhan, seperti Musa bin Imran. Ia telah menghilang dari tengah-tengah
masyarakatnya selama empat puluh hari, kemudian kembali lagi ke
tengah mereka setelah dikatakan dia sudah mati. Sungguh, Rasulullah
pasti akan kembali seperti Musa juga. Orang yang menduga bahwa dia
telah meninggal, tangan dan kakinya harus dipotong!" Setelah Abu
Bakr datang dan sesudah melihat Rasulullah ia pun yakin bahwa Rasulullah
memang sudah tiada. Abu Bakr mendatangi orang-orang yang
sedang berkerumun itu lalu katanya: "Barang siapa mau menyembah
Muhammad, Muhammad sudah meninggal. Tetapi barang siapa menyembah
Allah, Allah hidup selamanya tak pernah mati." Kemudian ia
membacakan firman Allah: "Muhammad hanyalah seorang Rasul;
sebelumnya pun telah berlalu rasul-rasul. Apabila dia mati atau
terbunuh kamu akan berbalik belakang? Barang siapa berbalik
belakang samasekali takkan merugikan Allah tetapi Allah akan
memberi pahala kepada orang-orang yang bersyukur." (Qur'an,
3:144). Setelah Abu Bakr membacakan ayat itu, Umar jatuh tersungkur
ke tanah. Kedua kakinya sudah tak dapat menahan lagi, setelah ia yakin
bahwa Rasulullah memang sudah wafat, seolah ia tak pernah mendengar
ayat itu sebelumnya. Saat itu mana wataknya yang keras dan
tegar itu! Bahkan mana pula ketidaksabarannya dan yang selalu gelisah
dibandingkan dengan ketabahan Abu Bakr yang begitu lembut hati,
cepat keluar air mata, teman dekat dan pilihan RasuluUah itu, mana
pula tempat Umar dibandingkan dengan ketabahan Abu Bakr!
Tetapi tak lama setelah kembali sadar, Umar kembali pula sebagai
manusia politik. Kembali ia memikirkan masa depan kaum Muslimin
sesudah peristiwa yang sungguh memilukan hati itu. Besar sekali
dampak pemikiran dan tindakannya dalam menghadapi situasi kritis
semacam ini, sehingga ia dapat menangkis setiap permusuhan terhadap
Islam, dan sekaligus membuka jalan untuk penyebarannya di barat dan
di timur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar