UMAR MASUK ISLAM
Islam dan menjadi pengikut
Muhammad. Mereka itulah yang harus Anda hadapi." Umar kembali
pulang hendak menemui adik perempuannya dan iparnya. Ketika itu di sana
Khabbab bin al-Arat yang sedang memegang lembaran-lembaran Qur'an
membacakan kepada mereka Surah Ta- Ha. Begitu mereka merasa ada Umar
datang, Khabbab bersembunyi di kamar mereka dan Fatimah
menyembunyikan kitab itu. Setelah berada dekat dari rumah itu ia masih
mendengar bacaan Khabbab tadi, dan sesudah masuk langsung ia
menanyakan: "Saya mendengar suara
bisik-bisik apa itu?" "Saya tidak mendengar apa-apa," Fatimah menjawab.
"Tidak!" kata Umar lagi, "Saya sudah mendengar bahwa kamu berdua sudah
menjadi pengikut Muhammad dan agamanya!" Ia berkata
begitu sambil menghantam Sa'id bin Zaid keras-keras. Fatimah, yang
berusaha hendak melindungi suaminya, juga
mendapat pukulan keras. Melihat
tindakan Umar yang demikian, mereka berkata: "Ya, kami sudah
masuk Islam, dan kami beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya. Sekarang
lakukan apa saja sekehendak Anda!" Melihat darah di muka adiknya itu
Umar merasa menyesal, dan menyadari apa yang telah
diperbuatnya. "Ke marikan kitab yang saya dengar kalian baca tadi,"
katanya. "Akan saya lihat apa yang diajarkan Muhammad!" Fatimah berkata:
"Kami khawatir akan Anda sia-siakan." "Jangan takut," kata
Umar. Lalu ia bersumpah demi dewa-dewanya bahwa ia akan mengembalikannya
bilamana sudah selesai membacanya. Kitab itu diberikan oleh Fatimah.
Sesudah sebagian dibacanya, ia berkata: "Sungguh indah dan mulia
sekali kata-kata ini!" Mendengar katakata
itu Khabbab yang sejak tadi
bersembunyi keluar dan katanya kepada Umar: "Umar, demi
Allah saya sangat mengharapkan Allah akan memberi kehormatan kepada
Anda dengan ajaran Rasul-Nya ini. Kemarin saya mendengar ia
berkata: 'Allahumma ya Allah, perkuatlah Islam dengan Abul-Hakam bin
Hisyam1 atau dengan Umar bin Khattab.' Berhati-hatilah,
Umar!'" Ketika itu Umar berkata: "Khabbab, antarkan saya kepada Muhammad.
Saya akan menemuinya dan akan masuk Islam," dijawab oleh
Khabbab dengan mengatakan: "Dia dengan beberapa orang sahabatnya di
sebuah rumah di Safa." Umar mengambil pedangnya dan pergi langsung
mengetuk pintu di tempat Rasulullah dan sahabat-sahabatnya berada. Lebih
dikenal dengan nama Abu Jahl. Namanya yang sebenarnya Abul-Hakam bin Hisyam.
Mendengar suaranya, salah seorang
di antara mereka mengintip dari celah pintu. Dilihatnya Umar
yang sedang menyandang pedang. la kembali ketakutan sambil berkata:
"Rasulullah, Umar bin Khattab datang membawa pedang. Tetapi Hamzah bin
Abdul-Muttalib menyela: "Izinkan dia masuk. Kalau
kedatangannya dengan tujuan yang baik, kita sambut dengan baik; kalau
bertujuan jahat, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri. Ketika itu
Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Izinkan dia
masuk." Sesudah diberi izin Rasulullah berdiri menemuinya di sebuah ruangan.
Digenggamnya baju Umar kemudian ditariknya kuat-kuat seraya katanya: "Ibn Khattab, apa maksud kedatanganmu? Rupanya Anda tidak akan berhenti
sebelum Allah mendatangkan bencana kepada Anda!" "Rasulullah,"
kata Umar, "saya datang untuk menyatakan keimanan kepada Allah dan kepada Rasul-Nya
serta segala yang datang dari Allah." Ketika itu juga
Rasulullah bertakbir, yang oleh sahabat-sahabatnya sudah dipahami bahwa Umar masuk
Islam.
Sumber yang didasarkan kepada Umar sendiri
Demikian sumber-sumber yang lebih
terkenal mengenai keislaman Umar. Di samping itu ada beberapa
sumber lain, yang paling terkenal yang didasarkan kepada Umar
sendiri tatkala ia berkata: "Saya memang jauh dari Islam. Saya pecandu
minuman keras di zaman jahiliah, saya sangat menyukainya dan saya
menjadi peminum. Kami mempunyai tempat sendiri tempat kami
berkumpul dengan pemuka-pemuka Kuraisy. Suatu malam saya keluar akan
menemui teman-teman duduk itu. Tetapi tak seorang pun yang ada
di tempat itu. Dalam hati saya berkata: Sebaiknya saya mendatangi si
polan, pedagang khamar itu. Dia di Mekah berdagang khamar;
kalau-kalau di tempat itu ada khamar, saya ingin minum. Saya pun pergi ke
sana. Tetapi tak ada orang. Dalam hati saya berkata lagi: Sebaiknya saya
ke Ka'bah, berkeliling tujuh kali atau tujuh puluh kali. Maka saya pergi
ke Masjid akan bertawaf di Ka'bah. Tetapi ternyata di sana ada
Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam
sedang salat. Ketika itu jika ia
salat menghadap ke Syam, dan Ka'bah berada di antara dia dengan Syam,
tempat salatnya di antara dua sudut hajar aswad dengan sudut Yamani.
Ketika kulihat kataku: Sungguh, saya sangat mengharap malam ini
dapat menguping Muhammad sampai saya dapat mendengar apa yang
dikatakannya. Saya khawatir dia akan Semua sebutan 'Masjid' dalam
terjemahan ini berarti Masjidilharam di Mekah atau Masjid Nabawi di Madinah. terkejut kalau saya dekati. Maka saya datang
dari arah Hijr. Saya masuk ke balik kain Ka'bah; saya
berjalan perlahan hingga saya berdiri di depannya berhadap-hadapan;
antara saya dengan dia hanya dibatasi kain Ka'bah, sementara Rasulullah
Sallallahu 'alaihi wa sallam sedang salat dengan membaca Qur'an.
Setelah saya dengar Qur'an itu dibacanya, hati saya rasa tersentuh. Saya
menangis; Islam sudah masuk ke dalam hati saya. Sementara saya
masih tegak berdiri menunggu sampai Rasulullah Sallallahu 'alaihi
wa sallam selesai salat. Kemudian ia pergi pulang menuju rumahnya.
Saya ikuti dia, hingga sudah dekat ke rumahnya saya dapat menyusulnya.
Mendengar suara gerak-gerik saya ia sudah mengenal saya dan
dikiranya saya menyusul hendak menyakitinya. Ia menghardikku seraya katanya:
Ibn Khattab, apa maksud kedatangan Anda?! Saya menjawab: Kedatangan
saya hendak beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya serta
kepada segala yang datang dari Allah. Setelah menyatakan alhamdulillah
ia berkata: Umar, Allah telah memberi petunjuk kepada Anda. Kemudian ia
mengusap dada saya dan mendoakan saya agar tetap tabah. Setelah
itu saya pun pergi meninggalkan Rasulullah sebagai orang yang
sudah beriman kepada agamanya." Sumber yang dihubungkan kepada
Umar ini merupakan sebuah gambaran yang terdapat dalam Musnad
Imam Ahmad bin Hanbal — dengan harapan kiranya dapat
melengkapi apa yang sudah dilukiskan di atas — yang menyebutkan bahwa
Umar berkata: Saya pergi hendak menghadang Rasulullah Sallallahu
'alaihi wa sallam sebelum saya masuk Islam. Saya lihat dia sudah
mendahului saya ke mesjid. Saya berdiri di belakangnya. Ia
memulai bacaannya dengan surah al-Haqqah. Saya sungguh kagum dengan susunan
Qur'an itu. Dalam hati saya berkata: Sungguh dia memang seorang
penyair seperti dikatakan Kuraisy. Kemudian dibacanya:
"Bahwa ini sungguh perkalaan
Rasul yang mulia. Itu bukanlah perkataan seorang penyair;
sedikit sekali kamu percaya!" (Qur'an, 69:40-41). Kata saya, dia seorang
dukun. Kemudian dibacanya: "Juga bukan perkataan
seorang peramal; sediklt sekali kamu mau menerima peringatan. (lni adalah
wahyu) yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Dan kalau dia
mengada-adakan perkataan atas nama Kami, pasti Kami tangkap dia
dengan tangan kanan, kemudian pasti Kami potong pembuluh jantungnya.
Maka tak seorang pun dari kamu dapat mempertahankannya." (Qur'an, 69:42-47) sampai akhir
surah. Maka Islam sungguh menyentuh hati
saya begitu dalam. Inilah sumber yang juga terkenal
sesudah yang pertama tadi. Ibn Ishaq memperkuat kedua sumber itu
dan menempatkannya berurutan demikian dengan mengatakan:
"Yang mana pun hanya Allah Yang Mahatahu." Kedua sumber itu
dan yang semacamnya yang biasanya dikutip oleh kitab-kitab sekitar islamnya
Umar melukiskan saat Umar meninggalkan agama nenek moyangnya. Rasulullah
telah menyaksikan keimanannya kepada Allah, kepada
Rasul-Nya dan kepada segala yang datang dari Allah. Tetapi semua
itu tak ada yang melukiskan suatu gambaran dari segi psikologi, apa
yang menyebabkan sampai ia memeluk Islam. Adakah kejadian itu
tiba-tiba begitu saja? Sudah begitu jauhkah Umar menjauhi dan
memusuhi Islam sampai dia tidak mau lagi memikirkan dan merenungkannya,
kemudian Allah menanamkan iman ke dalam hatinya melalui kitab
yang dibacakan Khabbab kepada adiknya atau Qur'an yang dibaca
Rasulullah dalam salatnya, oleh Yang Mahakuasa dijadikan jalan untuk
memberi petunjuk kepada orang yang paling keras memusuhi agama-Nya
itu? Ataukah tidak demikian adanya, Umar sudah pernah mendengar
pembacaan Qur'an sebelum yang dibacakan dalam kitab Khabbab,
dan sebelum bersembunyi di balik kain Ka'bah lalu mendengarkannya
dari Rasulullah, dan bahwa dia mengkaji kembali antara dirinya
dengan Rasulullah, kemudian ia berbalik
pikir tentang diri lalu
merenungkan keadaan dirinya dengan Muhammad dan
pengikut-pengikutnya, lalu dengan lama merenungkan itu lelah mengantarkannya kepada
Islam, dengan izin Allah? Dari sumber-sumber para sejarawan
itu tak terdapat suatu gambaran tentang Umar yang masuk Islam
dalam kedua peristiwa itu, padahal untuk melukiskannya bukan
hal yang sulit. Penggambaran demikian ini hakikatnya sangat
menentukan, yang oleh umum dianggap suatu hal yang tak perlu
dipersoalkan, tetapi kita melihatnya cenderung tak dapat segera bertahan
terhadap kritik. Yang biasanya diceritakan menurut
sumber.yang masyhur, bahwa Umar keluar hendak membunuh
Muhammad saat ia dan sahabat- sahabatnya sedang berada di Safa
kalau tidak karena Allah telah memberi petunjuk kepadanya waktu
ia membaca kitab yang dibacakan Khabbab kepada ipar dan adiknya.
Tak masuk akal bahwa dengan pedangnya Umar bermaksud membunuh
Muhammad yang sedang di tengah-tengah empat puluh orang
sahabatnya, di antaranya ada Hamzah bin Abdul-Muttalib dan Abu
Ubaidah bin al-Jarrah serta pahlawanpahlawan Mekah lainnya, apalagi mau
beranggapan bahwa ia mampu melaksanakan maksudnya itu. Dapat
saja ia memutuskan ingin bebas dari Muhammad dengan jalan
membunuhnya, dan sedang memikirkan cara-cara pelaksanaannya, tetapi
sementara ia membaca Qur'an itu dan melihat isinya yang begitu indah
ia surut dari niatnya dan kemudian masuk Islam. Tetapi bahwa dia
akan membunuhnya dengan cara seperti yang dilukiskan oleh cerita yang
sudah terkenal tentang islamnya Umar itu, adalah hal yang tak masuk
akal, dan saya cenderung demikian. Yang lebih dapat diterima, ialah
sumber kedua dari penuturan Umar sendiri dan yang diperkuat oleh
Ibn Hanbal dalam Musnad-nya.
Mendambakan ketertiban masyarakatnya dan kota Mekah
Hal ini dapat diterima karena
lebih sesuai dengan apa yang sudah umum diketahui tentang pribadi
dan psikologi Umar. Dia asli dari masyarakatnya sendiri, sangat
fanatik terhadap mereka, ingin sekali
melihat ketertiban dan kedudukan
kota mereka yang kuat. Di samping itu ia laki-laki yang praktis,
suka bekerja. Nilai pikiran baginya ialah dampaknya yang nyata dalam
kehidupan. Tetapi merenung hanya untuk merenung, berpikir semata-mata
hanya untuk berpikir dan berlama-lama menimang-nimang untuk mencari
kebenaran di balik itu, kendati untuk kebenaran dan pemikiran itu tak
memberi kesan yang berpengaruh dalam kehidupan mereka, maka
tidaklah dia sendiri akan tertarik atau akan dapat melepaskan diri dari
kebiasaan masyarakatnya. Itulah pandangannya sekitar masalah-masalah duniawi
secara keseluruhan, bahkan yang berhubungan dengan
masalah-masalah rasa simpati itu sendiri. Ia tidak senang melihat pemuda yang
menghabiskan waktunya hanya untuk bercumbu dengan perempuan atau
mendendangkan kecantikannya, dengan maksud hendak menggodanya.
Baginya, yang demikian hanya memperlihatkan kelemahan, yang
tak patut bagi seorang laki-laki yang sudah cukup dewasa. Karenanya, ia
tak pernah bersimpati kepada orang-orang yang bercinta-cinta
dengan jalan menyanyi-nyanyikan nyanyian rindu asmara sebagai
profesinya. Mengenai pandangannya tentang keyakinannya itu,
terlihat dari keberangannya yang luar biasa terhadap saudara sepupunya, Zaid
bin Amr, sebab dia meninggalkan agama masyarakatnya, dan pergi
mencari agama benar itu dari yang lain. Buat Umar semua itu khayal
belaka yang tak ada artinya dalam hidup, dan tidak sesuai dengan
wataknya yang ingin melihat ketertiban umum serta kedudukan Mekah yang
kuat di mata semua orang Arab. Kecenderungan berpikir demikian
memang sejalan dengan sosok Umar bertubuh kuat dan kekar. Oleh karena itu ia
percaya kepada kekuatan dalam segala sikapnya.
Kepercayaannya kepada kekuatan yang paling menonjol tampak pada
permulaan kerasulan Nabi, saat ia sedang berada di puncak
keperkasaannya dengan segala kekerasan watak dan semangatnya sebagai
pemuda yang belum merasakan asam garamnya kehidupan. Itu pula
sebabnya ia menyiksa siapa saja pengikut Nabi yang dapat disiksanya,
supaya keluar dari agamanya. Kalau ia mampu memerangi mereka semua,
niscaya akan diperanginya. Tetapi dia tahu bahwa kabilah-kabilah
Kuraisy melarang yang demikian, dan kabilahnya sendiri — Banu Adi —
tidak sependapat dengan dia. Itu sebabnya, seperti yang dilakukan
oleh orang-orang Kuraisy lainnya, kemampuannya terbatas hanya
sampai pada penyiksaan kaum duafa atau orang-orang yang lemah,
tanpa dapat melakukan kekerasan terhadap Abu Bakr, Usman bin Affan, Abu
Ubaidah bin al-Jarrah dan yang lain, yang akan dilindungi
oleh kabilah-kabilah mereka. Tetapi yang masih dapat dilakukannya,
mengadakan pemboikotan dan menyakiti siapa saja yang dapat
dijangkaunya. Sungguhpun begitu, di samping
semua itu sebenarnya Umar orang yang berhati lembut, berperasaan
halus dalam arti keadilan. Salah satu bukti kelembutan hatinya tatkala
adiknya hendak melindungi suaminya dipukulnya sekeras-kerasnya.
Setelah dilihatnya adiknya sampai berdarah, ia menyesal dan menyadari
kesalahannya sendiri. Kelembutan demikian sering kita jumpai pada
orang-orang yang kuat dan bertangan besi tatkala mereka sudah
melampaui batas dalam berpegang pada kekuatan. Percakapannya dengan
Umm Abdullah binti Abi Hismah ketika siap akan berangkat hijrah
ke Abisinia, memperlihatkan sikap yang sangat lemah lembut
kepadanya. Umm Abdullah pun begitu terharu melihat sikapnya yang demikian
sehingga ia berkata kepada suaminya yang ketika itu baru
datang: "Kalau saja tadi Anda melihat Umar dan sikapnya yang begitu
lemah lembut serta kesedihannya melihat kami, sampai-sampai saya
mengharapkan ia masuk Islam." Sifat-sifat demikian ini dapat
menerjemahkan kepada kita mengapa ia kemudian masuk Islam. la ingin
sekali melihat ketertiban dan kedudukan Mekah yang kuat, di samping keprihatinannya jika
ajakan agama baru ini nanti akan merusaknya. Sesudah ia melihat Nabi dan
sahabat-sahabatnya mengajak orang kembali kepada Tuhan dengan
cara yang baik dan jangan membuat kerusakan di muka bumi, kemudian
dilihatnya mereka begitu teguh berpegang pada agama itu, dan
akidah bagi mereka iebih berharga daripada segala apa yang ada di dunia, bahkan lebih berharga daripada hidup mereka sendiri, ia kembali
berpikir tentang mereka dan tentang sikapnya sendiri terhadap mereka.
Mereka sudah diancam, dianiaya dan disiksa, namun mereka pantang
menyerah. Atas segala penderitaan yang mereka alami, mereka hanya
berkata: "Allah adalah Tuhan kami." Mereka lebih-lebih lagi dianiaya
dan disiksa. Malah mereka memilih untuk mengorbankan tanah tumpah
darah daripada mengorbankan akidah. Mereka pun mengarungi lautan, hijrah dan berlindung di bumi Allah yang lain dengan agama
mereka. Agama ini bukan sekadar konsep teori yang tak memberi
dampak apa-apa kepada pemeluknya, juga dalam kehidupan jemaah
tempat mereka hidup, tetapi sudah merupakan kekuatan pendorong yang
pengaruhnya begitu dahsyat, baik dalam kehidupan pribadi ataupun
dalam kehidupan bersama. Pengaruh demikian sudah mulai tampak dalam
kehidupan Mekah begitu Islam lahir. Dan pengaruh ini makin
lama akan lebih besar dan makin jelas. Bagaimana akhirnya keadaan Mekah
dan kedudukannya jika hijrah ini berjalan terus, dan orang-orang
mengetahui bahwa anak negerinya tak dapat tinggal di tempat sendiri
karena diperlakukan begitu kejam, padahal ada pertalian kerabat dan
hubungan baik antara mereka dengan kabilah-kabilah yang juga
termasuk Mekah. Mereka diperlakukan begitu kejam hanya mereka berbeda
keyakinan dengan masyarakatnya. Di tanah Arab ketika itu memang
terdapat berbagai macam kepercayaan: ada yang percaya kepada
berhala-berhala, ada Ahli Kitab orang-orang Yahudi dan Nasrani,
ada penganut agama Majusi mengikuti orang Persia. Bukankah akan lebih
baik buat Mekah bila Muslimin pergi meninggalkannya,
mereka tidak diganggu dan tidak akan digoda karena akidah mereka,
dan biarkan masing-masing bebas memeluk agama dan bersama-sama
dengan mereka? Bukankah orang semacam Umar sudah belajar
seperti yang lain, dan pengetahuannya tentang pemikiran Persia, Rumawi,
Yahudi dan Nasrani sudah melebihi yang lain, masih akan menjauhi
Muslimin? Tidakkah sebaiknya ia mau menggunakan penalarannya yang
lebih cermat dan teliti mengenai agama mereka, bukan penalaran
orang yang fanatik dan dengki?! Dia dan masyarakatnya sudah tahu
tentang ajakan Muhammad dan tentang Qur'an yang diwahyukan
kepadanya. la pun sudah tahu berita tentang mereka yang memasang
telinga mendengarkan Rasulullah yang sedang salat tengah malam di
rumahnya. Bagaimana mereka kembali lagi memasang telinga
mendengarkan Rasulullah membaca Qur'an itu. la pun tahu bagaimana mereka
saling menyalahkan. Kemudian juga ia tahu bahwa ketika Abul-Hakam bin
Hisyam ditanya apa yang sudah didengarnya ia menjawab:
"Kami dengan Abdu-Manaf saling berebut kehormatan: Mereka memberi makan,
kami pun memberi makan; mereka menanggung, kami pun
begitu; mereka memberi, kami pun memberi, sehingga kami dapat
sejajar dan sama tangkas daiam perlombaan. Tiba-tiba kata mereka: 'Di
kalangan kami ada seorang nabi yang menerima wahyu dari langit!
Kapan kita akan menjumpai yang semacam itu? Tidak! Kami
samasekali tidak akan percaya dan tidak akan mempercayai atau
membenarkannya!" Atas dasar itu Abul-Hakam dan kawan-kawannya tetap menyiksa
kaum Muslimin dengan sewenangwenang tanpa alasan yang benar. Dan
Muslimin pun tetap berpegang pada agamanya tanpa menyerah
karena siksaan. Bahkan cinta mereka lebih besar dan lebih kuat lagi
berpegang pada agama itu. Bukankah ini suatu bukti yang
kuat bahwa mereka dalam kebenaran dan bahwa Abu Jahl tidak mau
memperhatikan, tidak man beriman atau mempercayai agama
Muhammad karena antara Keluarga Abdu-Syams dengan Keluarga
Abdu-Manaf terjadi persaingan yang keras?! Tetapi mengapa Umar tidak
mau memperhatikan agama baru ini, padahal antara Keluarga Adi
dengan Keluarga Abdu-Manaf tak ada persaingan? Itu sebabnya Umar
pergi bersembunyi di balik kain Ka'bah untuk melihat Muhammad
sembahyang, dan untuk mendengarkan ia membaca Qur'an dalam salatnya
itu. Karenanya, ia ingin sekali membaca Surah Ta-Ha dalam kitab yang ada
di tangan adik perempuannya. Ia sudah merenungkan semua itu,
dan lama sekali memikirkan sampai akhirnya ia mendapat hidayah.
Allah telah memperkual agama-Nya dengan Umar, dan dia pun membela
Rasul-Nya. Nabi 'alaihis-salam memang
ingin sekali Islam dapat diperkuat dengan orang yang kuat dan
berani, yang tidak takut menghadapi musuh dalam membela akidah. Nabi
berdoa kepada Tuhan: "'Ya Allah, perkuat Islam
dengan Abul-Hakam bin Hisyam atau Umar bin al-Khattab."
Bagaimana Umar mendapat hidayah dan masuk Islam
Abul-Hakam1 ini laki-laki
berwajah keras, kasar mulut dan keras
kepala. la tidak peduli dan tidak
gentar menghadapi perang. Sedang
Umar sudah kita lihat sendiri.
Keislaman keduanya jelas akan memperkuat
Islam, dan banyak yang akan
mereka lindungi dari penganiayaan.
Tetapi Abul-Hakam — seperti sudah
disebutkan di atas —
banyak terpengaruh oleh faktor
persaingan antarkeluarga, sehingga
untuk beriman kepada agama yang
dibawa oleh Muhammad bukan soal
mudah. Sebaliknya Umar, sedikit
demi sedikit ia selalu didorong ke
arah jalan yang benar, dan
berangsur-angsur ia dapat mendobrak
belenggu fanatisme kegolongan di
sekitarnya, dan dapat menegakkan
bibit-bibit keadilan sejati yang
ada dalam dirinya, sampai berakhir pada
apa yang sudah kita sebutkan di
atas. Maka ia pun mendatangi Muhammad
yang sedang berada di
tengah-tengah para sahabatnya di Darul
Arqam di Safa, atau mengikutinya
dalam perjalanan pulang dari tempat
ia salat di Ka'bah ke rumahnya.
Setelah ditanya oleh Rasulullah: Apa
maksud kedatanganmu?! Tanpa ragu
ia menjawab: "Kedatangan saya
hendak beriman kepada Allah dan
kepada Rasul-Nya serta kepada
segala yang datang dari
Allah."
Dengan demikian Umar masuk Islam
atas dasar pembuktian setelah
dibuktikannya adanya pengaruh
agama ini yang begitu kuat dalam jiwa
orang-orang beriman, dari
kehidupan pribadi sampai kepada kehidupan
masyarakat bersama serta
organisasinya. Ia menganut agama Allah
dengan semangat yang sama seperti
ketika dulu ia memeranginya. Ingin
sekali ia agar masyarakat Muslimin
menjadi sebuah organisasi yang
dapat mempertahankannya seperti
Kuraisy dulu. Begitu ia menjadi
Muslim ia mengumumkan
keislamannya itu kepada Kuraisy seluruhnya.
Disebutkan bahwa dia berkata:
"Setelah malam itu saya masuk Islam,
teringat saya betapa kerasnya
penduduk Mekah memusuhi Rasulullah
Sallalldhu 'alaihi wa sallam sebelum saya datang kepadanya dan
menyatakan saya telah menganut
Islam. Pagi keesokan harinya saya
datang mengetuk pintu rumah Abu
Jahl. Ia membukakan pintu seraya
berkata: 'Selamat datang,
kemenakanku! Ada apa?' Saya menjawab:
'Saya datang untuk memberitahukan
kepada Anda bahwa saya sudah
beriman kepada Allah dan kepada
Rasul-Nya Muhammad dan saya
percaya akan segala yang
dibawanya.' Ia membanting pintu di depanku
sambil berkata: 'Sial kau! Dan
berita celaka yang kaubawa!'"
1 Abu al-Hakam bin Hisyam dari
kabilah Banu Makhzum, dalam sejarah Islam lebih
dikcnal dengan nama Abu Jahl.
—Pnj
Umar mengumumkan keislamannya
Abdullah bin Umar yang ketika
bapanya masuk Islam masih anakanak
tetapi sudah mengerti apa yang
dilihatnya. la mengatakan mengenai
keinginan bapanya untuk
mengumumkan keislamannya, dan
untuk itu ia mau menantang
Kuraisy. Menurut sebuah sumber ia berkata:
"Bapaku Umar berkata setelah
ia masuk Islam: Kuraisy yang
mana yang lebih cepat
menyampaikan berita? Dijawab: Jamil bin
Ma'mar al-Jumahi. Pagi itu ia
pergi menemui Jamil dan mengatakan
kepadanya: Anda tahu, Jamil,
bahwa saya sudah menjadi Muslim dan
sudah menganut agama Muhammad? Ia
tidak membantah tetapi berdiri
dan diikuti oleh Umar. Ketika
sudah berada di depan pintu mesjid ia
berteriak sekuat-kuatnya: Hai
Kuraisy — mereka sedang berkumpul di
tempat-tempat pertemuan mereka di
sekitar Ka'bah — ketahuilah bahwa
Umar bin Khattab sudah menyimpang
meninggalkan agama leluhurnya!
Umar berkata dari belakangnya:
Bohong! Tetapi saya sudah masuk
Islam dan bersaksi bahwa tiada
tuhan selain Allah dan bahwa
Muhammad hamba dan Rasul-Nya!
Saat itu juga mereka gaduh dengan
melemparkan tuduhan kepada Umar.
Mereka saling serang hingga saat
matahari sudah mulai tinggi.
Karena merasa sudah letih Umar duduk.
Ketika mereka berdiri
mengelilinginya, Umar berkata: Lakukanlah sekehendak
kalian. Saya bersumpah kalau kami
sudah mencapai tiga ratus
orang, akan kami tinggalkan semua
itu buat kalian, atau kalian tinggalkan
buat kami. Sementara mereka dalam
keadaan demikian datang
seorang laki-laki tua dari
Kuraisy mengenakan jubah katun bergarisgaris
dan baju bersulam. Ia berdiri di
depan mereka seraya berkata:
Ada apa ini!? Umar meninggalkan
agama leluhurnya, jawab mereka.
Lalu? Kalau orang mencari sesuatu
untuk dirinya sendiri kalian mau
apa? Kamu kira Banu Adi bin Ka'b
akan menyerahkan anggotanya
begitu saja? Biarkan dia...!
Seolah mereka pakaian yang sudah tak
terpakai..." Setelah hijrah
Umar ditanya oleh Abdullah anaknya: Ayah, siapa
laki-laki yang menghardik
orang-orang di Mekah dulu tatkala ayah
masuk Islam dan mereka mau
menyerang ayah? Umar menjawab: Dia
al-As bin Wa'il dari Banu Sahm. Al-As
bin Wa'il ini ayah Amr bin As.1 Sampai pada
waktu Umar menerima Islam ia
tetap memberi perlindungan kepadanya. Pihak Ku-
Amr bin al-As tokoh Kuraisy dan
tokoh milker dan politik yang pcnting di Mckah,
yang sesudah Perjanjian Hudaibiah
delapan tahun sesudah hijrah Nabi ia bersama
raisy pun tetap mengancam Umar
setelah ia lepas dari mereka. la
tinggal di rumah menunggu dengan
rasa khawatir. Abdullah bin Umar
menuturkan: Selama masih dengan
kekhawatirannya itu di rumah tibatiba
datang al-As bin Wa'il as-Sahmi.
Di zaman jahiliah dulu Banu
Sahm ini sekutu kami. "Ada
apa?" tanya al-As. "Golongan Anda bermaksud
akan membunuh saya kalau saya
bergabung ke dalam Islam,"
jawabnya. "Tak
mungkin," kata al-As. Mendengar itu Umar merasa
aman. Ketika al-As keluar dari
tempat Umar, ia menemui orang banyak
yang sedang marah. "Mau ke
mana kalian?" tanyanya. "Kami akan
mendatangi Umar yang sudah
meninggalkan agama kita." Al-As
bertanya lagi: "Kalau Umar
sudah meninggalkan agama kita lalu
mengapa?! Saya akan
melimdunginya!" Mereka lalu bubar.
Tidak heran jika al-As akan
melindungi Umar bin Khattab mengingat
apa yang sudah kita lihat di atas
mengenai perlindungan Banu
Sahm terhadap Banu Adi bin Ka'b
di masa jahiliah, yakni tatkala Banu
Adi bersaing dengan Banu
Abdu-Syams dan kalah, kemudian diusir
oleh Banu Abdu-Syams dari Safa
sehingga terpaksa mereka berlindung
kepada Banu Sahm. Perlindungan
ini membuat Umar makin berani
dalam menganut Islam dan
merupakan tantangan bagi Kuraisy, yang
sekaligus merupakan pembelaan
bagi Muslimin dalam menghadapi
penganiayaan mereka. Dengan
demikian kepribadiannya makin menonjol
dan makin percaya diri. Dia
memang memegang beberapa peranan
penting yang tak ada pada mereka
yang sudah lebih dulu dalam Islam.
Dalam catatan kalangan sejarawan
ia mendapat pujian dan dikagumi
luar biasa. Disebutkan bahwa Umar
pernah bertanya kepada Nabi: "Rasulullah,
bukankah hidup dan mati kita
dalam kebenaran?" Rasulullah
'alaihis-salam menjawab: "Memang bSnar!
Demi Allah, hidup dan mati
kalian dalam kebenaran."
"Kalau begitu," kata Umar lagi, "Mengapa
kita sembunyi-sembunyi? Demi Yang
mengutus Anda demi kebenaran,
kita harus keluar!" Tak lama
Nabi pun keluar dalam dua rombongan.
Dalam rombongan yang satu ada
Umar dan dalam rombongan kedua
ada Hamzah. Keduanya merupakan
lambang keperkasaan. Tatkala
memasuki mesjid, Kuraisy hanya melihat
dengan wajah sendu, baik
Khalid bin Walid menemui Nabi dan
secara terbuka menyatakan masuk Islam. Ketika di
Medinah Nabi menunjuknya sebagai
wakil di Oman. Peranannya dalam bidang militer
dan politik berlanjut sampai masa
Khulafa Rasyidin. Besar jasanya dalam menghadapi
pasukan Rumawi di Palestina dan
Mesir sampai kedua kawasan itu dapat dibebaskannya.
mereka yang beringas ataupun yang
bijak, tak ada yang berani mendekati
kedua rombongan yang di dalamnya
ada dua tokoh itu.
Dia sudah menerima Islam, dan
semua orang harus tahu bahwa dia
sudah menganut agama Islam. Siapa
saja boleh marah kepadanya,
terserah. Siapa saja boleh
memeranginya kalau mau. Siapa saja, biar
mereka yang berkumpul di
tempat-tempat pertemuan mereka di sekitar
Ka'bah berkomplot melawan dan
memusuhinya, biar dia sampai merasa
letih ancamannya terhadap mereka tak akan berkurang
dan ia akan
berterus terang kepada
mereka.bahwa dia akan menghadapi mereka,
dan bahwa kaum Muslimin bilamana
sudah mencapai jumlah tiga ratus
orang perang akan pecah, sampai
mereka dapat mengusir kaum musyrik
dari Mekah, atau mereka yang
diusir oleh kaum musyrik. Kendati ia
sudah tahu bahwa Abu Jahl
beringas dan kejam, ia tak akan mundur, ia
akan mendatanginya dan akan
mengetuk pintu rumahnya serta menyatakan
kepadanya bahwa dia sudah
menerima Islam. Dia kuat, dan percaya
kepada kekuatan. Dia masih muda,
yang sangat percaya kepada kekuatan.
Dia pemberani, terbuka, tak
gentar bertarung dan tak pernah
takut kepada siapa pun. Oleh
karena itu, tak perlu ia sembunyisembunyi
seperti Muslimin yang lain. Malah
ia sudah bersumpah akan
bersembahyang di Ka'bah, yaitu
setelah dulu mereka salat dengan
sembunyi-sembunyi di celah-celah
pegunungan di sekitar Mekah.
Ia sudah memenuhi sumpahnya.
Mengenai hal ini Abdullah bin
Mas'ud berkata: "Islamnya
Umar suatu pembebasan, hijrahnya suatu
kemenangan dan kepemimpinannya
suatu rahmat. Sebelum Umar memeluk
Islam kami tak dapat salat di
Ka'bah; setelah ia menjadi Muslim
diperanginya mereka sampai mereka
membiarkan kami maka kami pun
dapat melakukan salat." Dia
juga berkata: "Sejak Umar bergabung ke
dalam Islam kita merasa mempunyai
harga diri." Menurut sumber dari
Suhaib bin Sinan ia berkata:
"Sejak Umar menganut Islam, Islam
tampil ke depan dan berdakwah
terang-terangan. Kami duduk di sekitar Ka'bah dalam lingkaran-lingkaran
dan kami pun tawaf di Ka'bah; kami berlaku adil terhadap orang yang
dulu memperlakukan kami dengan kasar, dan kini gayung bersambut,
kata berjawab." Umar tidak puas
sebelum ia dapat melawan Kuraisy supaya haknya dan hak
saudara-saudaranya kaum Muslimin sama dengan hak yang lain di Ka'bah
dan dalam melaksanakan salat di sekelilingnya. Sementara dalam
perjuangannya ia melihat Hamzah bin Abdul-Muttalib juga melakukan
perjuangan yang sama. Ia dan Hamzah serta kaum Muslimin yang lain
sekarang dapat bersikap positif, yang dulu tak pernah mereka lakukan,
sikap memperjuangkan hak-hak kaum Muslimin seperti hak-hak yang ada
pada Kuraisy, juga agar mereka mendapat kebebasan berdakwah
agama, sebab baik Kuraisy atau yang lain tak boleh merintangi. Sikap
positif ini ada juga pengaruhnya terhadap semua kabilah Kuraisy. Ternyata banyak di
antara mereka yang begitu cenderung kepada Islam, hanya saja mereka
masih takut karena harus menghadapi gangguan Kuraisy. Tetapi sesudah
Umar masuk Islam dan siap memerangi Kuraisy, kemudian salat di Ka'bah
bersama semua Muslimin, mereka pun bergabung ke dalam
agama Allah dengan anggapan bahwa mereka akan bebas dari gangguan
dan penganiayaan Kuraisy. Dalam hal ini Kuraisy berkata satu sama
lain: "Hamzah dan Umar sudah menganut Islam dan ajaran
Muhammad sudah tersebar ke seluruh Kuraisy." Sekarang mereka
berpikir-pikir, bagaimana cara menghadapi situasi baru ini. Berita besarnya
sambutan Kuraisy terhadap Islam sudah tersiar luas. Berita ini kemudian
tersebar dari Hijaz ke Abisinia. Muslimin yang dulu hijrah ke sana
mendengar berita ini mereka kembali pulang ke tanah air. Tatkala sudah
sampai di dekat Mekah, mereka mendapat kabar bahwa apa yang dikatakan
orang bahwa penduduk Mekah sudah beragama Islam, rupanya tidak
sesuai dengan kenyataan. Soalnya, setelah Kuraisy melihat keluarga
mereka banyak yang mengikuti jejak Umar dan menjadi pengikut
Muhammad, kabilah-kabilah Kuraisy itu mengadakan kesepakatan bersama
dengan menulis sebuah piagam yang isinya memboikot Banu Hasyim dan
Banu Abdul-Muttalib: untuk tidak saling mengawinkan dan tidak
saling berjual beli. Piagam itu digantungkan di Ka'bah sebagai penegasan dari
pihak mereka. Mereka yang hatinya sudah cenderung kepada
Islam tetapi belum masuk Islam melihat apa yang dilakukan
Kuraisy itu mereka menjadi maju mundur dan tidak segera mengikuti
Rasulullah. Dengan demikian perang yang tiada hentinya antara Kuraisy dan
Muslimin pecah lagi. Setelah kaum Muslimin yang baru kembali dari
Abisinia mengetahui soal itu, tak seorang pun dari mereka yang mau
memasuki tanah suci, kecuali yang sudah mendapat perlindungan atau
masuk dengan sembunyi-sembunyi. Sebagian besar mereka kembali ke
Abisinia. Perang berkepanjangan antara
Kuraisy dengan pihak Muslimin sekarang pecah lagi. Tak pelak
Umar pun menjadi sasaran seperti yang dialami oleh sahabat-sahabat
Rasulullah yang lain. Pengalaman yang pernah menimpa mereka kini juga
menimpa Umar. Dengan terus mengikuti turunnya wahyu yang
datang dari Allah imannya bertambah kukuh; ia bertambah cermat dengan
disiplin yang tinggi disertai wawasannya yang tepat setelah ia berada di
dekat Nabi; ia mendapat tempat di hati Rasulullah, untuk
kemudian menjadi seorang sahabat Rasulullah kemudian menjadi
sahabat Abu Bakr pada masanya itu; dan dalam sejarah Islam pengaruhnya
yang begitu besar, sehingga namanya merupakan lambang kekuatan,
keadilan, kasih sayang dan kebaktian sekaligus. Zaman Umar merupakan
zaman yang terbesar dalam sejarah Kedaulatan Islam, bahkan dalam
sejarah peradaban umat manusia. Umar masuk ke dalam agama Allah
ini dengan semangat yang sama seperti ketika dulu memusuhi
Islam. Begitu ia berada dalam keluarga Islam, lebih cenderung ia
mengumumkan keislamannya itu terang-terangan kepada semua
orang Kuraisy. Sebelum itu kaum Muslimin tak dapat melaksanakan salat di
Ka'bah, tetapi dengan kegigihan Umar melawan Kuraisy mereka pun
dibiarkan salat di sana. Dakwah Islam yang mulanya dilakukan dengan
sembunyi-sembunyi, setelah Umar menganut Islam dakwah dilakukan
terang-terangan. Muslimin kini sudah dapat duduk di sekitar
Ka'bah dan melakukan tawaf serta berlaku adil terhadap orang yang dulu
memperlakukan mereka dengan kasar. Oleh karenanya, berita
tentang Muhammad kini lebih tersebar di kalangan para kabilah Kuraisy
semua. Tidak sedikit dari keluarga Kuraisy yang lalu menyambut
Islam. Ketika itulah Kuraisy berkomplot. Kabilah-kabilah mereka mengadakan
kesepakatan dan menulis piagam yang kemudian digantungkan di
dalam Ka'bah, yang isinya merupakan penegasan bahwa di antara mereka
tidak akan mengadakan hubungan dagang atau hubungan apa pun
dengan Muhammad, dengan Banu Hasyim dan Banu Abdul-Muttalib. Dengan
demikian perang antara Kuraisy dengan pihak Muslimin bertambah
sengit.
Permusuhan Kuraisy terhadap
Muslimin
Dalam perang ini Kuraisy menggunakan
segala macam senjata: senjata propaganda dengan
melukiskan Muhammad menyihir orang dengan kata-kata yang dapat memecah
belah orangtua dengan anak, saudara dengan
saudara, suami dengan istri dan antarkeluarga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar