Jumat, 16 Maret 2012

UMAR BIN KHATTAB PADA MASA JAHILIAH


UMAR DI MASA JAHILIAHNYA
Pasar Ukaz Beberapa tahun sebelum kerasulan Nabi, apabila sudah tiba bulan
Zulhijah orang-orang Arab dari berbagai penjuru di Semenanjung
itu seperti biasa, sebelum musim ziarah setiap tahun datang berbondong-
bondong menuntun unta mereka untuk digelar di Pasar Ukaz.
Pada saat semacam itu pasar memang ramai oleh kedatangan berbagai
macam kabilah ke tempat tersebut, di antara mereka terdapat tidak
sedikit dari penduduk Mekah. Orang-orang Arab itu memasang tendatenda
besar di tengah-tengah hamparan padang pasir yang terbentang
luas tempat pasar itu diadakan, dan sebagian dijadikan tempat bursa. Di
depan tenda-tenda besar di bagian ini orang ramai menawarkan barangbarang
dagangan mereka. Barang-barang buatan penduduk Hijaz sendiri
tidak banyak. Sementara penduduk Mekah sudah datang, termasuk juga
orang-orang yang kebanyakan dari Yaman dan Syam dalam perjalanan
musim dingin dan musim panas. Mereka yang datang menuju tempat
ini terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka membeli barang-barang
yang mereka sukai. Sebagian besar perempuan itu berada di tempat
pedagang pakaian, membalik-balik barang-barang itu, kemudian pilihan
pun jatuh pada barang-barang buatan Yaman atau Syam kesenangan
mereka. Jika di antara mereka ada yang cantik, pemuda-pemuda pun
datang ke tenda-tenda itu berpura-pura mau membeli barang. Mereka
lebih ingin menikmati kecantikan perempuan-perempuan itu daripada
berhubungan dengan segala macam barang untuk kemudian dibawa
pulang.Tak jauh dari pasar itu terdapat tempat-tempat hiburan yang di
waktu siang hari dikunjungi pemuda-pemuda dan lebih banyak lagi di
waktu malam. Perempuan-perempuan cantik itu pun tak berkeberatan
berada di dekat-dekat tempat itu. Apabila malam tiba pemuda-pemuda
itu pergi mencicipi minuman sampai mereka terhuyung-huyung. Mereka
memperturutkan kecenderungan hendak bersenang-senang itu dan tidak
jarang kecenderungan demikian kemudian menjurus kepada pertengkaran
yang mulanya tak seberapa tetapi kemudian menjadi besar, dan
berakhir dengan peperangan antarkabilah yang kadang berlanjut sampai
bertahun-tahun. Suatu hari ada seorang penyair tampil di samping pasar itu
membacakanpuisinya, yang dibuka dengan syair cinta dan dari syair cinta
pindah ke syair membanggakan diri dan kabilahnya, kemudian menantang
dan mengumpat kabilah lain yang tahun lalu pernah berseteru
dengan kabilahnya. Orang banyak pun berdatangan dari pasar mengerumuni
penyair yang berjaya itu, mereka memuji sajak-sajak cintanya
itu. Setelah dari cinta beralih kepada kebanggaan diri banyak orang
yang bertepuk tangan kegirangan, tetapi ada juga yang berteriak
menyangkal dan menjelek-jelekkannya. Ketika beralih menantang dan
mengumpat suatu kabilah yang pernah bermusuhan dengan kabilahnya,
teriakan-teriakan yang menyambut gembira dan yang menentang itu
tiba-tiba berubah menjadi pertengkaran sengit, yang bukan tidak mungkin
akan dilanjutkan dengan menghunus pedang. Sesudah sang penyair selesai
membacakan syairnya, ada orang tua yang bijak dapat menengahi
mereka untuk mengajak damai dan ajakannya itu pun dipatuhi.
Di antara kerumunan orang banyak itu ada seorang pemuda di
bawah umur dua puluh tahun — bertubuh kekar, besar dan tingginya
melebihi semua orang yang hadir, putih kemerah-merahan dan agak
kecoklatan—juga ikut mendengarkan pembacaan puisi itu. la mengikutinya
dengan tekun disertai rasa kagum dan sebentar-sebentar menganggukkan
kepala, menunjukkan kegembiraannya dan seleranya yang
tinggi atas segala yang didengarnya itu. Tetapi dia tidak ikut berteriak,
sebab kebanggaan sang penyair atas kabilahnya itu dan tantangannya
kepada kabilah lain tak ada sangkut-pautnya dengan dirinya. Dia tidak
termasuk salah satu kabilah itu. Bahkan keduanya mungkin jauh dari
tempatnya. Karenanya ia tak akan dapat menikmati sajak-sajak yang
telah didengarnya itu.
Profil pemuda Umar di Pasar
Selesai sang penyair membacakan sajak-sajaknya ia memasang
telinga mendengarkan apa yang akan dikatakan orang bijak itu. Setelah
dipastikan mereka cenderung berdamai ia mendahului teman-temannya
yang lain pergi melangkah cepat-cepat. Tidak biasa ia berjalan perlahan,
langkahnya yang lebar dan cepat tidak mudah dapat diikuti oleh
yang lain. Teman-temannya mau mengajaknya mengobrol kalau-kalau
dengan demikian ia dapat menahan cara melangkahnya yang lebar itu.
Pembicaraan yang pada mulanya tenang-tenang saja berubah menjadi
perdebatan yang panas. Pemuda itu berhenti melangkah, matanya yang
sudah berubah merah menandakan kemarahannya mulai menyala. Ia
memilin-milin kumisnya yang sudah tumbuh lebat seraya berkata:
"Kalian mau menakut-nakuti aku dengan anak muda itu! Aku bukan
anak Khattab kalau tidak mengajaknya bergulat begitu aku bertemu
dial" Ia melangkah lebih lagi cepat-cepat, sehingga teman-temannya di
belakangnya agak berlari. Begitu sampai di gelanggang adu gulat yang
diadakan di samping Pasar Ukaz, dilihatnya pemuda-pemuda yang
tegap-tegap sudah berkerumun, menyaksikan salah seorang dari mereka
sedang merundukkan badannya di dada lawannya yang sudah dibuatnya
tergeletak di tanah. Tatkala orang banyak melihat Umar bin Khattab
datang menuju ke tempat mereka cepat-cepat mereka memberi jalan.
Kedua pegulat itu bergabung dengan para penonton. Mereka yakin
kedatangan Umar bukan untuk menonton tetapi datang hendak bergulat.
Masih dengan sikapnya yang marah Umar memutar matanya kepada
para penonton. Setelah dilihatnya pemuda yang tadi sedang berbicara
dengan kawan-kawannya, dipanggilnya untuk diajak bertanding. Pemuda
itu tersenyum sambil melangkah ke tengah-tengah gelanggang,
penuh percaya diri akan kekuatan dan kemampuannya. Sebelumnya ia
tak pernah bertarung dengan Umar. Baru pertama kali ini ia datang ke
Ukaz bersama kabilahnya. Sejak kedatangannya itu ia tak pernah
dikalahkan, sehingga setiap lawan harus benar-benar memperhitungkan.
Perawakann\a hampir sama dengan perawakan Umar, tinggi dan besar.
Umar yang sudah siap beradu kekuatan melangkah maju. Pemuda badui
itu berusaha hendak mematahkan Umar, dan sudah memperlihatkan
berbagai macam kepandaiannya dalam bertarung, sehingga jumlah
penonton yang berdatangan makin banyak, suatu jumlah yang tak
pernah ada sebelumnya. Gadis-gadis yang berdekatan pun berdatangan
ke tempat itu setelah mendengar kedua nama pegulat itu. Mereka ingin
menyaksikan apa yang akan terjadi. Mereka sudah tahu, seperti orang
lain yang dalam tahun-tahun yang lalu juga sudah tahu, bahwa tak ada
orang yang dapat mengalahkan Umar bin Khattab.
Setelah pemuda badui itu maju dan sudah bergulat dengan pegulatpegulat
lain, orang-orang di Ukaz semua mengharapkan ia akan
bergulat dengan Umar. Mereka bertaruh untuk kedua pemuda itu, siapa
yang akan menang. Setelah Umar menantang lawannya untuk bergulat,
secepat kilat berita itu tersebar ke segenap penjuru di pasar. Semua
mereka yang tak terikat oleh pekerjaan datang ke tempat itu. Selama
beberapa waktu Umar membiarkan lawannya berbicara terus dan berlagak,
sedang dia sendiri dalam sikap defensif, tidak mau membuangbuang
tenaga seperti pemuda badui itu. Sesudah diperkirakan ia sudah
cukup lelah diserangnya ia dengan memiting kedua bahunya lalu dibantingnya
ke tanah. Lapangan itu gegap gempita, orang ramai menyambut
kemampuan Umar. Mereka teringat pengalaman yang sudah lalu menyaksikan
ketangkasan Umar dalam peristiwa serupa. Gadis-gadis dan
perempuan pun tidak kalah dengan kaum lelaki dan pemudanya memuji
pemuda Kuraisy yang perkasa ini.

Tempat hiburan
Tak lama kemudian matahari pun mulai bergeser ke tempat peraduannya.
Orang ramai pun sudah mulai pergi, masing-masing kembali
ke tempatnya. Umar berjalan terus masuk ke dalam pasar diikuti temanteman
pengagumnya, dan dibalas Umar dengan senyum, senyum yang
jarang sekali mereka lihat memalut wajah laki-laki itu. Senyum demikian
tidak hanya untuk teman-temannya. Ketika ia lalu di depan orang
banyak dilihatnya mereka juga memandang bangga kepadanya; gadisgadis
pun saling berebut ingin mendapat kesempatan kalau-kalau
tertangkap pandangan matanya atau akan jatuh cinta melihat paras yang
elok. Hatinya merasa lega dan semua ini terpantul dalam senyumnya
itu.Begitu malam tiba diajaknya teman-temannya singgah di tempat
hiburan yang terdapat di sisi pasar. Di belakang pasar itu membentang
padang Sahara sejauh mata memandang. Umar mencari tempat terdekat
ke Sahara. Setelah mengucapkan selamat malam kepada orang-orang
yang dikenalnya saat ia lalu di depan mereka, mereka juga membalas
salamnya disertai rasa kagum dan bangga. Seorang gadis pelayan
warung bertubuh ramping melangkah gontai dengan pandangan mata
dan senyum merekah di bibir memperlihatkan seuntai giginya yang
manis, yang hanya tertuju kepada pemuda yang telah berjaya itu.
Dalam percakapannya dengan gadis itu Umar memperlihatkan sikap
begitu lembut, yang sejak pasar ada tak pernah terlihat demikian. Tak
lama setelah itu ia kembali datang lagi membawa khamar (minuman
keras) yang sudah cukup matang untuk para pelanggan yang setia, yang
selama pekan pasar setiap malam selalu datang ke warung itu. Di
tengah-tengah teman-temannya Umar paling banyak minum dibandingkan
mereka. Sampai jauh malam pemuda-pemuda masih asyik minumminum
dan bergadang, hanyut mengobrol, dari soal yang bersungguhsungguh
sampai ke soal remeh, dari soal mencumbu perempuan sampai
ke soal menunggang kuda, dari cerita-cerita petualangan sampai ke soal
silsilah. Pengetahuan Umar dalam soal ini memang cukup banyak,
ditambah lagi dengan minuman khamar dan kemenangannya bertarung
melawan pemuda pedalaman tadi lidahnya makin lancar. Sementara
mereka sedang bercakap-cakap demikian samar-samar dilihatnya
seorang penunggang kuda sedang memacu kudanya cepat-cepat. Umar
berteriak: "Demi Lat dan Uzza, sungguh kagum aku melihat kepandaiannya
menunggang kuda itu!"
Temannya yang tadi mengajaknya berbicara mengenai pemuda
pegulat itu tersenyum. "Semoga Uzza mengampuni sepupumu Zaid bin Amr yang berkata
dalam syairnya: Tak ada Uzza maupun kedua putrinya yang kupercayai
Tak ada berhala-berhala Banu Tasm yang kuikuti
Adakah satu Tuhan yang kuanut ataukah seribu tuhan
Apabila masalahnya sudah terpilah-pilah?"
Mendengar itu wajah Umar berubah jadi masam, merengut.
"Celaka dia!" katanya. "Dia sudah ingkar. Uzza tidak akan mengampuninya!
Tindakan Khattab tepat sekali mengusir kemenakannya itu
dari Mekah dan tak dibolehkan lagi memasuki Mekah setelah ia
memnggalkan agama kita, memusuhi berhala-berhala kita dan mencari
tuhan lain dalam agama Yahudi dan Nasrani, tetapi karena dari
keduanya tidak berhasil ia mengira ada dalam agama Ibrahim nenek
moyangnya. Kalau diserahkan kepadaku niscaya kubantai dia."
Pembicaraan kemudian beralih ke soal-soal yang mereka kira dapat
menenangkan perasaan. Sementara mereka sedang bergadang itu tibatiba
terdengar suara-suara lembut dari gadis-gadis yang keluar dari
kemah ke padang sahara. Mereka sedang menikmati bisikan malam
atau sedang mau menunaikan segala keperluannya. Umar menahan
bicaranya, seolah terpengaruh oleh suara-suara itu. Sesudah teman-
temannya diam, mereka mengalihkan pandangan kepadanya. la sudah
siap berdiri seraya berkata: Aku ada keperluan; akan kutinggalkan
kalian sebentar dan akan segera kembali lagi. Mereka tersenyum. Memang,
kesenangannya mendekati perempuan, sama dengan kesenangannya
meminum khamar. Umar menuju ke arah datangnya suara lembut
itu. la mendengar suara biduanita berkata kepada teman-temannya:
Lihat, itu Umar sedang menuju ke tempat kita; kita berpura-pura lari
karena takut dibantingnya. Sesudah kemudian Umar berada di dekat
mereka, memang, masing-masing mereka berpura-pura lari dengan terpencar-
pencar. Yang masih tinggal hanya si penyanyi; ia menjatuhkan
kerudungnya dan berpura-pura sedang membetulkannya. Umar segera
mengenalnya, yang beberapa hari yang lalu mereka sudah pernah
berjumpa. Selama pekan Ukaz tahun ini saat itulah yang dirasakannya
paling bahagia. Teman-teman penyanyi itu sudah mengerti tipu dayanya.
Mereka tertawa melengking, marah bercampur ejekan dan rasa
cemburu-. Umar kembali ke tempat teman-temannya seperti dijanjikannya
tadi. Tak lama di tempat itu, sesudah membayar kepada pelayan harga
minuman yang mereka tenggak, ia pergi meninggalkan teman-temannya.
Hari sudah hampir siang ketika Umar bertemu lagi dengan sahabatsahabatnya
itu. Mereka sedang bercerita mengenai kemahiran Umar
yang diperlihatkan dalam beradu gulat kemarin. Mereka sangat mengharapkan
Umar akan mau bergulat lagi dengan lawannya itu sehingga
benar-benar dapat membantingnya, supaya sesudah itu pemuda pedalaman
itu tidak lagi bisa berlagak di lapangan gulat. Tetapi Umar
tidak sependapat dengan mereka, karena yang demikian dianggapnya
tidak kesatria. Dia yang sudah menang, apabila yang mengajak bergulat
lawannya untuk membalas kekalahannya, ia tak akan mundur. Tetapi
dia sendiri tak akan memulai mengajaknya bertarung dan tidak akan
menantangnya. Pekan pasar sudah hampir selesai. Sesudah tiga hari
orang akan meninggalkan Ukaz dan akan pergi ke Majannah untuk
bersiap-siap melakukan tawaf ke Ka'bah, dan masing-masing kabilah
akan menyembelih kurban untuk berhala-berhala mereka. Kalau sudah
menyembelih hewan mereka akan pergi ke Zul-Majaz untuk mendapatkan
air sebelum naik ke Arafah. Selama tiga hari sebelum di
Majannah orang sudah disibukkan oleh segala persiapan untuk melakukan
ziarah, bukan untuk bergulat dan bertarung.
Tiga hari itu sudah berlalu, pemuda desa itu pun sudah menyerah
dengan apa yang sudah dialaminya, setelah dilihatnya Umar memang
bukan tandingannya. Orang pun sudah berkemas hendak meninggalkan
Ukaz, dan Umar yang paling pertama mengadakan persiapan demikian.
Menjelang tengah hari budaknya sudah menyiapkan kudanya. Melihat
warna kuda itu yang hitam pekat, kedua telinganya yang kecil dan
kepala tegak dengan kedua kakinya yang kukuh dan perutnya yang
ramping, serta sikap Umar yang penuh percaya diri dan bangga akan
kudanya — pemuda-pemuda yang berasal dari pelbagai kabilah terkemuka
itu seolah iri hati. Mereka mengajaknya berlomba dengan
berpacu. Apabila pacuan kuda selesai dan beristirahat, mereka turun ke
Majannah sesudah tidur tengah hari sebentar.
Ajakan itti disambut oleh Umar dan mereka pun sudah siap dengan
kuda yang a'kan diperlombakan. Sekarang mereka pergi ke padang
Sahara dan mencari arena tempat berpacu. Setelah siap di atas kuda
masing-masing dan pemandu memberikan aba-aba, secepat itu pula
Umar dan kudanya seperti sudah menyatu melesat secepat kilat,
sehingga penonton sudah tak tahu lagi kuda yang dipacu itu di atas
tanah atau terbang di angkasa. Kemenangan Umar dalam pacuan kuda
ini mengundang kekaguman orang di pasar seperti ketika kemenangannya
dalam bergulat. Gadis-gadis pun tidak hanya sekadar kagum,
mereka sudah hanyut terpengaruh begitu jauh. Penyanyi yang tahun ini
memberinya kenangan begitu manis di Ukaz hanya tersenyum, senyum
yang menimbulkan rasa cemburu kawan-kawannya yang lain. Mereka
meliriknya dengan mata Arabnya barangkali seperti dalam sajak yang
diungkapkan penyair Umar bin Abi Rabi'ah:
Karena perasaan dengki yang menyelimuti mereka
Dahulu orang memang penuh dengki.

Kabilah, silsilah dan keluarga Umar
Sekarang orang berangkat dari Ukaz ke Majannah kemudian ke
Zul-Majaz. Segala upacara mereka laksanakan untuk berhala-berhala.
Setelah itu setiap kabilah kembali pulang ke tempat asal mereka masing-
masing di Semenanjung.
Dalam daur tahun berikutnya tiba pula pekan Ukaz. Seperti tahun
lalu, peranan Umar tahun ini juga tidak berbeda, dan demikian seterusnya
selama bertahun-tahun. Tetapi pernah terjadi ketika pada suatu
pembukaan pasar itu Umar datang terlambat, orang sibuk mencarinya
dan bertanya-tanya mengapa ia tidak datang. Lebih-lebih karena perkampungannya
terletak di Safa dan bergabung dengan kabilah Banu
Sahm yang berada di sebelahnya. Nenek moyang Umar merasa dipacu
oleh persaingan ini, yang kendati jumlah orangnya lebih kecil dengan
kedudukan yang lemah dibandingkan dengan kabilah-kabilah besar lainnya,
dalam ilmu dan kearifan mereka lebih tinggi. Ilmu dan kearifan ini
menempatkan mereka lebih terkemuka dalam tugas-tugas sebagai penengah
dan dalam mengambil keputusan jika timbul perselisihan.
Mereka yang menjadi juru bicara mewakili Kuraisy dalam menghadapi
kabilah-kabilah lain manakala timbul perbedaan pendapat, yang biasanya
berakhir dengan perundingan. Kepemimpinan mereka disukai dalam
menghadapi perselisihan; mereka fasih berbicara, pandai bertutur
kata. Kearifan itu kemudian melahirkan orang yang bernama Zaid bin
Amr, salah seorang yang menjauhi penyembahan berhala dan menolak
makanan dari hasil kurban untuk berhala itu. Di samping dia ada pula
orang yang bernama Umar bin Khattab, yang merasa bangga karena ia
menjadi anggota kabilah itu.
Inilah kabilah Umar. Ayahnya, al-Khattab bin Nufail bin Abdul-
Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Razah bin Adi bin
Ka'b. Adi ini saudara Murrah, kakek Nabi yang kedelapan. Ibunya,
Hantamah binti Hasyim bin al-Mugirah bin Abdullah bin Umar bin
Makhzum. Khattab orang terpandang di kalangan masyarakatnya, tetapi dia
bukan orang kaya, juga tak mempunyai khadam. Umar pernah menulis
surat kepada Amr bin al-As yang ketika itu ditempatkan sebagai amir1
untuk Mesir, menanyakan asal usul hasil kekayaan yang dihimpunnya.
Dalam surat balasannya itu Amr marah, di antaranya ia mengatakan:
"...Sungguh, kalaupun dalam mengkhianati Anda itu halal, saya tidak
akan mengkhianati Anda atas kepercayaan yang telah Anda berikan
kepada saya. Saya turunan orang baik-baik, yang jika kami hubungkan
ke sana tak perlu lagi saya mengkhianati Anda. Anda menyebutkan
bahwa di samping Anda ada kaum Muhajirin yang mula-mula yang
lebih baik dari saya. Kalau memang begitu, demi Allah wahai Amirulmukminin,
saya tidak akan mengetuk pintu untuk Anda dan gembok
pintu saya pun tidak akan saya bukakan kepada Anda."
Amr bin al-As begitu marah atas surat Umar itu sampai ia berkata
kepada Muhammad bin Maslamah ketika ia datang sebagai utusan
Umar untuk mengadakan perhitungan: "...Sial benar sejarah ini, yang
telah membuat aku menjadi gubernur Umar! Saya dulu melihat Umar
Kata amir dalam hal ini sering juga diterjemahkan dan disamakan dengan gubernur.
dan ayahnya sama-sama mengenakan jubah putih berbulu kasar tipis
yang tak sampai di lekuk lututnya dan memikul seikat kayu bakar,
sedang al-As bin Wa'il memakai pakaian sutera berumbai-rumbai."
"Sudahlah Amr! Umar lebih baik dari Anda, sedang bapa Anda
dan bapanya sudah sama-sama dalam neraka..."
Khattab ini laki-laki yang berperangai kasar dan keras. Di masa
kekhalifahannya pernah Umar lewat di sebuah tempat yang berpohonpohon,
yang disebut Dajnan, dan katanya: "Aku pernah menggembalakan
ternak Khattab di tempat ini. Yang kuketahui dia kasar dan keras.
Menurut sumber at-Tabari disebutkan bahwa di masa kekhalifannya,
ketika melalui Dajnan Umar berkata: "Tiada tuhan selain Allah Yang
telah memberi rezeki sekehendak-Nya dan kepada siapa saja yang
dikehendaki-Nya. Dulu aku menggembalakan untuk Khattab di lembah
ini dengan mengenakan jubah dari bulu. Dia kasar, payah benar aku
bekerja dengan dia; dipukulnya aku kalau lengah. Ketika aku pulang di
waktu sore hanya Allah Yang tahu..." Kemudian ia mengutip beberapa
sajak para penyair. Khattab mengawini perempuan bukan karena berahi, tetapi supaya
mendapat anak yang banyak. Ketika itu orang yang banyak anak
menjadi kebanggaan orang Arab. Orang masih ingat bagaimana Abdul-
Muttalib kakek Nabi 'alaihis-salam merasa tak berdaya di tengahtengah
masyarakatnya sendiri, karena tak banyak anak. Lalu ia bernazar
kalau mempunyai sepuluh anak laki-laki sampai dewasa sehingga dapat
memperkuatnya, salah seorang di antaranya akan disembeiih sebagai
kurban untuk sang dewa di Ka'bah. Sudah kita sebutkan juga bahwa
Banu Adi merasa sangat tak berdaya, karena jumlah mereka kecil
sehingga oleh keluarga Abdu-Syams mereka diusir dari perkampungannya
di Safa. Tidak heran jika Khattab ingin mendapat anak lebih
banyak supaya sedapat mungkin dapat memperkuat diri.
1 Teks sajak-sajak itu didasarkan pada sumber at-Tabari:
Tak ada apa pun yang akan cerah abadi, selain Tuhan
Harta dan anak keturunan akan binasa.
Harta pusaka Hormuz tak pernah sekalipun berguna
Keabadian diupayakan kaum Ad yang tak pernah kckal
Tidak juga Sulaiman,Penguasa angin, manusia dan jin dapat menahannya
Mana itu raja-raja dengan berbagai hadiah
Datang dari segenap penjuru Tersedia dalam tempat penyimpanan besar
Yang pasti suatu hari akan pergi seperti ketika datang!
Ayah Umar
Sebenarnya Khattab ini cerdas, sangat dihormati di kalangan masyarakatnya,
pemberani. Dengan tangkas dan tabah ia memimpin Banu
Adi dalam suatu pertempuran. Banu Adi ini yang dulu ikut dalam
Perang Fijar, yang dipimpin oleh Zaid bin Amr bin Nufail dan Khattab
bin Nufail pamannya dan sekaligus saudaranya dari pihak ibu, sebab
perkawinan Nufail dengan Jaida' yang kemudian melahirkan Khattab.
Setelah Nufail meninggal Amr anaknya yang dari ibu lain kawin dengan
istri ayahnya Jaida'. Pernikahan demikian biasa dilakukan di zaman
jahiliah. Dari perkawinan Amr dengan Jaida' ini kemudian lahir Zaid
bin Amr, yang bagi Umar adalah saudara dan sekaligus kemenakan.1
Usia keduanya berdekatan dan itu pula yang menyebabkan mereka
memimpin masyarakatnya dalam Perang Fijar.
Sesudah Zaid meninggalkan penyembahan berhala dan tidak mau
memakan makanan kurban untuk berhala itu, kepada masyarakatnya ia
berkata: "Allah menurunkan hujan dan menumbuhkan hasil bumi,
menciptakan unta supaya kamu urus, lalu kamu sembelih untuk yang
selain Allah? Selain aku, aku tidak tahu di muka bumi ini adakah orang
yang berpegang pada agama Ibrahim?!"
Kemudian ia membacakan syair yang mengajak orang membuang
cara peribadatan demikian itu.2 Oleh karena itu oleh Khattab ia dimusuhi
dan ditentang keras sekali, didorong pula oleh masyarakat
Kuraisy yang akhirnya mengeluarkannya dari Mekah dan tidak diperbolehkan
memasuki Mekah lagi. Khattab termasuk di antara mereka
yang paling keras dan kejam.
1 Al-Agani jilid 3/123, Darul Kutub al-Misriyah.
2 Dalam hal ini banyak syair yang dikutip oleh penulis al-Agani (Abul-Faraj al-
Asfahani) dihubungkan kepada Zaid bin Amr. juga oleh Ibn Hisyam dalam as-Sirah dan
yang lain. Dua bait sajaknya yang kita catat dalam bab ini dari antara sckian banyak
sajaknya itu, yakni: Kuserahkan diriku ke tempat awan menyerahkan dirinya
Yang membawa air sejuk dan lezat
Kuserahkan diriku ke tempat bumi menyerahkan diri
Yang membawa batu-batuan yang berat-berat
Diratakan dan ditancapkan gunung-gunung di alasnya.
Penulis al-Agani itu menceritakan dengan menggunakan suatu pegangan bahwa Sa'id
bin Zaid bin Amr dan Umar bin Khattab bertanya kepada Rasulullah Sallallahu 'alaihi
wa sallam tentang Zaid ini yang dijawab: "Pada hari kiamat ia merupakan satu umat
tersendiri." Di antara perempuan yang sudah dikawini Khattab termasuk
Hantamah binti Hasyim bin al-Mugirah dari Banu Makhzum yang
masih sepupu Khalid bin al-Walid dari pihak ayah. Al-Mugirah bin
Abdullah bin Amr bin Makhzum kakek mereka bersama, yang juga
pemimpin pemuka-pemuka Kuraisy dan salah seorang pahlawannya.
Dalam pasukan tentara Banu Makhzum dia juga komandannya, sehingga
mendapat gelar sesuai dengan kedudukannya itu. Dengan
kedudukannya yang demikian di kalangan Kuraisy, dialah yang telah
menasihati kakek Nabi, supaya jangan menyembelih Abdullah anaknya
sebagai kurban untuk memenuhi nazarnya, dengan mengatakan: "Janganlah
sekali-kali menyembelihnya sebelum kita memberikan alasan.
Kalau penebusannya dapat kita lakukan dengan harta kita, kita
tebuslah." Dengan kedudukannya itu Hantamah adaiah perempuan yang
selalu dekat di mata suaminya dan lebih diutamakan dari istri-istrinya
yang lain. Setelah Umar lahir sang ayah merasa sangat gembira dan
dibawanya kepada berhala-berhala sebagai tanda kegembiraannya.
Kaum fakir miskin di kalangan Banu Adi yang banyak jumlahnya
ketika itu diberi santunan berupa makanan.

Masa kecil dan remaja
Kapan Umar dilahirkan? Suatu hal yang tidak mudah dapat dipastikan.
Yang jelas ia meninggal sekitar tiga hari terakhir bulan Zulhijah
tahun setelah hijrah. Tetapi yang masih diperselisihkan mengenai
umurnya ketika ia wafat: ada yang mengatakan dalam usia lima puluh
tahun, ada yang menyebutkan dalam usia lima puluh tujuh tahun, yang
lain mengatakan enam puluh tahun, ada lagi yang mengatakan enam
puluh tiga tahun dan sebagainya. Besar dugaan ia meninggal sekitar
umur enam puluhan. Kalau benar demikian berarti ketika ia hijrah
umurnya belum mencapai empat puluh tahun. Dan kepastian dugaan ini
tak dapat kita jadikan pegangan.
Semasa anak-anak Umar dibesarkan seperti layaknya anak-anak
Kuraisy. Yang kemudian membedakannya dengan yang lain, ia sempat
belajar baca-tulis, hal yang jarang sekali terjadi di kalangan mereka.
Dari semua suku Kuraisy ketika Nabi diutus hanya tujuh belas orang
yang pandai baca-tulis. Sekarang kita mengatakan bahwa dia termasuk
istimewa di antara teman-teman sebayanya. Orang-orang Arab masa itu
tidak menganggap pandai baca-tulis itu suatu keistimewaan, bahkan
mereka malah menghindarinya dan menghindarkan anak-anaknya dari
belajar.Sesudah Umar beranjak remaja ia bekerja sebagai gembala unta
ayahnya di Dajnan atau di tempat lain di pinggiran kota Mekah. Sudah
kita sebutkan ia bercerita tentang ayahnya serta tindakannya yang keras
kepadanya saat ia menggembalakan untanya. Penulis al-'Iqdul Farid
menyebutkan bahwa pada suatu hari Umar berkata kepada an-Nabigah
al-Ja'di: Perdengarkanlah nyanyianmu kepadaku tentang dia. Lalu
diperdengarkannya sebuah kata dari dia. "Engkau yang mengatakan
itu?" tanyanya. "Ya." "Sering benar kau menyanyikan itu di belakang
Khattab." Menggembalakan unta sudah merupakan kebiasaan di kalangan
anak-anak Kuraisy betapapun tingkat kedudukan mereka.
Beranjak dari masa remaja ke masa pemuda sosok tubuh Umar
tampak berkembang lebih cepat dibandingkan teman-teman sebayanya,
lebih tinggi dan lebih besar. Ketika Auf bin Malik melihat orang
banyak berdiri sama tinggi, hanya ada seorang yang tingginya jauh
melebihi yang lain sehingga sangat mencolok. Bilamana ia menanyakan
siapa orang itu, dijawab: Dia Umar bin Khattab.
Wajahnya putih agak kemerahan, tangannya kidal dengan kaki
yang lebar sehingga jalannya cepat sekali. Sejak mudanya ia memang
sudah mahir dalam berbagai olahraga: olahraga gulat dan menunggang
kuda. Ketika ia sudah masuk Islam ada seorang gembala ditanya orang:
Kau tahu si kidal itu sudah masuk Islam? Gembala itu menjawab: Yang
beradu gulat di Pasar Ukaz? Setelah dijawab bahwa dia, gembala itu
memekik: Oh, mungkin ia membawa kebaikan buat mereka, mungkin
juga bencana.

Penunggang kuda
Dari antara berbagai macam olahraga, naik kuda itulah yang paling
disukainya sepanjang hidupnya. Selama dalam pemerintahannya pernah
ia datang dengan memacu kudanya sehingga hampir menabrak orang.
Ketika mereka melihatnya, mereka heran. Apa yang membuat kalian
heran? tanyanya. Aku merasa cukup segar lalu kukeluarkan seekor kuda
dan kupacu. Dalam perang juga dia memegang peranan penting, yang diwarisinya
dari pihak saudara-saudara ibunya Banu Makhzum. Ketika
dalam sakitnya yang terakhir Abu Bakr sudah berkata: "Tatkala aku
mengirim Khalid bin Walid ke Syam aku bermaksud mengirim Umar
1 Ibn Sa'd menuturkan dalam at-Tabaqat: "Orang itu lebih tinggi tiga depa. Siapa dia?"
Dijawab: Umar bin Khattab. bin Khattab ke Irak. Ketika itu sudah kubentangkan kedua tanganku
demi di jalan Allah." Di samping kemahirannya dalam olahraga berkuda, adu gulat dan
berbagai olahraga lain, apresiasinya terhadap puisi juga tinggi dan suka
mengutipnya. la suka mendengarkan para penyair membaca puisi di
Ukaz dan di tempat-tempat lain. Banyak syair yang sudah dihafalnya
dan membacanya kembali mana-mana yang disenanginya, di samping
kemampuannya berbicara panjang mengenai penyair-penyair al-Hutai'ah,
Hassan bin Sabit, az-Zibriqan1 dan yang lain. Pengetahuannya
yang cukup menonjol mengenai silsilah (genealogi) orang-orang Arab
yang dipelajarinya dari ayahnya, sehingga ia menjadi orang paling terkemuka
dalam bidang ini. Retorikanya baik sekali dan ia pandai berbicara.
Karena semua itu ia sering pergi menjadi utusan Kuraisy kepada
kabilah-kabilah lain, dan dalam menghadapi perselisihan kepemimpinannya
disukai seperti kepemimpinan ayahnya dulu.
Seperti pemuda-pemuda dan laki-laki lain di Mekah, Umar gemar
sekali meminum khamar (minuman keras) sampai berlebihan. Bahkan
barangkali melebihi yang lain. Juga waktu mudanya itu ia tergila-gila
kepada gadis-gadis cantik, sehingga para penulis biografinya sepakat
bahwa dia ahli minuman keras dan ahli mencumbu perempuan. Tetapi
yang demikian ini memang sudah menjadi kebiasaan masyarakatnya.
Penduduk Mekah memang sangat tergila-gila pada minuman keras.
Dalam suasana teler demikian mereka merasa sangat nikmat.
Perempuan-perempuan hamba sahaya milik mereka menjadi sasaran
kenikmatan mereka, juga mereka yang di luar hamba sahaya. Syairsyair
mereka zaman jahiliah pandai sekali berbicara mengenai soal-soal
semacam itu. Sesudah datang Islam, yang terkenal dalam soal ini
penyair Umar bin Abi Rabi'ah dan yang semacamnya. Puisi-puisi mereka
biasa menggoda gadis-gadis Mekah dengan dorongan cinta berahi
yang mereka warisi dari ibu-ibu dan bibi-bibi mereka. Dalam Islam hal
ini dipandang perbuatan dosa, sedang sebelum itu dianggap soal biasa.

Istri-istri Umar
Sesudah masa mudanya mencapai kematangan, Umar terdorong
ingin menikah. Kecenderungan banyak kawin ini sudah diwarisi dari
masyarakatnya dengan harapan mendapat banyak anak. Dalam hidup-
Mereka termasuk di antara penyair-penyair mukhadram (masa transisi jahiliah-Islam)
yang terkenal. ia mengawini sembilan perempuan yang kemudian memberikan
keturunan dua belas anak, delapan laki-laki dan empat perempuan. Dari
perkawinannya dengan Zainab putri Maz'un lahir Abdur-Rahman dan
Hafsah; dengan Umm Kulsum putri Ali bin Abi Talib lahir Zaid yang
lebih tua (senior) dan Ruqayyah; dengan Umm Kulsum binti Jarul1 bin
Malik lahir Zaid yang lebih muda (junior) dan Ubaidillah. Islam telah
memisahkan Umar dengan Umm Kulsum putri Jarul. Ia kawin dengan
Jamilah binti Sabit bin Abi al-Aflah maka lahir Asim. Nama Jamilah
yang tadinya Asiyah2, oleh Nabi diganti: Sebenarnya engkau Jamilah,
kata Nabi. Perkawinannya dengan Umm Hakam putri al-Haris bin
Hisyam bin al-Mugirah melahirkan Fatimah. Dari perkawinannya dengan
Atikah binti Zaid bin Amr lahir Iyad. Luhayyah, hamba sahaya
ibu Abdur-Rahman anaknya yang menengah. Dari Fukaihah yang juga
hamba sahaya yang telah melahirkan Zaid, anaknya yang bungsu.
Kalangan sejarawan masih berbeda pendapat mengenai nama ibu
Abdur-Rahman junior, ibunya seorang juga seorang hamba sahaya.
Kalangan sejarawan masih berbeda pendapat mengenai nama ibunya
itu. Umar kawin dengan empat perempuan di Mekah, dan yang
perempuan kclima setelah hijrah ke Medinah. Tetapi ia tidak sampai
mengumpulkan mereka di rumahnya. Kita sudah melihat Islam yang
telah memisahkannya dari Umm Kulsum binti Jarul, dan perempuanperempuan
yang lain diceraikannya. Mereka yang diceraikan itu Umm
Hakam binti al-Haris bin Hisyam dan Jamilah yang telah melahirkan
Asim. Kalau ia masih akan berumur panjang niscaya ia masih akan
kawin lagi selain kesembilan perempuan itu. Ia melamar Umm Kulsum
putri Abu Bakr sewaktu masih gadis kecil, sementara ia sudah memegang
pimpinan umat. Ia memintanya kepada Aisyah saudaranya,
Aisyah Ummulmukminin menanyakan adiknya itu tetapi ia menolak
dengan mengatakan bahwa Umar hidupnya kasar dan sangat keras
terhadap perempuan. Juga ia pernah melamar Umm Aban binti Utbah
bin Rabi'ah, yang juga menolak dengan mengatakan bahwa dia kikir,
keluar masuk rumah dengan muka merengut.
Apa yang dikatakan Umm Kulsum binti Abu Bakr tentang wataknya
yang keras dan kasar, dan apa yang dikatakan Umm Aban bahwa ia
selalu bermuka masam dan hidupnya yang serba keras, merupakan
1 Ejaan yang pasti nama ini tidak terdapat dalam buku-buku acuan.
2 Dapat juga berarti "pembangkang."
sebagian dari wataknya yang sejak masa mudanya, dan kemudian tetap
begitu dalam perjalanan hidup selanjutnya. Sesudah menjadi khalifah,
maka dalam doa pertamanya ia berkata: "Allahumma ya Allah, aku
sungguh tegar, maka lunakkanlah hatiku. Ya Allah, aku ini lemah,
berilah aku kekuatan. Ya Allah aku sungguh kikir jadikanlah aku orang
pemurah." Sejak mudanya ia sudah mewarisi sikap keras dan kasar itu
dari ayahnya, kemudian didukung pula oleh tubuhnya yang tetap kekar
dan kuat. Mengenai apa yang disebutnya kebakhilan, karena ia memang
tak pernah kaya, dan ayahnya juga tak pernah menjadi orang kaya.
Sepanjang hidupnya ia dalam keadaan sederhana. padahal, seperti
kebanyakan penduduk Mekah ia juga berdagang. Barangkali wataknya
yang keras itu yang membuatnya tak pernah beruntung dalam perdagangan,
seperti rekan-rekannya yang lain. Dengan watak kerasnya
dalam perdagangan ia tak pernah dapat mengeluarkan air dari batu, tak
pernah ia dapat mengubah tanah menjadi emas, demikian ungkapan
masyarakatnya sendiri, Kuraisy. Di samping itu. dalam perdagangan
pun ia tak terbatas hanya pada perjalanan musim panas dan musim
dingin ke Yaman dan ke Syam saja, bahkan ia pergi sampai ke Persia
dan Rumawi. Tetapi dalam perjalanan itu ia mengutamakan untuk mencerdaskan
pikirannya daripada untuk mengembangkan perdagangannya.
Dalam Muruj az-Zahab al-Mas'udi menyebutkan bahwa selama dalam
pelbagai perjalanan di masa jahiliah itu Umar banyak menemui pemuka-
pemuka Arab dan bertukar pikiran dengan mereka. Kemungkinan
besar segala yang sudah dilakukannya dalam kapasitasnya sebagai
utusan dari pihak Kuraisy, dan luasnya pengetahuannya mengenai silsilah
orang-orang Arab dan cerita-cerita rakyat masyarakat Arab serta
apa yang diketahuinya dari buku-buku yang dibacanya masa itu, itulah
membuatnya lebih banyak untuk menambah ilmu daripada untuk memperoleh kekayaan.

Pendidikan dan konsep pemikirannya
Inilah yang membuatnya lebih percaya diri dan lebih punya rasa
harga diri. Orang yang berharta selalu perlu menjaga hubungan baik
dengan semua orang, untuk melindungi dan memperbesar kekayaannya.
Orang yang dalam usaha perdagangan, keberhasilannya bergantung
pada kelihaian serta menguasai segala seluk beluknya. Tetapi orang
yang haus ilmu dan ingin menambah pengetahuannya, harta kekayaan
tak banyak mendapat perhatian, sebab orang yang sudah keranjingan
harta cenderung tidak memperhatikan ilmu dan lebih banyak meng16
gantungkan diri pada masalah-masalah dunia dan tunduk pada yang
lebih menguasainya. Tetapi orang yang memandang dunia dan harta itu
rendah dan memburu ilmu dan pengetahuan lebih membanggakan diri,
sampai-sampai ia mau menjauhi orang, maka ia tidak akan tertarik pada
segala yang ada di tangan mereka karena ia sudah lebih tinggi dari
semua mereka. Tingkat ini yang belum dicapai Umar di masa mudanya.
Rasa bangga dan percaya diri yang luar biasa itu, itulah yang benarbenar
dihayatinya. Usaha Umar dalam memburu pengetahuan membuatnya sejak
mudanya ia memikirkan nasib masyarakatnya dan usaha apa yang akan
dapat memperbaiki keadaan mereka. Ini juga kemudian yang membuatnya
bangga, bersikeras dan menjadi fanatik dengan pendapatnya sendiri
tentang tujuan yang ingin dicapainya itu. Ia tidak mau dibantah atau
berdebat. Karena sikap keras dan ketegarannya itu sehingga dengan
fanatiknya ia berlaku begitu sewenang-wenang. Ia akan mempertahankan
pendapatnya dengan tangan besi dan dengan ketajaman lidahnya.
Tetapi yang demikian ini bukan tidak mungkin akan mengubah pendapat
orang lain yang dihadapinya untuk menjadi bukti kuat dalam
pembelaannya dan untuk mematahkan alasan lawan.
Pandangan orang mengenai masalah-masalah ekonomi dan sosial di
Mekah dan di negeri-negeri Arab lainnya tidak banyak berbeda. Sudah
biasa beraneka ragam pendapat mereka mengenai masalah-masalah
tersebut, yang memang sudah mereka warisi dari nenek moyang, dan
sudah menjadi pegangan hidup mereka. Dengan begitu mereka sudah
cukup puas. Tetapi pertentangan yang masih timbul mengenai agama
dan peribadatannya. Soalnya, orang-orang Nasrani dan Yahudi yang
tinggal bersama mereka tidak mengakui penyembahan berhala demikian,
yang mereka anggap sebagai perbuatan batil. Setiap orang yang
berpikiran sehat harus menjauhinya. Orang-orang Arab yang dalam perjalanan
musim panas ke daerah Rumawi menganggap peradaban orangorang
Nasrani dan Yahudi itu lebih maju dari peradaban orang Arab,
dan mereka menghubungkan kemajuan itu dengan agama mereka. Di
samping itu, para penginjil Nasrani waktu itu sangat giat sekali dalam
menyebarkan misi dan mengajak orang menganut agama mereka, sama
dengan kegiatan mereka sekarang. Oleh karena itu beberapa orang Arab
yang mempunyai pengetahuan tidak mengakui penyembahan berhala.
Sebagai orang yang sudah pandai baca-tulis, adakah juga Umar
mau mengikuti mereka dan meninggalkan kepercayaan masyarakatnya?
Tidak! Malah dengan sengitnya ia menyerang mereka. la berpendapat
orang yang meninggalkan kepercayaan masyarakatnya telah
merusak sendi-sendi pergaulan masyarakat Arab. Ia menganggap perlu
memerangi dan menghancurkan mereka supaya tidak berakar dan
berkembang. Dalam hal ini fanatiknya terhadap penyembahan berhala
barangkali tidak seberat fanatiknya terhadap masyarakatnya itu, ingin
bertahan dengan sistem yang sekarang ada dengan segala keutuhan dan
ketahanannya terhadap golongan lain.

Fanatik terhadap agama masyarakatnya
Sejak dahulu kala sebenarnya dunia memang sudah diumbangambingkan
oleh dua masalah pokok, yang sampai sekarang masih berlaku,
masing-masing ada pembelanya, yakni masalah kebebasan dan
organisasi: kebebasan pribadi dan organisasi sosial. Masyarakat hanya
dapat hidup dengan organisasi, dengan bermasyarakat, dan tak akan ada
kehidupan pribadi tanpa kebebasan. Jika terjadi pertentangan antara
kebebasan pribadi dengan organisasi sosial mana yang harus didukung?
Tentu organisasi itu. Kebebasan pribadi tak akan terjamin tanpa adanya
organisasi sosial. Jika organisasi sosial tidak berlaku, kebebasan pribadi
juga ikut tak berlaku. Tetapi! Bukankah kebebasan pribadi ada batasbatasnya
yang tidak saling bertentangan dengan organisasi sosial? Atau,
bukankah organisasi sosial juga ada batas-batasnya yang dibuat tidak
saling bertentangan dengan kebebasan pribadi? Batas-batas itulah yang
menjadi dasar dan masih tetap menjadi dasar perbedaan. Kebebasan
pribadi dibatasi oleh kehidupan ekonomi, kehidupan sosial dan kehidupan
politik di samping hal-hal lain. Demikian juga dalam organisasi
sosial terdapat batas-batas dalam segala manifestasi dan fasilitasnya.
Sudah sering sekali timbul pemberontakan dan peperangan hanya
karena adanya perbedaan dalam batas-batas kebebasan dan organisasi
dalam satu bangsa dan dalam hubungan antarbangsa. Bahkan tidak
jarang timbulnya peperangan itu karena maksud-maksud hendak berkuasa
dan rasa superioritas, dan para penganjurnya pun kadangkala
berlindung di bawah panji kebebasan dan adakalanya berlindung di
bawah panji organisasi internasional yang akan menjamin adanya kebebasan
umum. Pada masa-masa tertentu dalam sejarah orang sepakat bahwa kebebasan
menyatakan pendapat dan kebebasan menganut suatu keyakinan
tidak mungkin bertentangan dengan organisasi sosial selama hal itu
hanya terbatas dalam batas-batas berkeyakinan dan berpendapat serta
pernyataannya. Tetapi pada masa Umar hal itu belum lagi dikukuhkan.
Sering timbul perang antara Persia dengan Rumawi karena fanatisme
agama. Bahkan sesudah itu pun, pecahnya beberapa kali Perang Salib
antara Eropa yang Kristen dengan pihak Muslimin, yang berlangsung
sampai sekian lama terus-menerus, karena keyakinan itu pula. Soalnya,
karena agama dipandang sebagai dasar kehidupan sosial. Hal ini berlaku
mengingat mereka yang menganut agama selain agama negara
sebagai orang asing. Kalaupun mereka masih menenggang karena
mereka sudah mewarisi kepercayaan itu dari nenek moyang, maka hakhak
yang diberikan kepada masyarakatnya seagama tidak akan diberikan
kepada mereka. Tidak heran jika di masa jahiliahnya Umar sangat
keras memusuhi siapa saja yang bukan penyembah berhala, dan memerangi
siapa saja dari masyarakatnya yang meninggalkan kepercayaan
leluhurnya. Orang-orang berilmu dan berpikiran sehat buat dia tak ada artinya
jika meninggalkan kepercayaan nenek moyang. Dalam anggapannya,
bahkan ilmu dan pikiran sehatnya itulah yang merupakan kejahatan paling
besar. Orang tidak perlu menjadi pengikut orang-orang bodoh dan
golongan awam, tetapi mereka harus menjadi pengikut sesama masyarakatnya
sendiri yang dapat melihat segala persoalan dengan pandangan
yang sehat, dengan pikiran yang jernih dan saksama dalam mencari
kebenaran. Kalaupun Qus bin Sa'idah dibiarkan menghina berhalaberhala
orang Arab, maka sebagai orang Nasrani ia masih dapat dimaafkan.
Tetapi orang-orang semacam Zaid bin Amr bin Nufail,
Waraqah bin Naufal, Usman bin al-Huwairis, Abdullah bin Jahsy dan
yang semacamnya dari penduduk Mekah yang meninggalkan penyembahan
berhala, dan yang sebagian membuat syair-syair yang berisi
ajaran tauhid, maka bagi mereka tak ada maaf, dan tak dapat lain harus
dimusuhi dan diperangi. Kalau dibiarkan begitu, akan menyesatkan
orang banyak dan akan memecah belah mereka, dan negeri akan
menjurus kepada kehancuran. Sikap Umar dan orang-orang semacamnya
telah dapat menjaga persatuan Kuraisy dan kedudukan Mekah.
Dengan demikian para pemikir itu membatasi kebijakan mereka di
sekitar diri mereka sendiri, dan tidak menghasut orang lain supaya
menjadi pengikut mereka dan mengubah kepercayaan yang sudah
diwarisi dari nenek moyang.
Umar termasuk orang yang paling keras dan kejam serta paling
berani menghadapi kaum Sabi'—orang yang meninggalkan kepercayaan
leluhur. Sikap kerasnya dan cepat naik darah itulah yang
membuatnya sampai berlebihan dalam bertindak keras. Ketika itu
umurnya belum mencapai dua puluh lima tahun. Usianya yang masih
muda itu jugalah yang membuatnya begitu fanatik dengan pandangannya
sendiri. Sikap demikian itu sejalan pula dengan bawaannya yang
kasar dan tegar. Dia memerangi mereka yang meninggalkan penyembahan
berhala tanpa kenal ampun, juga mereka yang menghina berhalaberhala itu.

Permusuhannya terhadap Islam
Pada momentum ituiah Allah berkenan, lalu mengutus Muhammad
kepada masyarakat agar mengajak mereka ke jalan dan agama yang
benar. Sesudah ajaran tauhid mulai tersebar ituiah. penduduk Mekah
yang begitu fanatik terhadap penyembahan berhala mulai menyiksa
kaum duafa yang masuk Islam, dengan tujuan supa\a mereka kembali
kepada penyembahan berhala. Sudah tentu Umar bin Khattab laki-laki
Mekah yang paling keras menentang dan memerangi ajaran baru ini,
serta berusaha mengancam mereka yang menjadi pengikutnya.
Ibn Hisyam menuturkan bahwa suatu hari Abu Bakr melihat Umar
sedang menghajar seorang budak perempuan supa\a meninggalkan Islam.
Demikian rupa ia menghajar hingga ia merasa bosan sendiri
karena sudah terlalu banyak ia memukul. Saat ituiah kemudian ia
ditinggalkan oleh Umar sambil berkata: Aku memaafkan kau! Kutinggalkan
kau hanya karena sudah bosan. Hamba sahaya itu menjawab:
Ituiah yang dilakukan Allah kepadamu. Kemudian hamba sahaya itu
dibeii oleh Abu Bakr lalu dibebaskan.
Perlawanan Umar terhadap Muhammad dan dakwahnya bukan
karena fanatik atau karena tidak mengerti. Kita sudah tahu dia termasuk
penduduk Mekah yang paling mantap dan paling banyak pengetahuannya.
Dia pun sudah mendengar kata-kata Muhammad yang dipandangnya
baik, tetapi sikapnya terhadap dakwah yang baru ini makin
menambah sikap keras kepalanya. makin menjadi-jadi ia menyiksa dan
menyakiti kaum Muslimin yang jatuh ke tangannya, sehingga mereka
benar-benar merasa tersiksa karena tindakannya yang begitu keras
kepada mereka. Menurut pendapatnya langkah laki-laki itu hanya akan
merusak dan menghancurkan tatanan hidup di Mekah. Dia lebih menyukai
Mekah dengan segala tata tertibnya serta penduduknya yang
hidup tenang, daripada Muhammad dan dakwahnya yang ternyata
memecah belah persatuan Kuraisy dan menginjak-injak kedudukan
tanah suci itu. Membiarkan dakwah ini berarti akan menambah per20
pecahan di kalangan Kuraisy dan kedudukan Mekah pun akan makin
hina. Jika Kuraisy menghentikan Muhammad hanya sampai pada menentang
mereka yang menjadi pengikut-pengikutnya dan berusaha supaya
orang-orang yang lemah itu meninggalkan agamanya, jelas hal ini
akan menghanyutkan Mekah dan orang-orang Kuraisy ke dalam kehancuran,
dan Kuraisy hanya akan menjadi buah bibir semua orang Arab.
Dosa apa gerangan kaum duafa itu sampai disiksa demikian rupa!
Semua dosa itu dosa Muhammad dan pesona bahasanya serta kekuatan
logikanya. Retorika yang memukau itulah yang mempengaruhi pikiran
kaum duafa, kaum yang lemah dan yang lain yang sampai meninggalkan
kepercayaan nenek moyang mereka. Kalau Muhammad meninggal
hilanglah semua prahara itu dan suasana akan menjadi jernih kembali,
tanah suci akan tetap aman dan damai. Terbunuhnya satu orang bukan
lagi untuk menyelamatkan satu kabilah tetapi untuk menyelamatkan
semua kabilah di Mekah. Mereka akan kembali bersatu dan tata tertib
akan stabil. Tetapi apa yang dikatakan Muhammad itu memang baik. Tidak
lebih ia hanya mengulang kembali kata-kata itu dan mengajak orang
agar mengikuti dengan cara yang baik pula. Di samping itu, Kuraisy
mengenalnya sebagai orang yang belum pernah berdusta. Akan dibunuhkah
dia tanpa alasan kecuali hanya karena mengatakan, Allah
adalah Tuhanku, dan mengatakan itu karena itulah yang diyakininya
dan sudah menjadi keimanannya! Bagaimana caranya membunuh dia
atau menghabisi orang itu, padahal dia dari Keluarga Hasyim, dan
Keluarga Hasyim akan membelanya. Di antara mereka yang sudah beriman kepadanya, memenuhi
seruannya dan bersama-sama dengan dia adalah orang-orang yang
berkedudukan dari kabilah-kabilah terhormat, mereka akan mengadakan
pembelaan, seperti Banu Hasyim membela Muhammad. Abu Bakr dan
Talhah bin Abdullah dari Banu Taim bin Murrah; Abdur-Rahman bin
Auf dan Sa'd bin Abi Waqqas dari Banu Zuhrah; Usman bin Affan dari
Banu Abdu-Syams; Abu Ubaidah bin al-Jarrah dari Banu Fihr bin
Malik, dan az-Zubair bin al-Awwam dari Banu Asad. Mereka semua
orang-orang terpandang dalam kabilah masing-masing dan yang harus
mereka lindungi apabila ada pihak yang akan mengganggu mereka. Jika
seandainya Umar memerangi mereka dan memerangi Muhammad dan
menghasut untuk menyerang mereka, niscaya akan timbul perang
saudara di Mekah, hal yang lebih berbahaya terhadap kedudukan mereka
daripada terhadap Muhammad dan ajakannya itu.
Bilamana Umar sudah menyendiri, semua pikiran itu berkecamuk
dalam hatinya. Apabila ia bertemu dengan masyarakatnya dan melihat
perpecahan yang ada pada mereka, kembali keprihatinannya timbul
ingin mengembalikan ketenangan Mekah dengan jalan mengikis sumber
penyebab perpecahan itu. Pikiran demikian tetap selalu menggoda hatinya; sampai kemudian
Muhammad meminta pengikut-pengikutnya hijrah ke Abisinia, berlindung
kepada Allah dengan agama yang mereka yakini. Tetapi, sesudah
Umar melihat mereka berpisah dengan keluarga-keluarga dan tanah
tumpah darah mereka, timbul rasa kasihan, terasa luka di hati karena
perpisahan itu. Baginya ini adalah soal besar. Hatinya memberontak,
lama sekali ia memikirkan ingin menghabisi Muhammad dan ajarannya
itu. Kalau sudah ia lakukan niatnya itu Kuraisy akan bebas, dewa-dewa
di Ka'bah dan semua dewa orang-orang Arab akan berkenan. Kalaupun
dia hams menderita akibat perbuatannya itu, akan dia tanggung demi
kepentingan Kuraisy dan demi Mekah. Kuraisy adalah keluarganya dan
Mekah tanah tumpah darahnya. Penderitaan demi keluarga dan negeri
sendiri merupakan langkah terpuji. Itulah niat yang sudah menjadi keputusannya.
Tetapi rupanya dia lupa, bahwa Allah mempunyai kebijaksanaan sendiri terhadap makhluk
Nya, dan kebijaksanaan Yang Mahakuasa sudah menentukan tak dapat
dikalahkan oleh akal pikiran dan gejolak hatinya yang selama ini panas
membara. Maka ia pun beriman kepada Muhammad untuk kemudian
menjadi seorang al-Faruq, menjadi "pemisah," yang namanya akan
disebut-sebut orang, dengan penuh penghargaan, dengan penuh rasa
hormat sampai akhir zaman. Umar bin Khattab masuk Islam menurut berita yang sudah umum
diketahui, sesudah ada empat puluh lima orang laki-laki dan dua
puluh perempuan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa jumlahnya
lebih dari itu, ada pula yang mengatakan kurang. Menurut peninjauan
Ibn Kasir dalam al-Bidayah wan-Nihayah Umar masuk Islam sesudah
Muslimin hijrah ke Abisinia, dan jumlah orang yang hijrah itu hampir
mencapai sembilan puluh orang laki-laki dan perempuan. Sesudah mereka
hijrah Umar bermaksud akan mendatangi Muhammad dan sahabatsahabatnya
serta Muslimin yang lain di Darul Arqam di Safa, dan
jumlah mereka laki-laki dan perempuan empat puluh orang. Dengan
demikian kita bebas menyebutkan bahwa mereka yang sudah mendahului
Umar masuk Islam sekitar seratus tiga puluh orang, walaupun
kita tak dapat menyebutkan jumlah yang pasti melebihi perkiraan yang
berlawanan dengan pendapat yang sudah umum itu.

Sumber-sumber tentang sebabnya Umar masuk Islam
Mengenai sebabnya ia masuk Islam beberapa sumber masih saling
berbeda. Berita yang paling terkenal menyebutkan bahwa Umar sudah
tidak tahan lagi melihat seruan Muhammad itu ternyata telah memecah
belah keutuhan Kuraisy, dan mendorong orang semacam dia sampai
menyiksa orang-orang yang masuk Islam agar keluar meninggalkan
agama itu dan memaksa kembali kepada agama masyarakat mereka.
Sesudah Muhammad memberi isyarat kepada sahabat-sahabatnya supaya
terpencar ke beberapa tempat dan berlindung kepada Allah dengan
agama yang mereka yakini, dan menasihati mereka agar pergi ke
Abisinia, dan setelah Umar melihat mereka sudah pergi, ia merasa
sangat terharu dan merasa kesepian berpisah dengan mereka. Sumber
yang mengenai Umm Abdullah binti Abi Hismah menyebutkan bahwa
ia berkata: "Kami sudah akan berangkat tatkala Umar bin Khattab
datang dan berhenti di depan kami, yang ketika itu ia masih dalam
syirik. Kami menghadapi berbagai macam gangguan dan siksaan dari
dia. Ia berhenti dan berkata kepada kami: 'Jadi juga berangkat, Umm
Abdullah?' Saya jawab: 'Ya! Kami akan keluar dari bumi Allah ini.
Kalian mengganggu kami dan memaksa kami dengan kekerasan.
Semoga Allah memberi jalan keluar kepada kami.' Dia berkata lagi:
'Allah akan menyertai kalian.' Saya lihat dia begitu terharu, yang
memang belum pernah saya lihat. Kemudian dia pergi, dan saya lihat
dia sangat sedih karena kepergian kami ini." Setelah itu suaminya
datang. Diceritakannya percakapannya dengan Umar itu dan dia sangat
mengharapkan Umar akan masuk Islam. Tetapi jawab suaminya:
"Orang ini tidak akan masuk Islam sebelum keledai Khattab lebih dulu
masuk Islam." Sumber-sumber selanjutnya menyebutkan bahwa Umar memang
sangat sedih karena sesama anggota masyarakatnya telah pergi meninggalkan
tanah air," sesudah mereka disiksa dan dianiaya. Selalu ia
memikirkan hendak mencari jalan untuk menyelamatkan mereka dari
keadaan demikian. Ia berpendapat keadaan ini baru akan dapat diatasi
apabila ia segera mengambil tindakan tegas. Ketika itulah ia mengambil
keputusan akan membunuh Muhammad. Selama ia masih ada, Kuraisy
tak akan bersatu. Suatu pagi ia pergi dengan pedang terhunus di tangan
hendak membunuh Rasulullah dan beberapa orang sahabatnya yang
sudah diketahuinya mereka sedang berkumpul di Darul Arqam di Safa.
Jumlah mereka hampir empat puluh orang laki-laki dan perempuan.
Sementara dalam perjalanan itu ia bertemu dengan Nu'aim bin Abdullah
yang laiu menanyakan: "Mau ke mana?" dan dijawab oleh Umar:
"Saya sedang mencari Muhammad, itu orang yang sudah meninggalkan
kepercayaan leluhur dan memecah belah Kuraisy, menistakan lembaga
hidup kita, menghina agama dan sembahan kita. Akan saya bunuh dia!"
"Anda menipu diri sendiri, Umar. Anda kira Abdu-Manaf akan
membiarkan Anda bebas berjalan di bumi ini jika sudah membunuh
Muhammad? Tidakkah lebih baik Anda pulang dulu menemui keluargamu
dan luruskan mereka!" "Keluarga saya yang mana?" tanya Umar.
Kawannya itu menjawab: "Ipar dan sepupu Anda Sa'id bin Zaid bin
Amr, dan adikmu Fatimah binti Khattab. Kedua mereka sudah masuk


1 komentar: