UMAR DI MASA JAHILIAHNYA
Pasar Ukaz Beberapa tahun sebelum kerasulan
Nabi, apabila sudah tiba bulan
Zulhijah orang-orang Arab dari
berbagai penjuru di Semenanjung
itu seperti biasa, sebelum musim
ziarah setiap tahun datang berbondong-
bondong menuntun unta mereka
untuk digelar di Pasar Ukaz.
Pada saat semacam itu pasar
memang ramai oleh kedatangan berbagai
macam kabilah ke tempat tersebut,
di antara mereka terdapat tidak
sedikit dari penduduk Mekah.
Orang-orang Arab itu memasang tendatenda
besar di tengah-tengah hamparan
padang pasir yang terbentang
luas tempat pasar itu diadakan,
dan sebagian dijadikan tempat bursa. Di
depan tenda-tenda besar di bagian
ini orang ramai menawarkan barangbarang
dagangan mereka. Barang-barang
buatan penduduk Hijaz sendiri
tidak banyak. Sementara penduduk
Mekah sudah datang, termasuk juga
orang-orang yang kebanyakan dari
Yaman dan Syam dalam perjalanan
musim dingin dan musim panas.
Mereka yang datang menuju tempat
ini terdiri dari laki-laki dan
perempuan. Mereka membeli barang-barang
yang mereka sukai. Sebagian besar
perempuan itu berada di tempat
pedagang pakaian, membalik-balik
barang-barang itu, kemudian pilihan
pun jatuh pada barang-barang
buatan Yaman atau Syam kesenangan
mereka. Jika di antara mereka ada
yang cantik, pemuda-pemuda pun
datang ke tenda-tenda itu
berpura-pura mau membeli barang. Mereka
lebih ingin menikmati kecantikan
perempuan-perempuan itu daripada
berhubungan dengan segala macam
barang untuk kemudian dibawa
pulang.Tak jauh dari pasar itu
terdapat tempat-tempat hiburan yang di
waktu siang hari dikunjungi
pemuda-pemuda dan lebih banyak lagi di
waktu malam. Perempuan-perempuan
cantik itu pun tak berkeberatan
berada di dekat-dekat tempat itu.
Apabila malam tiba pemuda-pemuda
itu pergi mencicipi minuman
sampai mereka terhuyung-huyung. Mereka
memperturutkan kecenderungan
hendak bersenang-senang itu dan tidak
jarang kecenderungan demikian
kemudian menjurus kepada pertengkaran
yang mulanya tak seberapa tetapi
kemudian menjadi besar, dan
berakhir dengan peperangan
antarkabilah yang kadang berlanjut sampai
bertahun-tahun. Suatu hari ada
seorang penyair tampil di samping pasar itu
membacakanpuisinya, yang dibuka
dengan syair cinta dan dari syair cinta
pindah ke syair membanggakan diri
dan kabilahnya, kemudian menantang
dan mengumpat kabilah lain yang
tahun lalu pernah berseteru
dengan kabilahnya. Orang banyak
pun berdatangan dari pasar mengerumuni
penyair yang berjaya itu, mereka
memuji sajak-sajak cintanya
itu. Setelah dari cinta beralih
kepada kebanggaan diri banyak orang
yang bertepuk tangan kegirangan,
tetapi ada juga yang berteriak
menyangkal dan
menjelek-jelekkannya. Ketika beralih menantang dan
mengumpat suatu kabilah yang
pernah bermusuhan dengan kabilahnya,
teriakan-teriakan yang menyambut
gembira dan yang menentang itu
tiba-tiba berubah menjadi
pertengkaran sengit, yang bukan tidak mungkin
akan dilanjutkan dengan menghunus
pedang. Sesudah sang penyair selesai
membacakan syairnya, ada orang
tua yang bijak dapat menengahi
mereka untuk mengajak damai dan
ajakannya itu pun dipatuhi.
Di antara kerumunan orang banyak
itu ada seorang pemuda di
bawah umur dua puluh tahun —
bertubuh kekar, besar dan tingginya
melebihi semua orang yang hadir,
putih kemerah-merahan dan agak
kecoklatan—juga ikut mendengarkan
pembacaan puisi itu. la mengikutinya
dengan tekun disertai rasa kagum
dan sebentar-sebentar menganggukkan
kepala, menunjukkan
kegembiraannya dan seleranya yang
tinggi atas segala yang
didengarnya itu. Tetapi dia tidak ikut berteriak,
sebab kebanggaan sang penyair
atas kabilahnya itu dan tantangannya
kepada kabilah lain tak ada
sangkut-pautnya dengan dirinya. Dia tidak
termasuk salah satu kabilah itu.
Bahkan keduanya mungkin jauh dari
tempatnya. Karenanya ia tak akan
dapat menikmati sajak-sajak yang
telah didengarnya itu.
Profil pemuda Umar di Pasar
Selesai sang penyair membacakan
sajak-sajaknya ia memasang
telinga mendengarkan apa yang
akan dikatakan orang bijak itu. Setelah
dipastikan mereka cenderung
berdamai ia mendahului teman-temannya
yang lain pergi melangkah
cepat-cepat. Tidak biasa ia berjalan perlahan,
langkahnya yang lebar dan cepat
tidak mudah dapat diikuti oleh
yang lain. Teman-temannya mau
mengajaknya mengobrol kalau-kalau
dengan demikian ia dapat menahan
cara melangkahnya yang lebar itu.
Pembicaraan yang pada mulanya
tenang-tenang saja berubah menjadi
perdebatan yang panas. Pemuda itu
berhenti melangkah, matanya yang
sudah berubah merah menandakan
kemarahannya mulai menyala. Ia
memilin-milin kumisnya yang sudah
tumbuh lebat seraya berkata:
"Kalian mau menakut-nakuti
aku dengan anak muda itu! Aku bukan
anak Khattab kalau tidak
mengajaknya bergulat begitu aku bertemu
dial" Ia melangkah lebih
lagi cepat-cepat, sehingga teman-temannya di
belakangnya agak berlari. Begitu
sampai di gelanggang adu gulat yang
diadakan di samping Pasar Ukaz,
dilihatnya pemuda-pemuda yang
tegap-tegap sudah berkerumun,
menyaksikan salah seorang dari mereka
sedang merundukkan badannya di
dada lawannya yang sudah dibuatnya
tergeletak di tanah. Tatkala
orang banyak melihat Umar bin Khattab
datang menuju ke tempat mereka
cepat-cepat mereka memberi jalan.
Kedua pegulat itu bergabung
dengan para penonton. Mereka yakin
kedatangan Umar bukan untuk
menonton tetapi datang hendak bergulat.
Masih dengan sikapnya yang marah
Umar memutar matanya kepada
para penonton. Setelah dilihatnya
pemuda yang tadi sedang berbicara
dengan kawan-kawannya,
dipanggilnya untuk diajak bertanding. Pemuda
itu tersenyum sambil melangkah ke
tengah-tengah gelanggang,
penuh percaya diri akan kekuatan
dan kemampuannya. Sebelumnya ia
tak pernah bertarung dengan Umar.
Baru pertama kali ini ia datang ke
Ukaz bersama kabilahnya. Sejak
kedatangannya itu ia tak pernah
dikalahkan, sehingga setiap lawan
harus benar-benar memperhitungkan.
Perawakann\a hampir sama dengan
perawakan Umar, tinggi dan besar.
Umar yang sudah siap beradu
kekuatan melangkah maju. Pemuda badui
itu berusaha hendak mematahkan
Umar, dan sudah memperlihatkan
berbagai macam kepandaiannya
dalam bertarung, sehingga jumlah
penonton yang berdatangan makin
banyak, suatu jumlah yang tak
pernah ada sebelumnya.
Gadis-gadis yang berdekatan pun berdatangan
ke tempat itu setelah mendengar
kedua nama pegulat itu. Mereka ingin
menyaksikan apa yang akan
terjadi. Mereka sudah tahu, seperti orang
lain yang dalam tahun-tahun yang
lalu juga sudah tahu, bahwa tak ada
orang yang dapat mengalahkan Umar
bin Khattab.
Setelah pemuda badui itu maju dan
sudah bergulat dengan pegulatpegulat
lain, orang-orang di Ukaz semua
mengharapkan ia akan
bergulat dengan Umar. Mereka
bertaruh untuk kedua pemuda itu, siapa
yang akan menang. Setelah Umar
menantang lawannya untuk bergulat,
secepat kilat berita itu tersebar
ke segenap penjuru di pasar. Semua
mereka yang tak terikat oleh
pekerjaan datang ke tempat itu. Selama
beberapa waktu Umar membiarkan
lawannya berbicara terus dan berlagak,
sedang dia sendiri dalam sikap
defensif, tidak mau membuangbuang
tenaga seperti pemuda badui itu.
Sesudah diperkirakan ia sudah
cukup lelah diserangnya ia dengan
memiting kedua bahunya lalu dibantingnya
ke tanah. Lapangan itu gegap
gempita, orang ramai menyambut
kemampuan Umar. Mereka teringat
pengalaman yang sudah lalu menyaksikan
ketangkasan Umar dalam peristiwa
serupa. Gadis-gadis dan
perempuan pun tidak kalah dengan
kaum lelaki dan pemudanya memuji
pemuda Kuraisy yang perkasa ini.
Tempat hiburan
Tak lama kemudian matahari pun
mulai bergeser ke tempat peraduannya.
Orang ramai pun sudah mulai
pergi, masing-masing kembali
ke tempatnya. Umar berjalan terus
masuk ke dalam pasar diikuti temanteman
pengagumnya, dan dibalas Umar
dengan senyum, senyum yang
jarang sekali mereka lihat
memalut wajah laki-laki itu. Senyum demikian
tidak hanya untuk teman-temannya.
Ketika ia lalu di depan orang
banyak dilihatnya mereka juga
memandang bangga kepadanya; gadisgadis
pun saling berebut ingin mendapat
kesempatan kalau-kalau
tertangkap pandangan matanya atau
akan jatuh cinta melihat paras yang
elok. Hatinya merasa lega dan
semua ini terpantul dalam senyumnya
itu.Begitu malam tiba diajaknya
teman-temannya singgah di tempat
hiburan yang terdapat di sisi
pasar. Di belakang pasar itu membentang
padang Sahara sejauh mata
memandang. Umar mencari tempat terdekat
ke Sahara. Setelah mengucapkan
selamat malam kepada orang-orang
yang dikenalnya saat ia lalu di
depan mereka, mereka juga membalas
salamnya disertai rasa kagum dan
bangga. Seorang gadis pelayan
warung bertubuh ramping melangkah
gontai dengan pandangan mata
dan senyum merekah di bibir
memperlihatkan seuntai giginya yang
manis, yang hanya tertuju kepada
pemuda yang telah berjaya itu.
Dalam percakapannya dengan gadis
itu Umar memperlihatkan sikap
begitu lembut, yang sejak pasar
ada tak pernah terlihat demikian. Tak
lama setelah itu ia kembali
datang lagi membawa khamar (minuman
keras) yang sudah cukup matang
untuk para pelanggan yang setia, yang
selama pekan pasar setiap malam
selalu datang ke warung itu. Di
tengah-tengah teman-temannya Umar
paling banyak minum dibandingkan
mereka. Sampai jauh malam
pemuda-pemuda masih asyik minumminum
dan bergadang, hanyut mengobrol,
dari soal yang bersungguhsungguh
sampai ke soal remeh, dari soal
mencumbu perempuan sampai
ke soal menunggang kuda, dari
cerita-cerita petualangan sampai ke soal
silsilah. Pengetahuan Umar dalam
soal ini memang cukup banyak,
ditambah lagi dengan minuman
khamar dan kemenangannya bertarung
melawan pemuda pedalaman tadi
lidahnya makin lancar. Sementara
mereka sedang bercakap-cakap
demikian samar-samar dilihatnya
seorang penunggang kuda sedang
memacu kudanya cepat-cepat. Umar
berteriak: "Demi Lat dan
Uzza, sungguh kagum aku melihat kepandaiannya
menunggang kuda itu!"
Temannya yang tadi mengajaknya
berbicara mengenai pemuda
pegulat itu tersenyum. "Semoga
Uzza mengampuni sepupumu Zaid bin Amr yang berkata
dalam syairnya: Tak ada Uzza
maupun kedua putrinya yang kupercayai
Tak ada berhala-berhala Banu Tasm
yang kuikuti
Adakah satu Tuhan yang kuanut
ataukah seribu tuhan
Apabila masalahnya sudah
terpilah-pilah?"
Mendengar itu wajah Umar berubah
jadi masam, merengut.
"Celaka dia!" katanya.
"Dia sudah ingkar. Uzza tidak akan mengampuninya!
Tindakan Khattab tepat sekali
mengusir kemenakannya itu
dari Mekah dan tak dibolehkan
lagi memasuki Mekah setelah ia
memnggalkan agama kita, memusuhi
berhala-berhala kita dan mencari
tuhan lain dalam agama Yahudi dan
Nasrani, tetapi karena dari
keduanya tidak berhasil ia
mengira ada dalam agama Ibrahim nenek
moyangnya. Kalau diserahkan
kepadaku niscaya kubantai dia."
Pembicaraan kemudian beralih ke
soal-soal yang mereka kira dapat
menenangkan perasaan. Sementara
mereka sedang bergadang itu tibatiba
terdengar suara-suara lembut dari
gadis-gadis yang keluar dari
kemah ke padang sahara. Mereka
sedang menikmati bisikan malam
atau sedang mau menunaikan segala
keperluannya. Umar menahan
bicaranya, seolah terpengaruh
oleh suara-suara itu. Sesudah teman-
temannya diam, mereka mengalihkan
pandangan kepadanya. la sudah
siap berdiri seraya berkata: Aku
ada keperluan; akan kutinggalkan
kalian sebentar dan akan segera
kembali lagi. Mereka tersenyum. Memang,
kesenangannya mendekati
perempuan, sama dengan kesenangannya
meminum khamar. Umar menuju ke
arah datangnya suara lembut
itu. la mendengar suara biduanita
berkata kepada teman-temannya:
Lihat, itu Umar sedang menuju ke
tempat kita; kita berpura-pura lari
karena takut dibantingnya.
Sesudah kemudian Umar berada di dekat
mereka, memang, masing-masing
mereka berpura-pura lari dengan terpencar-
pencar. Yang masih tinggal hanya
si penyanyi; ia menjatuhkan
kerudungnya dan berpura-pura
sedang membetulkannya. Umar segera
mengenalnya, yang beberapa hari
yang lalu mereka sudah pernah
berjumpa. Selama pekan Ukaz tahun
ini saat itulah yang dirasakannya
paling bahagia. Teman-teman
penyanyi itu sudah mengerti tipu dayanya.
Mereka tertawa melengking, marah
bercampur ejekan dan rasa
cemburu-. Umar kembali ke tempat
teman-temannya seperti dijanjikannya
tadi. Tak lama di tempat itu,
sesudah membayar kepada pelayan harga
minuman yang mereka tenggak, ia
pergi meninggalkan teman-temannya.
Hari sudah hampir siang ketika
Umar bertemu lagi dengan sahabatsahabatnya
itu. Mereka sedang bercerita
mengenai kemahiran Umar
yang diperlihatkan dalam beradu
gulat kemarin. Mereka sangat mengharapkan
Umar akan mau bergulat lagi
dengan lawannya itu sehingga
benar-benar dapat membantingnya,
supaya sesudah itu pemuda pedalaman
itu tidak lagi bisa berlagak di
lapangan gulat. Tetapi Umar
tidak sependapat dengan mereka,
karena yang demikian dianggapnya
tidak kesatria. Dia yang sudah
menang, apabila yang mengajak bergulat
lawannya untuk membalas
kekalahannya, ia tak akan mundur. Tetapi
dia sendiri tak akan memulai
mengajaknya bertarung dan tidak akan
menantangnya. Pekan pasar sudah
hampir selesai. Sesudah tiga hari
orang akan meninggalkan Ukaz dan
akan pergi ke Majannah untuk
bersiap-siap melakukan tawaf ke
Ka'bah, dan masing-masing kabilah
akan menyembelih kurban untuk
berhala-berhala mereka. Kalau sudah
menyembelih hewan mereka akan
pergi ke Zul-Majaz untuk mendapatkan
air sebelum naik ke Arafah.
Selama tiga hari sebelum di
Majannah orang sudah disibukkan
oleh segala persiapan untuk melakukan
ziarah, bukan untuk bergulat dan
bertarung.
Tiga hari itu sudah berlalu,
pemuda desa itu pun sudah menyerah
dengan apa yang sudah dialaminya,
setelah dilihatnya Umar memang
bukan tandingannya. Orang pun
sudah berkemas hendak meninggalkan
Ukaz, dan Umar yang paling
pertama mengadakan persiapan demikian.
Menjelang tengah hari budaknya
sudah menyiapkan kudanya. Melihat
warna kuda itu yang hitam pekat,
kedua telinganya yang kecil dan
kepala tegak dengan kedua kakinya
yang kukuh dan perutnya yang
ramping, serta sikap Umar yang
penuh percaya diri dan bangga akan
kudanya — pemuda-pemuda yang
berasal dari pelbagai kabilah terkemuka
itu seolah iri hati. Mereka
mengajaknya berlomba dengan
berpacu. Apabila pacuan kuda
selesai dan beristirahat, mereka turun ke
Majannah sesudah tidur tengah
hari sebentar.
Ajakan itti disambut oleh Umar
dan mereka pun sudah siap dengan
kuda yang a'kan diperlombakan.
Sekarang mereka pergi ke padang
Sahara dan mencari arena tempat
berpacu. Setelah siap di atas kuda
masing-masing dan pemandu
memberikan aba-aba, secepat itu pula
Umar dan kudanya seperti sudah
menyatu melesat secepat kilat,
sehingga penonton sudah tak tahu
lagi kuda yang dipacu itu di atas
tanah atau terbang di angkasa.
Kemenangan Umar dalam pacuan kuda
ini mengundang kekaguman orang di
pasar seperti ketika kemenangannya
dalam bergulat. Gadis-gadis pun
tidak hanya sekadar kagum,
mereka sudah hanyut terpengaruh
begitu jauh. Penyanyi yang tahun ini
memberinya kenangan begitu manis
di Ukaz hanya tersenyum, senyum
yang menimbulkan rasa cemburu
kawan-kawannya yang lain. Mereka
meliriknya dengan mata Arabnya
barangkali seperti dalam sajak yang
diungkapkan penyair Umar bin Abi
Rabi'ah:
Karena perasaan dengki yang
menyelimuti mereka
Dahulu orang memang penuh dengki.
Kabilah, silsilah dan keluarga Umar
Sekarang orang berangkat dari
Ukaz ke Majannah kemudian ke
Zul-Majaz. Segala upacara mereka
laksanakan untuk berhala-berhala.
Setelah itu setiap kabilah
kembali pulang ke tempat asal mereka masing-
masing di Semenanjung.
Dalam daur tahun berikutnya tiba
pula pekan Ukaz. Seperti tahun
lalu, peranan Umar tahun ini juga
tidak berbeda, dan demikian seterusnya
selama bertahun-tahun. Tetapi
pernah terjadi ketika pada suatu
pembukaan pasar itu Umar datang
terlambat, orang sibuk mencarinya
dan bertanya-tanya mengapa ia
tidak datang. Lebih-lebih karena perkampungannya
terletak di Safa dan bergabung
dengan kabilah Banu
Sahm yang berada di sebelahnya.
Nenek moyang Umar merasa dipacu
oleh persaingan ini, yang kendati
jumlah orangnya lebih kecil dengan
kedudukan yang lemah dibandingkan
dengan kabilah-kabilah besar lainnya,
dalam ilmu dan kearifan mereka
lebih tinggi. Ilmu dan kearifan ini
menempatkan mereka lebih
terkemuka dalam tugas-tugas sebagai penengah
dan dalam mengambil keputusan
jika timbul perselisihan.
Mereka yang menjadi juru bicara
mewakili Kuraisy dalam menghadapi
kabilah-kabilah lain manakala
timbul perbedaan pendapat, yang biasanya
berakhir dengan perundingan.
Kepemimpinan mereka disukai dalam
menghadapi perselisihan; mereka
fasih berbicara, pandai bertutur
kata. Kearifan itu kemudian
melahirkan orang yang bernama Zaid bin
Amr, salah seorang yang menjauhi
penyembahan berhala dan menolak
makanan dari hasil kurban untuk
berhala itu. Di samping dia ada pula
orang yang bernama Umar bin
Khattab, yang merasa bangga karena ia
menjadi anggota kabilah itu.
Inilah kabilah Umar. Ayahnya,
al-Khattab bin Nufail bin Abdul-
Uzza bin Riyah bin Abdullah bin
Qurt bin Razah bin Adi bin
Ka'b. Adi ini saudara Murrah,
kakek Nabi yang kedelapan. Ibunya,
Hantamah binti Hasyim bin
al-Mugirah bin Abdullah bin Umar bin
Makhzum. Khattab orang terpandang
di kalangan masyarakatnya, tetapi dia
bukan orang kaya, juga tak
mempunyai khadam. Umar pernah menulis
surat kepada Amr bin al-As yang
ketika itu ditempatkan sebagai amir1
untuk Mesir, menanyakan asal usul
hasil kekayaan yang dihimpunnya.
Dalam surat balasannya itu Amr
marah, di antaranya ia mengatakan:
"...Sungguh, kalaupun dalam
mengkhianati Anda itu halal, saya tidak
akan mengkhianati Anda atas
kepercayaan yang telah Anda berikan
kepada saya. Saya turunan orang
baik-baik, yang jika kami hubungkan
ke sana tak perlu lagi saya
mengkhianati Anda. Anda menyebutkan
bahwa di samping Anda ada kaum
Muhajirin yang mula-mula yang
lebih baik dari saya. Kalau
memang begitu, demi Allah wahai Amirulmukminin,
saya tidak akan mengetuk pintu
untuk Anda dan gembok
pintu saya pun tidak akan saya
bukakan kepada Anda."
Amr bin al-As begitu marah atas
surat Umar itu sampai ia berkata
kepada Muhammad bin Maslamah
ketika ia datang sebagai utusan
Umar untuk mengadakan
perhitungan: "...Sial benar sejarah ini, yang
telah membuat aku menjadi
gubernur Umar! Saya dulu melihat Umar
Kata amir dalam hal ini
sering juga diterjemahkan dan disamakan dengan gubernur.
dan ayahnya sama-sama mengenakan
jubah putih berbulu kasar tipis
yang tak sampai di lekuk lututnya
dan memikul seikat kayu bakar,
sedang al-As bin Wa'il memakai
pakaian sutera berumbai-rumbai."
"Sudahlah Amr! Umar lebih
baik dari Anda, sedang bapa Anda
dan bapanya sudah sama-sama dalam
neraka..."
Khattab ini laki-laki yang
berperangai kasar dan keras. Di masa
kekhalifahannya pernah Umar lewat
di sebuah tempat yang berpohonpohon,
yang disebut Dajnan, dan katanya:
"Aku pernah menggembalakan
ternak Khattab di tempat ini.
Yang kuketahui dia kasar dan keras.
Menurut sumber at-Tabari
disebutkan bahwa di masa kekhalifannya,
ketika melalui Dajnan Umar
berkata: "Tiada tuhan selain Allah Yang
telah memberi rezeki
sekehendak-Nya dan kepada siapa saja yang
dikehendaki-Nya. Dulu aku
menggembalakan untuk Khattab di lembah
ini dengan mengenakan jubah dari
bulu. Dia kasar, payah benar aku
bekerja dengan dia; dipukulnya
aku kalau lengah. Ketika aku pulang di
waktu sore hanya Allah Yang
tahu..." Kemudian ia mengutip beberapa
sajak para penyair. Khattab
mengawini perempuan bukan karena berahi, tetapi supaya
mendapat anak yang banyak. Ketika
itu orang yang banyak anak
menjadi kebanggaan orang Arab.
Orang masih ingat bagaimana Abdul-
Muttalib kakek Nabi 'alaihis-salam
merasa tak berdaya di tengahtengah
masyarakatnya sendiri, karena tak
banyak anak. Lalu ia bernazar
kalau mempunyai sepuluh anak
laki-laki sampai dewasa sehingga dapat
memperkuatnya, salah seorang di
antaranya akan disembeiih sebagai
kurban untuk sang dewa di Ka'bah.
Sudah kita sebutkan juga bahwa
Banu Adi merasa sangat tak
berdaya, karena jumlah mereka kecil
sehingga oleh keluarga Abdu-Syams
mereka diusir dari perkampungannya
di Safa. Tidak heran jika Khattab
ingin mendapat anak lebih
banyak supaya sedapat mungkin
dapat memperkuat diri.
1 Teks sajak-sajak itu didasarkan
pada sumber at-Tabari:
Tak ada apa pun yang akan cerah
abadi, selain Tuhan
Harta dan anak keturunan akan
binasa.
Harta pusaka Hormuz tak pernah
sekalipun berguna
Keabadian diupayakan kaum Ad yang
tak pernah kckal
Tidak juga Sulaiman,Penguasa
angin, manusia dan jin dapat menahannya
Mana itu raja-raja dengan
berbagai hadiah
Datang dari segenap penjuru Tersedia
dalam tempat penyimpanan besar
Yang pasti suatu hari akan pergi
seperti ketika datang!
Ayah Umar
Sebenarnya Khattab ini cerdas,
sangat dihormati di kalangan masyarakatnya,
pemberani. Dengan tangkas dan
tabah ia memimpin Banu
Adi dalam suatu pertempuran. Banu
Adi ini yang dulu ikut dalam
Perang Fijar, yang dipimpin oleh
Zaid bin Amr bin Nufail dan Khattab
bin Nufail pamannya dan sekaligus
saudaranya dari pihak ibu, sebab
perkawinan Nufail dengan Jaida'
yang kemudian melahirkan Khattab.
Setelah Nufail meninggal Amr anaknya
yang dari ibu lain kawin dengan
istri ayahnya Jaida'. Pernikahan
demikian biasa dilakukan di zaman
jahiliah. Dari perkawinan Amr
dengan Jaida' ini kemudian lahir Zaid
bin Amr, yang bagi Umar adalah
saudara dan sekaligus kemenakan.1
Usia keduanya berdekatan dan itu
pula yang menyebabkan mereka
memimpin masyarakatnya dalam
Perang Fijar.
Sesudah Zaid meninggalkan
penyembahan berhala dan tidak mau
memakan makanan kurban untuk
berhala itu, kepada masyarakatnya ia
berkata: "Allah menurunkan
hujan dan menumbuhkan hasil bumi,
menciptakan unta supaya kamu
urus, lalu kamu sembelih untuk yang
selain Allah? Selain aku, aku
tidak tahu di muka bumi ini adakah orang
yang berpegang pada agama
Ibrahim?!"
Kemudian ia membacakan syair yang
mengajak orang membuang
cara peribadatan demikian itu.2
Oleh karena itu oleh Khattab ia dimusuhi
dan ditentang keras sekali,
didorong pula oleh masyarakat
Kuraisy yang akhirnya
mengeluarkannya dari Mekah dan tidak diperbolehkan
memasuki Mekah lagi. Khattab
termasuk di antara mereka
yang paling keras dan kejam.
1 Al-Agani jilid 3/123,
Darul Kutub al-Misriyah.
2 Dalam hal ini banyak syair yang
dikutip oleh penulis al-Agani (Abul-Faraj al-
Asfahani) dihubungkan kepada Zaid
bin Amr. juga oleh Ibn Hisyam dalam as-Sirah dan
yang lain. Dua bait sajaknya yang
kita catat dalam bab ini dari antara sckian banyak
sajaknya itu, yakni: Kuserahkan
diriku ke tempat awan menyerahkan dirinya
Yang membawa air sejuk dan lezat
Kuserahkan diriku ke tempat bumi
menyerahkan diri
Yang membawa batu-batuan yang berat-berat
Diratakan dan ditancapkan
gunung-gunung di alasnya.
Penulis al-Agani itu
menceritakan dengan menggunakan suatu pegangan bahwa Sa'id
bin Zaid bin Amr dan Umar bin
Khattab bertanya kepada Rasulullah Sallallahu 'alaihi
wa sallam tentang Zaid ini yang dijawab:
"Pada hari kiamat ia merupakan satu umat
tersendiri." Di antara
perempuan yang sudah dikawini Khattab termasuk
Hantamah binti Hasyim bin
al-Mugirah dari Banu Makhzum yang
masih sepupu Khalid bin al-Walid
dari pihak ayah. Al-Mugirah bin
Abdullah bin Amr bin Makhzum
kakek mereka bersama, yang juga
pemimpin pemuka-pemuka Kuraisy
dan salah seorang pahlawannya.
Dalam pasukan tentara Banu
Makhzum dia juga komandannya, sehingga
mendapat gelar sesuai dengan
kedudukannya itu. Dengan
kedudukannya yang demikian di
kalangan Kuraisy, dialah yang telah
menasihati kakek Nabi, supaya
jangan menyembelih Abdullah anaknya
sebagai kurban untuk memenuhi
nazarnya, dengan mengatakan: "Janganlah
sekali-kali menyembelihnya
sebelum kita memberikan alasan.
Kalau penebusannya dapat kita
lakukan dengan harta kita, kita
tebuslah." Dengan
kedudukannya itu Hantamah adaiah perempuan yang
selalu dekat di mata suaminya dan
lebih diutamakan dari istri-istrinya
yang lain. Setelah Umar lahir
sang ayah merasa sangat gembira dan
dibawanya kepada berhala-berhala
sebagai tanda kegembiraannya.
Kaum fakir miskin di kalangan
Banu Adi yang banyak jumlahnya
ketika itu diberi santunan berupa
makanan.
Masa kecil dan remaja
Kapan Umar dilahirkan? Suatu hal
yang tidak mudah dapat dipastikan.
Yang jelas ia meninggal sekitar
tiga hari terakhir bulan Zulhijah
tahun setelah hijrah. Tetapi yang
masih diperselisihkan mengenai
umurnya ketika ia wafat: ada yang
mengatakan dalam usia lima puluh
tahun, ada yang menyebutkan dalam
usia lima puluh tujuh tahun, yang
lain mengatakan enam puluh tahun,
ada lagi yang mengatakan enam
puluh tiga tahun dan sebagainya.
Besar dugaan ia meninggal sekitar
umur enam puluhan. Kalau benar
demikian berarti ketika ia hijrah
umurnya belum mencapai empat
puluh tahun. Dan kepastian dugaan ini
tak dapat kita jadikan pegangan.
Semasa anak-anak Umar dibesarkan
seperti layaknya anak-anak
Kuraisy. Yang kemudian
membedakannya dengan yang lain, ia sempat
belajar baca-tulis, hal yang
jarang sekali terjadi di kalangan mereka.
Dari semua suku Kuraisy ketika
Nabi diutus hanya tujuh belas orang
yang pandai baca-tulis. Sekarang
kita mengatakan bahwa dia termasuk
istimewa di antara teman-teman
sebayanya. Orang-orang Arab masa itu
tidak menganggap pandai
baca-tulis itu suatu keistimewaan, bahkan
mereka malah menghindarinya dan
menghindarkan anak-anaknya dari
belajar.Sesudah Umar beranjak
remaja ia bekerja sebagai gembala unta
ayahnya di Dajnan atau di tempat
lain di pinggiran kota Mekah. Sudah
kita sebutkan ia bercerita
tentang ayahnya serta tindakannya yang keras
kepadanya saat ia menggembalakan
untanya. Penulis al-'Iqdul Farid
menyebutkan bahwa pada suatu hari
Umar berkata kepada an-Nabigah
al-Ja'di: Perdengarkanlah
nyanyianmu kepadaku tentang dia. Lalu
diperdengarkannya sebuah kata
dari dia. "Engkau yang mengatakan
itu?" tanyanya.
"Ya." "Sering benar kau menyanyikan itu di belakang
Khattab." Menggembalakan
unta sudah merupakan kebiasaan di kalangan
anak-anak Kuraisy betapapun
tingkat kedudukan mereka.
Beranjak dari masa remaja ke masa
pemuda sosok tubuh Umar
tampak berkembang lebih cepat
dibandingkan teman-teman sebayanya,
lebih tinggi dan lebih besar.
Ketika Auf bin Malik melihat orang
banyak berdiri sama tinggi, hanya
ada seorang yang tingginya jauh
melebihi yang lain sehingga
sangat mencolok. Bilamana ia menanyakan
siapa orang itu, dijawab: Dia
Umar bin Khattab.
Wajahnya putih agak kemerahan,
tangannya kidal dengan kaki
yang lebar sehingga jalannya
cepat sekali. Sejak mudanya ia memang
sudah mahir dalam berbagai
olahraga: olahraga gulat dan menunggang
kuda. Ketika ia sudah masuk Islam
ada seorang gembala ditanya orang:
Kau tahu si kidal itu sudah masuk
Islam? Gembala itu menjawab: Yang
beradu gulat di Pasar Ukaz?
Setelah dijawab bahwa dia, gembala itu
memekik: Oh, mungkin ia membawa
kebaikan buat mereka, mungkin
juga bencana.
Penunggang kuda
Dari antara berbagai macam
olahraga, naik kuda itulah yang paling
disukainya sepanjang hidupnya.
Selama dalam pemerintahannya pernah
ia datang dengan memacu kudanya
sehingga hampir menabrak orang.
Ketika mereka melihatnya, mereka
heran. Apa yang membuat kalian
heran? tanyanya. Aku merasa cukup
segar lalu kukeluarkan seekor kuda
dan kupacu. Dalam perang juga dia
memegang peranan penting, yang diwarisinya
dari pihak saudara-saudara ibunya
Banu Makhzum. Ketika
dalam sakitnya yang terakhir Abu
Bakr sudah berkata: "Tatkala aku
mengirim Khalid bin Walid ke Syam
aku bermaksud mengirim Umar
1 Ibn Sa'd menuturkan dalam at-Tabaqat:
"Orang itu lebih tinggi tiga depa. Siapa dia?"
Dijawab: Umar bin Khattab. bin
Khattab ke Irak. Ketika itu sudah kubentangkan kedua tanganku
demi di jalan Allah." Di
samping kemahirannya dalam olahraga berkuda, adu gulat dan
berbagai olahraga lain,
apresiasinya terhadap puisi juga tinggi dan suka
mengutipnya. la suka mendengarkan
para penyair membaca puisi di
Ukaz dan di tempat-tempat lain.
Banyak syair yang sudah dihafalnya
dan membacanya kembali mana-mana
yang disenanginya, di samping
kemampuannya berbicara panjang
mengenai penyair-penyair al-Hutai'ah,
Hassan bin Sabit, az-Zibriqan1
dan yang lain. Pengetahuannya
yang cukup menonjol mengenai
silsilah (genealogi) orang-orang Arab
yang dipelajarinya dari ayahnya,
sehingga ia menjadi orang paling terkemuka
dalam bidang ini. Retorikanya
baik sekali dan ia pandai berbicara.
Karena semua itu ia sering pergi
menjadi utusan Kuraisy kepada
kabilah-kabilah lain, dan dalam
menghadapi perselisihan kepemimpinannya
disukai seperti kepemimpinan
ayahnya dulu.
Seperti pemuda-pemuda dan
laki-laki lain di Mekah, Umar gemar
sekali meminum khamar (minuman
keras) sampai berlebihan. Bahkan
barangkali melebihi yang lain.
Juga waktu mudanya itu ia tergila-gila
kepada gadis-gadis cantik,
sehingga para penulis biografinya sepakat
bahwa dia ahli minuman keras dan
ahli mencumbu perempuan. Tetapi
yang demikian ini memang sudah
menjadi kebiasaan masyarakatnya.
Penduduk Mekah memang sangat
tergila-gila pada minuman keras.
Dalam suasana teler demikian
mereka merasa sangat nikmat.
Perempuan-perempuan hamba sahaya
milik mereka menjadi sasaran
kenikmatan mereka, juga mereka
yang di luar hamba sahaya. Syairsyair
mereka zaman jahiliah pandai
sekali berbicara mengenai soal-soal
semacam itu. Sesudah datang
Islam, yang terkenal dalam soal ini
penyair Umar bin Abi Rabi'ah dan
yang semacamnya. Puisi-puisi mereka
biasa menggoda gadis-gadis Mekah
dengan dorongan cinta berahi
yang mereka warisi dari ibu-ibu
dan bibi-bibi mereka. Dalam Islam hal
ini dipandang perbuatan dosa,
sedang sebelum itu dianggap soal biasa.
Istri-istri Umar
Sesudah masa mudanya mencapai
kematangan, Umar terdorong
ingin menikah. Kecenderungan
banyak kawin ini sudah diwarisi dari
masyarakatnya dengan harapan
mendapat banyak anak. Dalam hidup-
Mereka termasuk di antara
penyair-penyair mukhadram (masa transisi jahiliah-Islam)
yang terkenal. ia mengawini
sembilan perempuan yang kemudian memberikan
keturunan dua belas anak, delapan
laki-laki dan empat perempuan. Dari
perkawinannya dengan Zainab putri
Maz'un lahir Abdur-Rahman dan
Hafsah; dengan Umm Kulsum putri
Ali bin Abi Talib lahir Zaid yang
lebih tua (senior) dan
Ruqayyah; dengan Umm Kulsum binti Jarul1 bin
Malik lahir Zaid yang lebih muda (junior)
dan Ubaidillah. Islam telah
memisahkan Umar dengan Umm Kulsum
putri Jarul. Ia kawin dengan
Jamilah binti Sabit bin Abi
al-Aflah maka lahir Asim. Nama Jamilah
yang tadinya Asiyah2, oleh Nabi
diganti: Sebenarnya engkau Jamilah,
kata Nabi. Perkawinannya dengan
Umm Hakam putri al-Haris bin
Hisyam bin al-Mugirah melahirkan
Fatimah. Dari perkawinannya dengan
Atikah binti Zaid bin Amr lahir
Iyad. Luhayyah, hamba sahaya
ibu Abdur-Rahman anaknya yang
menengah. Dari Fukaihah yang juga
hamba sahaya yang telah
melahirkan Zaid, anaknya yang bungsu.
Kalangan sejarawan masih berbeda
pendapat mengenai nama ibu
Abdur-Rahman junior, ibunya
seorang juga seorang hamba sahaya.
Kalangan sejarawan masih berbeda pendapat
mengenai nama ibunya
itu. Umar kawin dengan empat
perempuan di Mekah, dan yang
perempuan kclima setelah hijrah
ke Medinah. Tetapi ia tidak sampai
mengumpulkan mereka di rumahnya.
Kita sudah melihat Islam yang
telah memisahkannya dari Umm
Kulsum binti Jarul, dan perempuanperempuan
yang lain diceraikannya. Mereka
yang diceraikan itu Umm
Hakam binti al-Haris bin Hisyam
dan Jamilah yang telah melahirkan
Asim. Kalau ia masih akan berumur
panjang niscaya ia masih akan
kawin lagi selain kesembilan
perempuan itu. Ia melamar Umm Kulsum
putri Abu Bakr sewaktu masih
gadis kecil, sementara ia sudah memegang
pimpinan umat. Ia memintanya
kepada Aisyah saudaranya,
Aisyah Ummulmukminin menanyakan
adiknya itu tetapi ia menolak
dengan mengatakan bahwa Umar
hidupnya kasar dan sangat keras
terhadap perempuan. Juga ia
pernah melamar Umm Aban binti Utbah
bin Rabi'ah, yang juga menolak
dengan mengatakan bahwa dia kikir,
keluar masuk rumah dengan muka
merengut.
Apa yang dikatakan Umm Kulsum
binti Abu Bakr tentang wataknya
yang keras dan kasar, dan apa
yang dikatakan Umm Aban bahwa ia
selalu bermuka masam dan hidupnya
yang serba keras, merupakan
1 Ejaan yang pasti nama ini tidak
terdapat dalam buku-buku acuan.
2 Dapat juga berarti
"pembangkang."
sebagian dari wataknya yang sejak
masa mudanya, dan kemudian tetap
begitu dalam perjalanan hidup
selanjutnya. Sesudah menjadi khalifah,
maka dalam doa pertamanya ia
berkata: "Allahumma ya Allah, aku
sungguh tegar, maka lunakkanlah
hatiku. Ya Allah, aku ini lemah,
berilah aku kekuatan. Ya Allah
aku sungguh kikir jadikanlah aku orang
pemurah." Sejak mudanya ia
sudah mewarisi sikap keras dan kasar itu
dari ayahnya, kemudian didukung
pula oleh tubuhnya yang tetap kekar
dan kuat. Mengenai apa yang
disebutnya kebakhilan, karena ia memang
tak pernah kaya, dan ayahnya juga
tak pernah menjadi orang kaya.
Sepanjang hidupnya ia dalam
keadaan sederhana. padahal, seperti
kebanyakan penduduk Mekah ia juga
berdagang. Barangkali wataknya
yang keras itu yang membuatnya
tak pernah beruntung dalam perdagangan,
seperti rekan-rekannya yang lain.
Dengan watak kerasnya
dalam perdagangan ia tak pernah
dapat mengeluarkan air dari batu, tak
pernah ia dapat mengubah tanah
menjadi emas, demikian ungkapan
masyarakatnya sendiri, Kuraisy.
Di samping itu. dalam perdagangan
pun ia tak terbatas hanya pada
perjalanan musim panas dan musim
dingin ke Yaman dan ke Syam saja,
bahkan ia pergi sampai ke Persia
dan Rumawi. Tetapi dalam
perjalanan itu ia mengutamakan untuk mencerdaskan
pikirannya daripada untuk
mengembangkan perdagangannya.
Dalam Muruj az-Zahab al-Mas'udi
menyebutkan bahwa selama dalam
pelbagai perjalanan di masa
jahiliah itu Umar banyak menemui pemuka-
pemuka Arab dan bertukar pikiran
dengan mereka. Kemungkinan
besar segala yang sudah
dilakukannya dalam kapasitasnya sebagai
utusan dari pihak Kuraisy, dan
luasnya pengetahuannya mengenai silsilah
orang-orang Arab dan
cerita-cerita rakyat masyarakat Arab serta
apa yang diketahuinya dari
buku-buku yang dibacanya masa itu, itulah
membuatnya lebih banyak untuk
menambah ilmu daripada untuk memperoleh kekayaan.
Pendidikan dan konsep pemikirannya
Inilah yang membuatnya lebih
percaya diri dan lebih punya rasa
harga diri. Orang yang berharta
selalu perlu menjaga hubungan baik
dengan semua orang, untuk
melindungi dan memperbesar kekayaannya.
Orang yang dalam usaha
perdagangan, keberhasilannya bergantung
pada kelihaian serta menguasai
segala seluk beluknya. Tetapi orang
yang haus ilmu dan ingin menambah
pengetahuannya, harta kekayaan
tak banyak mendapat perhatian,
sebab orang yang sudah keranjingan
harta cenderung tidak
memperhatikan ilmu dan lebih banyak meng16
gantungkan diri pada
masalah-masalah dunia dan tunduk pada yang
lebih menguasainya. Tetapi orang
yang memandang dunia dan harta itu
rendah dan memburu ilmu dan
pengetahuan lebih membanggakan diri,
sampai-sampai ia mau menjauhi
orang, maka ia tidak akan tertarik pada
segala yang ada di tangan mereka
karena ia sudah lebih tinggi dari
semua mereka. Tingkat ini yang
belum dicapai Umar di masa mudanya.
Rasa bangga dan percaya diri yang
luar biasa itu, itulah yang benarbenar
dihayatinya. Usaha Umar dalam
memburu pengetahuan membuatnya sejak
mudanya ia memikirkan nasib
masyarakatnya dan usaha apa yang akan
dapat memperbaiki keadaan mereka.
Ini juga kemudian yang membuatnya
bangga, bersikeras dan menjadi
fanatik dengan pendapatnya sendiri
tentang tujuan yang ingin
dicapainya itu. Ia tidak mau dibantah atau
berdebat. Karena sikap keras dan
ketegarannya itu sehingga dengan
fanatiknya ia berlaku begitu
sewenang-wenang. Ia akan mempertahankan
pendapatnya dengan tangan besi
dan dengan ketajaman lidahnya.
Tetapi yang demikian ini bukan
tidak mungkin akan mengubah pendapat
orang lain yang dihadapinya untuk
menjadi bukti kuat dalam
pembelaannya dan untuk mematahkan
alasan lawan.
Pandangan orang mengenai
masalah-masalah ekonomi dan sosial di
Mekah dan di negeri-negeri Arab
lainnya tidak banyak berbeda. Sudah
biasa beraneka ragam pendapat
mereka mengenai masalah-masalah
tersebut, yang memang sudah
mereka warisi dari nenek moyang, dan
sudah menjadi pegangan hidup
mereka. Dengan begitu mereka sudah
cukup puas. Tetapi pertentangan
yang masih timbul mengenai agama
dan peribadatannya. Soalnya,
orang-orang Nasrani dan Yahudi yang
tinggal bersama mereka tidak
mengakui penyembahan berhala demikian,
yang mereka anggap sebagai
perbuatan batil. Setiap orang yang
berpikiran sehat harus
menjauhinya. Orang-orang Arab yang dalam perjalanan
musim panas ke daerah Rumawi
menganggap peradaban orangorang
Nasrani dan Yahudi itu lebih maju
dari peradaban orang Arab,
dan mereka menghubungkan kemajuan
itu dengan agama mereka. Di
samping itu, para penginjil
Nasrani waktu itu sangat giat sekali dalam
menyebarkan misi dan mengajak
orang menganut agama mereka, sama
dengan kegiatan mereka sekarang.
Oleh karena itu beberapa orang Arab
yang mempunyai pengetahuan tidak
mengakui penyembahan berhala.
Sebagai orang yang sudah pandai
baca-tulis, adakah juga Umar
mau mengikuti mereka dan
meninggalkan kepercayaan masyarakatnya?
Tidak! Malah dengan sengitnya ia
menyerang mereka. la berpendapat
orang yang meninggalkan
kepercayaan masyarakatnya telah
merusak sendi-sendi pergaulan
masyarakat Arab. Ia menganggap perlu
memerangi dan menghancurkan
mereka supaya tidak berakar dan
berkembang. Dalam hal ini
fanatiknya terhadap penyembahan berhala
barangkali tidak seberat
fanatiknya terhadap masyarakatnya itu, ingin
bertahan dengan sistem yang
sekarang ada dengan segala keutuhan dan
ketahanannya terhadap golongan
lain.
Fanatik terhadap agama masyarakatnya
Sejak dahulu kala sebenarnya
dunia memang sudah diumbangambingkan
oleh dua masalah pokok, yang
sampai sekarang masih berlaku,
masing-masing ada pembelanya,
yakni masalah kebebasan dan
organisasi: kebebasan pribadi dan
organisasi sosial. Masyarakat hanya
dapat hidup dengan organisasi,
dengan bermasyarakat, dan tak akan ada
kehidupan pribadi tanpa
kebebasan. Jika terjadi pertentangan antara
kebebasan pribadi dengan
organisasi sosial mana yang harus didukung?
Tentu organisasi itu. Kebebasan
pribadi tak akan terjamin tanpa adanya
organisasi sosial. Jika
organisasi sosial tidak berlaku, kebebasan pribadi
juga ikut tak berlaku. Tetapi!
Bukankah kebebasan pribadi ada batasbatasnya
yang tidak saling bertentangan
dengan organisasi sosial? Atau,
bukankah organisasi sosial juga
ada batas-batasnya yang dibuat tidak
saling bertentangan dengan
kebebasan pribadi? Batas-batas itulah yang
menjadi dasar dan masih tetap
menjadi dasar perbedaan. Kebebasan
pribadi dibatasi oleh kehidupan
ekonomi, kehidupan sosial dan kehidupan
politik di samping hal-hal lain.
Demikian juga dalam organisasi
sosial terdapat batas-batas dalam
segala manifestasi dan fasilitasnya.
Sudah sering sekali timbul
pemberontakan dan peperangan hanya
karena adanya perbedaan dalam
batas-batas kebebasan dan organisasi
dalam satu bangsa dan dalam
hubungan antarbangsa. Bahkan tidak
jarang timbulnya peperangan itu
karena maksud-maksud hendak berkuasa
dan rasa superioritas, dan para
penganjurnya pun kadangkala
berlindung di bawah panji
kebebasan dan adakalanya berlindung di
bawah panji organisasi
internasional yang akan menjamin adanya kebebasan
umum. Pada masa-masa tertentu
dalam sejarah orang sepakat bahwa kebebasan
menyatakan pendapat dan kebebasan
menganut suatu keyakinan
tidak mungkin bertentangan dengan
organisasi sosial selama hal itu
hanya terbatas dalam batas-batas
berkeyakinan dan berpendapat serta
pernyataannya. Tetapi pada masa
Umar hal itu belum lagi dikukuhkan.
Sering timbul perang antara
Persia dengan Rumawi karena fanatisme
agama. Bahkan sesudah itu pun,
pecahnya beberapa kali Perang Salib
antara Eropa yang Kristen dengan
pihak Muslimin, yang berlangsung
sampai sekian lama terus-menerus,
karena keyakinan itu pula. Soalnya,
karena agama dipandang sebagai
dasar kehidupan sosial. Hal ini berlaku
mengingat mereka yang menganut
agama selain agama negara
sebagai orang asing. Kalaupun
mereka masih menenggang karena
mereka sudah mewarisi kepercayaan
itu dari nenek moyang, maka hakhak
yang diberikan kepada
masyarakatnya seagama tidak akan diberikan
kepada mereka. Tidak heran jika
di masa jahiliahnya Umar sangat
keras memusuhi siapa saja yang
bukan penyembah berhala, dan memerangi
siapa saja dari masyarakatnya
yang meninggalkan kepercayaan
leluhurnya. Orang-orang berilmu
dan berpikiran sehat buat dia tak ada artinya
jika meninggalkan kepercayaan
nenek moyang. Dalam anggapannya,
bahkan ilmu dan pikiran sehatnya
itulah yang merupakan kejahatan paling
besar. Orang tidak perlu menjadi
pengikut orang-orang bodoh dan
golongan awam, tetapi mereka
harus menjadi pengikut sesama masyarakatnya
sendiri yang dapat melihat segala
persoalan dengan pandangan
yang sehat, dengan pikiran yang
jernih dan saksama dalam mencari
kebenaran. Kalaupun Qus bin
Sa'idah dibiarkan menghina berhalaberhala
orang Arab, maka sebagai orang
Nasrani ia masih dapat dimaafkan.
Tetapi orang-orang semacam Zaid
bin Amr bin Nufail,
Waraqah bin Naufal, Usman bin
al-Huwairis, Abdullah bin Jahsy dan
yang semacamnya dari penduduk
Mekah yang meninggalkan penyembahan
berhala, dan yang sebagian
membuat syair-syair yang berisi
ajaran tauhid, maka bagi mereka tak
ada maaf, dan tak dapat lain harus
dimusuhi dan diperangi. Kalau
dibiarkan begitu, akan menyesatkan
orang banyak dan akan memecah
belah mereka, dan negeri akan
menjurus kepada kehancuran. Sikap
Umar dan orang-orang semacamnya
telah dapat menjaga persatuan
Kuraisy dan kedudukan Mekah.
Dengan demikian para pemikir itu
membatasi kebijakan mereka di
sekitar diri mereka sendiri, dan
tidak menghasut orang lain supaya
menjadi pengikut mereka dan
mengubah kepercayaan yang sudah
diwarisi dari nenek moyang.
Umar termasuk orang yang paling
keras dan kejam serta paling
berani menghadapi kaum
Sabi'—orang yang meninggalkan kepercayaan
leluhur. Sikap kerasnya dan cepat
naik darah itulah yang
membuatnya sampai berlebihan
dalam bertindak keras. Ketika itu
umurnya belum mencapai dua puluh
lima tahun. Usianya yang masih
muda itu jugalah yang membuatnya
begitu fanatik dengan pandangannya
sendiri. Sikap demikian itu
sejalan pula dengan bawaannya yang
kasar dan tegar. Dia memerangi
mereka yang meninggalkan penyembahan
berhala tanpa kenal ampun, juga
mereka yang menghina berhalaberhala itu.
Permusuhannya terhadap Islam
Pada momentum ituiah Allah
berkenan, lalu mengutus Muhammad
kepada masyarakat agar mengajak
mereka ke jalan dan agama yang
benar. Sesudah ajaran tauhid
mulai tersebar ituiah. penduduk Mekah
yang begitu fanatik terhadap
penyembahan berhala mulai menyiksa
kaum duafa yang masuk Islam,
dengan tujuan supa\a mereka kembali
kepada penyembahan berhala. Sudah
tentu Umar bin Khattab laki-laki
Mekah yang paling keras menentang
dan memerangi ajaran baru ini,
serta berusaha mengancam mereka
yang menjadi pengikutnya.
Ibn Hisyam menuturkan bahwa suatu
hari Abu Bakr melihat Umar
sedang menghajar seorang budak
perempuan supa\a meninggalkan Islam.
Demikian rupa ia menghajar hingga
ia merasa bosan sendiri
karena sudah terlalu banyak ia
memukul. Saat ituiah kemudian ia
ditinggalkan oleh Umar sambil
berkata: Aku memaafkan kau! Kutinggalkan
kau hanya karena sudah bosan.
Hamba sahaya itu menjawab:
Ituiah yang dilakukan Allah
kepadamu. Kemudian hamba sahaya itu
dibeii oleh Abu Bakr lalu
dibebaskan.
Perlawanan Umar terhadap Muhammad
dan dakwahnya bukan
karena fanatik atau karena tidak
mengerti. Kita sudah tahu dia termasuk
penduduk Mekah yang paling mantap
dan paling banyak pengetahuannya.
Dia pun sudah mendengar kata-kata
Muhammad yang dipandangnya
baik, tetapi sikapnya terhadap
dakwah yang baru ini makin
menambah sikap keras kepalanya.
makin menjadi-jadi ia menyiksa dan
menyakiti kaum Muslimin yang
jatuh ke tangannya, sehingga mereka
benar-benar merasa tersiksa
karena tindakannya yang begitu keras
kepada mereka. Menurut
pendapatnya langkah laki-laki itu hanya akan
merusak dan menghancurkan tatanan
hidup di Mekah. Dia lebih menyukai
Mekah dengan segala tata
tertibnya serta penduduknya yang
hidup tenang, daripada Muhammad
dan dakwahnya yang ternyata
memecah belah persatuan Kuraisy
dan menginjak-injak kedudukan
tanah suci itu. Membiarkan dakwah
ini berarti akan menambah per20
pecahan di kalangan Kuraisy dan
kedudukan Mekah pun akan makin
hina. Jika Kuraisy menghentikan
Muhammad hanya sampai pada menentang
mereka yang menjadi
pengikut-pengikutnya dan berusaha supaya
orang-orang yang lemah itu
meninggalkan agamanya, jelas hal ini
akan menghanyutkan Mekah dan
orang-orang Kuraisy ke dalam kehancuran,
dan Kuraisy hanya akan menjadi
buah bibir semua orang Arab.
Dosa apa gerangan kaum duafa itu
sampai disiksa demikian rupa!
Semua dosa itu dosa Muhammad dan
pesona bahasanya serta kekuatan
logikanya. Retorika yang memukau
itulah yang mempengaruhi pikiran
kaum duafa, kaum yang lemah dan
yang lain yang sampai meninggalkan
kepercayaan nenek moyang mereka.
Kalau Muhammad meninggal
hilanglah semua prahara itu dan
suasana akan menjadi jernih kembali,
tanah suci akan tetap aman dan
damai. Terbunuhnya satu orang bukan
lagi untuk menyelamatkan satu
kabilah tetapi untuk menyelamatkan
semua kabilah di Mekah. Mereka
akan kembali bersatu dan tata tertib
akan stabil. Tetapi apa yang
dikatakan Muhammad itu memang baik. Tidak
lebih ia hanya mengulang kembali
kata-kata itu dan mengajak orang
agar mengikuti dengan cara yang
baik pula. Di samping itu, Kuraisy
mengenalnya sebagai orang yang
belum pernah berdusta. Akan dibunuhkah
dia tanpa alasan kecuali hanya
karena mengatakan, Allah
adalah Tuhanku, dan mengatakan
itu karena itulah yang diyakininya
dan sudah menjadi keimanannya!
Bagaimana caranya membunuh dia
atau menghabisi orang itu,
padahal dia dari Keluarga Hasyim, dan
Keluarga Hasyim akan membelanya. Di antara mereka yang sudah
beriman kepadanya, memenuhi
seruannya dan bersama-sama dengan
dia adalah orang-orang yang
berkedudukan dari kabilah-kabilah
terhormat, mereka akan mengadakan
pembelaan, seperti Banu Hasyim
membela Muhammad. Abu Bakr dan
Talhah bin Abdullah dari Banu
Taim bin Murrah; Abdur-Rahman bin
Auf dan Sa'd bin Abi Waqqas dari
Banu Zuhrah; Usman bin Affan dari
Banu Abdu-Syams; Abu Ubaidah bin
al-Jarrah dari Banu Fihr bin
Malik, dan az-Zubair bin al-Awwam
dari Banu Asad. Mereka semua
orang-orang terpandang dalam
kabilah masing-masing dan yang harus
mereka lindungi apabila ada pihak
yang akan mengganggu mereka. Jika
seandainya Umar memerangi mereka
dan memerangi Muhammad dan
menghasut untuk menyerang mereka,
niscaya akan timbul perang
saudara di Mekah, hal yang lebih
berbahaya terhadap kedudukan mereka
daripada terhadap Muhammad dan
ajakannya itu.
Bilamana Umar sudah menyendiri,
semua pikiran itu berkecamuk
dalam hatinya. Apabila ia bertemu
dengan masyarakatnya dan melihat
perpecahan yang ada pada mereka,
kembali keprihatinannya timbul
ingin mengembalikan ketenangan
Mekah dengan jalan mengikis sumber
penyebab perpecahan itu. Pikiran demikian tetap selalu
menggoda hatinya; sampai kemudian
Muhammad meminta
pengikut-pengikutnya hijrah ke Abisinia, berlindung
kepada Allah dengan agama yang
mereka yakini. Tetapi, sesudah
Umar melihat mereka berpisah
dengan keluarga-keluarga dan tanah
tumpah darah mereka, timbul rasa
kasihan, terasa luka di hati karena
perpisahan itu. Baginya ini
adalah soal besar. Hatinya memberontak,
lama sekali ia memikirkan ingin
menghabisi Muhammad dan ajarannya
itu. Kalau sudah ia lakukan
niatnya itu Kuraisy akan bebas, dewa-dewa
di Ka'bah dan semua dewa
orang-orang Arab akan berkenan. Kalaupun
dia hams menderita akibat
perbuatannya itu, akan dia tanggung demi
kepentingan Kuraisy dan demi
Mekah. Kuraisy adalah keluarganya dan
Mekah tanah tumpah darahnya.
Penderitaan demi keluarga dan negeri
sendiri merupakan langkah
terpuji. Itulah niat yang sudah menjadi keputusannya.
Tetapi rupanya dia lupa, bahwa
Allah mempunyai kebijaksanaan sendiri terhadap makhluk
Nya, dan kebijaksanaan Yang
Mahakuasa sudah menentukan tak dapat
dikalahkan oleh akal pikiran dan
gejolak hatinya yang selama ini panas
membara. Maka ia pun beriman
kepada Muhammad untuk kemudian
menjadi seorang al-Faruq, menjadi
"pemisah," yang namanya akan
disebut-sebut orang, dengan penuh
penghargaan, dengan penuh rasa
hormat sampai akhir zaman. Umar
bin Khattab masuk Islam menurut berita yang sudah umum
diketahui, sesudah ada empat
puluh lima orang laki-laki dan dua
puluh perempuan. Beberapa sumber
menyebutkan bahwa jumlahnya
lebih dari itu, ada pula yang
mengatakan kurang. Menurut peninjauan
Ibn Kasir dalam al-Bidayah
wan-Nihayah Umar masuk Islam sesudah
Muslimin hijrah ke Abisinia, dan
jumlah orang yang hijrah itu hampir
mencapai sembilan puluh orang laki-laki
dan perempuan. Sesudah mereka
hijrah Umar bermaksud akan
mendatangi Muhammad dan sahabatsahabatnya
serta Muslimin yang lain di Darul
Arqam di Safa, dan
jumlah mereka laki-laki dan
perempuan empat puluh orang. Dengan
demikian kita bebas menyebutkan bahwa
mereka yang sudah mendahului
Umar masuk Islam sekitar seratus
tiga puluh orang, walaupun
kita tak dapat menyebutkan jumlah
yang pasti melebihi perkiraan yang
berlawanan dengan pendapat yang
sudah umum itu.
Sumber-sumber tentang sebabnya Umar masuk Islam
Mengenai sebabnya ia masuk Islam
beberapa sumber masih saling
berbeda. Berita yang paling
terkenal menyebutkan bahwa Umar sudah
tidak tahan lagi melihat seruan
Muhammad itu ternyata telah memecah
belah keutuhan Kuraisy, dan
mendorong orang semacam dia sampai
menyiksa orang-orang yang masuk
Islam agar keluar meninggalkan
agama itu dan memaksa kembali
kepada agama masyarakat mereka.
Sesudah Muhammad memberi isyarat
kepada sahabat-sahabatnya supaya
terpencar ke beberapa tempat dan
berlindung kepada Allah dengan
agama yang mereka yakini, dan
menasihati mereka agar pergi ke
Abisinia, dan setelah Umar
melihat mereka sudah pergi, ia merasa
sangat terharu dan merasa
kesepian berpisah dengan mereka. Sumber
yang mengenai Umm Abdullah binti
Abi Hismah menyebutkan bahwa
ia berkata: "Kami sudah akan
berangkat tatkala Umar bin Khattab
datang dan berhenti di depan
kami, yang ketika itu ia masih dalam
syirik. Kami menghadapi berbagai
macam gangguan dan siksaan dari
dia. Ia berhenti dan berkata
kepada kami: 'Jadi juga berangkat, Umm
Abdullah?' Saya jawab: 'Ya! Kami
akan keluar dari bumi Allah ini.
Kalian mengganggu kami dan
memaksa kami dengan kekerasan.
Semoga Allah memberi jalan keluar
kepada kami.' Dia berkata lagi:
'Allah akan menyertai kalian.'
Saya lihat dia begitu terharu, yang
memang belum pernah saya lihat.
Kemudian dia pergi, dan saya lihat
dia sangat sedih karena kepergian
kami ini." Setelah itu suaminya
datang. Diceritakannya
percakapannya dengan Umar itu dan dia sangat
mengharapkan Umar akan masuk
Islam. Tetapi jawab suaminya:
"Orang ini tidak akan masuk
Islam sebelum keledai Khattab lebih dulu
masuk Islam." Sumber-sumber selanjutnya
menyebutkan bahwa Umar memang
sangat sedih karena sesama
anggota masyarakatnya telah pergi meninggalkan
tanah air," sesudah mereka
disiksa dan dianiaya. Selalu ia
memikirkan hendak mencari jalan
untuk menyelamatkan mereka dari
keadaan demikian. Ia berpendapat
keadaan ini baru akan dapat diatasi
apabila ia segera mengambil
tindakan tegas. Ketika itulah ia mengambil
keputusan akan membunuh Muhammad.
Selama ia masih ada, Kuraisy
tak akan bersatu. Suatu pagi ia
pergi dengan pedang terhunus di tangan
hendak membunuh Rasulullah dan
beberapa orang sahabatnya yang
sudah diketahuinya mereka sedang
berkumpul di Darul Arqam di Safa.
Jumlah mereka hampir empat puluh
orang laki-laki dan perempuan.
Sementara dalam perjalanan itu ia
bertemu dengan Nu'aim bin Abdullah
yang laiu menanyakan: "Mau
ke mana?" dan dijawab oleh Umar:
"Saya sedang mencari
Muhammad, itu orang yang sudah meninggalkan
kepercayaan leluhur dan memecah
belah Kuraisy, menistakan lembaga
hidup kita, menghina agama dan
sembahan kita. Akan saya bunuh dia!"
"Anda menipu diri sendiri,
Umar. Anda kira Abdu-Manaf akan
membiarkan Anda bebas berjalan di
bumi ini jika sudah membunuh
Muhammad? Tidakkah lebih baik
Anda pulang dulu menemui keluargamu
dan luruskan mereka!"
"Keluarga saya yang mana?" tanya Umar.
Kawannya itu menjawab: "Ipar
dan sepupu Anda Sa'id bin Zaid bin
Amr, dan adikmu Fatimah binti
Khattab. Kedua mereka sudah masuk
Syukron katsiron...
BalasHapusposting antum sangat bermanfaat.